
"Setelah kami memeriksa Ibu Nadin dan melihat hasil ct scannya, memang tidak terlihat lagi ada gumpalan putih di kepalanya, juga di bagian perut bekas luka sudah tidak ada masalah, tapi setelah saya lihat dan membaca lagi hasil diagnosa dari Ibu Nadin dan setelah ingatannya semua kembali, saya menemukan PTSD yaitu post traumatic stress disorder atau gangguan stres pascatrauma, ini adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan dan Bapak tau sendiri dalam kasus ini Ibu Nadinlah yang mengalaminya sendiri. Jadi untuk selanjutnya saya akan konsulkan Ibu Nadin ke Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa atau Psikiater..." Hans terdiam melihat kearah dokter itu sedikit shock fan khawatir.
Tentu saja, biasanya untuk orang awam dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiater adalah dokter untuk menyembuhkan orang gila. Dan tentu saja Hans kaget setelah mendengar bahwa istrinya harus dikonsulkan ke psikiater. Lalu setelah melihat reaksi Hans, dokter itu pun tersenyum.
"Tenang saja Pak Hans istri anda baik-baik saja hany lebih membutuhkan sedikit arahan beliau untuk dapat mengatasi traumanya agar istri anda tidak mengrah ke hal yang negatif, beliau adalah dokter yang yang sangat kompeten, dan insya allah beliau juga bisa menyembuhkan trauma dari Ibu Nadin... anda harus percaya bahwa Ibu Nadin akan sembuh..."
***
"Hey... pisau lo ga pernah tumpul meskipun lo lagi ga konsen. Semuanya beres, dan hasilnya memuaskan!" puji Danniel pada Hans disaat mereka masih berada di ruang rapat. Hans yang tengan melamun pun tersadar akan ucapan Danniel.
"Kenapa Boss?! Apa ada lagi yang perlu saya bereskan?" Sementara Danniel hanya tersenyum melihat reaksi Hans yang sedang khawatir.
"Bro... gimana kalo kita ke Barnya Felix buat ngerayain moment ini, udah lama juga kan kita ga hangout bertiga, sekalian sharing aja...?" ucap Rafael sambil berjalan dari luar ke arah mereka berdua. "Gimana Boss Danniel? lo mau kan? tenang kita ga mabuk kok.. just merelakskan pikiran kita dari kerjaan..." Danniel memberi kode Rafael dan melihat kearah Hans yang masih terdiam.
"Gimana Hans? Sedikit hiburan dan liburan setitik buat lo, kemaren-kemaren lo kan jagain Nadin terus di rumah sakit..."
Nadin memang sudah pulang ke apartmentnya Hans, tapi tetap saja Hans tidak tega untuk meninggalkan Nadin berlama-lama tinggal sendirian di apartmentnya, meskipun sudah ditemani oleh Bi Ratih orang yang selalu membantu Hans membersihkan apartmentnya, dan sekarang Hans meminta Bi Ratih untuk tinggal dan menemani Nadin selama pagi sampai Hans pulang dari kantor.
"Sorry El... gue ga bisa, Bi Ratih pulang sore, Nadin bakalan sendirian di Apartment.
"kalo lo mau Althea bisa mampir ke apartment lo barengan Rubina sama Emerald, mereka pasti seneng liat Aunty nya udah pulang dari rumah sakit, udah lama juga kan anak-anak ga ketemu sama Aunty nya... gimana?" ucap Danniel. Hans pun terdiam berfikir.
***
"Cheersss!!! for fifhty million dollars!!!!" teriak Rafael sambil menyatukan gelasnya dengan gelas Hans juga Danniel. Mereka tengah duduk di kursi bartender merayakan gol nya tender project yang dibuat Hans Danniel dan juga Rafael.
Ya... baru saja mereka memenangkan tender dan mendapatkan provit sebesar lima Miliar dolar berkat kegercepan dan tangan dingin Hans yang selalu cakap dalam membantu Danniel ditambah lagi sekarang Rafael juga sudah mulai membantu Hans karena keadaan Hans menjaga Nadin.
"Well Congratulation for you guys..." ucap Felix sambil menuangkan minuman racikannya pada ketiga pria yang sudah berstatus suami itu. "Minuman ini gue yang tratir, tenang aja non alkohol, soalnya Big boss request itu...."
"So.. gimana kabar bini lo Hans?"
"Hah... secara kesehatan dia sudah membaik, tapi secara mental---" ucap Hans tertahan sambil menggelengkan kepalanya. Ketiga pria yang sedang mendengarkan penjelasan Hans pun terdiam.
"Well Hans, jadi finaly you falling in love with Nadin?!" tanya Felix penasaran dengan hati Hans yang selama ini memang sangat tertutup untuk wanita.
"Ada kajdian besar yang hampir merenggut nyawanya dan Nadin udah di pastiin doi sayang dong sama Nadin... iya kan Hans?!" ucap Rafael yang sok tau dan sepertinya tebakannya memang benar. Hans hanya tersenyum kecut melihat ke arah sahabat-sahabatnya sekaligus boss dan juga rekan kerjanya itu ditambah Felix yang masih terdiam di depannya bukannya melayani pelanggan malah ikut ninbrung.
"Hah... ini serius ya... kalian bawa saya kesini karena mau ngehibur saya atau kepo pengen tau perasaan saya?" ketiganya pun tertawa mendengar komentar Hans.
"Ya... secara ya Hans, lo itu orang yang paling tertutup diantara kita, lagian ga papa kali lo curhat tentabg perasaan lo, itu hal yang wajar kok.." Felix.
"Tau, masalah Azura aja gue baru tau sekarang-sekarangbdan itu pun dari Danniel, pantesan aja lo ga pernah mau serius ama cewek... kayaknya kalo ga ada kejadian ini, kita ga bakapan pernah tau ada cewek yang sempet ada di hati lo..." Rafael. Danniel yang mendengarnya hanya tersenyum.
"Tapi emang lo dikasih orang yang tepat, Nadin memang orang yang tepat dan bisa buat lo jatuh cinta untuk yang kedua kalinya...." Felix.
"You right, Felix. Hans... Nadin itu cewek yang sabar sama tubah lo yang seenaknya, lo jangan sia-siain pengorbanannya..."
"Ck... sialan! emang gue devil apa pake pengorbanan-pengorbanan segala."
"So, Hans... gue ga mau ya, setelah ini lo nyakitin Nadin lagi! sekali lagi lo sakitin atau ngecewain Nadin lagi, kelar hidup lo!" ancam Danniel dengan nada bercanda tapi kata-katanya bermakna dalam dan serius bagi Hans.
"Hah... jujur ga terbesit di dalam pikiran saya, kalau saya akan bisa seperti ini lagi sama cewek selain sama Azura, karena memang selama ini belum pernah ada cewek yang bisa buat saya berpaling dari Azura... Saya nggak bisa menyebut perasaan saya ke Nadin sebagai 'Cinta' karena memang saya juga masih belum yakin dengan perasaan saya, tapi kemarin itu... saya hanya ingin melindunginya dan mungkin ini bisa disebut dengan rasa sayang..." Danniel pun hanya tersenyum kearah Hans sambil menepuk pundak Hans.
"Itu lebih baik, daripada lo ngumbar cinta yang lo sendiri ga yakin kalo lo cinta sama dia atau ga? mending ngumbar sayang lebih baik buat cewek yang pengen lo lindungi dan lo yakini... Nah... sekarang lo juga ngerasain apa yang gue rasain dulu ke Althea kan Hans... lo pengen ngelindungin dia, ga mau dia kena masalah apalagi kalo dia deket sama cowok terutama mantan pacarnya... tenang aja, lambat laun juga rasa cinta pasti menyusul, iya ga El?" ucapnya menyindir Rafael karena dia juga awalnya tidak mencintai istrinya Maisa. Maisa awalnya hanya cewek yang Rafael jadikan sebagai pacar pura-pura buat dikenalin sama kedua orang tuanya, tapi akhirnya mereka jadi terlibat lebih dalam sampai kedua orang tua Rafael menikahkan Rafael dan Maisa, dan awal peenikahan mereka seperti tom and jerry sehari-hari mereka hanya bertengkar sama-sama mempunyai ego masing-masing. Ya... namanya juga ga saling cinta dan sayang Yes, ketemu cuma sekali Rafael langsubg meminta Maisa jadi pacar bohongannya. thats it... tapi sekarang mereka saling mencintai sampai hadirlah Syifa.
Hayoooo... ada yang mau tau ceritanya Rafael dan Maisa??? hihi