
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Kamu mau ikut aku ke dalem kamar mandi atau mau nunggu di luar aja?” tanya Sean, sempet-sempetnya dia bercanda. Dia mungkin tidak tahu kalau sebelumnya Rubina sempat merasakan debaran jantungnya karena salah mengira kalimat ambigu yang Sean ucapkan.
"Di luar lah," Rubina memberikan jawabannya.
“Enggak mau di dalam aja temenin saya pipis?"
"BY!"
"Iya, iya, saya cuma becanda kok."
Rubina pun keluar dan menutup pintu kamar mandi. Tepat setelah melakukannya dia lantas menghela napasnya membuang beban yang ada di dalam dirinya.
"Bi... Apa selamanya kamu bakalan jadi istri saya?” binar di mata Sean penuh harap. Saat mereka sudah berada di kamar Sean dan Sean sudah berbaring di tempat tidurnya. Setidaknya dia butuh jawaban 'ya' dari Rubina. Dengan begitu mungkin ketakutan Sean akan ditinggalkan oleh Rubina tidak akan terjadi. "Bi? Kenapa nggak jawab? Sebegitu sulit kah bagi kamu buat membuka bibir dan mengatakan 'Ya?' atau paling nggak kamu bisa menganggukkan kepala kamu aja sebagai jawabannya!"
Seperti tiap kali Sean mulai membahas tentang itu selalu saja Rubina menghindar. Pun saat ini dia juga melakukan hal yang serupa. Dia langsung balik badan dan pergi setelah menarik tangannya sehingga terlepas dari kurungan tangan suaminya.
'Ak ga tau, By... Aku sebenernya mau ngasih kesempatan kedua sama kamu... tapi... Papah udah ga percaya sama kamu By... Entah gimana lagi aku ngeyakinin Papah...' Gumam Rubina dalam hati.
Lagi-lagi Rubina menghindar.
****
DUA hari dua malam Sean menghabiskan waktunya di ranjang karena demam. Untungnya ada Rubina yang selalu ada di sampingnya. Syukurlah karena hari ini keadaan pria itu sudah jauh lebih membaik. Bahkan hari ini Sean sudah ada rencana untuk kembali ke rutinitasnya yaitu menyembuhkan pasien.
"Nikmat apa lagi yang coba saya dustakan?" Sean melukiskan senyum setelah kalimat itu disampaikan lewat nada rendah. Indah sekali pemandangan yang dijamah oleh matanya saat itu. Rubina dengan setelan piyama merah muda masih terlelap dengan gemas persis di sebelahnya.
"Ya Allah, saya harap pemandangan kayak gini bakalan selalu saya dapatin tiap kali saya bangun dari tidur saya," sambung Sean. Tidak sadar dia mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah lembut Rubina, namun akhirnya tangan itu berakhir mengudara. Sean berpikir tidak ingin mengganggu tidur istrinya yang masih lelap.
Semakin lama dia berada di sana Sean mendadak diselimuti ketakutan kala mengingat bahwa masa lalunya itu belum diceritakan Rubina kepada orangtuanya. Karena itu Sean takut, setelah keluarga Rubina tau soal masa lalunya maka semua usahanya akan berakhir sia-sia. Sudah tidak bisa dibayangkan rasa sakit yang akan Sean dapatkan kalau sampai Rubina memilih untuk bercerai dengannya.
Rubina baru saja terbangun. Yang pertama dia dapatkan adalah sosok suaminya yang sedang mengarahkan fokus di wajahnya. Di detik yang sama terlihat kerutan di dahi milik Rubina.
"Kamu nangis, By? Loh kenapa?" Rubina tentu saja panik saat melihat air mata yang luruh membasahi pipi suaminya. Dalam sekejap Rubina bangkit dan duduk memperhatikan suaminya dengan tampang khawatir.
"Saya nggak nangis kok," Sean membela dirinya sendiri sambil dia buru-buru menghapus deretan air mata dengan cara mengelapnya lengan piyama yang dia kenakan.
"By, aku liat dengan mata kepala aku sendiri loh, kamu lagi nangis." Rubina berucap dengan penuh keyakinan. Yakin sekali bahwa suaminya memang sedang menangis.
"Kamu salah. Mata saya cuma kelilipan kok. Tadi kemasukan debu, makanya kesannya saya lagi nangis padahal nggak begitu kenyataannya,” di akhir kalimatnya Sean mempersembahkan seulas senyum.
Rubina menganggukkan kepalanya tanda paham meski dia sebetulnya masih meragukan jawaban dari suaminya.
"Gimana kondisi kamu, By?"
"Kamu yakin bakalan masuk kerja hari ini juga?"
"Yakin. Seratus persen," jawab Sean. "Tapi kenapa kamu liat saya ragu kayak gitu? Percaya deh, saat ini kondisi saya udah baikan kok."
Rubina menghela napas lega, Syukurlah kalau kondisi kamu udah baik. Dengan begitu malam ini aku enggak perlu tidur di kamar ini lagi. Aku bisa ke kamar sebelah."
"Kayaknya saya masih sakit deh."
"Dih bohong banget. Katanya tadi udah sembuh."
"Sembuhnya pas pagi doang, kalo malem demam saya kumat lagi. Makanya saya butuh kamu buat melukin saya supaya saya nggak kedinginan kayak malam-malam kemaren."
"Yang kemarin itu anggap aja kamu lagi beruntung. Beda cerita karena sekarang kamu sudah sembuh, jadi aku tidur di kamar sebelah aja."
"Hmmm, gapapa deh. Yang penting saya masih bisa b
ketemu sama kamu itu udah lebih dari cukup kok. Kalo emang kamu mau tidur di kamar sebelah lagi, saya nggak bakalan ngehalangin kamu. Asalkan kamu jangan pergi. Kamu tetap di sini aja sama saya."
"Katanya tadi kamu mau ke rumah sakit kan? Kalo begitu aku ke dapur dulu. Mau nyiapin sarapan buat kamu." Rubina kembali pada kebiasaannya tiap kali Sean mulai menyinggung soal keinginannya untuk terus bersama, maka dia akan berusaha mencari cara untuk menghindar.
Setelah Rubina pergi ke dapur, Sean pun mengikuti gadis itu.
"Hari ini kamu nggak ada jadwal kuliah?" tanya Sean kepada istrinya yang sedang menyiapkan peralatan masak, sementara pria itu sendiri sedang membawa langkahnya ke depan freezer mengambil kotak susu dari dalam sana.
"iya hari ini aku kuliah bentar."
****
HARUSNYA hari ini Sean pulang cepat. Tapi di kliniknya tadi dia sempat ketemu rekan lamanya. Karena temannya itu mengajak untuk nongkrong di kafe, alhasil Sean balik ke apartemen disaat jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sebelum tiba di apartemen Sean memutuskan untuk mampir dulu di minimarket. Sean membeli beberapa camilan kesukaan Rubina.
Ting!
Langkah Sean terhenti saat suara tanda pesan masuk bersamaan dengan kehadiran getaran di saku kanannya. Sean yang hendak ke unit apartemennya memutuskan untuk mengecek pesan itu. Siapa tahu kan pesan yang diterimanya itu bersifat penting.
Nama Rubina tertera di layar sedang mengiriminya pesan singkat. Sesederhana membaca nama istrinya di layar sudah lebih dari cukup untuk membuat pria itu menyunggingkan senyum.
"Kenapa dia cuma ngirim saya pesan singkat? Padahal dia bisa aja langsung telpon kalo emang dia butuh bantuan saya.” Pria itu bergumam. Di menit yang sama dia mulai menggunakan ibu jarinya mengetuk ponsel- membaca pesan itu.
[By, sebelumnya maaf ya... aku nggak berani ngomongin ini secara langsung. Tapi Papah sama Ibu udah tau masalah kita, masalah kamu yang nikah siri sama punya anak dari Sarah... Aku pikir tadinya aku udah bisa maafin kamu dan ngasih kesempatan kedua... tapi... kamu tau Papah kan? Dia nggak bisa maafin kamu dengan mudah By... dan kenapa kemaren aku bisa nemenin kamu selama sakit, itu karena kesepakatan aku sama Papah... tadinya pengen aku pulang saat kamu lagi sakit, tapi aku mint kompensasi sama papah kalo aku mau ngurus kamu dulu baru aku pulang ke rumah Papah... dan sekarang Papah bawa aku pulang ke rumah Papah dan nggak boleh pulang ke apartment kamu... maafin aku, By...]
Selama beberapa saat Sean meneguk salivanya dengan susah payah. Kenyataan ini terlalu susah untuk dicerna akal sehatnya. Perasaannya sudah campur aduk. Rasa cemas dan rasa takut telah berkecamuk dan membuatnya menegang di tempatnya. Keringat sudah bercucuran di sekitar dahinya.
"Nggak... nggak... Bina nggak mungkin ninggalin saya. Ya, ini enggak boleh terjadi. Semoga aja sekarang Bina masih ada di apartemen supaya saya bisa cegah dia buat pergi." Memasukkan ponselnya ke dalam saku yang dia kenakan, Sean berlari dengan kekuatan penuh untuk menemui Rubina.