
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Terlepas bahwa dia dan Sean harus berjalan cukup jauh tidak menyulutkan semangat Rubina. Wajahnya telah membuktikan itu. Karena sekarang dia sedang berdua dengan asean maka tidak masalah walau dia harus berjalan jauh.
"Enggak kerasa yah, sebentar lagi kita bakalan nikah."
"Ya, sebentar lagi kita bakalan nikah dan perasaan saya ke kamu masih belum berubah. Saya masih nggak punya perasaan lebih sama kamu," asean tidak mengerti, tiap kali di dekat Rubina selalu saja dia bertindak di luar kebiasaannya. Sekarang pun dia mengeluarkan kalimat pedas untuk gadis itu.
"Nggak masalah. Namanya juga bertahap. Tapi aku jadi penasaran sama gosip yang waktu itu sangat populer pas kamu masih magang di SMA aku."
"Gosip? Gosip apa?"
"Waktu itu aku dengar cerita kalau katanya kamu itu nggak suka sama cewek."
"Kata siapa saya nggak suka cewek?"
"Aku nggak tahu siapa orang yang pertama kali buat cerita kayak gitu. Tapi yang jelas gosip itu terkenal banget pas waktu itu."
"Bisa dipastikan gosip itu salah. Sampai saat ini alhamdulillah saya masih normal, saya masih suka sama cewek."
"Berarti kamu suka sama aku dong? Aku kan juga perempuan!"
"Ya.... Kecuali kamu sih." Pedas Sean.
"Kenapa nyebut aku sebagai bagian dari pengecualian? Apa aku kurang cantik buat masuk ke dalam list tipe idaman kamu?" Rubina sudah serius mengarahkan perhatiannya ke wajah Sean dan menunggu pria itu menjawab pertanyaannya, tapi lihat saja, Sean masih diam seakan dia sengaja ingin membuat Rubina penasaran. "Kenapa diam aja, ayo jawab pertanyaan aku. Sebutin kayak apa tipe cewek idaman kamu supaya aku bisa belajar dari sekarang."
"Yang jelas cewek idaman saya bukan cewek cerewet kayak kamu!" Sean terus menatap ke jalan depan meski sedang berinteraksi secara verbal dengan gadis cantik di sampingnya.
"Ok Fine, ke depannya aku bakalan belajar buat nggak cerewet lagi supaya mempercepat proses buat kamu buat bisa jatuh cinta sama aku."
"by the way kapan kamu punya waktu luang. Soalnya Ibu saya minta kita taste food buat catering pernikahan?" tanya Sean. Karena tidak mendapatkan jawaban dari Rubina atas yang diajukannya membuat pria itu menghentikan langkah. Rubi a juga ikut menghentikan langkah kakinya mengikuti Sean.
"Kenapa diam aja, kenapa nggak jawab pertanyaan saya?" tanya Sean dan Ribina masih saja memilih diam mengunci bibirnya. "Kamu ini kenapa sih?" heran Sean.
"Kan kamu sendiri tadi yang bilang kalau kamu nggak suka cewek yang cerewet."
"Ya tapi jangan diem juga kalo diajakin ngomong. Yang ada kamu malah bikin saya kesel kalo kayak gitu. Sekarang jawab pertanyaan saya, kapan kamu punya waktu luang buat kita melakukan taste food."
"Gimana kalo besok pagi."
"Emangnya besok kamu nggak ada jadwal kuliah?" tanya Sean memastikan.
"Ada sih tapi agak siangan kuliahnya, jadi pas pagi bisa kita gunain buat berangkat ke tempat taste food."
"Selain taste food kayaknya besok Ibu saya udah bikin janji buat fitting baju."
RUBINA tersenyum setelah mendengarnya. Dia merasa seperti sedang bermimpi menyadari pernikahannya dengan Sean sudah semakin dekat.
"Aku makin nggak sabar deh menantikan momen nikahan kita."
****
"LO ITU ANEH BANGET SUMPAH DEH, BI! MASA RUMAH TEMEN SENDIRI NGGAK TAHU? KATANYA SAHABAT, TAPI ALAMATNYA AJA LO MINTA DULU SAMA TEMEN YANG LAIN. ADA-ADA SAJA LO!"
Emerald yang bertugas mengemudikan mobil hanya bisa geleng-geleng kepala ketika mendengar pengakuan adiknya yang katanya belum pernah mengunjungi rumah salah satu teman kuliahnya, padahal mereka berdua sudah sahabatan selama bertahun-tahun.
"Soalnya tiap kali ketemu sama dia, pastinya ke kafe atau ke restauran," ucap Rubina sambil memperhatikan rumah-rumah yang ada di kompleks itu.
Kalau saja bukan karena flashdisk itu berisikan tugas penting mungkin Rubina akan menunggu sampai besok saja, tapi masalahnya di dalam benda kecil itu terdapat file penting. Pun sebelumnya Rubina telah menelpon Caca namun hapenya tidak aktif.
pager putih deh rumahnya," ucap Rubina sambil mencocokkan rumah itu dengan gambar yang dikirim oleh Lina.
"Udah bener belum ini rumahnya?"
"Udah Kak. Ini beneran rumahnya Caca. Tunggu sebentar ya, Kak."
"Jangan lama-lama ya!" peringat Emerald. "Soalnya ada banyak pekerjaan kantor, blum meeting."
"Iya-iya Aku nggak bakalan lama kok, Kak! Soalnya Bina juga punya tugas, so jangan bawel ya...."
"Awas ya kalo lama. gue tinggal loh!"
"Oya bawel ah, kek cewek! Aku cuma mau ngasih flashdisk ini aja kok ke Caca, setelah itu aku langsung balik lagi ke mobil," tepat setelah mengatakannya dia lantas membuka pintu dan turun. Dengan dalih cuma sebentar makanya dia berlari tanpa menutup pintu mobil.
"Assalamu alaikum," salam Rubina. Karena tidak terjawab membuatnya mengepalkan tangan dan dipergunakan sebagai alat untuk mengetuk pintu. "Assalamu alaikum." Rubi a menyertakan salam sambil dia tidak henti menggedor pintu.
"Waalaikum salam," suara Caca terdengar. "Loh BINA!" kagetnya melihat Rubina berdiri di depan pintu rumahnya. "lo kok bisa ada di sini sih? Lagian lo tahu alamat rumah gue dari mana?" tentu saja Caca panik sendiri melihat sahabatnya mengunjungi rumahnya malam-malam.
"gue dapet alamat lo dari Lina kok."
Caca terlihat menggigit bibir bagian bawahnya-sedang cemas akan sesuatu. "Mmmhh.. Ada apa, Bi? Maksud gue kenapa lo dateng pas malem-malem gini? Kan nggak enak gue..."
"lo lupa bawa flashdisk ini," sambil memperlihatkan tangannya yang menggenggam benda tersebut. "Gue udah nelpon lo beberapa kali tapi nomor lo nggak aktif sampai sekarang."
"Hape gue lowbat, dan sekarang masih gue cas di kamar."
"Oh... Pantesan gue teleponin dari tadi enggak aktif. Ya udah Gue nebeng aja sama Kakak gue yang kebetulan pengin keluar. Eh, by the way gue mau tanya dong, tadi Lina bilang lo dijemput sama kakak lo, yang jadi pertanyaannya lo emang punya saudara laki-laki ya? Bukannya lo pernah bilang sama gue kalo lo anak tunggal."
"Eu... Soal itu, Gue...."
"Caca?" suara bariton terdengar mendekat ke pintu. Anehnya, Rubina merasa suara itu sangatlah familiar. Mendengar suaranya saja Rubina jadi dejavu. "aku denger ada orang yang ngetuk pintu. Siapa yang datang?" tanya pria itu kepada Caca.
"Temen aku Kak," ucap Caca dengan nada suara takut-takut.
Pria itu mengalihkan pandangannya dari Caca menuju ke Rubina. "BINA?" ujar pria itu spontan.
Rubina masih diam di tempat menjadikan pria di hadapannya sebagai tempat tertanamnya fokus penglihatan. Otaknya berotasi dengan sangat cepat. dia familiar dengan wajah pria itu tapi di waktu yang bersamaan dia belum bisa mengingat dengan jelas siapa pria itu.
Rubina terus mengadu mata dengan pria itu. Sampai akhirnya dia berhasil mengingat siapa pria yang masih menatapnya dengan tatapan misterius. "AGAM? Lo Agam kan yang waktu itu pernah sekelas sama gue pas SMA?" ucap bibirnya secara spontan. Cukup membutuhkan waktu sebelum dia mengingat dengan baik pria di hadapannya.
Pria bernama Agam itu diam membisu. Cukup berat baginya untuk menjawab singkat dengan kata 'Ya,' atau sesederhana menganggukkan kepala. Tidak mendapatkan jawaban langsung dari Agam, Rubina menoleh. Sekarang dia menitik fokuskan penglihatannya di wajah Caca.
"Jadi... Kakak lo adalah Agam, Ca?" Rubina agak syok mengetahui Caca memiliki kakak laki-laki, dan lebih syok lagi setelah dia mengetahui kalau kakak Caca adalah orang yang Rubina kenal. Dia adalah salah satu teman sekelasnya saat SMA. "Kok gue enggak tahu soal itu ya. Waktu itu lo pernah bilang kalau lo anak tunggal. Apa selama ini lo bohong?"
Ya. Alasan terbesar kenapa Rubina membutuhkan waktu lebih untuk mengingat Agam, itu karena penampilannya tujuh tahun lalu dengan yang sekarang sangat jauh berbeda. Agam yang dulu, memakai kacamata dan terkesan sedikit cupu, sementara Agam yang sekarang terlihat jauh lebih keren dan lebih kece. Vibesnya yang sekarang terlihat seperti badboy dalam cerita fiksi.
"Gue.. gue bisa jelasin semuanya, Bi." Caca panik.
"Nggak usah, Ca! lo nggak perlu jrlasin apapun, gue lagi buru-buru. Kakak gue udah nunggu gue di mobil. Oh iya, ini flashdisknya. Kalo gitu gue pamit dulu ya." Ada senyum yang diperlihatkannya, tetapi Caca tidak sebodoh itu untuk tidak mengerti bahwa senyum yang dia lihat saat itu adalah senyum terpaksa. Ada semburat kekecewaan di wajah Rubina.
"Permisi," kata Rubina yang kemudian dilanjutkan dengan gerakan membelakangi.
"Tunggu Bi!" Caca mencoba untuk menahan dengan cara menyentuh pergelangan milik Rubina, namun Rubina langsung menarik tangannya itu dan melanjutkan langkahnya pergi. Rubina tidak memedulikan Caca yang berusaha menyebut namanya sambil mengejarnya dari belakang. Rubina sedang merasa kecewa dan butuh sedikit waktu untuk berdamai dengan keadaan.
Bruk!
Rubina menarik pintu mobil dengan kekuatan penuh, menyisakan suara gebrakan yang cukup memekakkan telinga.
"Jalan, Kak!" ucap Rubina begitu dia berhasil duduk di samping kakaknya.
"Hah? Tapi itu ada temen lo Bi. Sepertinya dia pengen ngomong sesuatu deh sama lo."
"Jalan aja, Kak! gue lagi nggak punya mood buat ngomong sama dia," tatapan Rubina lurus ke depan saat mengatakannya. Rubina tidak memedulikan sahabatnya yang sedang mencoba mengetuk-ngetuk pintu mobil hendak ngobrol dengannya.