
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Jangan lupa yah Sean. Kalo ntar lo sama Bina nikahan jangan lupa undang kita loh." Heri.
***
Sean dan Rubina cukup lama di pesta pernikahan itu. Beberapa teman-teman Sean bahkan masih memilih untuk di sana setelah melakukan foto dengan kedua mempelai. Sean sendiri memutuskan untuk pamit duluan. Selain karena tidak tahan berada di keramaian, sebenarnya Sean kepikiran juga soal Rubina yang ikut bersamanya. Lagipun Sean sudah berjanji kepada anggota keluarga Rubina bahwa dia tidak akan pulang terlalu larut.
"Cepet naek!" ajak Sean.
"Naek ke mana? Naek ke badan kamu? Ooopppssss Sorry, aku kecoplosan lagi," Rubina memukul bibirnya pelan-pelan. Saat mengadu mata dengan si pemilik iris biru, Rubina bisa merasakan bahwa sorot mata itu terlihat mengandung emosi.
"Perempuan satu ini bener-bener nyebalin," rutuk
Sean sebal. "Ayo buruan naek atau saya tinggal disini!" ancam Sean, nadanya tinggi seakan dia tidak punya ketakutan seseorang bisa saja mendengarnya menyemprot Rubina.
"Jangan tinggalkan aku Sean. Trus gimana aku bisa hidup kalau kamu..."
"Naek sekarang atau saya beneran akan tinggalin kamu sendirian di sini!" kali ini Sean tidak memberikan ruang kepada Rubina untuk menyudahi lebih dulu kalimatnya. Sean asal menyambar lalu setelah mengatakannya dia langsung menggertakkan rahangnya kuat menegaskan bahwa saat itu dia tidak sedang main-main.
Rubina memasang helm di kepalanya. Tentu saja meski dia telah disemprot namun tak menimbulkan efek jera.
"Ck... Galak banget sih. Untung ganteng dan calon suami aku pula, coba kalo bukan, mungkin sudah aku jadiin umpan ikan hiu."
"Apa kata kamu barusan?"
"Aku cuma bilang kalo malem ini dingin," bohong Rubina.
"Ayo cepetan naek!" Sean kembali memberikan sebuah perintah.
"Sabar calon suami! Aku agak ribet soalnya pake gaun," setelah berhasil memperbaiki posisi duduknya, Rubina langsung melingkarkan tangan ke bagian perut si pengemudi.
"Kenapa kamu meluk saya kayak gini?" protes Sean membuat Rubina mengerut bingung.
"Kalau aku nggak meluk kamu ntar aku jatoh, emangnya kamu mau calon istri kamu jatoh?"
"Maksud saya kenapa kamu meluk saya kenceng banget?! Kamu mau buat saya mati kehabisan napas?"
Rubina yang tersadar dengan itu pun seketika mengendurkan pelukannya.
"hihi... Sorry, aku mungkin terlalu excited sampai aku nggak sadar meluk kamu seerat ini hehehe." Rubina mengakhiri ucapannya dengan senyum. Namun senyum yang memberikan kesan manis itu tidak dapat dijangkau Sean mengingat posisinya membelakangi.
'AH, SIAL!' Sean mengumpat lewat batinnya ketika dia menyadari kehadiran gerimis disaat dia dan Rubina sementara di perjalanan hendak pulang ke rumah. Perubahan cuaca terjadi dengan begitu cepat. Rubina yang menyadari ada tetesan air yang jatuh dari langit dan mengenai kulitnya mencoba untuk mendongakkan kepalanya. Rubina lantas menemukan keadaan langit yang tidak berbintang.
Rubina baru saja akan memberitahu Dean soal gerimis dan juga fakta bahwa langit sedang tidak berbintang, namun sebelum Rubina melakukannya lebih dulu Sean menepikan motornya pada sebuah halte. Begitu Sean mematikan mesin motornya segera dia juga membuka kaca helmnya dan menoleh ke samping.
"Kayaknya bakalan hujan gede. Kita neduh dulu di halte ini sampai hujannya reda!" Sean berucap yang segera mendapatkan sebuah anggukan dari Rubina.
Tak lama setelah berlindung di sebuah halte. Hujan yang tadinya jatuh secara perlahan berubah jadi deras.
"Kenapa harus hujan segala sih. Mana saya enggak bawa jas hujan lagi," Sean mendesis mencercah kenyataan. "Padahal cuaca sebelumnya terlihat sangat bagus. Ck, kenapa sekarang malah berubah cepet banget sih," lanjutnya.
Setelah mendumel, kini Sean menoleh kepada gadis di sampingnya. Ternyata sedari tadi Rubina sedang menaruh fokus kepadanya sambil tersenyum.
"Nggak ada. Aku cuma senyum karena seneng saja."
"Apa kamu seneng sama kenyataan kalo kita kejebak hujan? Kayaknya kamu udah gila karena ngerasa senang dengan hal itu."
"Aku seneng bukan gara-gara hujannya. Aku seneng gara-gara akibat yang ditimbulkan oleh hujannya."
"Maksudnya?" Sean tidak mengerti.
"Ya.... gara-gara hujan aku kan jadi bisa nikmatin momen berdua sama kamu."
Sean mendesah pelan. Sekarang dia harus banyak bersabar meladeni Rubina yang punya segudang cara untuk menggodanya. Seperti saat ini Rubina sedang mencoba untuk membangkitkan kekesalannya.
"Nggak masalah kan kalo kamu pulangnya agak telat. Soalnya saya nggak bawa jas hujan. Takutnya kalo nerobos hujan kamu malah sakit."
"Kamu khawatir kondisi aku? Emang calon suami idaman banget ya..." pede Rubina.
"Saya bukan khawatirin kamu. saya cuma nggak mau disalahin kalo kamu sakit."
"Oh... aku pikir kamu agi khawatir sama aku."
"Kamu terlalu mengharapkan sesuatu yang mustahil. Ah iya, aku hampir lupa menanyakannya. Tadi, pas di sana kenapa kamu malah manggil saya sayang di depan teman-teman saya? Apa kamu nggak sadar kalo panggilan itu ganggu saya?"
"Aku manggil kamu sayang, kamu pasti tau alasan aku ngelakuinnya kan? Aku pengen ngeyakinin temen-temen kamu di sana kalo hubungan kita sangatlah harmonis. Dan terbukti mereka semua percaya."
"Kamu bukan cuma manggil saya sayang. Kamu juga mengelap sisa makanan di sudut bibir saya dengan tisu. Padahal saya nggak minta kamu buat ngelakuin itu."
"Sebelum itu kan kamu minta aku buat pura-pura jadi pacar kamu kan. Ya aku cuma ngelakuin apa yang aku anggap bener saja. Meriset dari drama-drama korea yang sering aku nonton mereka ngelakuin itu buat pasangannya."
Sean memutar badan.
Beberapa langkah dia lakukan sebelum merubah posisinya jadi terduduk pada kursi yang ada di sana. Tatapan Sean lurus memperhatikan jalanan yang baru saja diguyur oleh hujan deras. "Ck," pria tampan tersebut meloloskan sebuah decakan yang lebih terdengar sebagai sebuah decakan kekesalan. Selama beberapa detik Sean memperhatikan jam tangannya lalu mengembalikan fokusnya itu ke jalanan.
"Kayaknya hujan nya bakalan awet."
"Emangnya kamu ada jadwal lain sampe kamu keliatan gelisah banget nunggu hujan reda?" Rubina bertanya. Tetapi sebelum meloloskan pertanyaan itu. Sekiranya dia lebih dulu ikut mengubah posisinya jadi terduduk di sebelah Sean.
"Saya nggak ada kegiatan lain. Paling setelah sampai di rumah nanti saya langsung rebahan," jawab Sean.
"Trus kenapa kamu keliatan khawatir kalo emang kamu mau langsung rebahan sampe di rumah."
"saya cuma males aja di sini."
"Kamu males nunggu hujan reda?" tebak Rubina.
"Saya cuma males aja duduk berdua sama cewek nyebelin kayak kamu!" semprot Sean.
"Kok bisa kamu males duduk sama aku. Aku ini calon istri kamu loh, Sean. Aku ini calon ibu dari anak-anak kamu!"
"Bisa nggak kamu berenti ngomongin itu?" tegas Sean.
"Terus kamu ingin ngomongin apa? Kamu mau ngomongin soal masa depan? Ya sudah, nanti kamu mau punya anak berapa sama aku?" Rubina memperlihatkan tampilan wajah penuh antusias. "Sepuluh atau sebelas?"