I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 46 Kisah Hans



Ost. Yiruma - Wait there


Ada yang di sebut kembali ke ingatan masa kecil, karena stres dan pukulan kejiwaan, meskipun kepalanya tidak tebentur dan tidak ada masalah, tapi... shock yang diterima Nadin karena kejadian ini ataupun sebelum-sebelumnya yang membut dia sakit dia seperti ingin menguburnya dalam-dalam, ingatannya kembali ke masa kecil, saat dia tak punya masalah apa-apa Hans,,, itu kata dokter yang menangani kejiwaan Nadin.


Dan dalam kasusnya ini, dia kembali ke dua tahun ke belakang, yaitu masa sebelum menikah sama kamu, Hans.


Semua kenangan sesudahnya, sudah dia kubur dari ingatannya sekarang karena dia merasa akan menyakitkan baginya....


"Haaahhh menyakitkan ya..." gumam Hans sambil duduk di samping Nadin yang masih tertidur.


Tak lama Nadin pun membuka matanya melihat Hans berada ada di sampingnya sedang terdiam melihat ke arahnya.


"K-Kak Hans? ngapain masih di sini? emang orang tua aku nggak dateng ya?"


"Nad, kamu tau ini apa?" ucap Hans sambil memperlihatkan cingcin dibjari manisnya. Dia tidak sendiri yakin dengan menceritakan ini akan membuat Nadin mengingat semuanya. Semua yang sudah mereka lalui...


Saat dia memperhatikan jari manis Hans yang diperlihatkannya kearahnya, Nadin terbelalak pun kaget.


"Kak Hans udah nikah? itu bukannya cincin nikah ya?!"


"Hmm... dan ini punya kamu, Nad..." ucap Hans menyerahkan cingcin yang sengaja dilepas saat koma kemarin. Nadin makin tidak percaya dengan apa yang dikatakan Hans.


"Eu.. Kak, ini maksudnya apa ya?"


"Kita udah nikah, Nad."


"Hmmmfff... becanda ya? Kak, itu nggak mungkin, aku---"


"Saya nggak sedang bercanda Nad, dan kamu tau saya nggak pernah bercanda dengan yang namanya pernikahan?!" Nadin terdiam melihat wajah Hans yang serius menatap kearahnya.


"Dari semenjak kamu ditugasin sama Boss Danniel buat berada di sisi Althea... Kamu udah suka sama saya kan? Dan setelah itu makin hari kamu makin nggak bisa ngilangin perasaan kamu itu, sampai saya bersikap buruk sama kamu pun kamu masih tetap sama pendirian kamu, Nad..." Nadia yang seketika terdiam kaget melihat ke arah Hans, karena Hans tau semua isi hatinya yang selama ini dia simpan. Hans menggenggam kedua tangan Nadin.


"Saya minta maaf kalau selama ini saya sudah membuat kamu sangat menderita, Nad. Sampai kamu melupakan semuanya yang berhubungan dengan saya, juga dengan anak kita yang sudah tidak ada... saya--" Hans menunduk tidak sanggup melihat wajah Nadin dan tidak sadar dia meneteskan air matanya. Jujur saat ini dia tidak bisa untuk bersikap dingin atau pun tegas di hadapan Nadin.


"Tunggu... apa maksudmu bayi kita?" Ucap Nadin sambil memegang perutnya dan terasa nyeri saat dia tekan. Dengan hati dan tangan bergetar Nadin pun membuka baju pasien dan melihat perban yang mengelilingi perutnya. "Ini---"


"Maaf, Saya benar-benar nggak bisa melindungi kamu, Nad."


Nadin pun terdiam berfikir, dan sekelebat ingatan-ingatannya dengan Hans saat mereka Ijab Kobul, saat Hans memperlakukannya dengan sangat buruk, saat mereka berhubungan intim, saat mereka sering sekali bertengkar, dirinya yang sedang menangis sendirian, saat dirinya disekap dan disayat oleh seorang perempuan...


Jantung Nadin seketika berdetak dengan cepat, napasnya tidak beraturan dan kepalanya terasa sangat sakit. Kedua tangan Nadin pun memegang kepala dan juga perut yang terasa nyeri.


Aaaakkkkhhh... kenapa ini terasa sakit... semua ingatan iniii buat aku sakiiiittt Aaaakkkkkhhh....


"Nad... kamu kenapa? Nad?!" ucap Hans yang baru saja melihat Nadin sangat ketakutan, kesakitan dan juga terlihat sangat shock.


Bruuukkk


Tubuh Nadin ambruk, tergolek pingsan saat dia hendak beranjak dari tempat tidurnya.


"Dokter!!!" teriak Hans dengan keras, kebetulan suster itu memang sedang ingin mengecek keadaan Nadin.


"Apa dia baik-baik saja, Dok?!" tanya Hans pada Dokter itu terlihat sangat frustasi. Dokter itu melihat kearah Hans.


"Apa Bapak memaksanya untuk mengingat sesuatu?" ucapnya akhirnya sambil memberi suntikan di tangan Nadin. Hans hanya menghela napas.


"Ini adalah reaksi penolakan Pak... Apa yang diingingatnya dia sangat ingin melupakannya... Jadi tolong pak, anda jangan terlalu memaksanya untuk mengingat apa yang ingin dia lupakan, karena reaksinya akan tetap seperti ini, kecuali jika Ibu Nadinnya sendiri ingin mengingatnya dan menerima kenyataan yang ada dihadapannya sekarang dan nanti, apalagi dengan kondisi dia setelah ini, anda mengerti magsud saya kan Pak Hans?!" Hans mengusap wajahnya benar-benar frustasi. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan pada Nadin sekarang...


***


Nadin terbangun dari tidurnya dan masih melihat Hans yang tengah duduk kedua tangannya dilipat di depan dadanya, kepalanya sedikit menunduk menandakan dia sedang tertidur. Nadin memposisikan tubuhnya dari berbaring menjadi duduk bersandar di ranjang itu, lalu melihat cincinnya yang diberikan Hans padanya.


Ini... beneran cingcin nikah aku? seriusannya aku udah nikah sama Kak Hans?


Nadin pun mengingat potongan-potongan ingatan yang kemarin menghampirinya, tentang pernikahannya, saat Hans memperlakukannya dengan dingin, saat sedang berhubungan intim dengan Hans... dan saat itu Nadin pun buru-buru menggelengkan kepalanya mengenyahkan pikiran kotornya sambil menepuk kepalanya.


****... apaan sih, keluarin pikiran kotormu itu Nad... gila, bisa-bisanya aku bayangin gituan sama Kak Hans.


Terus siapa perempuan yang tega membunuh bayi aku sama Kak Hans? Apa musuhnya Kak Hans?


Saat dia ingat ingatan seorang perempuan yang dengan tega menyayat perut dan membunuh bayinya... Perutnya terasa nyeri kembali.


"Akhhhh..." Hans yang mendengar pekikan Nadin pun langsung terbangun dan melihat Nadin yang sedang memegangi peeutnya terlihat kesakitan.


"Ada apa? apa kamu sakit? saya panggilkan dokter ya..." ucapnya hendak beranjak. Tapi Nadin langsung mencekal tangannya.


"Aku nggak apa-apa, Kak. Aku cuma berusaha mengingat tapi saat ingat itu rasa sakit di perut, juga di kepala balik lagi... Aku---" ucapnya terpotong sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu mau saya panggil Althea buat temenin kamu???" Nadin hanya tediam melihat wajah Hans yang terlihat kurang istirahat tetapi masih tetap ganteng.


***


Nadin masih tidak percaya dengan apa yang terjadi dengannya, dia teus memperhatikan cingcin yang sudah terpasang di jari manisnya.


"Yes itu adalah cingcin pernikahan kamu, Nad..." ucap Althea sambil mengupas buah sambil tersenyum kearah Nadin.


"Hah... sulit dipercaya... aku sedikit ingat tentang semuanya sih, tapi masih sepotong-sepotong Kak, kalau aku berusaha mengingat semuanya kepala aku sakit... di kepala aku kayak ada kabut putih, kayak yang ngasih tau kalau aku nggak boleh mengingat semua itu..." Althea menghembuskan napasnya pelan lalu meletakan buah-buahan yang sudah dia kupas ke atas nakas di samping tempat tidurnya.


"Dengar Nad, dalam sebuah pernikahan pasti ada pahit dan manisnya... tapi bukan hanya itu aja kan? kamu bisa merasakan emosi, kesal, senang, marah, rindu, sayang dan itu hal yang sangat wajar Nad..."


Nadin pun dengan ragu menceritakan mimpinya saat dia bertemu dengan anak kecil yang mengucapkan selamat tinggal padanya dan bilang padanya agar jangan menangis lagi...


Althea yang mendengarkan cerita dari Nadin pun merasa sangat terharu sekaligus sedih karena mungkin memang itu adalah bayi mereka untuk berpamitan pada Nadin yang sudah melindungi dan menjaganya.


Dan tidak mereka sadari di balik pintu kamar rawat Nadin yang sedikit agak terbuka, ada Hans yang sedang berdiri hatinya ikut sakit mendengarkan cerita Nadin tentang putrinya.


Hans pun langsung masuk dan menghampiri Nadin lalu memeluk Nadin. Althea dan Nadin pun hanya terdiam melihat Hans yang sedang memeluk Nadin dengan erat.


"I'm sorry Nad, apa yang bisa buat kamu maafin semua kesalahan saya sehingga kamu bisa mengingat semuanya..."


Althea yang merasa jadi orang ketiga pun hanya menghela napas lalu beranjak dari tempat duduknya keluar dari kamar rawat Nadin.