
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"By? Kenapa diam aja? Aku kan lagi nanya sama kamu."
"nggak usah dibahas sekarang. Ada hal yang lebih penting yang mesti saya lakukan. Emangnya kamu nggak laper?"
"Laper sih By, tapi aku pengen denger jawaban kamu soal bonus ciuman itu dulu. Soalnya kan kata kamu barusan kamu adalah cowok yang megang kata-kata kamu. Berarti..."
"hah... Iya Saya pasti bakalan tepatin janji saya.”
"Kapan?" tanya Rubina yang tentu saja dia mengucapkan kalimat seperti itu dalam artian sedang bercanda. Rubina menganggap dirinya terhibur ketika melihat suaminya sedang salah tingkah. Seperti saat ini Rubina merasa terhibur melihat kedua pipi milik suaminya terlihat memerah seperti halnya tomat yang baru matang. Walau Sean tidak mengatakan dengan jujur perasaannya namun Rubina sudah melihat tanda-tanda salah tingkah lewat wajahnya.
"Ntar!" jawab Sean dengan begitu singkat, padat, dan jelas.
"Ntar kapan By."
"Tunggu sampai saya siap buat ngelakuinnya.”
"Kapan kamu siap?” Rubina menuntutnya lebih lanjut.
"Saya nggak bisa nentuinnya kapan. Yang jelas kamu bakalan dapetin ciuman itu. Saya janji." Soal janji ciuman itu Sean bersungguh-sungguh akan memberikannya. Tapi karena Sean belum memiliki keberanian sebanyak itu untuk melakukannya jadi dia meminta waktu yang sebenarnya dia juga tidak tahu sampai kapan.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang berjalan. Memanfaatkan keheningan itu Sean segera bangkit dari posisi duduknya. Pria itu hendak melanjutkan pekerjaan saat mendengar seseorang sedang menekan bel apartemen.
"Ck... Siapa sih yang dateng?" gumam Sean yang diikuti gerakan menolehkan mukanya ke arah Rubina. Rubina yang tidak tahu siapa yang datang langsung meresponnya dengan sebuah kedikan bahu.
"Biar saya cek!" Sean beranjak membawa langkah kakinya menuju ke pintu. Rubina juga mengekorinya sambil menebak-nebak siapa yang bertamu malam-malam ke rumah.
"Ayah, Ibu," Sean berucap spontan setelah membuka pintu dan menemukan orangtuanya sedang berkunjung ke apartemen. “Ayah sama Ibu kok gak ngomong kalo mau datang ke apartemen?" Sean menatap secara bergantian ayah dan ibunya yang masih berdiri di ambang pintu.
"Nggak ngehubungin gimana. Dari tadi tuh Ibu sama Ayah udah nelpon kamu berkali-kali tapi kamu nggak ngangkat-ngangkat. Ada kali dua puluh kali Ibu nelpon ke nomor kamu tapi enggak kamu angkat," Marisa menjelaskan.
Setelah menatap putranya kali ini Marisa mengarahkan fokusnya itu di wajah Rubina.
“Ibu juga nelpon kamu Nak, tapi hape kamu enggak aktif," ucapnya kepada Rubina jauh lebih lembut dibanding intonasi suaranya saat berinteraksi verbal dengan Sean.
"Maaf Bu, hape aku ada di kamar. Lobet." Rubina membeberkan alasan.
"Hape saya ada di nakas kamar. Makanya nggak kedengeran. Trus itu Ibu bawa apaan?" Sean mengakhiri penjelasan tentang kenapa tidak mengangkat telepon ibunya dengan sebuah pertanyaan.
Tentu saja Sean dibuat penasaran dengan isi kantong kresek yang sedang dibawa oleh ibunya.
"Rencananya tadi Ibu pengin ngajakin kamu sama istri kamu tuh ke rumah buat makan malem, soalnya ibu udah nyiapin banyak banget makanan. Eh, Hape kalian malah nggak diangkat, makanya itu Ibu minta sama Ayah buat nganterin ke apartemen supaya kita bisa makan malamnya di sini. Eh tapi ngomong-ngomong ibu sama ayah nggak ngeganggu kalian kan?" tanya Marisa.
"Nggak kok, Bu. Masuk aja Bu, Yah," Sean mempersilakan.
"Kalo gitu Ibu sama Bina langsung ke dapur aja yah, mau ngehidangin makanan ini dulu,” Marisa mengatakannya kepada sang suami dan putranya yang hendak duduk di ruang tamu apartemen.
"Kalian belum sempat makan malam kan?" tanya Marisa setibanya di dapur bersama Rubina.
"Belum Bu. Tadi juga sebelum Ibu datang Sean lagi mau nyiapin makan kok.
"Maafin aku ya, Bu," wajah Rubina langsung berubah menyusul permintaan maaf yang terucap dari bibirnya.
Sama persis dengan Rubina. Marisa turut serta merubah ekspresinya sambil mengarahkan perhatiannya ke Rubina.
"Soal aku yang belum bisa masak, dan ngebiarin Sean yang masak buat aku...”
"Jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Soal kamu yang nggak bisa masak jangan kamu jadikan beban. Waktu itu kan Ibu pernah bilang kalau dulu waktu awal-awal nikah pun Ibu seperti itu. Atau gini aja, nanti kapan-kapan ibu bakalan ngajarin kamu masak. Mulai dari dasarnya sampai kamu bisa."
Rubina langsung mengangguk sambil tersenyum kearah Ibu mertuanya.
"Pokoknya kamu enggak perlu mikirin soal itu lagi ya, sayang!"
"Iya Bu."
Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang berjalan. Marisa dibantu dengan menantunya fokus menyajikan makanan di meja. Setelah semuanya beres mereka berempat pun menikmati santap malam dengan begitu khidmat.
Pun setelah menikmati santap malam mereka berempat kembali ke ruang tamu untuk sekadar ngobrol-ngobrol. “Kalian sudah tau kabar kehamilan Rina ?" tanya Aditya.
"Kak Rina hamil, Yah?" Rubina balik memberikan pertanyaan kepada ayah mertuanya.
"Iya, sebelum ke sini Dimas sempat nelpon dan memberitahu kalau sebentar lagi akan hadir anggota baru di keluarga kita. Ayah seneng banget dengernya. Semoga dalam waktu dekat kalian juga bisa ngasih cucu ke ayah yah. Apalagi beberapa hari yang lalu Ayah cerita sama ibu juga Grandpa kamu katanya mereka sudah tidak sabar ingin menimang cucu dari pernikahan kalian berdua," ucap Aditya kepada menantunya.
Rubina hanya bisa tersenyum kaku sambil melirik Sean.
JAM telah menunjukkan pukul sembilan malam saat Sean sedang bersantai di ruang keluarga apartemennya. Ayah dan Ibunya sudah meninggalkan apartemen sekitar dua jam yang lalu, dan bahkan kini Sean pun sudah dalam setelan yang rapi setelah mandi.
"Anak ayah tampan banget—” tenggorokan Sean serasa tercekat sebelum dia menyempurnakan kalimatnya. Dia memandang kucing kesayangannya yang sedang anteng dalam pelukannya. Sea bergidik dan bergumam,
"Padahal gue sendiri yang bilang kalo cewek itu udah gila karena memperlakukan Lion kayak anaknya sendiri. Tapi sekarang gue yang malah keceplosan hampir manggil Lion sebagai anak." Sean menggeleng-gelengkan kepalanya lebih kepada rasa tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang bisa ketularan tingkah absurd Rubina.
"Lagi apa By?" Rubi a yang baru datang dari kamar ikut duduk di sisi kiri sofa yang Sean duduki.
"Lagi lomba balap karung," jawab Sean dengan intonasi yang sarat dengan keketusan. Dia sangat tidak senang saat Rubina bertanya tentang segala sesuatu yang sudah dia ketahui jawabannya. "Emangnya mata kamu lagi bermasalah ya sampai kamu nggak bisa liat saya lagi ngapain." Sean masih mengarahkan fokus perhatiannya kepada sang istri yang menatapnya selama beberapa saat sebelum mengembalikannya pada Lion di pangkuannya.
Sean tersenyum lagi-lagi karena Lion yang teramat menggemaskan. Sean bahkan menampilkan senyuman yang teramat manis dan bahkan senyum itu tidak pernah didapatkan oleh Rubina meskipun itu hanya sekali. Kemudian di menit selanjutnya terlihat Sean yang mendaratkan satu buah kecupan pada Lion.
"AAAAA," Rubina memekik gemas memperhatikan Sean yang baru saja mengecup Lion. "Iri banget aku sama Lion."
Sean pun menurunkan Lion dari pangkuannya sambil menatap Rubina dan mendekati Rubina yang terlihat meneguk salivanya.
Sean tidak menunggu sampai bibir Rubina terbuka mengeluarkan kalimat. Sean langsung menarik tangan gadis itu mendekat ke arahnya.
"Ma- Mau apa By?"
Pluk!
Sean langsung menautkan bibirnya dengan bibir Rubina. Menyisakan Rubina dengan mata memelotot. Tidak ada hitungan aba-aba dan Rubina menerima ciuman tepat di area bibir.
Awalnya Rubina merasa kalau adegan ciuman ini hanyalah sebuah mimpi. Namun dugaannya itu salah. Dia bisa merasakan bibir milik Sean. Itu artinya sekarang dia memang sedang tidak bermimpi. Apa yang selama ini menjadi impiannya telah terealisasikan ke dalam dunia nyata.
Rubina yang ingin menyudahi ciuman itu tidak bisa berbuat apa-apa karena Sean menarik tengkuknya sehingga ciuman itu terus berlanjut.
SEAN tidak tahu setan apa yang sedang merasuki dirinya sampai dia memiliki keberanian untuk mengecup Rubina seperti ini. Memang sih, alasan kenapa dia sampai mencium karena dia sudah telanjur mengucapkan janji di lapangan basket tadi. Tapi di lain hal Sean turut serta merasakan kenikmatan ketika dia menempelkan bibirnya dengan bibir milik istrinya. Bahkan Sean langsung merespon upaya Rubina yang hendak menyudahi ciuman itu dengan cara menggunakan telapak tangan kirinya. Awalnya tangan itu hanya mendarat di bagian tengkuk Rubina, namun sedetik kemudian Sean menariknya. Alhasil Rubina pun tidak memiliki akses untuk menyudahi ciuman itu.
Seharusnya Rubina senang karena perjuangannya selama ini membuahkan hasil. Anehnya saat itu dia malah bergeming layaknya sebuah manekin. Terlebih saat aksinya hendak menyudahi ciuman itu ditepis oleh lawan mainnya. Jangan ditanya lagi, perasaan Rubina saat itu sudah campur aduk, nano-nano.
Adegan ciuman itu tidak kunjung berhenti. Rubina juga belum melakukan perlawanan. Gadis itu masih membiarkan Sean memainkan bibirnya. Sampai akhirnya alam bawah sadar membuat Rubina ikut larut dalam suasana tegang tersebut. Rubina mulai memainkan bibirnya pelan-pelan, dan.....
"Awww," Sean meringis saat rasa perih bersarang di bibir bagian bawahnya. Padahal Rubina masih mencoba untuk mendapatkan sisi kenikmatan dari adegan yang berlangsung. Namun sangat disayangkan lantaran adegan ciuman itu berakhir.