I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 3 Kisah Hans



"Begini Pak, Bu, keadaan Nadin sebenarnya baik-baik saja, hanya saja luka di badannya ada sedikit memar dan sobek karena benda tumpul dan bekas pukulan dari pecahan kaca, dan... mungkin pasien akan sedikit trauma setelah kejadian ini. Saya akan konsulkan ke dokter psikiatri agar bisa diperiksa untuk lebih tau bagaimana kelanjutan pemeriksaannya dan kesehatannya."


"Lakukan apapun yang terbaik buat Nadin, Dok. Asalkan Nadin baik-baik saja dan bisa kembali lagi seperti semula." ucap Althea memohon pada Dokter itu.


"Pak, Bu... bisa saya bicara dengan kalian?" ucap Danniel kesal melihat kearah mereka. Ayah dan ibu Nadin pun hanya bisa mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa karena shock apa yang terjadi dengan putrinya.


***


"Apa yang akan kalian jelaskan sekarang?" ucap Danniel sambil duduk dengan arogannya di hadapan kedua orang tua Nadin sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Sementara Hans yang setia berdiri di belakang Danniel siap nerima perintah Danniel sambil menatap kedua orang tua Nadin dengan tajam.


"Kami benar-benar tidak tau kalau Bima akan melakukan hal semacam ini, kami kira dia anak baik---" ucapnya terhenti ketika telapak tangan Danniel diangkat artinya 'berhenti bicara'.


"Saya sebenarnya kurang tau bagaimana hubungan keluarga kalian, tapi istri saya sangat menyayangi Nadin dan sudah menganggap Nadin sebagai adiknya sendiri. Jadi mulai sekarang urusan Nadin biar kami yang urus."


"Tapi kami orang tua kandungnya Tuan..."


"Hmmm... Singa aja nggak akan memberikan anak Singanya untuk dimakan Hyena.. manusia macam apa kalian memberikan anaknya pada binatang buas seperti pria bang**t itu? padahal saya yakin kalau Nadin sudah berbicara pada kalian bagaimana sifat bajing*n itu!" kedua orang tua Nadin hanya menunduk karena memang benar apa yang dikatakan Danniel.


"Tetap saja Tuan, Nadin masih menjadi tanggung jawab kami!"


"Tidak mulai sekarang! karena Hans akan menikahi putri kalian, jadi mau tidak mau yang bertanggung jawab atas Nadin adalah Hans sebagai suaminya. Iya kan Hans?!" Hans yang membelalakan matanya karena terkejut dengan pernyataan Danniel pun terdiam sejenak. reaksinya pun di normalkan kembali saat kedua orang tua Nadin melihat kearah Hans.


"Benar Tuan, saya akan menikahi Nadin!" kedua orang tua Nadin pun saling pandang heran.


***


Seminggu sudah Nadin dirawat karena traumanya pun semakin membaik dikarenakan tiap hari dokter spesialis psikiatri datang ke kamar Nadin dan mengobati Nadin dengan terapi yang biasa dilakukannya.


"Hey... calon pengantin... bagaimana kabarmu?" ucap Althea yang baru saja masuk ke kamar rawat Nadin dan melihat Nadin sedang melamun.


"Kak... " ucap Nadin tersenyum.


"Gimana? seneng kan Hans bakalan jadi suamimu?!" Nadin pun tersenyum sambil mengangguk. "menghadapi seorang Hans kamu harus banyak-banyak bersabar karena sifat dan kelakuannya, kamu juga tau sendiri kan Hans kayak gimana?!"


"Iya, Kak.. aku akan berusaha bersabar, dan menaklukan hatinya..."


"Good! itu baru Nadin!"


***


"Mas, pulang jam berapa malam ini? Biar aku tunggu!" ucap Nadin mengawali percakapan di sela-sela makan malamnya bersama Hans yang sudah resmi menjadi suaminya.


Nadin terdiam, ingin sekali rasanya menangis, tapi ini resikonya karena menikahi seorang Hans. Nadin tidak tau lagi harus membalas apa selain anggukan mengerti. Nadin nggak mau banyak menuntut dari Hans, karena dia tau Hans menikahinya karena terpaksa. Tapi Nadin yakin dengan kesabarannya niat Hans yang terpaksa itu akan berubah.


Selesai makan dengan segala pemiikiran masing-masing, Nadin mengantar Hans hingga pintu Apartment.


"Saya pergi!" ucap Hans dengan canggung dan berat sekali rasanya. Hans memaksakan diri untuk mengecup kening Nadin. suatu hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Nadin memang, tapi itu sudah membuatnya sangat senang.


Nadin mengangkat wajahnya kearah Hans, dia pikir suaminya itu juga akan mengecup bibirnya mungkin? Tapi nyatanya nggak. Hans langsung beranjak setelah mengecup singkat keningnya Nadin. Nadin mengatup bibirnya rapat, menunduk malu dengan perasaan yang sudah tidak menentu.


"Hati-hati di jalan ya, Mas!" Hans mungkin saja tidak mendengarkan ucapan Nadin, karena Nadin mengucapkannya sangat pelan.


Nadin kembali kesepian karena sendirian di Apartment nya. Malam pengantin yang biasanya dinanti oleh para sepasang yang baru saja menikah, kandas.


Nadin tidak langsung tidur, dia memilih duduk di sebuah sofa yang terletak di ruang tengah alias ruang tv apartment Hans. Menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangan, merasakan dinginnya angin malam mulai menerpa setiap helai surai miliknya.


***


Pagi-pagi sekali Nadin sudah bangun dan beberes Apartment nya, ya... Meskipun sudah kelihatan bersih sih, karena baru dua hari kemarin orang suruhan Hans membersihkan Apartment nya. Tak lupa dia pun memasak untuk sang suami, jadi ketika sang suami pulang tinggal mengisi perut. Meskipun bahan-bahan sudah mulai menipis, Nadin masih mempunyai beberapa ide menu makanan sederhana untuk menyenangkan Hans. Nadin nggak ingin suaminya merasa kekurangan dalam hal apa pun.


Usai memasak, Nadin kembali sibuk dengan cuciannya. wanita itu sekarang terlihat sedang memperbaiki gulungan rambut hitam miliknya yang panjangnya sampai punggung, merapikannya keatas agar tidak merasa gerah. Leher jenjang bagian belakang Nadin nampak di tumbuhi bulu-bulu halus, kulitnya yang putih mulus semakin terlihat cerah. Pagi ini dia menggunakan dress tidur satin setengah paha berwarna putih. nampak begitu pas di tubuh moleknya, seksi sekali.


Mendengar suara pintu otomatis dibuka dan suara derap langkah seseorang menggunakan pantofelnya dari arah kejauhan, membuat senyum Nadin mengembang sempurna. Langkahan yang terdengar berirama itu semakin mendekat, Nadin bersiap menyambut kedatangan suaminya.


"Selamat pagi, Mas." Nadin menyapa ceria. Mengambil alih jas hitam milik Hans yang tersampir di lengannya. Dua kancing teratas kemeja pria itu sudah di buka, dengan kedua lengannya tergulung hingga siku.


Pemandangan yang indah di pagi hari ini melihat wajah tampan suaminya.


"Aku bantu lepasin dasinya boleh, mas?" tanya Nadin masih dengan senyuman yang terulas hangat.


Hans yang sejak tadi mengamati penampilan Nadin seketika tersadar, kemudian segera mengangguk untuk mengiyakannya. Sumpah ya, ini kali pertama Hans menatap wanita lain yang mengenakan pakaian terbilang sangat seksi selain wanita-wanita yang menggodanya saat dia menemani Danniel dulu di klub.


"Mas mau cokelat hangat?" tawar Nadin dengan begitu perhatian. Dia menunjukkan sikap pada dirinya sebaik mungkin. Nadin belum mengenal Hans secara utuh, sembari memasuki kehidupan pria itu, Nadin mencoba menggali lebih banyak apa yang Hans sukai dan nggak di sukainya. Bukan ingin menjadi orang lain, hanya saja Nadin mencoba menunjukkan versi yang terbaik dari dirinya sebagai penyesuaian diri dari pernikahan ini. Menjadi istri penuh cinta pada suaminya, memberikan perhatian penuh, dan berusaha membahagiakan sampai tidak terlintas rasa saling ingin menyakiti satu sama lain.


"Boleh, kalau kamu nggak keberatan saya juga ingin sedikit camilan yang sehat."


"Mas mau sereal? Nanti biar aku buatkan dalam mangkuk kecil saja. Nanti setelah beresin cucian kita makan bareng, aku udah siapin semuanya." Hans hanya membalas dengan anggukan kepala, Nadin segera beranjak menuju dapur. Membuatkan cokelat hangat dan menyiapkan sereal penuh dengan keistimewaan. Dia senang bisa melayani Hans seperti ini, semoga pria itu bahagia dengan perhatian kecilnya.


Hanya memerlukan sedikit waktu untuk menyiapkan dua menu sederhana itu, Nadin lantas kembali ke kamar utama mereka. Hans terlihat sedang menyandarkan punggungnya di sebuah sofa, kepalanya menengadah dengan mata yang tertutup. Nadin melihat betapa lelah pria itu dalam pekerjaannya.


"Mas, ini cokelat hangat dan serealnya. Hm... Mas mau aku pijitin bentar?" Hans menatap Nadin sebentar, lalu mengangguk saja pada akhirnya.