I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 15 Kisah Hans



Flashback On


Suara jam weaker di atas nakas samping kiri berbunyi tepat pukul Enam pagi. Hans melihat kesamping tidak ada sosok Nadin. Lalu dengan langkah gontai Hans pun berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan badan setelah bermain dengan Nadin.


Hans menyalakan shower dan badannya masuk ke dalam kucuran air itu sampai kepala. Rambut Hans pun ikut terjatuh dan basah karena air itu, Hans terdiam sambil memejamkan matanya. Dengan berbagai macam pikiran yang berkemelut di dalam otaknya. Hans pun akhirnya hanya menghela napas kasar.


Bukannya Hans tidak tahu yang diinginkan Nadin, Hans juga sadar bagaimana reaksi Nadin yang terlihat terpaksa saat berhubungan tadi malam dengannya.


Hampir satu jam Hans mandi sambil menjernihkan kepalanya. akhirnya pria itu pun keluar dari dalam kamar mandi hanya mengenakan handuk di pinggangnya, dan handuk kecil yang dia ambil dari dalam kaca lemari dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


Hans heran menaikan halisnya, meneliti kamarnya yang belum melihat sosok Nadin yang menampakan diri. Biasanya setelah Hans selesai mandi, dia masuk untuk menyuruhnya sarapan juga membantunya menyiapkan segalanya dari pakaian, sepatu, jam tangan dan biasanya membantunya untuk memakaikan dasi. Tapi Hans heran karena bajunya belum disiapkan dan juga kehadiran sosok Nadin yang dari tadi diharapkannya belum nampak.


Setelah Hans sudah siap dengan pakaian kerjanya lengkap. Pria itu pun berjalan ke luar kamarnya dan melangkah ke arah dapur, di sana pun dia tidak menemukan sosok Nadin, meja makan dan dapur bersih tidak terlihat ada pergerakan disana.


"****!!" gumamnya baru sadar kalau Nadin memang tidak ada di Apartmentnya. Hans pun kembali melangkah ke kamarnya dia melihat lemari Nadin yang masih ada pakaiannnya dan beberapa barang Nadin.


"Barangnya masih ada, kemana dia?!" ucapnya sambil kembali memeriksa barang Nadin yang tidak ada.


"Dia tidak ke kantor, Baju dan tas kerjanya ada, yang hilang adalah dompet, pouch makeup dan peralatan mandinya yang hilang dari tempatnya, dia pun membawa tas ranselnya dia juga memakai Sneakers favoritnya." gumam Hans pelan.


Hans pun langsung menelpon Dany dan menyuruh Dany mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Nadin.


Saat Hans keluar dari lift dan melangkah ke luar lobi ada Satpam yang menghampirinya.


"Siang, Pak. Hans. Tumben nih kok berangkatnya siang? Biasanya pagi... atau bangunnya kesingan karena ga ada Bu. Nadin yang bangunin ya, Pak?" Hans terdiam mendengar celotehan satpmnya itu dan melihat dingin kearah satpam itu.


"kamu tau kalau istri saya pergi?!" ucapnya mengerutkan kedua halisnya.


"Ya taulah, Pak. Orang tadi malem saya ketemu sama Bu. Nadin, anehnya dia keliatan sedih banget malah pas keuar Apartment di depan pintu bu. Nadin jongkok sambil nangis. tapi serelah hujan turun baru Bu. Nadin pergi naik taxi." Jelas Satpam yang benar-benar bertemu dengan Nadin tadi malam.


Flashback Off


***


Di salah satu kota di Indonesia...


Di sebuah proyel yang sedang di bangun...


Nadin dengan sigap dan tegas memberikan arahan pada para pekerja disana mulai dari mandor, desainer konstruksi dan orang-orang yang terkait dalam proyek itu.


Nadin dengan mengenakan celana kain panjang berwarna abu, kemeja biru langit yang dimasukan ke dalam celana dan sepatu snakers yang dia pakai saat kunjungan ke proyek agar lebih leluasa berjalan kesana kemari, Tak lupa hem keselamatan oun dipakai olehnya


Tanpa Nadin sadari dari kejauhan ada orang yang sedang memperhatikannya dari dalam mobil.


Tak lama mereka pun berjalan menyusuri tanah yang bergerinjul dan masih banyak bebatuan besar, masih sambil mengobrol tentang kerjaan dengan rekan-rekan yang lainnya. Karena terlalu semangat dan tidak memperhatikan jalan, Nadin yang baru akan melangakah melewati besi pun tersandung. Dan dengan sigap pria yang dikenal sebagai desain konstruksi itu menangkap pinggang dan tangan Nadin agar tidak terjatuh.


Terlihat pria itu menungukan tubuhnya seperti meminta maaf pada Nadin, dan Nadin pun tersenyum kearah oria itu sambil menggeleng seperti tidak masalah.


Satu jam kemudian Nadin diantar oleh pria tadi keluar dari proyek.


Tin... Tin...


Suara klakson mobil memekakan telinga Nadin, sehingga Nadin pun melihat ke arah mobil yang membunyikan klakson tadi.


Nadin terdiam kaget saat Hans keluar dari dalam mobil yang di perhatikannya tadi dan berjalan ke arahnya.


"M-mas Hans?"


"Itu siapa Bu. Nadin?!" ucap pria itu.


"Oh, dia suami saya..."


"Udah beres?" tanya Hans tang masih terlihat biasa dan seperti tidak ada masalah, padahal Nadin sadar dia meninggalkan Hans tadi malam tanpa pamit dan meninggalkan pesan, tidak seperti biasanya.


"Selamat sore Pak... maaf, sudah membuat anda menunggu, padahal kalau tau anda bisa menunggu di dalam." Hans melihat kearah pria itu dengan tatapan dingin.


"Eu.. ok, gitu aja ya.. tolong lebih diperhatikan lagi apa yang tadi saya tegaskan jangan sampai diabaikan karena itu akan berakibat fatal, dan Bu. Althea tidak mau hal itu terjadi.


"Baik, Bu Nadin..."


Nadin pun menarik lengan Hans pergi dari sana.


***


"Hah... Mas ngapain ada disini?!" saat mobil yang mereka tumpangi melaju dari proyek itu.


"Apa kamu tidak merasa bersalah?!" ucap Hans dingin masih fokus kearah jalan.


"Maksudnya?" melirik ke arah Hans tidak mengerti.


"You know what? setelah tadi pagi saya bangun, kamu tau paniknya saya nyari kamu ke setiap sudut Apartment?" Ada rasa senang yang menggelitik hati Nadin, ternyata Hans masih perhatian padanya sampai mencarinya dengan panik ketika tidak menemukan sosok dirinya.


"Maaf Mas..." ucap Nadin menunduk sedikit merasa bersalah.


Jujur Nadin tidak tega untuk meninggalkan Hans tanpa kabar, tapi hatinya sudah sangat terluka, bila masih terus ada di dekatnya dengan hubungan yang masih seperti ini bisa jadi Nadin tidak kuat dan membenci Hans, Nadin tidak mau sampai hal itu terjadi... makanya Nadin lebih memilih untuk merehatkan hati dan pikirannya walaupun hanya sebentar, tapi sepertinya iru juga tidak akan terlaksana karena Hans datang menjemputnya.


Hans tidak banyak bicara dan hanya menghela napas berat lalu mengangguk saja pada akhirnya. masih sambil fokus ke arah jalan.


"Apa kamu masih marah?"


"Hm?!" melihat Hans kaget.


"Saya tau kamu sebenarnya marah kan sama saya?!" Nadin pun memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela di sisinya.


"Sedikit!"


"Bisakah kalau marah tidak pergi diam-diam dari rumah?"


"Saya cuma pengen sendiri... lagian saya kesini juga karena kerjaan!"


"Paling tidak kamu harus bilang kemana kamu pergi, biasanya uga tinggalin notes..." Nadin terdiam.


"saya salah, maaf Mas!"


"Sudahlah, kita makan dulu, kamu belum makan kan?!" Nadin hanya mengangguk.


***


"Berapa hari kamu disini?" Tanya Hans saat mereka tengan duduk di sebuah restoran menunggu pesanan mereka datang.


"Besok juga pulang..."


" Apa nggak bisa jadwalnya dipadatkan hari ini, jadi pulangnya hari ini?!"


"Kenapa?"


"Besok saya harus pergi ke Australia sama Boss..."


"Biasanya juga Mas kalau pergi nggak harus ada aku, kan?!" Hans hanya menghela napas.


Nadin tidak tau saja, sekarang Hans sudah tergantung olehnya. Nadin seratus persen sukses membuat Hans ketergantungan olehnya. Perhatian-perhatian kecil yang selalu Nadin tunjukkan dan dia lakukan untuk suaminya membuat Hans merasa sedikit kehilangan sosoknya yang selalu mengurusnya.


"Aku nggak bisa pulang hari ini, Mas. besok masih ada Meeting sama Klien. kalau Mas mau pulang, Mas pulang sendiri saja..."


"Hah... kamu nginap dimana?" Nadin pun mengerutkan kedua halisnya heran.


Nadin memang sengaja bersikap dingin pada Hans agar Hans tau kalau ini adalah bentuk protes dari sang istri.


***