I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 39



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


NINO memancarkan aura yang begitu bahagia saat ini. Dia bahkan tidak terusik sama kenyataan kalau Sean belum datang menemuinya. Bahkan Sean sudah terlambat lima menit dari jadwal seharusnya mereka bertemu namun Nino tetap anteng dalam posisi duduknya.


Bisa dipastikan mood Nino hari ini sudah jauh lebih membaik dibandingkan dengan hari kemarin. Hari ini hubungannya dengan Salsa sudah berangsur membaik. Salsa sudah mengajaknya bicara seperti biasanya.


"Sorry, gue telat ya? gue harus nganter Bina dulu ke kampus sebelum ke sini." Sean mengatakannya setelah duduk pada kursi yang ada di hadapan Nino. Nino bisa merasakan embusan napas Dean yang semakin memburu. Meyakinkan Nino bahwa Sean baru saja berlari.


"Hubungan lo sama si Bina udah baik ya, Sean?


Maksud gue, lo udah buka hati buat dia?" penasaran Nino begitu dia mendapatkan kabar tentang Sean yang bela-belain mengantar Rubina sampai ke kampus. Cukup dibuat penasaran karena tempo hari Sean bercerita soal dirinya yang mustahil untuk memiliki perasaan lebih kepada Rubina. Maka dari itu Nino ingin mencaritahu, apakah Sean telah membuka hatinya untuk Rubina?


"Hubungan gue sama Bina masih sama kok seperti biasanya terlepas dari perjodohan yang dibuat sama keluarga kita. Gue nggak pernah nganggap dia lebih dari seorang kenalan aja. Tadi juga gue kepaksa nganterin dia ke kampus, pas dia mampir ke apartment gue."


"Serius lo ngajak si Bina ke apartemen lo?" Ada senyum yang artinya sedang menggoda dipersembahkan oleh Nino. "Apakah kalian melakukan sesuatu---"


Sean mengeluarkan decakan sebal yang seketika membuat Nino merapatkan sudut bibirnya. Nino urung menyelesaikan ucapannya,


"Nggak lo nggak Bina sama aja. Sama-sama punya pikiran kotor," kata Sean kepada Nino yang sudah memperlihatkan senyum mengejek. "Udah gue bilang kalo perasaan gue ke dia itu masih sama kayak tujuh tahun yang lalu. So... Lo jangan mikir hal yang nggak-nggak deh. Gue nganterin dia juga karena Kak Eme, Kakaknya yang minta tolong sama gue buat nganterin dia ke kampus."


"Eemangnya Bina masih kuliah. Gue pikir dia udah gawe loh."


"Ya, harusnya sih memang gitu. Tapi yang gue dengar Bina mengambil gap year selama dua tahun pas tamat SMA. Makanya dia agak telat selesai kuliah."


"Terus gimana sama pernikahan kalian berdua? Apa udah ada titik terang?"


Sean mengedikkan bahunya.


"Entahlah. Urusan itu gue serahin aja sama keluarga gue. Biar mereka aja yang ngurus. Gue nggak mau membebani pikiran gue sama hal-hal yang nggak penting."


"Hal yang tidak penting kata lo? Pernikahan ini nyangkut masa depan lo woy. Emangnya lo mau nikah sama orang yang nggak lo sukai. Gue juga sebenarnya kasihan sih sama Bina kalo kalian berdua beneran nikah. Pasti bakalan sulit buat dia ngejalani kehidupan sama cowok yang nggak dia cinta."


"Tapi gue nggak bisa ngapa-ngapain. orangtua gue, begitu pun dengan orangtuanya Bina ,soalnya kan yang ngerencanain oerjodohan itu kakek gue sama Prof. Tyo. Mereka malah percaya kalau suatu saat gue bakalan suka sama Bina. Gue cuma berharap ada keajaiban sampe akhirnya mereka mutusin buat batalin rencana pernikahan gue sama Bina."


"Mendingan mulai sekarang lo ikutin kata-kata gue aja Sean. Lo coba buka hati buat Bina. Nggak ada salahnya kan. Siapa tahu emang bener kata orang tua lo, kalo lo berakhir punya perasaan lebih sama Bina."


"Ck.. Kayaknya bakalan berat buat nyoba punya perasaan sama Bina."


"Tapi kan lo belum nyoba," sambung Nino cepat.


Sean mengedikkan bahu. Bayangan yang terjebak di dalam imajinya runtuh seketika. Sean merasa jijik membayangkan dirinya sampai menaruh perasaan lebih pada Rubina. Sean tidak yakin suatu hari nanti dia bisa memiliki perasaan lebih kepada Rubina mengingat dirinya yang senantiasa merasakan kekesalan tiap kali bertemu dengan gadis itu.


"Terus kenapa dia bisa ada di apartemen lo?"


"Lo mau nanya apa sama gue? Keliatannya serius banget muka lo. Sepenting itu ya sesuatu yang mau lo tanyain sampai lo liat gue kayak polisi yang lagi nginterogasi pelaku pencurian?" Nino bisa merasakan ada sesuatu yang sifatnya penting hendak ditanyakan oleh Sean.


"Lo kan yang naruh koleksi kaset dewasa lo itu di meja ruang tamu apartemen gue?" Sean masih menilikkan matanya memperhatikan sahabatnya yang tampak gugup setelah Sean menyempurnakan pertanyaannya.


"Iya," kata Nino disertai anggukan kepala bertempo lambat. Dia tidak segan untuk mengakui dia sendiri yang menaruh kaset itu di ruang tamu. "Gue yang naro kaset itu di sana. Emangnya kenapa sama kasetnya? Lo mau minjem?"


"Persetan sama lo!" Sean memelas usai mengumpati sahabatnya, dan dia segera menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi. Tangannya lantas terangkat digunakan untuk memijit bagian pelipisnya. Frustrasi sedang terpampang nyata di sana. "Kan apartemen gue luas, No, kenapa lo naro koleksi lo itu di tempat terbuka kayak gitu sih?" ada kekesalan yang terdengar jelas dari ucapan Sean barusan.


"Tadinya gue mau bawa kaset itu ke rumah gue."


"Terus kenapa kaset itu masih ada di ruang tamu kalo emang lo mau bawa itu pulang?" sambung Sean cepat.


"Ya.... Karena gue lupa, hehehe." Nino menyengir.


"Lupa?" ulang Sean.


Nino Lebih dulu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari menyengir memperlihatkan deret giginya, Nino memberikan penjelasan atas pertanyaan yang diterimanya.


"Gue udah nyiapin paper bag buat bawa kaset itu pulang, tapi pas itu gue nerima telepon dari Salsa. Salsa ngajak gue buat ketemu. Mungkin karena gue terlalu excited dapet kabar kayak gitu gue malah lupa buat bawa kaset-kaset itu. Tapi... kenapa sih reaksi lo kayak gitu, bukannya lo tau kalo gue ini pecandu film bokep? Atau ada masalah sama itu?"


"Cih... Gara-gara lo tuh, gue jadi dituduh 'pecandu film dewasa'. Lagian kenapa lo naro barang kayak begitu sembarangan sih, No? Emangnya kamar di apartemen gue nggak cukup luas buat sekadar Naro barang itu?"


"Tunggu bentar Sean. Siapa yang nemuin kaset milik gue di ruang tamu apartemen lo. Apakah ayah lo yang nemuin?"


"Bukan," respon Sean singkat.


"Kalo bukan ayah lo siapa ibu lo?"


"Bukan juga."


"Ya Trus siapa?" kerutan di dahi Nino semakin jelas.


"abina yang nemuin kaset itu saat dia ke apartement gue tadi."


Mata Nino berubah melebar. "Terus bagaimana kelanjutannya, apa dia ngira lo yang ngoleksi kaset dewasa itu?"


"Wah, jangan ditanya lagi! Dia nyinyirin gue habis-habisan saat nemuin kaset itu. Nyebelin banget liat dia yang semangat banget nyinyirin gue pake kaset dewasa itu." Bahkan sisa-sisa kekesalan itu masih terlihat jelas di wajah Sean saat bercerita. "Kenapa lo senyum-senyum mesem kayak gitu? Lo juga seneng kan dengar gue yang jadi bahan lelucon Bina?"


"Gue ngerasa lucu aja sih dengar cerita lo barusan."


"Padahal lo yang mulai masalahnya, tapi liat aja, sekarang lo malah ketawa seolah terhibur sama cerita gue barusan." Mumpung Nino ingat sekarang, dia pun mengambil sesuatu yang juga merupakan tujuannya mengajak Sean untuk bertemu. Sebuah undangan diambil dan segera diberikan kepada asean.


"Nih ada undangan nikahan si Rendi," katanya tepat setelah asean mengambil alih undangan berwarna merah maroon dari tangannya.