I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 54



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


"Tapi aku maunya renang sama kamu."


"Tapi saya nggak mau ngelakuinnya."


"Ya udah, kalo gitu aku renang sendirian aja."


Byur!


Suara itu terdengar setelah


Rubina melompat dari ujung dermaga. Masih memainkan ponselnya saat senyum miring tergambar lewat bibir milik Sean.


'Ternyata nyali Bina besar juga sampe dia seberani itu melompat dari ujung dermaga yang cukup tinggi."


"To... Tolong..."


Sean berhenti memandangi layar ponselnya. Pria itu. membawa fokusnya ke sumber suara yang baru saja ditemukan indra pendengarannya.


"Sean tolongin aku!"


Suara itu semakin jelas.


"BINA!" kaget Sean yang bisa dilihat dari sepasang bola matanya yang membulat dengan sangat sempurna melihat Rubina kelelep di air. Sean pikir perempuan itu andal dalam urusan berenang, makanya Sean membiarkan saja saat gadis itu melompat dari ujung dermaga ternyata...


***


SEAN meletakkan hapenya secara asal kemudian dia melompat ke air. Sean menggunakan segenap tenaganya untuk membawa tubuh lemah Rubina.


"BINA!" panggilnya kepada Rubina yang sudah tidak sadarkan diri.


Bohong kalau Sean tidak memiliki kepanikan dengan keadaan Rubina saat ini. Malah sebaliknya, debaran jantungnya sudah berdentuman tidak menentu di tengah-tengah usahanya membawa Rubina kembali ke dermaga. Memang tidak mudah tapi syukurlah karena Sean berhasil mengeluarkan Rubina dari dalam air.


Sean membaringkan Rubina.


"BI, kamu bisa denger suara saya kan?" tanya Sean. "Astaga, harusnya saya ngelarang pas dia bilang mau berenang," gumam Sean.


Sean yang panik memutuskan untuk melakukan pertolongan pertama. Sean melakukan resusitasi jantung, namun baru sekali dia menekan dada milik Rubina, Rubina langsung tertawa.


Wajah Sean memerah. Bukan karena rasa salah tingkah. Warna memerah di wajahnya berasal dari kemarahan yang memuncak. Terlebih ketika dia melihat Rubina duduk sambil tertawa terbahak-bahak seraya memegangi perutnya.



"LUCU!?" satu kata itu diucapkan oleh Sean menggunakan nada tegas. Rahangnya kukuh dan tidak ada sedikit pun kesan bersahabat yang terlihat di wajahnya.


"Saya nggak ngerti kenapa kamu jadikan hal-hal kayak gini sebagai sebuah lelucon? Nggak bisakah kamu bersikap layaknya orang dewasa? Hah?" Sean menghela napasnya singkat lalu dia melanjutkan kembali kalimatnya, "Ternyata emang bener yah kata kebanyakan orang, umur seseorang nggak menjamin bahwa orang itu akan bersikap dewasa. Kamu pikir lucu ya buat orang panik?"


"Ayo lah, ini semua cuma bercanda. Jangan dianggap serius."


"Bercanda juga ada batasnya RUBINA!" teriak Sean menahan amarahnya. "Aarrgghh..." Rubina pun terdiam saat Sean berteriak.


"Ya maaf..."


"Menurut saya kamu salah jika menganggap hal-hal seperti ini sebagai sebuah candaan. Jujur ini nggak ada lucu-lucunya sama sekali. Kamu cuma buat orang panik aja sama tingkah bodoh kamu itu!"


"Perasaan lebih? Sama kamu?" ulang Sean. "Sepertinya kamu nggak tahu cara ngebedain mana bentuk peduli biasa, dan mana bentuk peduli karena menaruh perasaan. Saya jelasin yah, kamu ke sini sama saya. Otomatis kalo kamu meregang nyawa saat tenggelam tadi otomatis saya juga yang akan dimintai pertanggung jawaban sama orangtua kamu."


"Tapi jujur aku nggak ada niatan untuk buat bikin kamu khawatir. Aku cuma mau ngajak kamu renang. Tapi karena sekarang kan baju kamu juga udah telanjur basah, gimana kalo kita lanjut renang. Kan fotografernya juga masih lama kan? ya.. ya... ya..." Sean menghela napas berat menstabilkan emosinya yang tadi sedang naik.


"Saya nggak tertarik. Kamu aja yang lanjutin renangnya. Sekarang terserah kamu saja. Kamu mau dimakan hiu kek, apa kek, yang penting jangan libatin saya lagi kayak sebelumnya." Sean mengambil ponselnya yang tadi dia lempar secara asal. Untung saja ponselnya tidak sampai tercebur ke laut. Coba kalau itu terjadi, Dean mungkin akan mengumpati Rubina lebih parah dengan umpatan dia sebelumnya.


"Sean kamu mau ke mana?" tanya Rubina kepada Sean yang memutar badan dibarengi oleh langkah pergi. Karena tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya sehingga dia kembali bertanya, kali ini menaikkan sedikit volume suaranya, "SEAN kamu mau ke mana? Sebaiknya di sini aja ya, kita renang sama-sama!"


"Ogah. Kamu aja yang renang sendirian," Sean menjawab tanpa menoleh ke belakang, juga tanpa menghentikan langkah kakinya.


***


"PAK SEAN, TOLONG SEDIKIT DIDEKATKAN LAGI WAJAH ANDA SAMA WAJAH CALON ISTRI ANDA!" perintah si fotografer kepada Sean yang terlihat kurang menjiwai pemotretan yang berjalan.


"Senyum Anda juga sangat terlihat kikuk di kamera. Anda tidak perlu canggung, rileks saja!" lanjut si fotografer kepada sepasang sejoli yang sama-sama mengenakan outfit serba putih.


Sean mengangguk mengerti. Dari tadi memang Sean merasa agak kikuk menjalani pemotretan ini. Makanya saat fotografer mengajukan komplain pada dirinya.


"Senyum lebih lebar lagi supaya gantengnya kamu makin berlipat-lipat!" bisik Rubina.


"Iya, bawel!" kesal Sean saat Rubina mencoba untuk mengajarinya.


"Yoo... Siap. Satu, dua, tiga," si fotografer memberikan aba-aba sebelum dia mengutik sebuah tombol yang terdapat di kameranya.


Berbeda dengan Sean yang mengakui kecanggungannya, Rubina sendiri justru menyukai dan bahkan dia sangat menjiwai arahan yang disampaikan oleh sang fotografer. Meski begitu tetap saja Rubina sempat beberapa kali merasakan debaran jantungnya— terutama ketika dia diminta oleh fotografer untuk saling menatap dengan Sean dalam radius dekat. Saking dekatnya sampai Rubina bisa merasakan hembusan napas dan juga aroma maskulin yang menyeruak dari tubuh Sean.


"Gimana? Apa Anda suka dengan hasilnya?" si fotografer lebih dulu mendekati pasangan sejoli yang duduk di atas pasir. Fotografer itu berjongkok sambil memperlihatkan monitor hasil jepretannya. Rubina dan Sean melihat ke titik yang sama.


"Menurut saya hasilnya sangat bagus." Sean melantunkan pujian.


"Kalau Mbak sendiri gimana?" si fotografer mengajukan pertanyaan kepada Rubina setelah mendengar langsung komentar dari pihak laki-laki.


"Aku sih sebenarnya suka sama tema foto ini. Tapi aku juga mau ngasih saran."


"Saran seperti apa?"


"Dari tadi kan kebanyakan fotonya hanya memperlihatkan adegan saling tatap-tatapan dan sebagainya. Gimana kalo ada sedikit sentuhan adegan sensual ala model majalah." Rubina menyampaikan isi pikirannya saat itu.


'Udah nggak waras nih cewek! ini udah gila?' melalui batin Sean mengungkapkan keresahannya mendengar saran yang diajukan oleh Rubina.


'Kenapa dia ngasih saran adegan sensual segala sih, yang tadi aja udah sangat sulit buat dilakuin. Dia beneran definisi cewek licik yang hobinya ngambil kesempatan dalam kesempitan. Dia kira gue nggak tau tentang pikiran kotornya itu?'


"Sebenarnya boleh-boleh aja bikin pemotretan dengan adegan yang agak sensual, tapi kalo saya pribadi sih nyaranin supaya foto preweddingnya nggak terlalu sensual mengingat pemotretan ini kan dilangsungkan sebelum pernikahan. Menurut saya adegan tatapan-tatapan atau mungkin pegangan tangan saja sudah lebih bagus."


"Good! Saya setuju banget sama fotografernya," sambung Sean. Tentu saja dia setuju karena dengan begitu dia akan terhindar dari adegan sensual seperti yang otak kotor Rubina harapkan. "Apalagi kan hasil foto ini nantinya akan jadi sampul undangan serta akan dipajang di gedung pernikahan. Otomatis kalau melibatkan adegan sensual hanya akan membuat orang men-judge yang negatif." Sean memberikan penjelasan yang masuk akal dan pasti jawabannya itu tidak dapat membuat Rubina memberikan perlawanan.


"Kalau gitu kita pindah ke adegan terakhir. Pak Sean dan Mbak Bina agak ke sana, biarkan air membasahi kaki kalian. Kalian berdua saling berpegangan tangan dan saling menatap satu sama lain," perintah sang fotografer yang segera direalisasikan oleh Sean dan juga Rubina.





anggap aja ya ini Bina sama Sean