I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 37 Kisah Hans



Bastian yang baru saja keluar dari kamar rawat Nadin melihat Hans yang dari jauh berjalan ke arahnya.


Bastian pun berjalan ke arah Hans dengan emosi yang sudah tinggi karena mengingat gara-gara dialah Nadin hampir sempat kehilangan bayinya, tapi Allah masih berpihak pada Nadin, bersyukur karena bayinya maupun Nadin baik-baik saja sekarang.


Buuukkk....


Bastian memukul keras wajah Hans sampai Hans tersungkur ke lantai.


"Hey... what your problem?!" ucap Dany yang langsung mendorong Bastian sambil memperingatinya.


Hans yang mengeluarkan darah dari sudut bibirnya pun hanya meludahkan darahnya lalu segera berdiri.


"Bagaimana keadaan Nadin?"


"don't call her name or look for her again otherwise you will keep hurting her again and again!"


(jangan pernah memanggil namanya atau mencarinya lagi kalau kamu akan terus menyakitinya lagi dan lagi)


"Kamu tidak tau masalahnya seperti apa, jadi jangan pernah ikut campur ke dalam urusan rumah tangga kami!"


"Oh.. apa ini yang kamu sebut dengan rumah tangga?!" ucapnya sambil melemparkan amplop yang dia bawa-bawa. Dan tercecerlah photo-photo hot Hans dengan Aquila.


"Aku nggak nyangka kamu bakalan ngelakuin trik ini sama Nadin sampai-sampai Nadin hampir saja keguguran... beruntung Nadin bisa mempertahankan bayinya meskipun keadaannya sekarang sangat lemah." Hans pun melihat ke arah Dany memberi isyarat untuk mengambil amplop itu untuk mencari tahu siapa yang mengirimnya.


"Ini tidak seperti yan kamu kira..."


"Kalau kamu tidak ingin terjadi apa-apa padanya tolong jauhi Nadin untuk sekarang ini, karena tidak baik jika emosinya naik turun untuknya maupun pada bayi kalian..." ucap Bastian memperingati Hans dengan serius.


"Aah.. dan satu lagi, dokter jaga tadi bilang ada kandungan obat cytotec di dalam darah Nadin, nggak mungkin kan Nadin sengaja meminum obat itu..."


"What?!"


"Hmm... selidikilah dari sana dulu jika kamu benar-benar sayang sama Nadin dan bayinya..." ucapnya lalu berbalik hendak mninggalkan Hans, tapi Hans mencekal lengan Bastian.


"Saya akan berada di luar, saya tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan istri saya sendirian."


"Hmm... lebih tepatnya berdua dengan saya kan?! lakukan apa yang kamu mau!"


***


Bastian duduk di samping ranjang rawat Nadin sambil melamun berfikir apa yang akan dilakukannya. Jujur awalnya Bastian melarang Gans untuk menunggui Nadin di luar kamar rawatnya Nadin, tapi setelah mendengar penjelasan Hans tentang photo dan juga situasi yang sangat riskan untuknya meninggalkan Nadin, Bastian pun berfikir ulang apalagi ini untuk keselamatan Nadin.


"Hey.. kamu udah bangun, Nad..." ucapnya saat melihat pergerakan pada Nadin dan mata Nadin mulai memgerjap melihat ke atap ruangan.


"Tian, ini dimana?!"


"Rumah sakitlah kamu pikir ini dimana? gila ya, Nad. aku tuh shock banget loh liat kamu kayak kemaren..."


"Bayi aku, Tian..." ucapnya khawatir.


"Tenanglah, bayi kamu baik-baik aja, Nad..." Nadin pun menghela napas dengan lega. Bastian terdiam.


"Nad, diluar ada suamimu..." Nadin terdiam sejenak. dia tidak bisa terus-terusan menghindar dari masalahnya dengan Hans.


"Biarin dia masuk, Tian." ucapnya sambil berusaha untuk mengganti posisinya duduk sambil bersandar.


"Are you sure?" ucapnya sambil membantunya. Dan Nadin pun hanya mengangguk memberi jawaban pada Bastian.


Bastian pun keluar dari kamar ruang rawat Nadin. Tak lama Hans yang gantian masuk ke ruangan Nadin. Terlihat Nadin mengatur napasnya meredakan emosinya sambil memalingkan muka.


"Nad..."


"Mas tau kenapa saya kayak begini kan? Dan aku nggak mau kata maaf lagi dari kamu, Mas."


"Tetap aja itu salah, Mas. Mas tau aku nilai Mas ingin bersama Aquila karena Aquila mirip sama Azura... dari awal aku selalu nyangka kayak gitu, Mas... dan sekarang setelah banyak bukti, aku jadi semakin yakin kalau Mas benar-benar ingin bersama dengan Aquila."


"Nad, Aquila sudah seperti adik bagi saya, mau dia mirip Azura sekalipun saya akan tetap menganggapnya seperti itu. karena tidak ada yang bisa menyamai Azura termasuk Aquila..."


"Dan, aku..."


"Nad, saya kan udah bilang saya akan mencoba berubah dan menerima kamu sebagai istri saya... paling tidak kamu harus percaya kalau saya tidak ada main di belakang kamu apalagi sama Aquila... kemarin itu hanya kesalahan... dan itu terjadi saat kamu pergi sampai tidak mau bertemu saya..." ujar Hans melihat Nadin yang sedang terdiam mencerna kata-katanya.


"Dan saya harap kamu masih mau mendengar alasan yang akan saya beberkan sekarang.. saya ingin kamu berhati-hati karena sekarang ini kamu sedang diincar oleh orang yang menganggap saya adalah musuhnya."


"Kenapa aku?"


"Karena kamu adalah istri saya, kamu ingat kan saya pernah bilang kalau mau jadi orang terdekat saya kamu harus ambil resiko seperti ini... Saya punya banyak musuh, Nad."


"Tapi--"


"Saya harap kamu mau diajak kerja sama, Nad. Dan untuk sekarang situasinya sangat tidak kondusif kalau kamu tetap besikeras untuk minta pisah dari saya..."


Tak lama Hans pun menceritakan kecurigaannya pada Aquila dan tentang seorang pria yang sedang mengincarnya melalui Nadin. juga surat kaleng yang diterima oleh keluarga Henney. tidak ada lagi yang mesti ditutupi oleh Hans pada Nadin karena Hans mau Nadin juga menjaga dirinya.


***


"Mas, yakin Aquila ada hubungannya sama kejadian ini?" ucap Nadin saat mereka sudah berada di Apartment Hans.


"Hmm... dan saya ingin kamu tidak berkomunikasi dengan Aquila atau ke butik Aquila sebelum saya memastikan dengan jelas. kamu bisa kan?"


"Hari ini saya tidak pulang, saya akan berjaga di rumah Boss Danniel, karena diteror kemarin...."


Nadin hanya mengangguk mengiyakan. Hans menatap Nadin sesaat laluenarik Nadin ke pelukannya.


"Maafkan saya menyeret kamu ke dalam masalah saya... dan ingat jangan kemana-mana, tetaplah ada di rumah, jangan membuka pintu apartment sembarangan! Saya akan menyuruh anak buah saya untuk berjaga disini.." ucapnya sambil melepaskan pelukannya pada Nadin.


"hmm... Mas... hati-hati..."


***


Hans yang duduk di kursi penumpang terus berjibaku dengan tabletnya mencari tahu pada anak buahnya perkembangan penyerangan ke rumah keluarga Danniel yang dia terima kabarnya dari Dany tadi.


"Boss..."


"Hmm..."


"Tentang obat yang di beritahu oleh Bastian kemarin, itu jenis obat yang bisa menggugurkan janin, dan setelah saya cari tahu sama para dokter, jika orang itu mengkonsumsinya dengan dosis yang berlebih apalagi mengkonsumsi obat itu setiap hari dikatakan bahwa kemungkinan orang itu tidak akan bisa mempunyai keturunan lagi... jadi..."


Hans yang dari tadi tengah serius dengan tabletnya langsung membanting tablet itu ke samping sambil mengurut keningnya pusing.


"Cari tahu siapa yang memberikan obat itu pada Nadin dan dengan cara apa?! Hah.... lama-lama saya bisa gila kalau harus sekaligus mengurus semuanya sekaligus!" ucap Hans kesal lalu bersandar ke belakang sambil memejamkan matanya.


"Dan, bangunkan saya jika sudah sampai di kediaman Henney!"


"Baik Boss!"


Haaahh.. syukurlah Nadin dan bayinya tidak apa-apa...


Belum beres masalah di perusahaan, ditambah lagi masalah di kelurga Danniel yang diteror sekaligus menjadi penyerangan di kediamannya sekarang masalah istrinya...


Belum sempat Hans beristirahat setelah pulang dari kalimantan, dia baru tidur dua jam dan sampai sekarang di belum istirahat lagi. Dengkuran halus sudah terdengar dari bangku penumpang pertanda Hans sudah terlelap. Dany pun melihat sekilas Boss nya dari kaca spion depan.


Haah... Boss, semoga masalah kelurgamu bisa terselesaikan dan semua baik-baik saja!


(punten untuk nama obat itu cuma halu ya... dan untuk diagnosa juga sedikit agak diperlebay, jadi untuk yang lebih tau tentang medis atau pakarnya, bisa diceritakan lewat komentar ya... inget.. disini kita cuma cerita fiktip yes)