
Praaaankkk!!!
Sebuah cangkir berisi kopi yang akan di berikan oleh Nadin pada klien di ruangan Althea pun bercecer di lantai.
"Nad, kamu nggak apa-apa?" ucap Althea yang kaget dengan segera menghampiri Nadin dan suara pecahan gelas terdengar nyaring di telinganya.
"Maafkan saya Bu..." Ucap Nadin yang buru-buru membereskan pecahan itu.
"Aakhh!!" Nadin sedikit berteriak saat pecahan kaca itu mengenai tangannnya sampai berdarah.
"Duh.. kamu kenapa sih, Nad?! Udah lepas biar clining servis aja yang beresin kamu obati luka kamu sana..." Ucap Althea tegas pada Nadin.
***
"Let me know, what's been bothering you? want to share, Nad?" ucap Althea setelah dia sudah di ruangan. Dan saat itu Waktu sudah menunjukan waktu istirahat mereka, dan di ruangan Althra hanya ada mereka berdua.
Dan entah kenapa air mata Nadin pun tidak terbendung lagi saat Althea bertanya apa masalah Nadin. lalu Nadin pun menceritakan masalah Hans yang selalu pakai pengaman saat berhubungan dengannya dan banyak hal yang dia utarakan yang ada di dalam benaknya. Althea yang mendengarnya pun sedikit emosi, tapi dia juga salah karena telah memaksa Hans untuk menilahi Nadin jadi sekarang seperti ini. Althea hanya terdiam.
"Nad, saya udah bilang kan, kalau kamu menikah dengan Hans, kamu harus persiapkan 'Sabar' dan juga kamu harus menerima kekurangan Hans?" Nadin pun menganggukan kepalanya masih terisak.
Althea terdiam merasa bersalah dan juga berfikir keras, karena dari dirinyalah yang membuat Danniel untuk berbicara dan otomatis memaksa Hans supaya Hans menikahi Nadin.
"Nad... ada hal yang mesti kamu tau--" ucap Althea ragu. "sebelumnya saya minta maaf, sudah ikut campur sama masalah hidup kamu... tapi saya seperti ini karena saya sayang sama kamu, saya ingin yang terbaik buat kamu, Nad-- Hans menikah sama kamu... karena paksaan dari saya dan juga Danniel..."
Meskipun Nadin tau itu dari jauh-jauh hari, tapi tetap saja Nadin merasa sakit. Dari awal memang Nadin curiga kenapa Hans yang selama ini menolaknya tiba-tiba mau menikahinya, dan Nadin sudah mengira sampai hal yang terburuk sekalipun, ya... karena Hans kasihan padanya... Tapi, tenyata alasan ini lebih sakit daripada dikasihani oleh Hans.
Memang dari awal Hans tidak menginginkannya bahkan sampai sekarang! Althea pun menceritakan Kisah Hans terdahulu, dimulai dengan di Kisah bejadnya sikap Hans, sampai kisah Azura, wanita yang di cintainya sampai sekarang.
Beberapa kali Althea meminta maaf pada Nadin, sementara Nadin hanya tersenyum getir pada Althea sambil menghapus air matanya yang sudah mengering.
***
Beberapa hari kemudian...
"Sore Nad... Althea ada?" ucap Danniel pelan. Nadin kaget melihat tiba-tiba Boss Danniel ada disini dan secara otomatis suaminya pun sudah pasti ada disini.
"Eh Pak. Danniel, ada kok pak didalam! mau bikin surprise ya?" jawab Nadin mengikuti Danniel dengan memelankan suaranya juga.
"Hmmm... kangen juga ga ketemu sama dia selama tiga hari ini..." Nadin hanya tersenyum kearah Danniel.
Jujur Nadin sangat iri ketika Danniel selalu memberi kasih sayang dan kelembutannya pada Althea, perhatian-perhatian kecilnya pada Althea... Haaah, andai Hans seperti itu juga.. tapi itu sangat tidak mungkin, apalagi saat Nadin tahu kisah cinta Hans yang sangat mendalam sydah bertahun-tahun dia masih tetap mencintai orang yang sudah tiada.
Nadin pun tersenyum melihat kelakuan Bossnya sambil menggelengkan kepalanya lalu membereskan pekerjaannya yang tertunda tadi.
Tak lama Hans datang dengan muka lelah tapi masih terlihat tampan. sepertinya banyak yang sedang dipikirkannya. Nadin hanya menarik napas berat dia juga bingung bagaimana harusnya dia bersikap.
“Nad, ini berkas laporan tolong di cek Althea ya… tar lo taro lagi di meja ruangan gue!” ucap Gracia yang tiba-tiba datang dan melemparkan satu berkas ke meja Nadin.
“Baik, Bu!”
“Oh ya… katanya besok Althea ngadain meeting ya? Gue ga bisa dateng, ada meeting sama klien penting di luar, jadi lo aja yang jadi notulen gue, tar hasil rapatnya lo taro juga di meja gue!” lanjut Gracia seenaknya sebelum Gracia pergi dari meja Nadin. Nadin pun hanya tersenyum samara ke arah Gracia.
“Bukannya dia punya Assisten dan Sekretarisnya sendiri? Kenap dia nyuruh kamu yang jelas-jelas bukan bawahannya!” Nadin hanya mengangkat kedua pundaknya acuh.
“Mas mau minum apa? Kopi? Teh?”
“Kopi… malam ini ada kerjaan yang harus di selesaikan!”
“Mas kan baru pulang apa nggak sebaiknya istirahat dulu?!”
“Nggak bisa, besok udah harus presentasi buat laporannya.” Ucap Hans sambil menyalakan tabletnya. Nadin pun terdiam lalu ke pantry untuk membuatkan kopi dan menyuguhkannya di atas meja depan Hans.
“Ini kopinya, Mas.”
“Hmmm…” jawab Hans masih fokus dengan tabletnya.
"Mas... di Apartment kan ada kamar yang nggak pernah dipakai, boleh ga kalau aku pake?" Hans menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah Nadin tajam.
"Nggak bisa!"
"Kenapa? kan sayang juga, kalo nggak di pake tar ada yang nempatin loh.. kan bisa dipake ruangan buat sholat kek apa kek, jangan cuma dikunci dan nggak dipakai!"
"Nad, saya bilang nggak bisa ya nggak bisa!" ucap Hans dengan nada yang sedikit meninggi.
"Kenapa? Apa karena di dalamnya ada barang-barang dan kenangan Mas sama Azura?!"
"Nadin Safira Barata! Jangan pernah menyebut nama itu lagi?! dan jangan pernah mengusiknya!"
"Hah... kalau Mas seperti ini bagaimana bisa mau memulai hidup baru sama aku Mas?! Sedangkan hati dan pikiran Mas aja masih terpusat dan nggak mau melupakan pacar pertama Mas itu?!"
Hans terdiam, sebenarnya dia sangat malas membahas masalah yang sama, apalagi kemarin dia sempat melihat orang yang mirip sekali dengan Azura, alhasil pikirannya pun tidak fokus dan terus memikirkan perempuan itu.
"Saya capek, Nad harus berdebat hal yang sama terus menerus!"
"Dan Mas pikir aku nggak? Aku juga capek Mas! Tapi--" ucap Nadin tertahan.
"Hans ayo kita pulang!" ajak Danniel yang baru saja keluar dengan Althea.
Nadin pun berdiri dan menunduk. Althea yang melihat gelagat Nadin curiga dan meyakini kalau merela sedang bertengkar.
Hans pun mematikan tabletnya dan bersiap-siap untuk pergi.
"Niel... kita pulang sendiri aja, kasian Hans kalau harus nganter kita..." ucap Althea memberi kode pada suaminya. tapi emang Danniel orangnya lempeng ya, dia mana ngerti kode-kodean.
"Emang iya, Hans kamu mau pulang?!" Althea pun hanya memutar bola matanya kesal karena suaminya kurang peka dengan keadaan sekitar.
"tidak, Boss! Saya akan mengantar anda dan Nyonya ke rumah."
"Mending kamu pulang aja sama Nadin, toh kamu juga pasti capek kan, Nadin juga capek tuh kasian hari ini kerjaannya berat!"
"Oh, saya ga apa-apa Bu... Saya bisa pulang sendiri! silahkan Ibu sama Bapak diantar oleh Hans." Ucap Nadin menunduk sambil menahan air matanya agar tidak terlihat oleh Hans, Danniel dan juga Althea.
***
Hadeeeuuuhhhh makin ribeut aja ya ni hubungan Nadin sama Hans... ga ada kemajuan sama sekali kalo gini-gini aja...
Author aja bingung harus dibawa kemana haha..
peace just kidding...
so gimana nih kelanjutannya? mau dibawa kemana hubungan Nadin sama Hans???