I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 61



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Di detik berikutnya Sean dan juga Rubina kompak menghentakkan badannya kaget. Sean sebetulnya ingin menggenggam ujung tuas persneling, namun yang dia lakukan malah menyentuh tangan lembut milik Rubina.


"Maaf, Saya nggak sengaja," ucap Sean refleks lalu menjauhkan tangannya. Kali ini dia berhasil mendaratkan telapak tangannya itu pada tempat yang memang sedari awal dia tujukan.


Rubi a meneguk salivanya sambil tersenyum tipis. Singkat saja saat tangan besar itu menyentuh tangannya, namun Rubina merasa terhibur dibuatnya. Apalagi saat melihat Sean buru-buru menarik tangan dan melantunkan ucapan maaf secara spontan. Ah! Rubina jadi tambah gemes sama calon suaminya itu.


"Oh iya, tadi pagi kan kalian berdua udah melakukan taste food. Jadi gimana? Apa kalian suka sama masakannya?" Marisa bertanya. Paling tidak masalah makanan ini juga harus diselesaikan secepatnya. Waktu semakin mepet dan masih ada beberapa hal lain yang harus disiapkan.


"Kalau Saya suka sih sama masakannya." Sean memberikan jawabannya masih dengan fokus ke depan. "Menunya juga bervariasi jadi sangat tepat untuk disuguhkan pas acara nanti. Apalagi kan selera tiap orang beda-beda. Misalnya kalo orang nggak suka menu pertama, mereka bisa milih opsi kedua atau ketiga."


"Kamu udah yakin bakalan milih yang itu?" tanya Marisa.


"Yakin, Bu," jawab Sean. Sepersekian sekon waktu yang dia habiskan menatap spion dalam- kala menjawab Marisa lalu kemudian pandangannya kembali ke tempat semula.


"Kalau kamu Bi? Gimana pendapat kamu sama makanannya sewaktu taste food tadi? Apakah kamu juga sependapat sama Sean atau kamu punya pendapat lain? Kalau misalnya kamu punya pendapat lain nanti bisa kita diskusikan ulang supaya kita bisa mencari jasa katering lain. Kan waktu pernikahannya mepet."


"Kalau menurut aku sih Tante nggak perlu sampe nyari jasa katering baru. Aku juga suka kok, Tan, sama Sean!" detik yang sama setelah kelepasan mengatakan kalimat seperti itu Rubina menghakimi dirinya sendiri dengan mengetuk kepalanya sebal. Bisa-bisanya bibirnya belibet mengucapkan kalimat yang kurang terstruktur.


"Duh sorry Tan, Maksudnya aku juga suka kok sama makanannya," Rubina langsung mengoreksi ucapannya saat itu juga. Sementara dalam hati dia memaki dirinya sendiri.


'Bina! Bisa-bisanya lo pakek salah ucap di depan calon mertua sama calon adik ipar lo sih!' kesalnya pada diri sendiri. Tidak masalah sebenarnya kalau Rubina keceplosannya di depan Sean, tapi sekarang dia sedang bersama dengan beberapa anggota keluarganya dan itu sangatlah memalukan.


"Kamu cuma suka sama makanannya aja atau sekalian suka sama Sean juga?" Marisa menggoda calon menantunya.


Rubina cuma menyengir. Tidak tahu harus bertindak bagaimana karena saat itu dia kikuk setelah sebelumnya salah ucap di depan keluarga Sean. Malu? Tentu saja Rubina merasakan itu. Andai Rubina mampu, mungkin sekarang dia telah berteleportasi ke planet lain menggunakan pintu ke mana saja milik doraemon.


"Undangan kalian sudah jadi. Nanti pihak percetakannya akan datang ke rumah Ya, kalau bukan malam ini, pasti besok undangannya akan dia bawa ke rumah."


Setelah itu Rubina hanya diam saja mendengar Marisa dan Dinda di kursi belakang sedang ngobrol membahas tentang baju seragam yang akan dikenakan oleh para keluarga mempelai pada acara nanti.


Menit selanjutnya mereka sampai juga di salah satu bagunan megah yang merupakan tempat di mana mereka akan melakukan fitting baju. Royal Queen boutique -adalah tempat yang mereka kunjungi saat ini. Salah satu dari beberapa butik yang paling terkenal di penjuru ibukota. Marisa adalah orang yang memilih butik itu. Katanya dia ingin pakaian yang terbaik untuk putra dan calon menantunya di hari pernikahannya.


Sementara Sean sedang memarkirkan mobilnya di tempat semestinya, ketiga perempuan yang tadinya datang bersama telah memasuki gedung. Rubina berjalan di tengah-tengah sementara Marisa di sebelah kanan, dan di sebelah kirinya terlihat Dinda yang terus menggamit tangannya.


"Pas pertama kali dateng aku juga bereaksi sama kayak kamu," kata Rubina.


"Iya, Kak, aku takjub loh karena bangunannya sangat cantik. Nggak heran kenapa butik ini sangat terkenal. Bangunannya aja udah secantik ini loh. Oh iya, aku udah nggak sabar pengen liat pakaian yang nantinya akan dikenakan oleh kak Bina di hari pernikahan nanti. Pasti akan sangat mewah."


"Ibu udah sempat ngeliat, dan menurut ibu gaunnya sangat-sangat cantik," Marisa menceletuk. "Bina pasti akan semakin cantik saat mengenakan gaun tersebut," Marisa mengatakan itu. Memang belum menyaksikan secara langsung, tapi Marisa sangatlah yakin pakaian apa saja akan cocok saat melekat pada tubuh Rubina. Selain karena Rubina memiliki tubuh indah bak model, wajahnya juga sangat enak dipandang sehingga pakaian seperti apapun akan cocok-cocok saja saat Rubina yang mengenakannya.


Tak lama berselang seorang pegawai butik menghampiri mereka. Setelah memberikan penjelasan tentang tujuan kedatangan, si pegawai butik meminta Rubina masuk ke fitting room, sementara Marisa dan Dinda menunggu di luar.


"Aku jadi nggak sabar liat ball gown yang bakalan dikenakan oleh Kak Bina!" lagi, Dinda menyampaikan soal keantusiasannya. "Emang gaunnya warna apa, Bu?" tanya Dinda.


"Warna putih kok, cuma ada ornamen-ornamen kayak kristal gitu yang bikin bajunya keliatan berkilauan. Itu ide Ibu sama Bina loh."


"Ngedengernya aja bikin aku nggak sabar buat liatnya. By the way Ibu sama kak Bina dapat inspirasi dari mana biat gaun kayak gitu?"


"Kalau idenya sih dari Bina, katanya sih dia ingin memakai gaun ala-ala putri disney gitu. Setelah lama memilih Bina menjatuhkan pilihannya pada karakter Cinderella. Tapi bedanya kalau Cinderella kan gaunnya warna biru, sementara Bina tetap ingin mengenakan warna putih. Jadinya Ibu menambahkan sebuah kristal kecil biar gaunnya semakin terlihat mewah."


Beberapa menit kemudian Bina keluar dari fitting room dan tentu saja sudah mengenakan ball gown. Dia dibantu oleh dua pegawai butik. "Bagaimana? Apakah gaun ini terlihat bagus?"


Rubina tidak ingin melihat cermin, takut gaunnya akan terlihat aneh saat dia yang mengenakannya. Rubina menemukan Marisa sedang tersenyum. Di sebelahnya Dinda tidak bisa mengontrol diri. Dinda takjub melihat gaun yang dikenakan oleh Rubina sangat cantik seperti yang sedari tadi dikatakan oleh ibunya. "Aku pangling loh, Kak! Udah bajunya cantik, dipake sama orang cantik lagi, wah!"


Syukurlah. Melihat reaksi Dinda saat pertama kali melihat Rubina dalam balutan gaun itu, sepertinya tidak ada yang perlu dikawatirkan oleh Ribina.


"Syukur deh kalo gaun ini cocok buat aku pakai," kata Rubina disusul oleh embusan napas lega.


"Kakak cocok kok sama gaun ini. Percaya deh sama aku!"


Sean yang baru saja datang ke tempat itu usai memarkirkan mobil. Kehadirannya berhasil memborong semua perhatian.


"Kenapa kalian liatin saya kayak gitu?" ucap Sean.


"Aku mau tanya pendapat kak Sean dong. Menurut kakak gimana tuh penampilan kak Bina saat ini?" rasanya tidak afdol jika Dinda tidak menanyakan itu kepada kakaknya yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya Rubina.


Sean mengarahkan seluruh fokusnya kepada Rubina yang sudah lebih dulu memberikan perhatian terhadapnya. Rubina yang ditatap dengan intens pun merasakan debaran jantungnya sendiri.