I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 2 Kisah Hans



Di Hotel Henney... Pukul 23.00 malam...


Danniel yang baru saja selesai dengan Meetingnya berjalan hendak pulang ke arah lobby hotel seketika terdiam ketika melihat seorang wanita yang dia kenal. Hans pun ikut terdiam ketika langkah Danniel terhenti.


"Apa ada masalah Boss?"


"Bukannya itu Sekretaris nya Althea?!" ucap Danniel yang menunjuk kearah Nadin yang sepertinya sedang diberi obat oleh pemuda disampingnya. Karena jalan Nadin yang dibopong oleh pemuda itu tidak stabil.


Seketika Danniel teringat obrolan Althea yang menceritakan pemuda yang di jodohkan oleh kedua orang tuanya bukan pemuda baik-baik.


"Haaah... Hans tolong kau urus Nadin, kayaknya dia bakalan kena masalah, saya akan pulang sendiri. kamu tolong jaga Nadin dari pemuda itu, saya pernah cerita kan kalau ada pemuda yang dijodohkan oleh kedua orang tua Nadin dan Althea bilang pemuda itu bukan pria baik-baik."


Hans pun terdiam sejenak lalu mengangguk. Danniel pun berjalan meninggalkan Hans yang masih terdiam di lobby yang masih memperhatikan Danniel berlalu pergi.


***


[Ost. Shepherd of Fire - A7x]



Hans berjalan dengan gaya arogannya menyusuri koridor hotel Henney yang berada di lantai lima belas.


Dengan bantuan nama Danniel, Hans berhasil mengorek informasi pemuda yang membawa Nadin tadi dari resepsionis. Langkah demi langkah Hans lalui dengan santai seperti tidak ada yang akan dihadapinya nanti. Saat sampai di depan pintu bernomor Seratus Sebelas, Hans terdiam sejenak melihat kearah pintu itu.


"Sorry Sir, satu pintu akan rusak!" gumam Hans dengan senyum evilnya lalu tak lama dia pun menendang pintu sampai pintu itu terbuka dan kunci otomatis yang sudah rusak berserakan dibawah.


Bayangkan tenaga Hans seperti apa sampai bisa mendobrak pintu kamar elit dari Hotel ternama sekelas Henney Hotel.


Hans pun berjalan masuk ke kamar tersebut dan melihat Nadin yang sedang berada di bawah Pemuda itu dengan baju yang sudah agak terbuka dengan robekan dimana-mana akibat dibuka paksa oleh Pemuda itu berusaha melawan pemuda itu karena telihat beberapa barang pecah belah berserakan dimana-mana dan yang paling kentara itu beberapa lebam di kedua lengannya, pipi Nadin yang merah diduga akibat bekas tamparan dan disudut bibirnya mengeluarkan darah segar mengalir. wajahnya juga dipenuhi lebam mungkin karena dipukul pemuda itu.


"Hans?!" ucap Nadin parau karena bercampur dengan isak tangisnya.


"Siapa lo?! berani-beraninya masuk tanpa ijin kesini, Hah?!" ucap pemuda itu sambil melepaskan cekalannya pada tangan Nadin, pakaian atas pemuda itu pun sudah berserakan di bawah.


Pemuda itu berjalan mendekati Hans.


"I am an angel of your death!" ucapnya sambil tersenyum kearah pemuda itu lalu Hans pun mencekik leher pemuda itu tanpa diduga oleh pemuda itu.


Pemuda itu langsung terbatuk tidak bisa bernapas tangan dan kaki pemuda itu berusaha memukul-mukul tangan yang mencengkram lehernya tapi tidak berasa pada Hans, karena tenaga Hans lebih kuat dari pemuda itu mau memukul seberapa kuat dan seberapa kali pun tidak membuat tangan Hans bergerak.


Nadin yang berusaha berdiri mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya, dengan berat Nadin bergerak dan berjalan kearah Hans. Menggenggam tangan Hans yang terulur ke leher pemuda itu.


Hans melihat kearah Nadin yang menatap kearahnya memelas sambil menangis menggelengkan kepalanya untuk berhenti. Hans melihat ke arah pemuda itu yang wajahnya mulai pucat karena kehabisan oksigen dan saat Hans melepaskan leher pemuda itu pun dengan seketika tubuh pemuda itu pun ambruk ke lantai.


Tak lama beberapa anak buah Hans yang sengaja Hans panggil baru saja datang dan masuk ke ruangan.


"Bereskan dia!" ucap Hans dingin saat anak buahnya membungkukkan badannya ke arahnya.


"Baik, Pak!"


Seketika Andin pun kehilangan kesadaran, dan pada saat Andin hendak terjatuh Hans langsung dengan sigap meraih tubuh Nadin dan langsung membopongnya keluar dari kamar itu.


***


Di sebuah rumah sakit...


Tepatnya di ruang tunggu Unit Gawat Darurat. Hans sibuk menelepon sambil menunggu tindakan dari hasil pemeriksaan Nadin.


"Hans, gimana keadaan Nadin?" ucap Althea yang baru saja tiba di rumah sakit menghampiri Hans sampai lari-lari karena khawatir sama keadaan Nadin, disusul oleh sang suami Danniel yang berjalan dengan santai dan terlihat sangat keren hanya dengan memakai kaos dan celana pendek karena dia tadinya sudahbakan beristirahat di rumah tapi tidak ingin membiarkan iatrinya pergi sendiri ke rumah sakit jadi dia pun ngintilin Althea di belakangnya.


Hans yang sedang menelpon pun kaget luar biasa melihat kehadiran Althea dan Danniel yang sudah berada di sini. Hans pun langsung pun buru-buru mematikan teleponnya membungkuk kearh Althea dan Danniel.


"Hmm... kenapa Hans? kok bisa dibawa kesini?" ucap Danniel mengerutkan kedua halisnya, pertanda Danniel kesal waktu istirahatnya diganggu.


"Maaf, Pak. ini kesalahan saya karena kurang cepat menolongnya..."


satu geplakan dari tangan Althea melesat ke lengan Danniel. meskipun tidak terlalu keras, tapi itu membuat seorang Danniel meringis sambil mengusap bekas geplaknnya. Hans pun berusaha untuk menahan dan tidak tersenyum melihat kelakuan Danniel.


"Isshh Yang... bisa nggak sih, ga usah marah-marah, masih untung dia nyelametin Nadin juga." omelnya pada Danniel seketika Danniel memanyunkan bibirnya menunduk.


Danniel memang kalau di luar terlihat dingin, juga ada sisi arogannya sedikit, tapi dihadapan Althea Danniel berubah seratus persen. dia tunduk dan takut pada sang istri.


"Nadin masih di ruang resusitasi, sedang ditindak oleh dokter, Bu..."


Althea pun terdiam cemas menunggu tindakan dokter dari ruang resusitasi.


"how badly was she injured, Hans?" ucapnya saat Danniel diberi perintah oleh Althea beli makanan dan minuman untuk Hans yang sudah menyelamatkan Nadin.


"Sorry Al, that was bad!" ucapnya menyesal. Althea pun langsung menutup wajahnya merasa kesal campur menyesal tidak bisa berbuat apa-apa pada Nadin.


Tak lama dari kejauhan Althea melihat kedua orang tua Nadin datang dengan tergesa-gesa kearah mereka langsung kesal dan marah pada kedua orang tua Nadin yang dengan kekeh menjodohkan Nadin dengan pria busuk itu.


"Hans... please please please.. gue mohon sama lo, bawa Nadin keluar dari rumah mereka..." ucap Althea melihat Hans serius.


"How, Al?!"


"marry her!"


"what? No, Al.. lo tau kan--"


"Nyonya Althea, gimana keadaan Nadin?!" ucap ibunya Nadin dengan cemas, sementara ayahnya Nadin masih bisa bereaksi santai.


"Dia, sedang ditindak diruang resusitasi, Bu... dan dokter belum keluar dari ruangan, jadi kami belum tau keadaan Nadin bagaimana."


seketika ibunya Nadin pun menangis sambil memeluk suaminya yaitu ayahnya Nadin. sementara Althea dan Hana memperhatikan gerak geriknya kedua orang tua Nadin.


"Bagaimana bisa ini terjadi?!"


"Hmmh... ini semua karena pria yang kalian jodohkan dengan putri kalian, dia sekarang ada di kantor polisi dan saya nggak akan memberikan keringanan dalam tuntutan ini." ucap Althea tajam menyindir kedua orang tuanya Nadin.


"ini nggak benar kan? nggak mungkin--" sergah Ayahnya Nadin masih tidak percaya.


"semua bukti telah terkumpul dan itu memberatkannya... anda bisa datang ke kantor polisi dan menanyakannya secara langsung jika tidak percaya." ucap Hans yang akhirnya ikut bicara karena Althea memberi kode pada Hans untuk berbicara.


kedua orang tua Nadin pun diam tidak bisa berkutik lagi ataupun membela pria brengsek itu.


"Ada apa ini, sayang?!" ucap Danniel yang baru saja datang membawa bungkusan dan memberikannya pada Hans lalu merangkul Althea melihat kearah kedua orang tua Nadin.


"Tuan Danniel..."


"Siapa mereka?!"


"Kami orang tua dari dari Nadin, Tuan..." ucap Ayah Nadin.


"Oh, orang tua yang tega menjual anaknya pada pria brengsek itu?!" ucap Danniel sinis.


Tak lama Dokter pun keluar dari ruang Resusitasi. Althea, Danniel Hans juga kedua orang tua Nadin bergegas menghampiri Dokter itu.


"Bagaimana keadaan Nadin, Dok?!" ucap Althea.


"Apa anda keluarga dari, saudari Nadin?"


"Iya... saya kakaknya Nadin, Dok!"


"kami juga kedua orang tua Nadin dok" ucap Ibunya Nadin masih menangis.


Dokter itu pun sedikit bingung melihat ada perselisihan diantara mereka.