
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Aduh sakit, pelan-pelan Yang! Eh salah, maksud aku pelan-pelan," ucap Rubina namun mengoreksi kata 'Yang' yang telanjur dia katakan. Rubina memilih merapatkan kedua sisi bibirnya jadi serapat mungkin karena dia takut Sean akan berhenti membantunya jika Rubina terus membangun kekesalan.
Sean kembali fokus dengan pinset di tangan. Setelah beberapa menit terbuang akhirnya dia berhasil mengeluarkan duri itu dari telapak kaki Rubina.
"Kamu pikir saya nggak liat? Berenti ngeliatin saya sambil senyum-senyum kayak gitu!" meskipun saat itu Sean sedang memasukkan kembali peralatan ke dalam kotak, namun dia bisa melihat lewat ekor matanya bahwa Rubina sedang tersenyum kepadanya.
"Allah baik banget yah sama aku," ucap Rubina mendadak. "Pokoknya aku harus bersyukur soalnya Allah udah milihin aku calon suami yang ganteng udah gitu perhatian juga kayak kamu. Btw makasih yah pak dokter udah bantuin aku. Tapi karena aku enggak bawa uang cash, boleh enggak kalau bayarannya pakai ciuman aja?" tanya Rubina.
Uhuk!
Sean batuk setelah mendengar yang Rubina katakan. Sean juga jadi teringat sama mimpinya-saat Rubina menciumnya dengan begitu agresif.
"Aku cuma becanda." Rubina buru-buru mengklarifikasi ucapan ngawurnya saat batuk Sean telah mereda.
"UDAH SAMPE!" ucap Sean begitu dia menghentikan mobil miliknya itu di depan rumah Rubina. "Kamu nggak budek kan, udah saya bilang kalo sekarang kita udah..." Sean yang baru saja menoleh ke kursi di sebelahnya terpaksa tidak melanjutkan kalimatnya. Bibir yang telah terbuka kembali terkatup satu sama lain. Sean pikir Rubina tidak merespon ucapannya karena dia sengaja ingin membuat Sean kesal, di luar dugaan ternyata Rubina sedang tertidur. Sepertinya pemotretan untuk prewedding, ditambah kejadian naas saat dia tertusuk duri babi mengambil banyak energinya sampai dia tertidur dengan pulas.
Ada yang Seab sadari melihat Rubina dalam keadaan tidur seperti ini. Gadis itu terlihat begitu polos, tidak seperti saat dia terbangun. Dalam keadaan tidak sadarkan diri seperti ini Sean tidak melihat kesan menyebalkan seperti yang dia rasakan tiap kali mata mereka beradu.
Memang dari awal Sean tidak pernah menampik kecantikan Rubi a. Dia mengakui betapa cantiknya gadis itu. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kecantikan Rubina seketika luntur tiap kali Sean mengingat bahwa gadis itu punya sifat bar-bar. Andai kepribadian gadis itu sedikit lebih kalem, mungkin Sean akan belajar untuk mencintainya.
'Apa jangan-jangan efek samping dari racun duri babi itu membuatnya demam?' pikir Sean.
Ada kekhawatiran yang Sean rasakan. Berhubung Sean melihat Rubina sedang tertidur pulas dia pun mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Sean kemudian mengangkat tangannya. Gerakannya begitu lambat, berhati-hati saat hendak mendaratkan tangannya itu ke dahi Rubina untuk memeriksa suhu badannya.
"Kamu mau ngapain?" Sean belum sempat memeriksa suhu tubuh Rubina saat gadis itu membuka matanya.
Sean menarik badannya. Dia kembali pada posisi semula, dan tentu saja dengan debaran jantung yang tidak berirama.
SEAN gugup setengah mati setelah sebelumnya dia ke gap mendekatkan wajahnya dengan wajah Rubina. Memang tidak ada niatan buruk sedikitpun karena memang dia hanya ingin memeriksa suhu tubuhnya saja, tidak lebih.
Mungkin momennya saja yang kurang pas karena Rubina keburu membuka matanya sebelum Sean berhasil menempelkan telapak tangannya di area jidat gadis itu.
"Kenapa kamu liatin saya kayak gitu?" tanya Sean, nyolot.
"harusnya aku yang nanya. Kamu deketin wajah kamu kayak barusan?" tanya Rubina. "Kamu mau nyium aku ya?" kali ini dia memberikan tuduhan. Lagian wajar saja dia berpikir seperti itu karena saat pertama kali dia membuka mata dia langsung disuguhkan wajah tampan dalam radius yang sangat dekat.
"Jangan ngada-ngada deh, Bi. Apa yang kamu omongin barusan udah jadi fitnah!"
" Ya gimana aku nggak mikir yang aneh-aneh kalo misalkan aku liat kamu dalam jarak super dekat pas pertama kali aku buka mata. Kalo emang kamu nggak pengen buat aku berpikir yang nggak-nggak, sekarang coba jelasin kenapa kamu deketin wajah kamu?"
'Kalo gue bilang jujur, pastinya dia bakalan mikir gue sangat peduli sama dia, tapi kalo gue nggak jawab pasti dia bakalan ngira gue emang lagi mau nyium dia,' pikir Sean.
"Kok diem saja? Apa yang aku pikirin emang bener, kan? Kamu diam-diam emang mau nyium aku kan? Ayo, ngaku aja," ujar Rubina sambil menunjuk Sean yang saat itu jadi tambah salah tingkah. "Selama ini kamu selalu nolak aku, tapi ternyata diam-diam kamu juga mau nyium aku pas aku lagi tidur."
"Saya nggak berniat nyium kamu ya Bi!" Sean menegaskannya. "Tadi tuh saya cuma mau meriksa suhu tubuh kamu aja, takutnya efek duri babi tadi buat kamu jadi demam. Jadi, jangan mikir yang macem-macem. Apalagi sampe mikir kalo saya mau nyium kamu."
Klik!
Terdengar suara pintu mobil yang sedang terbuka. Sean turun dan menyisakan Rubina sendirian di mobil.
"Ternyata diam-diam dia khawatirin aku juga. Okay, ini baru awalnya, aku janji bakalan buat kamu sangat tergila-gila sama aku," gumam Rubina.
Rubina juga membuka pintu mobil dan segera turun. "Kaki aku sakit!" gadis itu mengulum bibir bawah saat mengatakannya.
"Saya juga tahu soal itu."
"Kamu nggak ada niatan gitu buat gendong aku masuk?¨
"No, thanks!"
"Kenapa jadi saya yang kamu salahin. Emangnya Saya yang sengaja nyebar duri babi itu di sekitar kamu? Lagian insiden itu adalah karma buat kamu."
"Karma?" bingung Rubina.
"Aku tidak mengerti."
"Menurut saya insiden yang kamu dapatin adalah sebuah karma setelah sebelumnya kamu pura-pura tenggelam. Nasib baik karma yang kamu dapatkan hanya sekadar tertusuk duri bulu babi, enggak sampai dimakan hiu."
"Ya kalau aku dimakan hiu pastinya kamu bakalan nangis kejer."
Sean terkekeh singkat. "Apa kata kamu? Nangis?"
Rubina mengangguk, "Iya."
"Apa untungnya saya nangisin orang macam kamu ini?"
"Karena kamu peduli sama aku," jawab Rubina.
"Sejak kapan saya peduli sama kanu?"
"Tadi aja kamu sendiri yang ngakuin kalo kamu khawatirin aku. Emang sih, kamu nggak bilang secara langsung, tapi tindakan kamu yang mau periksa suhu tubuh aku udah lebih dari cukup buat dijadiin sebuah pembuktian." Rubina mengatakannya sambil melangkah dengan tertatih-tatih lantaran kakinya masih menyisakan rasa perih.
"Sini biar saya yang bantu kamu!" Sean menawarkan dirinya.
"Apa kamu mau gendong aku ala pengantin baru kayak di pantai tadi?" antusias Kayla.
"ofcourse not. Pegang tanganku, aku akan membantumu berjalan."
"Nggak masalah kalau kamu nggak mau gendong aku, nyentuh tangan kamu kayak gini aja udah cukup buat aku," Rubina berjalan dengan senyum di bibirnya. Senang?
Tentu saja hal-hal sederhana seperti ini membuat gadis itu merasa senang.
***
"Eh ini kenapa jalan pincang kayak gini?" tanya Emerald menyambut kedatangan dua sejoli itu. Emerald sedang duduk di sofa ruang tamu saat Sean dan Rubina datang.
"Ayo, duduk dulu!" Emerald mempersilakan adik dan calon adik iparnya untuk duduk di hadapannya.
"Kamu kenapa Bi? Kenapa tadi jalannya pincang?" Emerald kembali menanyakan pertanyaan yang sama. Mata pria itu sedang menyipit menunggu jawaban dari Rubina.
"Tadi ada insiden saat aku sama Sean lagi pemotretan buat prewedding."
"Insiden apa?" penasaran Emerald ingin penjelasan lebih lanjut.
"Begini Kak," Sean menceletuk. Emerald yang sebelumnya fokus ingin mendengar jawaban dari Rubina sekarang menjadikan wajah Sean sebagai tempat tertanamnya titik fokusnya. "Tadi saat kita ngelakuin pemotretan di tepi pantai ada insiden Biba nginjak duri babi."
"Hah? Duri babi?"
"Iya, Kak. Bina nginjak duri babi, dan durinya sempat nancep di telapak kakinya. Tapi udah saya keluarin dan saya juga udah bersiin bekas lukanya."
"Oh .. Syukur deh kalo emang lukanya udah dibersiin."
"Untuk itu Saya mau minta maaf, Kak!" Ucap Sean sambil memperlihatkan kedua telapak tangannya yang ditautkan depan dada.
"Lah, kenapa kamu yang minta maaf, yang ada aku yang bilang makasih karena kamu udah bantu ngebersihin luka Bina."
"Padahal seharusnya saya yang menjaga dia, tapi kejadiannya malah kayak begitu. Sekali lagi maaf untuk itu, Kak."
"Santai ajalah, lagian emang Bina orangnya super aktif, makanya nggak heran kenapa dia sampe nginjek bulu babi. Kamu mendingan berenti nyalahin diri sendiri!"