I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Memaafkan



DANNIEL POV


Setelah kita nerima para tamu undangan dari kedua belah pihak sandara, teman maupun kolega gue dan juga papah. Akhirnya gue bisa ngasih surprise buat istri gue. Nggak lama MC manggil nama gue buat ke panggung dan gabung sama band pengiring. Althea yang bingung pun hanya bisa diam dan liat gue di pelaminan.



“I dedicate this song to my beloved wife who was there..." Gue langsung nunjuk Althea yang masih berada di pelaminan ngeliatin gue sambil tersenyum.


Sementara Hans dan Rafael gue liat mereka senyum sambil nunduk mungkin malu kali ya, gue tampil diatas panggung bersama band.


Saat latihan di studio emang mereka berdua selalu nemenin gue sih. Jadi ya.. Mereka pasti tau kualitas vokal gue.. Hahaha..


Gue liat Papah Angga, Mamah Nesya, Daddy, Mom, keluarga besar Althea dan gue diem liat kelakuan gue sambil tertawa riang.


Nggak lama para pemain band ngasih aba-aba sama gue dan mulai memainkan pianonya. Dan nggak lama suara gue pun masuk.


Guess it's true, I'm not good at a one-night stand


But I still need love cause I'm just a man


These nights never seem to go to plan


I don't want you to leave, will you hold my hand?


Oh, won't you stay with me?


Cause you're all I need


This ain't love it's clear to see


But darling, stay with me


Why am I so emotional?


No it's not a good look, gain some self control


And deep down I know this never works


But you can lay with me so it doesn't hurt


Setelah selesai, tepuk tangan para tamu menggema. Althea cuma diem masih liatin gue sambil tersenyum.


Gue pun nyerahin mic ke penyanyi aslinya dan turun dari panggung dibantu Hans dan Rafael yang sedari tadi setia nungguin gue.


"Gimana?" Gue liat Rafael.


"Good! Nggak kayak latihannya.. Buktinya banyak yang tepuk tangan buat lo..." Ucap Rafael cuek.


Memang dari awal dia yang nyaranin gue buat ngasih surprise sama Althea.. Ya... Dengan cara nyanyi buat dia di depan banyak orang. kapan lagi coba liat seorang Danniel Henney nyanyi di depan umum cuma buat surprise'in istrinya di acara pernikahannya.


Mereka berdua berenti saat gue mau jalan kearah pelaminan. Gue jalan liatin Althea yang lagi liatin gue dan gue cuma bisa diem liat saat dada dan perut Althea mengeluarkan darah, entah dari mana sama sekali tidak terdengar suara tembakan tiba-tiba 2 luka tembakan mengenai tubuh Althea. Semua Tamu langsung berteriak histeris dan berlari berhamburan ketakutan.


"Nooooo!"


Gue langsung buru-buru menghampiri Althea saat beberapa saat Althea ambruk ke lantai.


"No... Al, liat saya Al..." Gue liat Althea memegang dada dan perut yang terkena tembakan dan melihat darah ditangannya.


"Niel... saya..." Ucap Althea mulai terbatuk sambil mengeluarkan darah.


"No... Al please liat saya... Jangan tidur ya.. Liat saya Al...." Gue panik liat Althea kayak gitu. Althea hanya senyum kearah gue sambil megang pipi gue.


"I love you Niel..." Ucap Althea parau malah hampir tidak terdengar.


Suara gue bergetar nahan emosi, pengen nangis saat itu juga sebenarnya tapi liat Althea senyum gue ga bisa... Gue harus kuat.


"I love you more Al..."


Gue liat sekitar, para tamu yang berlarian, Hans pun yang langsung berlari mencari pelaku yang menembak Althea bersama anak buah gue dan Daddy pun ikut sibuk nyari pelaku itu.


"Niel, gue udah manggil ambulan mungkin bentar lagi mereka dateng." Rafael nyamperin gue sambil megang pundak gue.


"Niel... Saya..." dia liat gue sambil netesin air mata.


"Shuuutt... Yang nggak usah ngomong duku ya sayang... You're fine, you're okay Al..."


Saat gue mikir nggak sanggup kalo harus kehilangan Althea seketika air mata gue mulai menetes. Cengkraman dipundak gue makin keras, Rafael tau kalo gue lagi nangis.


"Niel, lu harus yakin kalo Althea nggak akan apa-apa! dan lu juga harus kuat, sabar bro..."


Tak lama Althea pun pingsan.


"No... Al.. please bangun Al.. saya mohon... Aarrrrghhtt!!"


Siapa yang ngelakuin ini sama Althea?! Baru aja gue ngerasain bahagia dan bisa dapetin dia.


"Aaaaaaaaaakkkhhhhh!!" gue teriak sekuat tenaga sambil meluk Althea yang sudah pingsan.


***


Di Depan ruang Operasi...


Tiga jam berlalu...


"Niel, dibalik ini semua pasti ada hikmahnya, kamu harus sabar dan tabah, Daddy, papah Wiriawan dan Hans sedang menyelidiki pelakunya... Mommy harap kamu tenang ya nak..." Ucapnya di deket telinga gue sambil meluk gue. Gue cuma bisa diem.


Nggak lama kemudian lampu operasi mati dan dokter pun keluar dari ruangan operasi. Kami pun langsung beranjak menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Gue langsung to the point nanya sama dokter yang nanganin Althea. Dan dokter itu hanya terdiam menunduk.


"Nggak, nggak mungkin dok, tolong selamatkan menantu saya dok! Saya akan bayar berapa pun tapi tolong selamatkan menantu saya...!" Mommy langsung histeris melihat dokter yang menunduk tadi. Kaki gue langsung lemas nggak ada tenaga buat berdiri dan denger kata dokter, gue langsung ambruk ke lantai.


"Nak, tenanglah... Dengarkan dulu penjelasan dari dokter..." Ucap Papah Angga yang dari tadi hanya terdiam sambil berdoa dan sekarang dia nenangin gue yang lagi down.


"Bu.. Pak... Tenanglah... Keadaan ibu Althea sudah melalui masa kritis, dan peluru pun sudah kami angkat dari tubuh ibu Althea."


"Alhamdulillah... Nak... Tenanglah, kau harus kuat sayang..." Ucap Mommy sambil menangis meluk Gue.


"Bisa keluarga dari pasien untuk ikut ke ruangan saya saya akan menjelaskannya..."


"Mom, Mommy sama Mamah Nesya aja yang ikut sama dokter ya.. Saya disini nemenin Althea... Saya ingin berada disisinya...."


**


Mobil gue parkir di parkiran kantor polisi yang tersedia. Tanpa nunggu waktu lagi gue langsung jalan ke dalam kantor polisi itu dengan amarah yang sudah memuncak. Anak buah Daddy nunggu gue di luar kantor polisi itu dan nyambut gue lalu nganterin gue kepada Daddy dan Hans yang sudah menunggu.


Ya... 15 menit lalu Hans telpon dan mengabari kalau mereka sudah menangkap orang yang telah menembak Althea.


Saat masuk ke ruangan yang disediakan Daddy dan Hans sudah menunggu.


"Niel..."


"Mana dia? Bawa saya kehadapannya!" Ucap gue tegas dan menggebu karena amarah sambil melihat kearah Hans yang masih terdiam.


"Niel... Tenangkan dirimu... Semua sudah diserahkan pada polisi!" Daddy memeluk gue nenangin gue yang lagi emosi tingkat tinggi.


Gue pun mengatur napas dan nenangin emosi gue. Lalu kita pun duduk di sofa yang tersedia di dalam ruangan itu.


"Jadi siapa dia?" Ucap gue melihat kearah Daddy dan Hans bergantian.


"Bos... Kau masih ingat Reqi?" Gue ngeliat Hans heran.


"Reqi? Yang dulu nyulik Althea gara-gara saya?!"


"Ya, dan dia adalah kakaknya Reqi... Dia tidak terima kematian adiknya yang mengenaskan, dan karena dia taunya semua itu karenamu jadi dia pun ingin membalas dendam padamu melalui Althea" Jelas Hans.


"Hah... Dia mati gara-gara ulahnya sendiri Hans, dan dia mati ditangan polisi bukan saya!"


"Ya... dan itu masih belum diterima oleh kakaknya Boss..." Gue cuma diem.


"Dan Niel, satu hal lagu yang harus kamu tau... Nancy juga ikut bersamanya merencanakan semua itu..." Lanjut Daddy melihat gue menyesal.


"Nancy?" Gue liat kearah Hans. "Jadi dia di lindungi sama Araka?"


"Benar boss, dan selama ini mereka diam di sebuah gudang kosong dan merencanakan penembakan terhadap Althea." Lanjut Hans menunduk.


"Bawa saya sama dia! Hans..." Ucap gue tegas kearah Hans.


"Niel... Dengarlah, kau tidak bisa bersikap semaumu, meskipun memang bisa, tapi kamu tetap harus menghormati peraturan disini Niel..."


"I know Dad... Dan saya akan berusaha untuk tidak membunuhnya. Kecuali kalau dia yang menginginkan!" Ucap gue melihat kearah Daddy.


**



Saat gue masuk ke ruang introgasi...


Gue liat dia lagi duduk dengan muka yang babak belur, mungkin itu dihajar anak buah gue dan Daddy. Saat gue datang dia liat kearah gue sambil menyeringai.


"Well well well... Siapa ini yang datang kehadapan gue??" Ucapnya menantang. Gue cuma menghela napas dan duduk di depannya.


"Araka, kakak dari Reqi, orang yang udah ngusik kehidupan gue... Hah... Kakak dan adik sama aja!"


"Hah... Gimana rasanya? Hahaha.. Apa dia mati? Atau sedang sekarat?" Ucapnya santai bersandar di kursi itu ngeliat gue dengan penuh kemenangan. Dan sebisa mungkin gue nggak terpancing dengan kata-katanya.


"Sekarang lo tau rasanya kehilangan orang yang lo cintai kan?" Gue memejamkan mata menahan emosi lalu menarik napas.


"Hah... ya, benar... Saya sangat takut kehilangan Althea, dan dengan doa semua Orang yang menyayanginya dia melewati Masa kritis dan sekarang dia sedang dalam keadaan baik-baik saja..." Gue liat raut wajahnya berubah.


"Dengar Raka... Gue mau menjelaskan masalah gue sama adikmu Reqi. Saya memutuskan kerjasama dengan Perusahaan Reqi karena kelakuan Reqi terhadap karyawan saya yang kurang ajar, dan saat memutuskan kotrak saya juga sudah membayar pinalti sesuai dengan perjanjian... Tapi entah kenapa sepertinya dia tidak menerimanya dan mengganggu Althea yang saat itu menjadi Sekretaris saya, otomatis saya mengerahkan anak buah saya untuk melindungi Althea dari adikmu, sampai saya lengah dan akhirnya adikmu menculik Althea. Dan saat itu saya lagi di singapore, dan saya hanya mengandalkan polisi untuk mencari Althea dan adikmu. Saat tau saya juga menyerahkan diri padanya karena yang dia inginkan saya bukan Althea. Dan saat dia menembak saya untungnya saya memakai rompi anti peluru dam saat itu polisi yang sudah melindungi saya pun akhirnya menembak Reqi karena serangannya. Dan akhirnya nyawa adikmu tidak terselamatkan karena terlambat dibawa ke rumah sakit." Jelas gue melihat Raka yang sedang serius mendengarkan cerita gue.


"Raka... Sadarlah dan menyerahlah untuk balas dendam pada saya.. Karena itu hanya akan sia-sia saja! Semoga kamu sadar saat menjalani hukumanmu seumur hidup berada dalam penjara. Hah... Saya sudah memaafkanmu dan saya juga berharap kamu juga memaafkan saya dan adikmu, hiduplah dengan damai, dan tentang Nancy... Saya juga akan menyerahkanya pada polisi."


"No... Aaaaaakkkkkkhhhhh!!!!" Teriaknya histeris. Tak lama beberapa orang polisi datang dan membawanya keluar dari ruangan itu.


Dan saat gue keluar dari ruangan itu gue liat Hans dan Daddy berdiri dan melihat gue sambil tersenyum.


"Good Henney... Kau bisa meredakan emosimu dan akhirnya kata maaf yang pasti sulit kamu katakan keluar juga..."


"Saya hanya nggak mau kejadian ini terjadi lagi sama Althea Dad... Mungkin dulu saya tidak perduli dan pasti akan seperti itu, tapi semenjak saya punya Althea saya tidak bisa kehilangan Althea Dad..."


"Good Niel... Kau sudah dewasa dan sudah mempunyai tanggung jawab lagi mulai sekarang... Jagalah istrimu dengan baik, jangan sampai kau menyakiti dan membuatnya menangis..." Ucapnya memeluk gue.