I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 114



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


"Ngapain sih? Kok belum jalan juga, nanti keburu gelap loh, By," Rubina mengeluh.


"Karena kamu belum aman makanya sampai sekarang saya belum melajukan motor ini.”


"Belum aman?" bingung Rubina. "Maksud kamu gimana ya? Aku sama sekali nggak ngerti sama apa yang sedang kamu bicarakan."


"Soalnya kamu belum meluk saya, jadi saya nganggap kamu belum aman dan saya nggak mau melajukan motor ini sebelum mastiin kamu aman."


"Apa sih, By. Kenapa harus meluk segala sih? Modus atau gimana nih?" sebal Rubina diikuti gerakan bola matanya yang menunjukkan bahwa dia sangat-sangat malas untuk meladeni suaminya. Sayang, Sean yang posisinya sedang membelakangi tidak dapat menyaksikan ekspresi yang sedang tergambar di wajah istrinya saat itu.


"Hmmm kalau saya bilang khawatir, kira-kira kamu bakal percaya gak?" tanya Sean namun tidak ada jawaban dari Rubina. Dan tanpa meminta izin, Sean mengulurkan tangannya ke belakang. Diambilnya kedua tangan Rubina dan membuat tangan gadis itu melingkar tepat di bagian perutnya. “Maaf ya, saya ngelakuin ini demi keselamatan kamu juga!" ujar Sean lembut dan respon dari Rubina masih saja diam.


'Kenapa dia terus ngelakuin hal-hal kayak gini sih?' meskipun saat ini Rubina lagi mode diam tapi dalam hati dia terus meluapkan perasaan sebal lantaran suaminya senantiasa memperlakukannya seperti ini. 'Ck... gimana bisa ngelupain dia dengan waktu singkat? kalo perlakuannya kayak begini?!' lanjut Rubina masih membatin disaat suaminya perlahan-lahan melajukan motornya membelah jalan raya.


***


RUBINA saat ini sedang duduk di meja makan bersama dengan anggota keluarganya. Di sana ada suaminya, Daniel, Althea dan juga Tyo. Sementara Emerald sendiri malam itu katanya pulang terlambat karena dia sedang ada urusan bisnis. Setelah sudah beberapa hari keluar dari rumah sakit, kini Rubina melihat bahwa kondisi Sang Ayah sudah jauh lebih baik lagi. Rubina senang namun juga khawatir. Rubina khawatir kabar yang suatu hari nanti akan dia sampaikan kepada Sang Ayah malah membuat kondisi Ayahnya drop lagi.


"Papah rutin kan minum obat?" tanya Rubina disela-sela aktivitasnya menyuapkan nasi beserta lauk ke dalam mulutnya.


"Kamu tenang aja, Bi. Kalau urusan obat mah udah ditanganin sama Ibu kamu. Ibu kamu mah gerakannya super cepat kalo udah nyangkut soal kesehatan Papah, iya Kan Bu?" Althea hanya memutar bola matanya jengah.


"Kalo bukan Ibu siapa lagi yang ngurus kamu?!"


"Ya... Syukur deh kalo emang kayak gitu, seenggaknya aku nggak perlu terlalu khawatir lagi." Rubina tersenyum dibalas senyum juga oleh Danniel. “Pokoknya Papah harus sehat terus yah! Bina harap Papah selalu bahagia.”


"Ya kalo kamu mau Papah bahagia, berarti kamu juga harus bahagia. Karena pada dasarnya kebahagian Papi


ah tuh terletak sama kebahagiaan anak-anak Papah. Karena sekarang status kamu udah jadi suaminya Sean, Papah hanya berharap semoga hubungan kalian langgeng..." ucapnya lirih sambil melihat Rubina tersenyum tulus.


"Jangan lupa Niel, Grandpa juga akan mendoakan supaya sebentar lagi akan hadir seorang bayi di dalam hubungan pernikahan kalian. Dengan begitu kebahagiaan kalian akan semakin bertambah. dan Grandpa punya cicit..."


Rubina meneguk salivanya merasakan getir. Perasaannya campur aduk. Ada rasa takut yang berpadu dengan rasa sedih. Sang Ayah dan Grandpanya terdengar mengharapkan hubungannya dengan Sean akan bertahan. Rubina jadi takut untuk membayangkan bagaimana reaksi dari Sang Ayah nanti jika hari di mana Rubina telah menceritakan semuanya tiba.


"Bi? Kok malah ngelamun?” Sean yang memperhatikan istrinya sedang bergeming layaknya manekin segera mengajukan pertanyaan. “Kamu sakit?" Sean mengubah tampilan mukanya jadi khawatir.


Danniel Althea dan Tyo kompak mengarahkan perhatiannya kepada Rubina.


“Makananan buatan Ibu e


nggak enak, Bi?" tanya Althea.


"Enak banget kok, Bu," Rubina menoleh dan tersenyum. "Enak banget malah."


"Kalau enak kenapa makanannya kamu liatin aja sayang?" tanya Althea. Dia semakin penasaran saja setelah melihat putrinya itu sedikit memperlihatkan tingkah yang aneh seolah ada sesuatu yang sedang dia pikirkan. "Ada apa, Bi? Kamu lagi mikirin apa, sayang?"


"Aku lagi nggak mikirin apa-apa kok, Bu," Rubina berkilah. Tentu saja dia akan menyembunyikan kalau saat itu dia sebenarnya sedang memikirkan tentang masalahnya dengan Sean. "Kayaknya ada kesalahpahaman di sini. Sedari tadi tuh aku lagi nikmatin makanannya loh, bukannya ngelamun," Rubina beralasan.


Bagaimana pun juga yang namanya seorang ibu feelingnya kuat. Seperti Althea yang meragukan pengakuan dari putrinya. Althea juga yakin ada sesuatu yang sedang ditutup-tutupi oleh Rubina saat itu.


RUBINA seharusnya bahagia dengan apa yang disaksikan oleh sepasang bola matanya saat ini. Sang Ayah juga Tyo terlihat begitu senang saat ngobrol membicarakan banyak hal dengan Sean, ya... sepertinya Sang Ayah juga sudah menerima Sean sebagai menantunya. Campur aduk sekali perasaan Rubina saat itu.


'Hah... gimana yah reaksi Papah dan Grandpa pas tau tentang kebohongan Sean? Apa mereka masih bisa ngeliatin senyum kayak gini? Walaupun gue tau kalo Sean udah resmi ngenjatuhin talak sama Sarah, tapi menurut gue hal itu nggak bakalan ngubah kenyataan kalo gue udah dibohongin sama dia.”


Semakin Rubina memikirkan itu, perasaannya malah semakin campur aduk. Gara-gara itu pun rasanya sekujur tubuhnya jadi melemah. Darahnya juga serasa terkumpul di bagian kepala, menyisakan rasa sakit di sana.


"By!?" panggil Rubina disaat suaminya itu masih ngobrol dengan Sang Ayah dan Grandpanya. Panggilan singkat Rubina yang ditujukan kepada Sean bukan hanya membuatnya menjadi sumber perhatian Sean. Danniel, Althea dan sang Grandpa turut serta menjadikan wajah Rubina sebagai tertanamnya fokus penglihatan.


"Kenapa?" Sean mengembalikan pertanyaan dengan dahinya yang berkerut tanda bahwa dia sedang bingung.


"Pulang sekarang yuk! Dari pada semakin larut," ajak Rubina. Ya, dia memang tidak ada rencana untuk menginap. Pun sebelum berangkat dari apartemen tadi Rubina sudah bilang sama Sean kalau dia tidak akan menginap.


Dan sekarang jam memang telah menunjukkan pukul sembilan lewat beberapa menit. Nasib baik kalau di jalan nanti Rubina dan Sean tidak dihadang oleh kemacetan, kalau iya berarti mereka bakal tambah lama nyampenya di apartemen sementara Sean juga besok akan masuk kerja dan Rubina ada kelas pagi.


"Loh, kami pikir kalian berdua bakalan nginep malam ini.” Grandpa.


"Iya, Ibu juga mikirnya kalian berdua bakalan nginep," sambung Althea.


"Maaf ya Pah, Bu, Grandpa, aku sama Sean harus pulang ke apartemen. Soalnya besok pagi Sean masuk kerja.” Rubina memberikan alasan kenapa dia harus pulang.


"Kan bisa nginep di sini terus besok pagi pulang cepet ke apartemen," jawab Althea mematahkan alasan Rubina yang ngebet ingin tetap pulang ke apartemen padahal sudah malam.


"Bener tuh kata Ibu kamu. Sebaiknya memang kalian berdua nginep aja lah malam ini.” Sambung Tyo. "Balik ke apartemennya besok saja."


'Aduh, gimana nih, mana Ibu sama Grandpa kedengaran maksa banget supaya gue nginep? Padahal kan tujuan kenapa gue nggak mau nginep di sini karena gue nggak mau tidur sekamar sama dia. Beda cerita kalo kita di apartemen, gue sama dia tidurnya beda kamar kan.' Rubina membatin.


"Nginep aja lah, Sean! Dari pada pulang ke apartemen lagi kan?" akhirnya sang Ayah berujar kepada menantu laki-lakinya.


"Betul. Toh, kalian juga bisa bikin dedek bayi di rumah ini, gak perlu harus pulang ke apartemen segala," Althea menambahkan dengan gurauan yang membuat Sean tersenyum.


"Kalau Saya sih terserah, Pah. Saya serahin keputusannya sama Bina aja. Kalo Bina mau nginep saya bakalan turutin, begitu pun kalo Bina pengen balik ke apartemen maka saya juga bakalan melakukan itu," Sean mempertegas bahwa dia sama sekali tidak ada masalah kalau pun harus menginap malam ini. Toh, bener yang dikatakan oleh Kedua orang tua Bina dan juga Grandpa. Sean bisa pulang besok pagi.


'Pokoknya nggak boleh terjadi. Apapun yang terjadi gue bakalan usahain buat tetep balik ke apartemen. Gue nggak mau tidur sekamar sama Sean,' pikir Rubina dalam hati. Sebelum akhirnya keputusan untuk menginap itu final, Rubina berkata, "Tapi..."


Belum sempat Rubina menyudahi kalimatnya saat sesuatu terjadi. Kontan saja bibir gadis itu kembali terkatup begitu suara gemuruh yang diakibatkan oleh serangan hujan yang menyerang atap rumah. Hal itu membuat Rubina berdecak sebal. Hujan membatalkan rencana yang telah dibuat oleh Rubina. Kalau begini maka tidak ada lagi alasan bagi Rubina untuk pulang.


"Tuh kan..." ujar Tyo dengan segera, “Jangankan kita, bahkan semesta pun tidak memberikan kalian izin untuk kembali ke apartemen. Sudahlah kalian menginap saja, apalagi kan kalian pulangnya naik motor, ya kali mau pulang hujan-hujanan.”


"Dan kebetulan banget sata nggak bawa jas hujan jadi sekarang udah nggak ada alasan untuk kita kembali ke apartemen. Sebaiknya memang kita nginep di sini saja untuk malam ini,” timpal Sean menatap istrinya yang sudah kehilangan semangatnya.


"Tunggu dulu By. Siapa tahu kan sebentar lagi hujannya bakalan berenti." Rubina masih belum menerima sepenuhnya bahwa malam ini dia akan menginap di rumah ini.


"Hujan bakalan awet, Bi," kata Sean lagi.


"Tahu dari mana kamu, By?" penasaran Rubina.


"Nih, saya baru aja browsing ramalan cuaca," jawab Sean. Layar benda pipih miliknya diarahkan kepada istrinya. Udahlah, malam ini kita nginep aja, besok pagi baru kita balik ke apartemen," imbuhnya.


"Hah... ok, kataknya juga hujannya nggak bakalan berhenti dalam waktu cepat,” pasrah Rubina dengan tampang memelas.