I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 14



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Aroma kuat dari masakan buatan sang Ibu menyambut Rubina yang masih menjejakkan kaki ke tangga penghubung. Rubina sudah bisa menebak bahwa masakan itu adalah kari ayam.


'Emang hari ini ada acara apa? Kok tumben banget pagi-pagi begini Ibu udah nyiapin kari? nggak mungkin kan ada orang yang bakalan dateng ke rumah.' Pikir Rubina lewat batinnya.



"Aroma masakan Ibu enak banget." Rubina mengatakannya sesampainya dia di dapur. "Tumben Bu, pagi-pagi udah bikin kari ayam. Emang ibu nggak ke kantor? Trus emang ada yang mu datang yah?" kepo Rubina.


Entah kenapa dia sangat yakin kalau hari ini seseorang akan berkunjung ke rumahnya sampai-sampai sang Ibu sudah di dapur disaat jam masih menunjukkan pukul enam pagi.



"Ibu kerja kok tapi nanti agak siangan, soalnya Cuma meeting sama klien doang, di kator udah diserahin sama tante Gracia.... Ibu bikin kari soalnya Papah kamu pengen bukan karena ada mau tamu.."


"Tapi kok Ibu bikinnya banyak banget?" Tanya Rubina dibarengi dengan tatapan yang sedang menuntut. "Sekomplek juga kayaknya bakalan kenyang nih, Bu!"


"Oh... Ini sekalian juga mau dibagikan juga sama tetangga." Jawab Althea santai.


"Tetangga?" ulang Rubina mendapat anggukan dari sang Ibu. "Oh iya Bu. Ngomong-ngomong soal tetangga, kemaren malem aku lihat rumah di depan lampunya nyala. Emang mereka udah pindah ya?"


"Iya. Mereka udah nempatin rumah barunya. Oh ya hari ini kamu enggak kuliah Bi?" Tanya Althea heran.


"Enggak Bu. Hari ini aku enggak ada jadwal kuliah."


“Oh... Syukur deh. kalo gitu Udah ini bantuin Ibu yah buat bagiin karinya ke beberapa tetangga.”


“Nggak ah, malu!” jawab Rubina sambil memberengut.


“Kenapa mesti malu sih?” Althea terdiam melihat putrinya sambil berfikir bagaimana cara menyampaikan pada putrinya kalau tetangga di depan rumah mereka adalah teman dari Grandpa yang akan dijodohkan dengannya.


“Hah... Bi, sebenarnya tetangga depan rumah kita itu temennya Grandpa...” Rubina terdiam sambil memperhatikan Ibunya dengan curiga.


“Jangan bilang temen Grandpa yang mau ngejodohin aku sama cucunya? Ck... ah, dengan Ibu ngasih tau itu sama Bina. Yang ada Bina ntar malah disukain sama keluarga mereka, aku kan nggak mau dijodohin! Apa Bina langsung ngomong ke Grandpa aja ya kalo Bina nolak perjodohan ini?” ujar Rubina.


"Gini aja Bi, kamu kan mau nolak perjodohan itu? Ya kalo mau nolak kamu kesana sekarang. Kasih kesan apa adanya kamu...” jelas Bina sambil menaik turunkan halisnya memberi kode pada Bina. “Ngerti kan maksud Ibu?” Rubina hanya tersenyum maksud dari sang Ibu.


"Hah... Siapa pun nanti yang akan jadi pasangan kamu, Bi. Ibu cuma berharap bahwa dia sayang sama kamu dan bisa jagain kamu, kamu dengan dia akan selalu berbahagia."


“Ammin... Makasih ya Bu, udah terus suport pilihan aku...”


*****


Sang Ibu seolah lupa bahwa putranya sudah dewasa dan sudah tahu cara mengurus dirinya sendiri. "Saya kan udah bilang Bu, saya nggak lapar. Lagian itu pasien di rumah sakit udah rame, barusan aja saya ditelponin terus sama suster supaya cepet dateng ke sana. Ya... Seenggaknya saya harus berangkat sekaranglah biar nanti nggak kewalahan!" Sean kembali menjelaskan kepada ibunya bahwa hari ini dia harus berangkat lebih cepat ke Rumah Sakit.


"Tapi sayang. Kamu ini kan seorang dokter. Ibu paham banget kok kalau tugas dokter adalah menyelamatkan para pasien yang butuh pertolongan. Tapi kamu juga manusia biasa Sean. Paling enggak, kamu jangan biarin perut kamu dalam keadaan kosong. Kalau memang kamu nggak mau makan nasi, biar ibu bikinin kamu roti selai aja. Gimana?" Karena kebetulan susu buatan ibunya masih terisi penuh. Sehingga Sean memilih untuk menerima tawaran ibunya untuk menyantap roti selai saja.


“Bolehlah, Bu, tapi enggak usah banyak-banyak yah selainya!”


“Soal keinginan Kakek kamu gimana Sean?” Tanya Sang Ayah yang baru saja menyeruput kopi hangatnya. Sean terdiam mengingat bahwa dari kemaren sang Kakek dengan getol membujuknya untuk mau dijodohkan sama temannya.


“Hah... nanti saya yang bicara sama Kakek.”


“Trus kamu akan terus tinggal di Apartment? Kita udah pindah rumah ke yang lebih deket loh Sean...”


“Yah... Kan dari awal saya udah bilang, saya nggak mau jual Apartment itu, lagian Apartment lebih deket ke Rumah Sakit. Paling nggak kalo ada panggilan SITO saya bisa langsung ke Rumah Sakit lebih cepet." Sang Ayah menganggukkan kepalanya mengerti.


*****


"Bi... HATI-HATI YAH, NAK! SOALNYA KARINYA MASIH PANAS!" teriak Althea saat Bina yang akhirnya setuju untuk datang kerumah baru tetangganya.


"Iya, tenang aja Bu. Bina bakalan hati-hati kok."


Di sepanjang jalan menuju ke rumah tetangga barunya itu Rubina jadi kepikiran soal cerita Althea sewaktu di dapur tadi. Rubina khawatir, kalau tetangga barunya itu akan merasa kecewa setelah tau kalau dia menolak perjodohan itu. Rubina hanya berharap semoga hubungan keluarganya dengan tetangga barunya ini akan baik-baik saja meski perjodohannya dibatalkan.


Rubina lantas mengembuskan napas kasar tepat setelah dia membuka gerbang milik tetangga barunya. Sambil membawa tupperware berisikan kari buatan sang Ibu, Rubina berjalan penuh ke hati-hatian membawa langkah kakinya ke depan pintu berwarna cokelat.


Seseorang dari dalam membuka pintu bahkan sebelum Rubina mengetuknya. Seorang pria jangkung yang baru saja membuka pintu itu sepertinya terlalu terburu-buru sampai dia tidak menyadari kehadiran Rubina yang berdiri tepat di depan pintu.


Bruuuuk!!!


Suara benda jatuh baru saja terdengar tepat setelah seseorang menubruk tupperware yang Rubina bawa dari rumah.


“Akh, panas! SShhhttt...” hanya sepersekian sekon setelah tupperware itu terjatuh, dan sekarang terdengar suara ringisan yang berasal dari pria di hadapan Rubina saat ini.


Rubina panik setengah mati karena Tupperware yang berisi kari panas itu baru saja mengenai area ************ milik seorang pria. Di tengah rasa paniknya Rubina tetap mengumpulkan keberanian untuk membawa fokusnya ke wajah pria yang baru saja meringis kesakitan. Kini Rubina semakin panik saja saat dia tersadar bahwa orang yang berdiri di hadapannya saat itu adalah Sean Altemosa Ahmet. Cinta pertamanya.


'Sean!' tariak Rubina dalam hatinya spontan.


Darah yang mengalir di sekujur tubuh Sean terasa kian mendidih saja saat mengetahui bahwa orang yang baru saja menyiram kuah kari panas tepat ke aset miliknya adalah Rubina. Gadis yang selalu saja menyebalkan di matanya. Karena kenyataan itu Sean jadi bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Kenapa tiap kali dia berada di dekat Rubina, kesialan selalu saja menyertainya? Lebih dulu gelengan kepala bertempo lambat dia persembahkan, lalu dia berkata...


“Kamu lagi? Saya heran yah. Kenapa tiap kali kamu ada di dekat saya, saya selalu aja ketiban sial?" Sejujurnya Rubina hanya bisa bergeming layaknya manekin.


Untuk saat ini dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa dan bagaimana. Apakah dia harus senang atau justru sedih dengan kenyataan yang ada. Rasa senangnya tentu saja saat mengetahui kalau Sean ternyata tetangga barunya. Sementara rasa sedihnya hadir lantaran dia adalah orang yang bertanggung jawab atas kejadian tertumpahnya kuah kari yang dia bawa dari rumah. Dan sialnya lagi kuah kari yang masih panas itu mengenai aset milik Sean.


'Mampus gue, gue harus gimana ini?' Rubina membatin.