
Setelah beres makan mereka pun langsung pulang ke tempat Nadin menginap selama berada di Kota itu.
Nadin keluar dari mobil lebih dulu, sementara Hans yang merasakan sikap Nadin yang berubah hanya bisa menghela napas dengan sabar. Lalu Hans pun keluar dari mobil mengikuti Nadin di belakangnya. Hans memperhatikan jalan Nadin yang sedikit tertatih. Hans pun membawa kotak yang ada di dalam dashboardnya. Lalu keluar dari mobil mengekori Nadin di belakangnya tanpa bicara sepatah kata pun.
***
Saat Nadin masuk ke dalam kamarnya. Hans menarik tangan Nadin dan mendudukannya di sisi tempat tidurnya. Hans pun berjongkok di depan Nadin menaikan kain keatas lalu melihat ke arah Nadin yang sedang heran melihat ke arahnya.
"Apa kamu mati rasa?" memperlihatkan luka goresan yang cukup dalam di kaki Nadin. Nadin pun kaget dengan apa yang dilihatnya. Jujur Nadin tidak merasakan sakit di kakinya dan benar-benar tidak sadar kalau kakinya terluka.
Hans pun mulai membersihkan luka di kaki Nadin dengan telaten. Nadin hanya terdiam melihat keaarah wajah Hans yang sedang serius.
"Udah ini, Mas boleh langsung pulang... bukanya besok akan berangkat?"
"Kamu ngusir saya? Kamu nggak mau saya ada disini?"
"Bukan gitu Mas, aku tuh nggak mau kalo kamu jadi nyusahin kamu, Mas!" Hans tidak menjawab masih mengobati luka goresan di kaki Nadin.
"Mas!" Setelah tidak ada jawaban dari Hans Nadin pun sedikit meninggikan suaranya.
"Saya akan nginap disini sama kamu! besok pagi saya baru pulang, lagian persiapan saya nggak terlalu banyak dan semua sudah beres." Nadin pun hanya menghela napas. Ada perasaan senang di hati Nadin, karena Hans lebih memilih menghabiskan waktu bersama dengannya daripada pulang lagi ke Jakarta.
"Mau kemana?" setelah Hans selesai memberi perban pada luka Nadin.
"Aku mau mandi mas! Aaakkh----" Suara Nadin pun tercekat saat tubuhnya diangkat oleh Hans ala bridal style.
"Mas..."
"Luka kamu nggak boleh kena air dulu, saya akan memandikan kamu!"
Wajah Nadin pun memerah karena malu sambil menundukan wajahnya.
Hans meletakan badan Nadin diatas bathtube yang sengaja belum diisi air.
“Mas, Biar aku yang buka, aku masih bisa--”
“Diamlah!” Nadin pun seketika terdiam menunduk. Hans yang melihat reaksi Nadin pun hanya menghela napas.
“Kenapa? Kamu takut?” Nadin hanya menggeleng. Hans pun memegang dagu Nadin lalu mengecup bibir Nadin dengan lembut.
“Saya sudah lihat kamu keseluruhannya kenapa masih malu, hm?” Ucap Hans sambil mulai membuka kancing kemeja Nadin satu persatu, lalu beralih membuka kaitan branya, tangannya turun menyusuri pundak Nadin menurunkan tali branya. Nadin hanya bisa terdiam memejamkan mata merasakan aliran-aliran listrik yang membuatnya ingin sekali mendesah, apalagi saat jari-jemari Hans hinggap di pinggang Nadin berusaha untuk membuka kancing dan zipper berusaha membuka celana panjang dan ****** *****, Nadin pun pasrah dengan perlakuan Hans yang sangat lembut.
Saat air shower dinyalakan kaki Nadin yang terluka diangkat oleh Hans keatas dinding bathtube supaya tidak terkena air.
Lenguhan-lenguhan kecil keluar dari mulut Nadin saat tangan Hans mengusap area intimnya untuk membersihkan tubuhnya. Hans yang tadinya biasa saat mendengar lenguhan Nadin, adiknya pun mulai bereaksi dan menginginkan lebih untuk sekedar mengusap tubuh Nadin.
"Nad... bolehkah?" Nadin yang melihat kearah Hans pun hanya bisa mengangguk.
Jujur saat Hans mulai menjamah tubuhnya, tidak memungkiri bahwa Nadin pun mengiginkan lebih dari sekedar usapan.
Hans pun dengan segera menanggalkan kemeja dan celana yang masih menempel di tubuhnya, Hans pun masuk ke bathtube dan mengangkat tubuh Nadin diduduk di atasnya.
“Mas…”
“shuutt…” Hans pun mulai membelai dan mengecup punggung Nadin dari belakang, tangannya mulai merayap kedepan dan memainkan aset Nadin yang masik kesini semakin berisi dan sedikit membesar karena dimainkan terus olehnya. Nadin pun meremas dinding bathtube menahan sensasi yang luar biasa.
"Jangan ditahan Nad! Rileks" ucap Hans yang masih mengecup pundak Nadin.
"Tapi, Ah... Mas... eemmmmhh..." ucap Nadin tertahan saat salah satu jari Hans sudah masuk ke area sensitifnya pelan, lalu memaju mundurkan jarinya dia area itu.
"Aaahh, Mas.. Euuuhhhhggg..." racau Nadin saat miliknya keluar oleh jari Hans lalu terkulai bersender di dadanya Hans.
Hans pun mengangkat tubuh Nadin yang terkulai lemas, untuk segera dimasukinya.
"Mas... tumben ga pakai kon*** bukanya Mas belum siap?!"
***
Pukul Tujuh malam...
Hans terbaring di kasur menghadap ke atas dengan mata yang masih terbuka melamunkan sesuatu masih tanpa dengan tubuh tanpa busana, di sebelahnya Nadin sedang tertidur di lengannya Hans sambil memeluk tubuh Hans, terlihat kelelahan setelah pergulatannya dengan Hans yang entah le berapa kali Nadin keluar akibat permainan Hans.
kedua mata Nadin pun terbuka melihat disampingnya Hans menatap atap.
"Hmm.. Mas, ga tidur?" ucapnya sambil mengusap kedua matanya.
"Hmm... ga bisa tidur!" Ucapnya masih dengan wajah datarnya.
"Jam berapa sekarang?"
"Masih jam tujuh, kamu tidur lagi aja!"
"lapar, Mas... jalan yuk?! kata Kak Althea disini kalo malam banyak banget yang dagang makanan... kita food hunting yuk?!"
"Hmm... boleh! Tapi, gimana sama kaki kamu?!"
"aku udah ga papa kok, lagian kita kan pake mobil, jalan juga ga bakalan jauh-jauh kok... ya.. ya... ya Mas ya... please!!!" ucap Nadin mulai manja.
"Ya udah yuk siap-siap dulu!"
***
Di salah satu tempat daerah B, yaitu Braga Culinary Night...
Di sana berbagai macam makanan dijajakan sepanjang jalan, Hans yang memarkirkan mobilnya lumayan agak jauh dari tempat itu mengharuskan mereka berdua berjalan. Nadin dan Hans tidak menyangka bahwa tempat ini akan seramai ini sesekali Nadin disenggol oleh orang lain yang ikut berdesakan juga saking ingin berkuliner juga.
Mau tidak mau Hans pun menggenggam tangan Nadin dan mendekatkan tubuh Nadin kearahnya, Nadin yang melihat tingkah Hans pun hanya tersenyum lalu memeluk lengan kekarnya Hans.
Tak lama Hans pun melihat ada kursi dan meja yang kosong, buru-buru Hans pun membawa Ndin tyk duduk disana. tak lama ada beberapa pelayan dari beberapa kedai yang membawa menu BBM untuk mereka.
Hans dan nadin pun memesan makanan dan tidak kira-kira Nadin memesan banyak sekali jenis makanan di malam itu.
Hans yang melihat kelakuan Nadin pun hanya menggelengkan kepala masih dengan wajah datarnya.
Nadin menopang dagunya, senyumnya bahkan tidak berhenti menghiasi wajahnya. Sementara Hans tidak menatap Nadin, dia sudah fokus dengan handphonenya. Nampak tengah mengetik sesuatu, mungkin itu kerjaan yang akan dibawa besok ke Australia.
Nadin memerhatikan wajah serius itu dengan seksama. Sangat tampan sebenarnya bahkan saat berjalan tadi banyak orang yang memperhatikan Hans apalagi para wanita, mungkin kalau Nadin tidak ada para wanita itu sudah berkenalan dengan Hans, tapi dengn tabuatnya Hans kayaknya mereka akan gagal untuk berkenalan dengannya. Hanya satu yang kurang dari seorang Hans, yaitu senyum. Hans sangat terkenal di kalangannya, tidak memiliki ekspresi bahkan dalam keadaan senang sekali pun. Dan wajah datar itu menjadi ciri khasnya, dengan tatapan tajam menukik tajam. Tidak jarang hanya dengan sekali pertemuan, orang dapat melihat bagaimana aura dingin yang Hans berikan. Nampak sangat menakutkan dan misterius sekali.
###
Duuuhh maaf ya telat update...
Abisnya tangannya lagi ga bisa diajak kompromi...
udah diolesin H**InCream tapi ga mempan ga panas, akhirnya ditempel beginian... sekarang udah lumayan ga terlalu pegel bgt....
So... mohon maaf kalo nanti updatenya telat lagi.. tapi mudah2n sih udah sembuh ya... jadi biar bisa cepet updatenya...
makasih atas perhatiannya ya...
sekian curhatan Author..