
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Saya? Yang khilaf? Sangat mustahil bakalan kejadian. Yang ada saya takutnya kamu yang bakalan khilaf kalo kamu tidur di sebelah saya. Siapa tau kan diam-diam kamu ngapa-ngapain saya pas saya lagi tidur," Sean bergidik ketika membayangkan hal mengerikan itu menimpa dirinya.
"Walaupun aku kelihatan rada-rada agresif tapi kamu tenang aja, aku nggak bakalan ngelakuin hal segila itu kok. Toh, suatu hari nanti kamu yang bakal ngejar-ngejar cinta aku. Kamu tenang saja, hal-hal yang ada di pikiran kamu itu nggak akan terjadi. Aku bisa memastikannya."
Sean pikir tidak ada salahnya juga kalau dia tidur di sebelah Rubina. Apalagi di dalam ruangan ini tidak ada sofa yang bisa dia tempati tidur.
"Fine, malam ini saya akan tidur di sebelah kamu. Tapi ingat sama janji kamu tadi! Kalo sampe kamu ngelakuin hal aneh, maka kamu bakalan dapet balasan yang setimpal."
"Iya, iya, aku enggak bakal ngelakuin hal aneh-aneh kok sama kamu."
Rubina hanya memperhatikan Sean yang terlihat begitu sibuk setelah memberikan persetujuan untuk tidur di sebelahnya. Sean saat itu sedang mengatur sedemikian rupa agar sebuah bantal guling menjadi batas pemisah.
"Ingat, bantal guling ini adalah batas yang nggak boleh kamu lewatin. Hal yang sama juga berlaku sama saya, saya juga nggak boleh ngelawatin bantal guling ini."
"Kenapa sih By harus ada pembatas segala. Udah kayak batas tutorial aja."
"Batas tutorial?" kening Sean mengerut mengulang kata yang disampaikan Rubina.
"Itu loh By, area perbatasan
"Bukan tutorial, tapi teritorial. Kamu ini ada-ada aja. Ya kali nggak bisa bedain mana tutorial mana teritorial."
Sejurus kemudian Sean sudah dalam keadaan berbaring. Dia memutuskan untuk mengambil posisi membelakangi Rubina karena dia tidak ingin melihat gadis itu.
"Inget ya jangan pernah matiin lampu!" peringat Sean masih di posisi yang sama.
"Kenapa?" iseng Rubina bertanya meski sebenarnya dia sudah tahu alasan kenapa Sean suka membiarkan lampu menyala saat sedang tidur.
"Nggak ada alasan," Sean mengatakannya. Sepertinya dia tidak ingin Rubina tahu soal fobianya terhadap gelap. "Pokoknya jangan matiin lampunya!"
"Aku nggak bakalan matiin lampunya," Rubina sebenarnya kurang begitu suka saat tidur dalam keadaan terang benderang seperti ini, tapi karena suaminya punya alasan kuat membiarkan lampu ruangan ini menyala sehingga Rubina pun tidak bisa melakukan apa-apa. Mulai sekarang Rubina akan belajar untuk beradaptasi dengan kebiasaan suaminya.
Tak lama berselang, Rubina menolehkan muka menatap dengan intens area punggung suaminya. Rubina cukup terkejut karena mendengar pria itu telah memperdengarkan bunyi keras saat ngorok.
"Cih... Perasaan baru nempel deh kepalanya sama bantal, eh sekarang udah ngorok aja," ucap Rubina tidak habis pikir sama suaminya yang dengan mudahnya untuk terlelap. Berbeda dengan Rubina yang terkadang sampai lelah sendiri membalikkan badan ke kanan dan ke kiri tapi tidak kunjung kehilangan kesadaran.
***
Sean membuka matanya lebar-lebar. Suara seseorang yang sedang menggigil mengambil alih perhatiannya. Gerakannya teramat hati-hati saat dia duduk meninggalkan posisi berbaringnya. Suara itu ternyata milik Rubina.
"Bina?"
Panggilan yang dilontarkan oleh Sean tidak menghasilkan sebuah jawaban dari si empunya nama.
"Apa jangan-jangan Bina lagi demam?" Sean sudah menyimpan kecurigaan itu saat tadi dia melihat gadis itu dalam balutan hoodie serta dengan muka pucatnya. Sekarang keyakinan di diri Sean semakin bertambah. Sepertinya Rubina memang sedang sakit.
Sean beranjak meninggalkan ranjang. Tentunya dia melakukannya dengan sangat lembut demi untuk mengurangi pergerakan yang bisa membuat Rubina terbangun. Yang pertama kali Sean lakukan saat bangkit adalah memeriksa jam. Saat itu jam menunjukkan pukul tiga pagi.
Sean mengitari ranjang dan sekarang dia telah berdiri di sebelah Rubina. Dia menunduk memperhatikan wajah pucat pasi yang memancar dari wajah gadis itu. Sean langsung berempati saat itu juga. Perasaan bersalah dirasakannya.
"Maaf ya," Sean meloloskan permintaan maaf sebelum akhirnya dia mengulurkan tangan mengecek suhu tubuh Rubina. "Astaga," betapa terkejutnya Sean saat hawa panas dia rasakan tatkala telapak tangannya telah mendarat di bagian dahi Rubina. "Suhunya panas banget."
Sean menghampiri meja di sudut ruangan untuk mengambil remote. Benda itu diarahkan ke AC. Sean mematikannya. Bukan hanya mematikan AC yang tentunya akan membuat Rubina makin kedinginan, Sean juga memasangkan selimut untuk membungkus tubuh gadis itu.
Sean kemudian bergegas ke lantai bawah untuk mempersiapkan peralatan untuk mengompres dahi Rubina. Siapa tahu pas pagi nanti suhu panasnya akan berangsur normal.
***
RUBINA terbangun dalam keadaan kepala yang masih lumayan pening. Pembebat yang ada di bagian dahinya segera diambil. Dia memperhatikan benda itu sekilas. "Siapa yang ngomores gue?" ingat semalam dia mendengar sayup-sayup suara Sean yang terdengar memberikan perhatian lebih terhadapnya. Tapi karena menganggap itu sebagai sesuatu yang mustahil membuat Rubina berpikir kejadian semalam mungkin hanya sebatas mimpi saja. Rubina menganggap aksi itu sangat mustahil dilakukan oleh Sean.
Pintu terbuka. Rubina melihat bi Inem masuk sambil membawa nampan berisikan mangkuk dan gelas. "Mbak Bina udah bangun. Kebetulan banget bi Inem udah nyiapin bubur ayam spesial."
"Duh, bi Inem kok repot-repot segala. Aku jadi nggak enak."
"Enggak apa-apa kok Mbak Nina. Ini tuh udah jadi tugas saya." Bi Inem menuju ke nakas meletakkan bubur dan segelas air di sana,
"Gimana kondisi Mbak Bina?" tanya Inem.
"Udah mendingan Bi. Kepala aku udah enggak terlalu sakit. Dan demamnya juga udah nggak terlalu tinggi kok, Bi. Ngomong-ngomong makasih banyak ya karena Bibi udah ngompres aku jadi sekarang demam aku udah turun."
"Bukan Bibi yang ngompres Mbak Bina. Pas sampai tadi Bibi lihat kain pembebat itu udah ada di dahi Mbak Bina."
"Kalau bukan Bibi, terus siapa dong?"
"Mungkin pak Sean."
Jujur saja Rubina merasa ragu. Tapi karena bi Inem mengakui bahwa bukan dirinya yang mengompres dahinya menggunakan kain pembebat, sehingga Rubina pun berpikir kalau kemungkinannya sangat jelas. Pasti Sean yang melakukan itu untuknya.
"Oh ya, Sean ke mana Bi?"
"Pak Sean lagi tidur, Mbak."
"Tidur?" tatapan Rubina pada wajah bi Inem terlihat meredup. "Sean tidur di mana Bi?"
"Dia lagi tidur di sofa lantai bawah. Kayaknya sih kecapean. Soalnya kata dia semalam dia bangunnya jam tiga subuh."
"Jam tiga subuh?"
"Iya," sahut bi Inem menyertakan anggukan penuh keyakinan. "Katanya dia udah nggak bisa tidur karena saat itu dia menyadari kalau Mbak Bina menggigil. Dia malah minta tolong sama bibi buat jagain Mbak Bina dulu, sementara dia akan tidur sebentar untuk menyegarkan kembali perasaannya."
***
SEAN baru saja datang ke kamar. Ia memijakkan kakinya di sana sembari mengucek-ngucek matanya hingga tampak memerah setelah sebelumnya dia beristirahat di sofa lantai bawah. Tadinya dia ingin langsung mandi namun perhatiannya teralih kepada Rubina yang sedang menyambutnya dengan senyum misterius.
Tanpa menanyakannya Sean sudah bisa menyimpulkan bahwa kondisi Rubina saat ini sudah berangsur membaik. Buktinya Sean sudah bisa melihat raut menyebalkan sedang memancar di wajahnya.
"Ck... Kenapa? Apa yang lucu sampe kamu senyum kayak gitu?" tanya Sean.
"Nggak kenapa-kenapa," jawab Rubina.
"Kalau nggak kenapa-kenapa kenapa senyum-senyum? Apa karena insiden tenggelam kemarin jadi saraf otak kamu bermasalah?"
"Emangnya salah ya kalo aku senyum? Dari pada aku nangis kan? Nanti yang ada kamu malah ikutan panik."
"Masalahnya senyum kamu itu selalu berhasil buat aku kesel. Tiap kali liat senyum kayak gitu dari kamu darah saya jadi mendidih tau nggak."
"Aku mau ngomong sesuatu."
"Tinggal ngomong aja, nggak usah ribet!"
"Soal tadi malam aku minta maaf, aku nggak ada maksud buat ganggu tidur kamu. Aku juga nggak tau kenapa tiba-tiba aja aku demam. Sekali lagi maaf ya karena aku udah bikin jam tidur kamu keganggu."
"Gimana keadaan kamu? udah baikan?" meski berat Sean akhirnya berhasil menyempurnakan dua buah pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi Rubina. "Semalam sebelum kamu tidur kamu udah tau bakalan demam kan? Maksud saya kamu udah ngerasain gejalanya kan?"
"Sebelum tidur aku emang udah merasa akan demam..."
"Ya kalau kamu emang udah ngerasain gejala bakalan demam kenapa semalam kamu nggak langsung bilang sama saya? Tahu begitu kan saya bisa segera ngasih kamu obat pencegahnya."
"Aku cuma nggak mau..." belum selesai ucapannya saat
Rubina merasakan getaran pada sisi kasur di sebelahnya. Melihat ponselnya, dia mendapatkan panggilan dari Marisa ibu mertuanya. "Ada telepon dari Ibu," Rubina memperlihatkan layar ponselnya kepada sang suami.
"Angkat!" suruh Sean. "Jangan lupa di loudspeaker biar saya juga bisa denger yang ibu bilang!"
Rubina mengangguk sekali kemudian dia mengangkat upaya sambungan telepon dari ibu mertuanya. Sementara di sana Sean sedang bertolak pinggang ingin mendengar apa yang akan dibicarakan ibunya dengan Rubina sampai menelpon jam segini.