
"Haaaaaaaaaaaaahhh..." Kedua mata Hans terbuka dengan napas yang seperti baru saja dibekap. Hans pun mengatur napasnya dengan masih tertidur di ranjang pasien.
"Hans... Hans... hey.. do you hear me?! Hans?!" ucap Althea yang sedang berada disamping Hans dan terkejut dengan Hans yang tiba-tiba sadar. Tak lupa Althea menekan tombol urgent untuk memanggil dokter.
Sementara Hans yang masih sibuk mengambil napas hanya mendengar suara Althea yang sangat kecil dan juga lambat. Hans tau Althea sedang berada di sampingnya dan dia juga sadar tangan kirinya menggenggam tangan Nadin yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
Tak lama beberapa orang perawat dan dokter masuk langsung memeriksa kondisi Hans dimulai dari cek denyut, mata juga detakan jantungnya lewat stetoskop... Althea hanya bisa keluar dengan hati lega. Dia pun menelepon Danniel untuk memberi kabar bahwa Hans telah sadar dari komanya, dan tak lupa Althea juga memberitahu pada Dany.
***
"How do you feel Hans? lolos dari kematian untuk yang ke berapa kalinya ini? Hah... tapi jujur ini yang paling parah yang pernah lo alamin Bro..." Hans hanya tersenyum kecut mendengar lelucon Danniel yang baru saja datang ke ruangan rawat biasa.
Ya... saat ini Hans juga Nadin sydah dipindahkan dari ruang ICU ke kamar ruang rawat VVVIP dengan perintah Danniel.
"Benarkah Nadin saat itu sadar dan menggenggam tangan saya Boss?!"
"Emang kamu belum liat CCTV nya?" Hans hanya menggeleng lalu meliht Althea yang msih cuek memotong buah untuk Hans.
"ck... kenapa ga kamu liatin sih sayang?"
"Hah... saya masih khawatir sama Nadin Niel... sampai sekarang dia belum sadar-sadar lagi..."
"Tenang, Nadin sebentar lgi pasti sadar... apalagi disisinya ada suami yang juga menyayanginya... iya kan, Hans?!" Hans hanya menggeleng sambil tersenyum melihat kelakuan yang dia anggap sebagai abang sekaligus atasannya itu.
"Sayang, anak-anak nanyain kamu... dari tadi ngerengek terus apalagi Bina..."
"Ya udah kalo gitu saya pulang dulu aja, nanti ke sini lagi..."
"Yukk..!"
"Kemana kamu?"
"Ya nganterin kamulah sayang!"
"Nggak usah, ada supir yang nyupirin saya lagian ada anak buah kamu juga, kamu mending di sini temenin Hans, takutnya dia keaepian ga ada kamu..."
"Ck.. apa sih sayang..." Althea pun mengecup kedua pipi Danniel tak lupa bibirnya untuk berpamitan.
"Saya pulang dulu, Niel. jagain Hans sama Nadin..." Danniel hanya trdiam cemberut. Lalu saat Althe menghilang dari pandangan mereka wajah serius Danniel pun diperlihatkan pada Hans.
"Ada apa boss?!"
"Aquila sudah mendekam di penjara seumur hidup tanpa ada remisi ataupun jaminan untuk keluar, maaf Hans, meskipun kamu nggak setuju tapi saya nggak bisa biarin Aquila berkeliaran diluar sementara dia sudah menyebabkan lo sama Nadin sampai seperti ini... apalagi---" ucapnya terputus.
"Apa?"
"Apalagi kata dokter ada kemungkinan Nadin tidak akan bisa hamil lagi karena lukanya yang sangat parah." Hans yang mendengarnya pun hanya bisa terdiam menunduk. Dia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa mendengar kabar bahwa Nadin tidak bisa hamil lagi.
Lalu Hans pun memgingat sebuah pertengkarang dimana Nadin menyinggung masalah kehamilan yang tidak Hans inginkan karena dia selalu memakai Pengaman, lalu Nadin juga pernah menyebuh Hans tidak mau anak dari rahim Nadin... dan masih banyak lagi. Hans pun menjambak rambutnya dengan keras samvil mengatur emosinya.
Ya... ucapan-ucapan yang Nadin katakan dulu akhirnya terbukti sekarang bahwa Nadin tidak akan pernah bisa mengandung lagi...
"Hey... Hans! are you okay?!" Hans hanya tersenyum miris.
"Saya hanya bingung apa yang akan saya katakan jika Nadin bangun dari tidur panjangnya."
Mereka pun terdiam sejenak.
"Dan satu hal lagi Hans..."
"What else?!"
"Besok adalah pemakaman Albertho... apa besok lo mau datang ke acara pemakamannya?!"
Hans pun terdiam mengingat pertemuan terakhirnya sebelum dia ditembak. Alberto memang tidak berniat menembaknya.
***
Hans, Danniel dan Dany berdiri di sisi pemakaman menghadiri pemakanan Albertho.
"hey, don't hate him, remember your good memories, and remember he loves you very much...." (hey, jangan membenci dia, ingatlah kenangan kalian yang baik-baiknya, dan ingatlah dia sangat menyayangimu....)
ucap Danniel sambil menepuk pundak Hans.
Hans pun hanya mengangguk.
***
"Nyonya Althea... Nyonya Althea..." ucap salah seorang perawat buru-buru menghampiri Althea yang baru saja datang ke ruang Nadin.
"Pasien Nona Nadin sudah sadar... Tapi---" Tanpa banyak membuang waktu lagi Althea pun langsung berlari ke arah ruang rawat Nadin tanpa menunggu perawat itu menyelesaikan bicaranya.
Brakkkk
Althea melihat Nadin sedang menatap langit-langit kamar lalu melihat kearah Althea.
"Kak Al..."
"Nadin? oh my God You've woken up Nadin... Kamu nggak apa-apa kan Nadin?" ucap Althea sambil berjalan mendekati Nadin lalu memeluk Nadin sambil menangis.
"Kak... aku nggak apa-apa, kok Kakak kayak yang khawatir gitu sih? emang aku kenapa? trus, ini dimana?" Althea pun melepaskan pelukannya melihat Nadin heran, lalu melihat kearah para perawat dan juga dokter yang sedang berada di sana.
"Bisa kita bicara sebentar Nyonya Althea...?!" Althea pun mengangguk.
"Nad, saya ke luar dulu ya..." Nadin pun mengangguk patuh. Sementara Althea berjalan mengikuti Dokter itu ke ruangan dokternya.
***
Aku kenapa bisa ada di sini ya? Kak Althea juga kayaknya sangat cemas banget... emang aku sakit apa?
gumam Nadin sambil menunjuk-nunjuk keningnya sambil mengingat-ngingat apa yang sudah terjadi padanya.
Ceklek...
Nadin pun langsung melihat kearah pintu yang terbuka.
"Nadin?!"
"loh Kak Hans, ngapain kesini?!" ucap Nadin lalu melihat Danniel yang baru saja masuk ke kamar.
"Loh, Nad." ucap Danniel heran lalu melihat kearah Hans.
"Ahh... Kak Hans nganter Boss Danniel ke Kak Althea ya? Tapi Kak Altheanya lagi keluar sama dokter..."
Clek....
"Hey... kalian udah dateng ya..."
"Tuh, Kak Althea udah dateng... Kak... Kakak bisa pulang sama Kak Hans dan Boss Danniel, aku nanti hubungin orang tua aku aja..." Althea hanya menghela napas.
"Nad, kamu ingat ini tahun berapa?" ucap Althea tanpa bicara denfan Hans ataupun dengan Danniel.
"Dua ribu Delapan Belas, kenapa emangnya?"
"What?!" ucap Danniel dan Hans tidak percaya. Nadin yang melihat reaksi mereka berdua pun jadi heran.
"Ok, Nad... boleh kan saya pinjam Hans nya?"
"Iya, silahkan aja, dia kan anak buah Boss Danniel, dia bukan siapa-siapa aku kenapa harus minta ijin aku sih, Kak?!" Althea hanya tersenyum ke arah Nadin.
"You to Niel, i need your help!"
"Ok Honney..."