
Pukul Lima subuh, setelah Nadin sholat subuh dia langsung ke dapur menyiapkan sarapan untuk Hans nanti, dan membereskan Apartment nya yang tidak kotor. Setelah itu Nadin mandi dan bersiap pergi ke kantor.
Jangan ditanya Nadin tidur atau tidak setelah obrolan yang sedikit memanas tadi malam itu. Yang jelas wajah Nadin terlihat pucat dan matanya kelihatan bengkak. Nadin tidak mau berpamitan ataupun membangunkan Hans yang masih terlihat terlelap. Entah dia tidur atau hanya pura-pura karena Nadin juga merasakan setelah itu Hans menjadi gelisah dan tidak terlihat tenang.
***
Pukul delapan...
Althea datang dan melihat Nadin sudah berada di mejanya.
"Pagi Nad..." sapanya ceria.
"Pagi Kak..." meihat Althea sekilas lalu memfokuskan lagi matanya kerah komputer dihadapannya. Althea yang baru sajaemperhatikan wajah Nadin yang sembab langsung terdiam kaget.
"Loh, Nad.. kamu kenapa? kamu habis nangis? berantem sama Hans?!"
"Nggak kok Kak, aku cuma agak stress aja, kakak tau kn kemarin aku dipanggil atah sama ibu ke rumah..."
"Oh, mereka ngomong apa lagi sama kamu? nggak bosen ya terus ganggu kehidupan kamu walaupun kamu sudah menikah?!" Nadin cuma tersenyum kecut.
"Ya.. Kakak tau kan sifat ayah dan ibu saya kayak gimana... nanti juga baik lagi.. kakak ga ysah khawatir.."
"inget ya, kalau kamu butuh teman untuk bicara, saya siap mendengarkan..."
"Hmm.. makasih, Kak..." Nadin pun menghela napas berat. Althea pun masuk ke ruangannya.
***
Sementara itu di Apartment...
Hans yang baru saja bangun dari tidurnya pun melihat kearah samping, tidak melihat Nadin di sisinya. Sebenarnya Hans tidak bisa tidur setelah ucapan Nadin yang membuatnya berfikir keras. Tapi rasa lelahnya tidak bisa memaksanya untuk terus tetap terjaga, hingga pada akhirnya Hans pun tertidur dengan sendirinya.
"Aaakkhhh... Sshhtt" gumamnya saat kepalanya pusing tujuh keliling karena kurang tidur. Hans pun menyikap selimutnya dan beranjak ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi Hans pun keluar dari kamar mandi hnya memakai handuk yang melingkar di pinggangnya, menampakan badan dan tangannya yang kekar. Dia pun berjalan ke ruang pakaiannya dan terlihat pakaian yang sudah dipilih Nadin untuk dipakai Hans hari ini dengan dasi juga jam tangannya. Hans pun terdiam sejenak dan mengingat lagi kejadian tadi malam yang sekrang membuatnya pusing, kesal, juga ada rasa bersalah pada Nadin karena apa yang dikatakan Nadin semuanya adalah benar. tapi yang Hans tidak habis pikir kenapa bisa Nadin menjadi sesensitif itu tadi malam dan membuat deduksinya sendiri tentang perasaannya yang tepat seratus persen. Apa yang memicunya? Apa karena laki-laki yang Nadin temui kemarin siang?
"Halo Dan, bisa kamu selidiki kemana istri saya pergi selama seharian kemarin? Hmm.. it's ok ga papa. Mm--Hmm thanks, Dan!" ucapnya setelah dia memakai pakaian kerjanya menelepon orang kepercayaannya.
***
pukul tiga sore...
Saat Danniel, Rafael dan Hans tengah meeting masalah pekerjaan di sofa ruangan Danniel...
"Serius lo mau akuisisi PT. Pratama?"
"Hm... Direktur dari PT. Pratama udah nggak konsisten banyak janji dan nggak kompeten... udah kita ambil alih ancurin perusahaannya Hans! saya ga mau tau!" tidak ada jawaban dari Hans Danniel dan Rafael pun melirik ke arah Hans yang sedang melamun sambil mengerutkan keningnya.
"Woy.. Hans! kenapa lo!" tandas Rafael sambil cengengesan baru kali ini dia melihat seorang Hans seharian tidak fokus dalam bekerja.
"sehat kamu Hans?!" ucap Danniel mengalihkan perhatian.
"im good, Sir. I'm sorry for not attention..."
"It's okay, pokonya saya mau setelah mengambil alih PT. Pratama kamu hancurkan perusahan itu tanpa bekas!"
"Baik Boss!"
"this meeting is over!" ucap Danniel tegas. lalu melemparkan map yang didalamnya ada berkas-berkas dari PT. Pratama. Hans pun mengambil berkas itu dsn menyimpannya di dalam tasnya.
Sementara Rafael dan Danniel salung pandang memberi isyarat.
"So, Hans.. apa yang menyebabkan hari ini kamu nggak fokus?" ucap Danniel mulai santai.
"Bro.. kalo ada masalah ceritalah sama kita, kayak ke siapa aja lo..." Rafael. Sentara Hans sendiri hanya tersenyum kecut sambil menggeleng kepalanya.
"bukan msalah yang serius Boss... saya masih bisa tangani..."
"Apa masalah istri lo?!" tanya Rafael kepo tingkat tinggi.
Tak lama pintu ruangan Danniel terbuka dan Althea masuk dengan menampilkan senyuman lima wattnya buat suaminya.
"Hey, bebz..! bentar ya, saya beres-beres dulu, baru beres meeting soalnya..." melirik kearah Hans dan juga Rafael. Althea pun terdiam malu melihat kearah Rafael dan juga Hans.
"Hay... Kalian... dipikir ga ada kalian disini.."
"Ck... kalian itu ya, nikah lebih lama dari kita tapi rasa kayak baru nikah aja.. tuh yang baru nikah juga ga kayak gitu..." sindirnya melempar pada Hans. Althea pun melirik pada Hans...
"iihh lu itu ya... peka kek sama bini lu! orang bini lu lagi setres malah dibaikan! harusnya lu tenangin bini lu supaya ga inget terus omongan orang tuanya..." cerca Althea sambil memukul lengan Hans kesal. Hans sendiri terdiam tidak mengerti apa yang dikatakan Althea. Danniel dan Rafael yang melihat kelakuan Althea yang ajaib itu hanya menggeleng kepala bersamaan.
***
Hans yang sedang berada di dapur rumah milik Danniel sedang bekerja di deoan laptopnya sambil meminum Kopi bikinan Bi Rani. tiba-tiba dikejutkan dengan telepon masuk yang dilihatnya dari Dani, orang kepercayaan Hans yang dia minta untuk mencari informasi tentang istrinya.
"Ya, Dan... gimana?" jawab Hans to tge point. Sambil berjalan ke taman belakang mencari tempat sepi untuk leluasa bicara dengan Dany.
"Jadi Boss, Kemarin setelah bekerja, lalu seorang pria yang memang sedang bekerjasama dengan perusahaan dari Wiriawan's pria itu mengajak istri boss untuk makan siang di se uah cafe." jels Dany dari seberang telpon.
"Mm--Hmm... trus?!"
"Iya disana Pria itu berniat mengajak balikan lagi dengan istri Boss... dan akan menikahinya, saat dia tidak tau kalau Nyonya Nadin sudah bersuami. tapi setelah tau pria itu oun mengurungkannya..."
"Mmhh.. terus?!"
"Di sana baru perdebatan antara kedua orang tua Nyonya dan Nyonya mulai kiaruh menurut pemyelidikan saya karin, sebenernya Nyonya selalu di paksa dan dituntut untuk segera mempunyai keturunan denganmu Boss... dan setiap harinya Mereka selalu memberikan pesan singkat di handponenya untuk mengingatkan Nyonya segera hamil." Hans pun memghela napas panjang dan memijit pangkal hidungnya pening tiada duanya.
"pantas saja! ok makasih Dan.. nanti saya transfer!"
"Siap Boss!" Hans pun menutup teleponnya lalu segera bersiap-siap untuk pulang.
***
pukul tujuh malam, Hans yang sudah sampai di Apartment, mendapati Apartmentnya sepi, tidak ada kehidupan, dan belum ada tamda-tanda Nadin pulang.
Hmm... masih belum pulang juga? kemana dia?
***
Satu jam kemudian...
Setelah Hans sudah berpakaian santai dengan kaus polo shirt dan celana santai selutut berwarma cokelat sedang duduk di sofa ruang tengah sambil memeriksa pekerjaan di tablet miliknya.
Nadin pulang ke rumah masih dengan pakaian kerjanya.
"kamu baru pulang?" Ucapnya melihat kearah Nadin.
Seketika langkah Nadin pun terhenti saat suara suaminya mengagetkannya. karena saat masuk Apartment lampu semua mati seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan dan Nadin pun tidak memperhatikan lampu tablet yang menyala di ruang tengah karena Nadin pikir suaminya belum pulang dari rumah Danniel Henney, dan sesuatu sekali hari ini, ketika Nadin pulang Hans sydah berada di Apartment.
"Mas, udah pulang?!"
"bisa jawab dulu pertanyaan saya?!"
"Kan, Mas bisa liat sendiri kalau aku baru pulang..."
"Dari mana?" Hans pun mulai mengembalikan pandangannya ke arah tabletnya lagi.
"keliling kota..." jawab Nadin acuh.
"Sama mantan pacar kamu itu?!" Nadin pun mengerutkan kening.
"Kok, Mas tau?!" Nadin merasa sedikit senang sudah pasti Hans mencari tahu tentangnya.
Apa dia cemburu???
"Jangan terlalu sering ketemu, nggak enak kalau diliat orang lain apalagi orang yang kenal, bisa jadi keluargamu..." ucap Hans datar tanpa melihat ke arah Nadin.
Mimik muka Nadin yang tadinya sedikit tersenyum ada harapan pun berubah.
Hah... aku pikir dia cemburu, taunya takut omongan orang lain?! tapi aku juga salah sih, nyari kesenangan sama mantan itu nggak bener...
"Iya... maaf! Mas udah makan? aku masakin ya, tapi boleh aku mandi dulu, ga enak soalnya keringetan..."
"Hmm...." gumam Hans dingin sekaligus menjawab ucapan Nadin.
Saat Nadin berjalan ke dalam kamar Hans pun mulai melihat kepergian Nadin sampai menghilang masuk ke kamar.