I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 104



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


SEAN sebenarnya masih ingin berada di tempat di mana Ayah Rubina dirawat setelah sebelumnya Caca dan Agam memutuskan untuk pamit pulang. Hanya saja Rubina memintanya pulang dengan alasan terlalu malas untuk bertemu dengannya. Karena Sean tidak ingin berdebat dengan istrinya lebih jauh sehingga dia pun memutuskan untuk kembali saja ke apartemen.


Di sepanjang jalan dari koridor menuju ke unitnya Sean baru kepikiran soal kejadian tadi saat dirinya dan Rubina sedang beradu argumen. Sean bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Apakah Agam mendengar percakapan di antara dirinya dengan Rubina yang mempertegas kalau hubungan mereka hanya sebatas formalitas?


"Ck.... Hah... Jadi overthinking gini kan jadinya," Sean mendesah pelan setelah itu. "Kok bisa sih gue kecolongan. Ah, kalo emang Agam denger obrolan kita tadi, itu artinya dia punya harapan lagi buat bisa dapetin Bina. Nggak, hal ini nggak boleh terjadi."


Sean geleng-geleng kepala tentu saja dia tidak akan membiarkan ketakutannya itu terjadi.


"Apapun yang terjadi gue nggak akan ngelepasin Bina. Tuhan udah ngiket kita dalam hubungan pernikahan. Dan yang paling penting gue udah sadar kalo Bina itu sesuatu yang paling berharga di dalam hidup gue. Gue bakalan mati-matian buat ngelindungin sesuatu yang jadi milik gue."


Sean adalah tipikal orang yang kalau sudah sayang maka sulit baginya untuk melepaskan. Selain itu dia juga tipikal orang yang tidak tahan melihat orang yang dicintainya memberikan perhatian lebih kepada orang lain. Bisa dilihat se emosi apa Sean tadi hanya karena Rubina dibeliin cilok sama Agam.


Membuang jauh-jauh pemikiran yang mengisi ruang di dalam kepalanya Sean mempercepat langkah kakinya menuju ke unitnya. Memasukkan sandi lalu masuk.


"Heh?" kaget Sean saat menangkap adanya seseorang yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Pria itu sedang duduk menatap tajam ke arah Sean. Sementara saat itu posisi kakinya bertumpu pada kaki yang lainnya.


Tatapan yang dilayangkan oleh pria di sofa terlihat begitu tajam tidak ubahnya hendak memakan Sean hidup-hidup. Sambil meneguk salivanya Sean memberanikan diri untuk mengadu pandangannya dengan pria itu.


"Loh, Kakak kok bisa ada di sini?" di menit selanjutnya Sean memberanikan diri untuk membuka bibirnya yang saling terkatup, memberikan pertanyaan.


"Kenapa? Aku enggak boleh datang ke sini?" sensi pria di sofa. Secara terus menerus dia menatap kepada Sean menggunakan tatapan tidak suka.


"Bukan gitu Kak,” ucap Sean. "Aku cuma kaget saja soalnya kan aku nggak dapet kabar apa-apa dan kakak udah ada di sini aja. Aku pikir sekarang kakak masih ada di Bali."


"Langsung ke intinya saja ya Sean. Tujuan kedatangan aku ke sini tentu aja ada kaitannya sama kekacauan yang sedang kamu perbuat. Bener yang dibilang sama ayah dan ibu soal kamu yang udah nikah sama wanita lain?" belum sempat Sean menjawab pertanyaan yang diberikan kepadanya saat Dimas menambahkan jumlah pertanyaannya. “Sama satu lagi katanya kamu juga udah punya anak dari pernikahan siri kamu itu?”


Awalnya Sean agak takut memberikan jawaban. Terlebih karena saat itu dia menyaksikan kakak laki-lakinya yang memperlihatkan wajah memerah seperti sedang menahan gelak emosi.


"Sean, aku lagi nanya. Mendingan cepet kamu jawab pertanyaan aku. Ya walaupun ayah dan ibu udah membenarkan soal itu tapi sebagai kakak yang selalu percaya sama kamu, aku pengen jawaban langsung dari mulut kamu."


"Hah.. Iya, Bener Kak. saya....”


BRAK!


Dimas yang sudah menyiapkan kepalan tangan langsung mengayunkannya ke bagian pelipis adiknya begitu dia mendengar sebuah pengakuan.


"Brengsek kamu Sean!" seperti itulah kalimat yang mengiringi aksi Dimas dalam meluapkan perasaan kecewanya kepada adik laki-lakinya.


"Sumpah demi apapun aku udah salah nilai kamu. Aku pikir adik aku ini adalah pria yang polos, tapi ternyata kamu diam-diam sedang mengenakan sebuah topeng. Kamu bersandiwara seolah kamu adalah anak baik-baik. Sangat plot twist sekali ternyata kamu punya sifat busuk. Bisa-bisanya kamu nikah siri sama seorang wanita tanpa diketahui oleh satupun dari anggota keluarga. Kamu bahkan udah punya anak."


"Maaf, Kak!"


"Heh bodoh!" marah Dimas mendengar kata maaf dari bibir adiknya secara langsung. "Kamu pikir maaf akan merubah segalanya? Nggak Sean. Kamu sadar nggak sih dengan apa yang kamu lakukan? Asal kamu tahu, kalau dari awal kamu mengakui soal istri siri kamu itu, otomatis ayah bakal batalin perjodohan kamu dengan Rubina. Dan Rubina tidak akan sesakit ini pas tahu kalau kamu sudah menikahi perempuan lain sebelum kamu menikah dengannya. Dan siap-siap aja kalau sebentar lagi Kakek bakalan murka sama kamu Sean!”


Padahal lebam yang diakibatkan oleh bogeman mentah yang dilayangkan ayahnya belum sembuh total. Namun secara tidak langsung Dimas menambahkan kadar kesakitan pada wajahnya.


"Kenapa? Ke mana keberanian kamu, ayo tunjukkin! Jangan menampilkan muka polos palsu kamu itu karena jujur saja aku sudah muak melihatnya. Kalau memang kamu ingin marah, silakan saja! Atau jangan-jangan kamu tidak terima karena aku baru saja meninju muka kamu? Ya kalau memang begitu kamu bisa membalasku. Ayo, tinju balik!"


Ada dua alasan kenapa Sean tidak melakukan itu. Pertama, dia menyadari bahwa orang yang sedang berdiri di hadapannya saat itu adalah kakaknya sendiri. Kedua, Sean menyadari bahwa kesalahannya sangatlah fatal, dan Sean mewajarkan kenapa kakaknya bisa bertingkah seperti itu kepadanya.


"Hah... Saya nggak akan melawan kok Kak. saya sadar kesalahan saya memang sangat fatal.”


"Urusan kita belum selesai ya," peringat Dimas kepada Sean. "Sekarang aku mau dinginin kepalaku dulu," lanjutnya menambahkan. Setelah itu Dimas memilih untuk angkat kaki meninggalkan tempat itu. Dimas memutuskan untuk ke rumah ayahnya. Soalnya dia masih sedikit lelah setelah melakukan perjalanan udara dari Bali untuk langsung menemui adiknya.


Sementara Dimas sudah pergi, Sean sendiri mengubah posisinya jadi terduduk di sofa. Pria itu memegangi bekas hantaman Dimas sembari memperdengarkan sebuah ringisan. Sean mewajarkan kenapa anggota keluarganya begitu terobsesi memberinya pelajaran.


Seseorang muncul dari balik pintu yang memang belum sempat ditutup oleh Sean selepas kakaknya pergi. Ya, orang yang baru saja menampakkan batang hidung bergabung bersama dengan Sean adalah Nino.


"Nggak kok."


"Gue pikir lo juga bakalan ngelakuinnya."


"Gue juga sebenernya marah sih sama kabar itu, tapi disaat yang bersamaan gue ngerasa butuh penjelasan juga dari lo, Sean. Barangkali lo punya alesan kuat kenapa lo nyembunyiin soal 'itu' sama semua orang."


"Ternyata lo juga udah tau soal itu... by the way lo tahunya dari siapa? Apa lo tau soal itu dari Bina?"


"Bukan. Kemarin gue dapet kabar itu dari Ibu lo. Ibu lo nanya sama gue soal kebenaran lo yang udah nikah siri sama perempuan bernama Sarah itu. Ibu lo ngira gue udah tau tapi ikut-ikutan nyembunyiin soal hal penting ini."


"Terus gimana cara lo jelasin ke ibu?”


"Ya gue ngomong jujur aja kalo gue emang belum tahu soal itu. Untungnya sih Ibu Ibu percaya banget sama gue. Mungkin karena respon kekagetan gue juga pas Ibu lo ngomonh soal itu sama gue."


Sean manggut-manggut. Nino memperhatikan sekilas wajah sahabatnya. Ada lebam di beberapa titik tapi tentu saja Nino sudah tahu siapa pelakunya. Apalagi sebelumnya dia sempat bertemu dengan kakaknya Sean di koridor. Dan juga Nino beranggapan bahwa permasalahan ini cukup pelik karena tidak ada dari mereka yang berekspektasi kejadian ini akan terjadi. Bahkan Nino sendiri yang dekat dengan Sean tidak tahu menahu soal itu.


"Yes. It's true." Nino menghela napas lalu menggelengkan kepala tanda kalau dia kecewa terhadap sahabatnya itu.


"Kok bisa sih, Sean? Gue beneran ga nyangka loh..”


"Ya... Semua yang diceritain sama Ibu ke lo tuh semuanya bener. Soal perempuan bernama Sarah itu dan juga soal gue yang udah punya anak dari Sarah, itu semuanya bener, No."


"Gimana bisa sih?" tidak habis pikir. "Oh ya gue jadi penasaran Sean. Sebenarnya Sarah itu siapa sih? Kok gue ga tau cewek yang deket sama lo..."


Sean pun menarik napas, memang dia berniat akan menceritakan kisahnya kenapa bisa menikah dan punya anak dari Sarah dan siapa sebenarnya Sarah ini???


"KEJADIAN INI TERJADI SEKITAR DUA TAHUN YANG LALU. GUE MENGENAL SARAH SEWAKTU GUE LAGI MENJALANKAN PROGRAM INTERNSHIP. LO INGET KAN KALO KITA NGGAK SATU WILAYAH.."


Ya, program intersip adalah kegiatan yang biasanya dilakukan oleh seorang dokter muda dalam memantapkan keahlian sebelum menjadi dokter mandiri. Kegiatan ini dilaksanakan selama kurang lebih setahun. Dan biasanya dilaksanakan di puskesmas atau rumah sakit milik pemerintah.


"Sorry nih gue potong. Berarti lo ketemu sama si Sarah-Sarah itu pas kita lagi internsip? Lo kan waktu itu iship di pedalaman ya kan?”


Tentu saja Nino sangat-sangat penasaran terkait dengan cerita yang nantinya akan diungkapkan oleh Sean. Terlebih karena Nino sangat tahu bagaimana dinginnya seorang Sean. Sean yang dia kenal sangat ambisius dalam meraih masa depannya. Karena itu Nino semakin penasaran ingin tahu soal Sarah. Kira-kira kapan Sean punya waktu untuk dekat sama Sarah? Apalagi katanya barusan dia mulai kenal Sarah pas dia lagi internsip.


"Bener. gue kenal sama Sarah waktu gue lagi intersip di puskesmas daerah pedalaman."


"Emangnya kalian pernah pacaran?" tanya Nino. "Bukannya waktu itu lo bilang ke gue kalo lo nggak bakalan pacaran kalau urusan pendidikan lo belum kelar?" lanjut Nino bertanya mengingatkan kalau seandainya Sean lupa soal janjinya yang dulu pernah terucap.


"Gue dan Sarah nggak pernah pacaran," aku Sean.


"Hah? Trus gimana ceritanya kalian nggak pernah pacaran tapi mutusin buat nikah siri?" bingung Nino.


"Hah... Kita nikah karena kepaksa, No."


Nino mengerutkan kening- sehingga kedua alisnya terlihat hampir saling bertaut satu sama lain. "Kepaksa?" ulangnya di selang beberapa detik kemudian.


Sean menganggukkan kepalanya lemah. "Ya, karena kepaksa. Soalnya beberapa bulan setelah gue ninggalin kampung itu dia ngaku lagi ngandung anak gue."


"Tunggu! Gue kok jadi


bingung gini ya? Katanya lo sama dia nggak pernah pacaran. Tapi kenapa dia bisa sampai ngandung anak lo?" jangan ditanya lagi, saat itu raut bingung telah menjalar di wajahnya. Sean masih merapatkan kedua sisi bibirnya sehingga Nino pun melanjutkan, “Apa diam-diam ada sesuatu di antara kalian? Maksud gue apa lo sama Sarah itu pernah terlibat one night stand?"


Sean mendesah pelan. Di menit yang sama dia terlihat memelas. Nino tidak melihat adanya semangat pada diri Sean saat sedang menyinggung perihal Sarah. Sejak tadi, kesan yang dia dapat tidak lebih dari perasaan sedih bercampur kesal.


"Entahlah No, gue juga bingung mau nyebutnya kayak gimana. Setau gue yang one night stand kan atas dasar mau sama mau. Sementara kasus gue beda lagi."


"Emangnya cerita antara lo sama si Sarah kayak gimana?" penasaran Nino. “Dan dari cerita lo barusan kayaknya lo sempet ngabisin malam sama dia kan Sean?"


"Jadi, pas jalanin internsip itu, gue nyewa sebuah rumah kan buat di tinggali selama menetap di kampung itu. Dan kebetulan banget rumah gue tuh sebelahan sama rumah tempat Sarah tinggal. Singkat cerita gue dan dia akrab karena emang pada dasarnya Sarah tuh handal dalam bersosialisasi. Dan lo tau sendiri kan kalau gue itu introvert, tapi gue akuin sih kalo dia emang ramah. Terus di hari terakhir gue di sana ada pesta kecil-kecilan. Ya, semacam perpisahan gitulah. Entah gue yang minumnya terlalu banyak atau gimana besoknya gue bangun dalam keadaan nggak pake baju apa-apa. Gue tidur bersebelahan sama Sarah. Dan setelah Sarah bangun dari tidurnya dia langsung mukul gue karena katanya gue telah ngerenggut kesuciannya."