
Di ruang keluarga...
"Jadi.... Kamu pacar Althea?" Ucap kakek tfdengan tegas. Sementara gue yang duduk di samping Danniel cuma senyum mesem girang.
Yup disana Danniel kek disidang ama kakek dan nenek. Semua anggota keluarga pada ngumpul ngelilingin gue sama Danniel yang beras mamah Nesya, Gracia dan Lauro pun ikut hadir disana.
"Jadi ini calon cucu mantu nenek Al?" Gue ketawa.
Gue liat tante - tante gue senyam senyum liatin Danniel dari kepala sampe kaki. Dan otomatis gue bangga dong ngenalin Danniel sebagai calon gue secara dia malam ini ganteng abis. Emang tiap hari ganteng sih, tapi kalo dia pake casual gantengnya berlebih, serasa masih umur 20 taunan padahal umurnya udah hampir mau 40 taunan. Hihi
"Kenalkan saya Danniel Kek... Saya pacar dan akan menjadi calon suami Althea!" Ucapnya tegas. Gue cuma liat Danniel heran. Papah pun senyum doang ngeliat tingkah Danniel yang dengan tegas dan berani menyatakan kalau dia adalah calon laki gue.
Keluarga kakek emang nggak tau Danniel makanya nggak ada yang kaget pas liat dia disini, biasanya kalo pebisnis pasti tau siapa Danniel Henney, tapi karena keluarga kakek pensiunan ABRI sampe mantu-mantunya pun dari ABRI semua jadi ya otomatis pada nggak kenal Danniel.
"Dia seorang pengusaha Pah..." Ucap Angga.
"Saya tidak perduli dia kaya atau miskin dari keluarga ternama atau tidak.. Yang penting dia sayang sama cucu saya..." Ucap kakek melihat penuh arti kearah papah.
"Saya tidak ingin pengalaman Ibumu terulang lagi... Kalau memikirkan itu membuat saya menyesal dan berfikir kalau saya merasa gagal menjadi seorang ayah..."
Semua orang terdiam. Begitu juga papah yang memang benar-benar merasakan bagaimana hidup dikucilkan oleh keluarga kakek karena kakek tidak menyetujuinya untuk menikahi Ibu.
Terlepas dari itu gue ngeliat Danniel bangga dan merasa gue istimewa karena dia bela-belain datang kesini tanpa gue ajak dan ingin mengenal keluarga besar gue.
"Baiklah, Ran... Tolong beresin kamar untuk tamu kita... Biar dia menginap disini juga..."
"Beneran boleh nek?"
"Kenapa memangnya? Kamu mau calon suami kamu menginap di hotel sementara keluarga kamu ada disini?" Gue langsung meluk nenek.
"Makasih nek..."
"Istirahatlah, besok kita kembali lagi ke makam ibumu, besok juga hari ulang tahun ibumu kan?" Gue cuma ngangguk kearah kakek sambil senyum.
Mungkin ini pertama kali buat kita makan malam satu meja dengan anggota keluarga Ibu yang begitu banyak. ditambah lagi Danniel ada disini nemenin gue.. Lengkap sudah kebahagiaan gue. Nggak nyangka aja gue bisa sampe ke tahap ini sama Danniel. Masalah sama keluarga gue emang lancar sih.. Tinggal masalah mommy nya Danniel..😣
**
AUTHOR POV
pukul 22.00 malam...
Di halaman belakang...
Angga dan Kakek Dinar sedang berbincang.
"Kau sudah berhasil membesarkan putrimu Angga!"
"Tidak segampang itu mengurus Althea sendirian pah... Sebelum saya menikah lagi kami benar-benar terpuruk dan tidak tau harus bagaimana sepeninggal Kirana. Karena jujur saja dulu Althea sangat dekat dengan Kirana jadi.. Itu adalah masa-masa yang sangat sulit untuk kami..."
Kakek Dinar hanya terdiam mengangguk.
"Akhirnya saya bisa tenang karena bisa bertemu denganmu juga Althea dan meminta maaf pada kalian..."
"It's okay pah... Lupakan masa lalu..." Melihat kearah Kakek Dinar tersenyum. "Istirahatlah pah, sudah malam..."
"Baiklah, kau juga Angga!"
tak lama Kakek Dinar menepuk pundak Angga dan berlalu dari hadapan Angga. Angga pun memejamkan matanya sambil mengingat dan mengenang sekaligus mensyukuri adanya hari ini, hari dimana keluarga dari Kirana menerimanya sebagai menantu Wijaya walaupun semua sudah terlambat karena Kirana sudah tidak ada, tapi... Angga benar-benar berterima kasih pada Allah dan karena Kirana.. jika taun ini dia tidak membawa keluarganya kesini mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Tak sadar Angga meneteskan air matanya saat memejamkan matanya.
"Om..." Ucap Danniel yang baru saja datang dan duduk di depan Angga Wiriawan. Angga pun kaget dengan kedatangan Danniel yang tiba-tiba dan dia pun menghapus bekas air matanya.
"Kamu belum tidur Niel?!"
"belum om... Om sendiri belum tidur??"
Angga hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Danniel.
"Apa Om masih mencintai Almarhum tante Kirana?"
"Saya memang masih mencintainya Niel saya tidak pernah bisa melupakannya, tapi cinta yang saya punya untuk Kirana tidak akan bisa bertambah karena Kirana sudah tidak ada di dunia ini lagi... Sekarang hanya kenangannya saja yang masih membekas di hati saya."
"Beruntung tante Kirana punya seseorang seperti Om Angga..." Ucapnya tersenyum. Sementara Angga melihat Danniel serius.
"Om tau kamu serius sama Althea Niel, tapi alangkah baiknya kamu mendekati ibumu dulu dan meminta ijin secara baik-baik padanya.. Karena bagaimana pun juga, saya tidak mau kejadian yang menimpa Om dan tante Kirana dulu terulang oleh Althea... Mau kamu berusaha meminta Althea pada om ataupun pada kakek neneknya kalau ibumu tidak setuju percuma Niel, om sendiri tidak akan memberikan Althea padamu..."
Danniel hanya terdiam menunduk, karena memang benar dia juga setuju dengan omongan Angga, dan dia sadar dia juga harus cepat-cepat meminta restu dan ijin dari mommynya.
**
Dua hari kita ngabisin waktu di rumah nenek dan kakek. dan kita pun cuma diem di rumah kakek ngeratin hubungan keluarga yang sempat putus, Danniel pun kayaknya nyaman-nyaman aja tinggal disini malah dia deket sama suami-suami dari para bibi gue dan juga kakek. Dia diajari cara nembak ngelatih fisik maupun mental ala ABRI...
**
Pukul 16.30... sore...
Kakek dan Danniel sedang bermain catur di halaman belakang sementara Gue dan Papah duduk di samping kiri kanan Danniel melihat sambil memberi dukungan pada Danniel sementara Para Paman berada disebelah Kakek mendukung kakek.
"Skak Matt Danniel... Hahaha..." ucap Kakek bangga karena akn memenangkan pertandingannya.
"Uuukkhhh... yupz kamu ga ada jalan lagi Niel..." ucap gue mencibir sambil tertawa..
"eu.. Niel.. lebih baik kau mengalah, daripada Kakek nanti murka.." ucap Paoh berbisik pada Danniel tapi msih terdengar sama gue. dan gue cuma tersenyum sambil memeluk lengan Danniel manja.
"hmm...hm... belum muhrim Al... jangan terlalu dekat-dekat sama calon suamimu!" seketika gue langsung ngelepas pelukan di tangan Danniel dan langsung cemberut...
sementara para paman dan papah menahan senyumnya agar tidak keluar.
"Al ke dapur dulu deh bawain camilan buat kalian..."
"Yang... bisa buatin kopi?!"
"Ok Boss!" Ucap gue sambil berlalu dari hadapan mereka.
AUTHOR POV
"Jadi Danniel... susmdah berapa lama kamu berhubungan dengan cucuku?"
"baru beberapa bulan Kek, taoi saya ngejar cucu kakek sudah lama dan Cucu kakek itu sangat sulit untuk ditaklukan, maskipun itu sama saya..."
"hm... cucuku memang sangat pemilih sama seperti Ibunya, tapi kalau sudah jatuh cinta dia tidak akan berpindah ke lain hati, buktinya ada pada calon mertuamu tuh sampai putriku rela keluar dari rumah demi bersama dengan calon papah mertuamu..." Danniel hanya tersenyum.
"papah mertua pun sama Kek... dia sangat mencintai Almarhunm Ibu mertua.. dan saa akn belajar dari Papah mertua bagaimana cara menjaga istri.
Mereka pun menikmati sore itu dengan gembira dan bercakap-cakap tanpa rasa bersalah dan tanpa ada beban, hanya tawa riang semua keluarga besar berkumpul di halaman belakang.