
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
TEPAT setelah hari di mana tanggal pernikahan telah ditentukan, Sean merasa bahwa hari-hari selanjutnya berjalan lebih cepat. Pun tidak terasa bahwa hari ini adalah hari di mana pria itu akan sah menjadi suami dari Rubina. Terlepas dari tidak adanya cinta dalam hati Sean untuk gadis itu tidak akan mengubah fakta kalau pernikahan di antara mereka sejatinya akan sah di mata agama dan juga negara.
"Hmmm," dehaman yang terdengar dibuat-buat sedang mengudara di ruangan yang cukup besar itu. Menoleh mengikuti sumber suara, Sean melihat kakak laki-lakinya sedang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum miring dan melipat tangan di depan dada.
"Cie yang sebentar lagi sah jadi suami. Finally yah Bro. Akhirnya kamu ngerasain juga yang namanya surga dunia."
Seperti pada kebiasaannya Sean cuma menoleh sebentar lalu setelah itu dia kembali memperhatikan cermin di depannya. Nyaris tanpa ekspresi Sean memperhatikan pantulan dirinya di cermin.
Matanya menilik tampilannya yang begitu sempurna dengan sebuah jas berwarna krem dipadukan dengan kemeja putih. Sayang sekali keindahan jas yang melekat di tubuhnya kala itu tidaklah seindah mood nya. Hari ini dia akan menikahi perempuan yang sama sekali tak dicintainya. Hal itu sangatlah menyebalkan.
"Kalo mau senyum, senyum aja. Nggak perlu pakek ditahan-tahan segala senyumnya!"
"Lah, siapa juga yang mau senyum."
Sembari mendekat ke meja rias, Dimas berujar, "Kamu udah nyiapin jawaban kan untuk ijab..." keterkejutan membuat pria itu merapatkan gerahamnya dengan segera. Beberapa saat selanjutnya dia berujar lagi, "Apa sih, Sean? Orang aku cuma mau ngambil sisir aja buat rapiin rambut aku," Dimas sampai menggeleng-gelengkan kepalanya memberikan komentar. Sebelumnya Sean menyambar ponselnya yang ditaruh di atas meja rias saat adanya pergerakan tangan Dimas yang dipikir oleh Sean hendak mengambil ponselnya. Padahal kenyataannya benda yang diambil oleh Dimas adalah sebuah sisir bukan ponsel milik Sean.
Sean memang cukup sensitif terhadap hal-hal yang erat kaitannya dengan masalah privasi kepada siapapun. Tidak peduli siapa orang itu. Bahkan keluarganya sekalipun. Bagi Sean ponselnya adalah sesuatu yang tidak boleh dipegang oleh orang lain selain dirinya.
Meninggalkan Sean, di tempat lain terlihat Rubina yang sedang tersenyum sesekali saat melihat pantulan dirinya di cermin. Masih tidak percaya, tinggal menghitung jam sebelum akhirnya dia benar-benar memiliki Sean sepenuhnya.
"Cie yang bentar lagi bakalan sah jadi istrinya, Sean," Rara yang sudah cantik dengan balutan kebaya berwarna merah muda- persis sama dengan yang Syifa kenakan mencoba menggoda Kayla. Rubina yang mendengar itu hanya tersenyum simpul secara singkat.
"Bestie gue cantik banget sih!" Syifa tersenyum penuh haru. Akhirnya, salah satu dari mereka bertiga akan membuka lembaran baru dengan sebuah pernikahan. "Nangis boleh enggak sih? Gue kok jadi melow gini ya ngeliat lo yang bentar lagi bakalan sah jadi istri orang," Syifa yang memang gampang tersentuh mulai mengipas-ngipasi wajahnya menggunakan telapak tangannya. Ada cairan bening yang telah melapisi sepasang bola mata Syifa -membuat matanya terlihat berbinar seolah ada kristal yang melapisinya.
"Eh, jangan nangis sekarang Fa," ujar Rara sedikit heboh.
"Loh kenapa? Lo takut bakal ikutan nangis kalau gue nangis?" tanya Syifa pada Rara.
"Bukan. Bukan gitu, tar kalo lo nangis, yang ada make up lo bakalan luntur. Kan kasian MUA nya kalo harus ngulang make up in lo lagi. Kalo mau nangis jangan sekarang, tunda aja dulu. Nanti kalo acaranya udah selese lo boleh nangis deh!"
"Fa, Ra!" panggil Rubina.
Detik selanjutnya Rubina menjadi fokus mata kedua sahabatnya. "Kenapa, Bi?" Syifa bertanya.
"Gue mimpi nggak sih hari ini bisa pake gaun pengantin?" ucap Rubina. "Rasanya tuh gue kayak lagi terjebak di dunia mimpi ngeliat diri gue di cermin. Finally apa yang selama ini gue impikan diwujudkan sama Allah. Gue bakalan nikah, dan orang yang bakalan nikah sama gue adalah Sean."
"Bahagia selalu yah Bi. Pokoknya gue dan Rara akan terus ngedoain yang terbaik buat lo. Gue yakin kalo lo bisa naklukin hatinya Sean. Siapa tau kan tar malem kalian berdua bakalan ngerayain cinta," goda Syifa sembari menyikut pelan lengan sahabatnya yang kini hanya tersenyum simpul mendengar candaannya.
***
SEMUA orang menoleh dengan takjub kepada Rubina yang datang diapit oleh kedua sahabatnya. Tidak terkecuali Sean. Pria itu ikut menoleh, dan ya... Sea melongo di detik yang sama saat sepasang bola matanya menjumpai Rubina. Rubina benar-benar sangat cantik. Waktu fitting baju Sean memang telah melihat ball gown tersebut melekat di tubuh Rubina, hanya saja cukup berbeda karena kali ini gaun yang sangat indah itu dipadukan oleh make up yang membuat Rubi a semakin bersinar saja.
Memang dari awal Sean tidak pernah menampik soal kecantikan yang Rubina miliki. Tidak heran kenapa sekarang dia seperti terhipnotis melihat gadis itu mendekat ke arahnya. Meski takjub pada kecantikan gadis itu, namun Sea tidak menatapnya secara terus menerus. Takutnya Rubina malah salah menanggapi tatapannya.
"Karena kedua mempelai sudah ada di tempat. Apakah prosesi ijab kabulnya sudah bisa dilaksanakan sekarang?" si bapak penghulu mengedarkan pandangannya menatap anggota keluarga kedua mempelai. Tampak mereka semua menggerakkan kepala, mengangguk tanda memberikan izin kepada pak penghulu untuk memulainya.
Prosesi ijab kabul pernikahan Rubina dan Sean akan diwakilkan oleh Daniel selaku ayah dan wali Rubina.
Daniel masih terdiam dengan masih muka gusar. Althea yang berada di depannya pun hanya bisa menenangkannya lewat tatapan.
"Baiklah, sekarang kita mulai prosesi ijab kabulnya Bapak Danniel," si bapak penghulu menginstruksikan Daniel supaya tangannya di ulurkan kedepan. Seperti sudah tahu apa yang harus dilakukan, Sean dengan sigap ikut mengulurkan tangannya. Kini dia dan Daniel saling berjabat tangan satu sama lain.
Emerald yang duduk di samping Althea dan Tyo pun hanya terdiam melihat adik kesayangannya yang akan dipinang oleh Sean.
Pak Penghulu pun mulai memberikan instruksi pada Danniel untuk mengucapkan beberapa doa dan kata-kata yang harus diucapkan oleh wali.
"Bismillahirrahmanirrahim, astagfirullahhaladzim, astagfirullahhaladzim, astagfirullahhaladzim. Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadanrasulullah. Saudara Sean Altemose Ahmet. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Rubina Henney Wiriawan binti Daniel Henney dengan mas kawin berupa emas logam mulia seratus gram, uang senilai lima ratus juta, dan seperangkat alat salat tunai."
Sean mendahulukan sebuah hela napas singkat sebelum memberikan jawaban. "Saya terima nikah dan kawinnya Rubina Henney Wiriawan binti Daniel Henney dengan mas kawin tersebut tunai," Sean mengatakannya dengan sangat lancar tanpa hambatan.
"Bagaimana para saksi. Sah?" tanya penghulu kepada para saksi.
"Sah," jawab para saksi.
Bapak penghulu melanjutkan acara itu dengan doa-doa setelah ijab kabul dilaksanakan. Terlepas dari rasa senang yang Rubina miliki karena bisa menikah dengan pria yang dicintainya, tetap saja dia merasakan haru. Apalagi statusnya sekarang sudah menjadi seorang istri.
"Ijab kabul telah diucapkan dan disahkan oleh para saksi
nikah. Alhamdulillah saudara Sean Altemose Ahmet dan saudari Rubina Henney Wiriawan telah resmi menjadi suami istri. Sekarang pihak pengantin wanita diperkenankan untuk mencium punggung tangan pria yang sudah sah jadi suami Anda!"
Sean mengulurkan tangannya. Segera disambut oleh Rubina. Rubina mencium punggung tangan lembut milik suaminya. Tanpa sadar Rubina tersenyum di tengah-tengah aktivitas itu. Singkat saja adegan mencium tangan Sean, tetapi mungkin akan sulit untuk Rubina lupakan sampai kapanpun. Apalagi itu adalah adegan ciuman tangan pertama yang dilakukannya pada Sean setelah sah menjadi sepasang suami istri. Pastinya momen tersebut akan selalu tersimpan baik di dalam memori Rubina.
Sementara itu...
Daniel hanya bisa menunduk tak kuasa sambil meloloskan air mata yang ditahannya sedari tadi. Rubina yang tak sengaja melihat Daniel yang menunduk langsung menghampiri sang ayah mengusap punggung Daniel perlahan sambil memberikan tissue pada Daniel.
"Hei Pah... Makasih udah mau jadi walinya Bina... Bina seneng deh, papah bisa tulus ngerestuin Bina nikah sama Sean..." Bina pun langsung memeluk Daniel sambil menangis, begitu pun dengan Daniel yang sudah ikhlas melepas putri kesayangannya pada Sean yang sudah menjadi suami putrinya itu.
semua yang ada disitu pun menahan tangis haru, Sean yang melihat kedekatan Bina dan Daniel pun mendekati Daniel sambil mengusap pundak Daniel.
"Insya Allah Bina akan saya jaga dan juga saya akan berusaha membahagiakan Bina... Papah hanya perlu mempercayakan Bina pada saya..."
"Pertama yang diucapkan oleh Bina adalah Papah, dan Cinta pertamanya Bina Adalah saya... Saya akan percayakan Bina seutuhnya padamu Sean, Tolong jangan sakiti Bina, jika suatu hari kamu tidak menginginkannya lagi... tolong kembalikan Bina pada saya secara baik-baik..." ucap Daniel pada Sean disela isak tangisnya.
Sean pun tanpa sadar langsung memeluk Daniel erat, begitu pun dengan Daniel. Althea, Tyo dan Emerald pun saling pandang dan lega karena sekeras-kerasnya hati Daniel akhirnya luluh juga dan merestui putrinya dengan Sean.