
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Rendi?" Sean mengernyit bingung.
"Iya, Rendi temen kelas kita pas SMA." Sean terdiam sambil berfikir.
"Ah, iya gue inget orangnya," Sean manggut-manggut begitu dia berhasil mengingat wajah si pengirim undangan pernikahan. "Hmm... Acaranya besok malem. Ya udah kita berangkat bareng aja pake mobil gue!" ajak Sean.
"Sorry bro, gue mu bareng sama Salsa. Tapi kalo lo mau ikut sama kita..."
"nggak jadi," potong Sean. "Tar kesannya gue malah jadi obat nyamuknya kalian lagi. tar gue berangkat sendiri aja, kita ketemun di sana aja."
"Lo yakin bakalan dateng sendiri ke sana?" tanya Nino.
"Yakin lah. Lagian gue mau dateng sama siapa lagi? Ya kali gue harus membawa orangtua gue ke acara pernikahannya si Rendi."
"Bukan orangtua lo juga kali Sean. Emangnya lo siap buat jadi bahan cibiran anak-anak sekelas kalo lo dateng tanpa gandengan?" sebelah alis milik Nino terangkat meninggalkan tempat semestinya.
"Tahu sendiri kan gimana hobi temen sekelas kita dalam urusan nyinyir. Saran gue sih mendingan lo ke kondangan bawa gandengan deh!"
"Gandengan? Siapa yang harus gue bawa ke kondangan."
"Ya, calon istri lo lah, masa orang laen."
"Maksud lo gue harus membawa Bina?"
"Ya, Siapa lagi calon istri lo kalo bukan Rubina? Tapi terserah lo sih. Kalo emang lo pengen dijadiin bahan nyinyiran temen-temen pas di nikahan Rendi, Lo bisa milih buat dateng sendiri."
"Apa iya gue harus bawa tu anak ke kondangan?" Sean
Nino mengedikkan bahunya.
"Semuanya balik lagi ke diri lo Sean. Ya... Kalo Lo siap mental buat dibully, Lo bisa dateng sendirian. Tapi kalo mau nyari aman, lo bisa minta Bina buat ikut sama lo. Sekalian juga kan lo belajar buat buka hati lo dengannya."
Emerald jadi auto bingung sepulangnya dia dari kantor dan disambut senyum ramah oleh adik perempuannya. Yang membuat Emerald bingung karena setahunya adiknya tidak pernah memperlihatkan senyum hangat seperti itu padanya.
"Lo nggak kesurupan kan, Bi?" Emerald menatap dengan prihatin ke arah adiknya.
"Kesurupan? gue baik-baik aja kok, Kak. Kenapa Kak Eme ngira gue kesurupan?" bingung Rubina dengan keningnya yang telah mengerut dalam.
"Soalnya aneh banget liat tingkah lo nyambut kedatangan gue dengan cara kayak gini. Biasanya juga lo diem kayak patung."
"Nih, buat Kak Eme." Rubina mengulurkan tangannya yang menggenggam sebuah paper bag. Tadi, sepulangnya dia dari kampus, Rubina sengaja mampir ke mall semata-mata untuk membelikan kakaknya beberapa kaos.
Sejauh ini Emerald masih bingung. Emerald belum menyambut uluran tangan Rubina yang memberikannya sebuah paper bag. Emerald masih ingin mencaritahu alasan adiknya tiba-tiba jadi sebaik ini padanya.
"Apaan tuh isi paper bag nya?" tanya Emerald bukannya langsung menyambut dan memeriksa isi paper bag itu.
"Ya kalo mau tau Periksa aja Kak!" ujar Rubina semakin mengulurkan tangannya. "Ini hadiah dari gue buat lo Kak."
"Hadiah?" ulang Emerald.
"Ini bukan hadiah ulangtahun Kak."
"Terus kenapa lo ngasih gue hadiah? Oh atau sebenarnya lo mau minta bantuan gue lagi?" kembali Emerald memperlihatkan mata yang menyipit tanda mencurigai.
"Nggak Kak. gue ngasih hadiah karena tadi Kak Eme udah bantu gue."
"bantu apa?" bingung Emerald.
"Tadi Kak Eme nelpon Sean kan supaya dia nganterin gue ke kampus. Karena itu gue ngerasa seneng dan ingin berterima kasih sama Kak Eme karena udah ngelakuin hal-hal yang senang sih. Nih, Kak, hadiah kecil dari gue."
Kali ini Emerald menyambut pemberian adiknya. Dia memeriksa paper bag itu, menemukan ada tiga buah kaos dengan warna beraneka ragam. Ada kaos berwarna hitam, abu-abu, dan juga krem.
"Kak Rme seneng enggak dapat hadiah kaos dari Bina?" tanya Rubina karena gadis itu tidak menemukan raut bahagia di wajah kakaknya setelah mengecek kaos pada paper bag pemberiannya. Bahkan Rubina menilai respon kakaknya nyaris biasa saja. Wajahnya begitu datar seolah tidak terdapat secuil pun kebahagiaan yang dia rasakan setelah menerima hadiah.
Bahu milik Emerald bergerak, mengedik. "Entahlah," singkat Emerald menjawab pertanyaan yang diajukan oleh adiknya.
"Kok entahlah?" tanya Rubina.
"Gue bingung harus senang atau nggak dapetin hadiah kaos seperti ini dari lo, atau justru gue harus biasa saja ngeresponnya. Karena pada akhirnya kaos ini juga bakal lo ambil juga. Awalnya bilang minjem dan akhirnya kaos itu berpindah ke lemari pakaian lo."
"gue janji bakalan nandain yang gue hadiahi kaos buat Kak Eme. gue nggak akan minjam yang itu."
"Ngeliat lo ngasih gue hadiah cuma karena gue meminta Sean nganter lo buat gue percaya kalo lo beneran sangat mencintai Sean. Semoga saja suatu hari nanti apa yang lo harepin bakalan terwujud." Emerald menepuk bahu adiknya perlahan. "Thanks hadiahnya. Kalo gitu gue ke kamar dulu. Mau mandi."
Begitu kakaknya sudah menuju ke kamarnya Rubina juga beranjak menuju ke kamarnya. Setibanya di kamar, Rubina langsung mendekat ke nakas mengambil ponselnya yang memperdengarkan notifikasi tanda ada panggilan masuk.
Rubina hanya memperhatikan layar ponselnya yang menampilkan panggilan dengan nomor baru. Bukan kali pertama sih Rubina mendapatkan telepon dari nomor tidak dikenal. Kemarin dia juga sempat dapetinnya. Makanya Rubi a agak malas untuk mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal.
Ting!
Kali ini bukan upaya sambungan telepon, melainkan sebuah pesan singkat dari nomor yang sama. Karena penasaran, Rubina mengetuk ponselnya membaca pesan singkat yang entah siapa pengirimnya.
[Apa lo sengaja nggak ngangkat sambungan telepon gue barusan?]
Sungguh. Rubina sama sekali belum memiliki bayangan tentang siapa orang yang sedang mengiriminya pesan singkat. Semakin dia membuat kepalanya berpikir, rasanya otaknya malah semakin buntu saja.
Ting!
Suara itu pertanda bahwa ada lagi sebuah pesan masuk dari orang yang sama.
[Ini gue, Sean. Angkat teleponnya!]
Rubina meneguk salivanya susah payah. Hampir saja dia kehilangan keseimbangan karena tidak mengira Sean yang mengiriminya pesan. Andai tahu dari awal bahwa si penelpon adalah calon suaminya, niscaya Rubina pasti akan langsung mengangkatnya tanpa banyak pertimbangan.
"Ini serius enggak sih, atau mungkin Rara dan Syifa yang nge-prank gue?" bukannya mau suudzon, tapi Rubina sedikit tidak percaya Dr. Yesi akan menghubunginya. Kalau pun orang yang mengirim pesan itu benar Sean, Rubina jadi bertanya-tanya, kesambet apa dia sampai meluangkan waktunya untuk menghubungi Rubina?
Bunyi ponsel membuat si empunya menyentak kaget. Rubina -yang sedang melamun-seketika meruntuhkan bayangan yang terjebak di dalam imajinya. Rubina dengan tangan yang tremor tidak langsung mengangkat telepon dari Sean. Dia lebih dulu mengatur embusan napasnya. Setelah merasa agak baikan, dia pun mengangkat sambungan telepon katanya berasal dari Sean.
"Halo." Rubina memulai percakapan via telepon itu dengan debaran jantung yang sudah menjadi-jadi. Rubina sedang berharap orang yang menghubunginya beneran Sean, bukan prank yang dilakukan oleh sahabatnya.
"Kenapa kau baru mengangkat teleponku?"