
AUTHOR POV
Hari Minggu Malam... Pukul 19.00...
Di Rumah Danniel...
Seperti biasa Hans dan Rafael menghabiskan waktu di rumahnya.
"Tadi malem lo nginep di Apartement Althea?"
"Mmhh... dan gue juga udah bilang soal perasaan gue sama Althea..." Ucap Danniel sambil melihat ekspresi Hans yang datar melihatnya dan Rafael yang exited terhadapnya.
"Trus-trus... dia bilang apa?"
Danniel menghela napas. "Dia nolak gue..."
"What??!! hahahaha..."
Rafael dengan keras menertawakan sahabatnya yang sedang patah hati itu. lalu dengan tatapan membunuh melihat kearah Rafael seakan berkata 'lo ketawa lagi idup lo kelar besok', sementara Hans hanya tersenyum.
"Udah gue duga sih... Tapi pada kenyataannya gue nggak nyangka aja dia nolak semua pesona lo, yang bahkan selama ini nggak pernah gagal dalam hal menggaet cewek.."
"Dia emang beda sama cewek-cewek yang pernah gue temuin, makanya... Gue nggak akan nyerah dan bakalan terus ngeyakinin dia kalo gue serius ama dia..."
"Hmm... dia taunya lo playboy sih ya... jadi aja dia nggak mau..."
"Bukan masalah itu sih sebenernya... ini masalahnya kepercayaan dirinya..."
"Awalnya kita udah wanti-wanti sih jangan tertarik sama lo... karena itu buang-buang waktu dan tenaga dia... karena Hans juga selalu begitu ama mantan-mantan sekretaris lo... tapi... nggak disangka malah bos nya yang ngebet ama Sekretarisnya sekarang..." Ucapnya sambil tertawa lagi.
"sialan... terus aja ketawa, besok lo dapet SP dari gue.."
"Yaa.. Jangan bawa-bawa kerjaan napa... kita juga kan nggak lagi kerja sekarang!"
"Ngomong - ngomong masalah kerjaan besok kita ninjau desain gedung yang digarap Rafael..."
***
Monday is Busy itu berlaku bagi Althea, karena hari senin adalah awal mula kerjaan numpuk setelah libur. Dan hari itu dilalui Althea dengan seperti biasanya, dan sikap Danniel juga seperti biasa tidak ada yang berbeda.
Pukul 16.00 sore...
Danniel, Althea, Hans dan Rafael baru saja beres meninjau proyek desain yang digarap oleh Rafael untuk salah satu Klien.
**
Diparkiran saat mereka hendak pulang...
"Kalian langsung ke kantor aja, saya ada perlu dulu..." Hans dan Rafael melihat Danniel dan Althea sambil tersenyum.
"Ada perlu, apa 'perlu' " Ledek Rafael.
"Sialan! bosan kerja ya lo..."
"Hahaha.. Siyap-siyap, nanti laporannya gue kirim email aja ya..."
"Apa hari ini ada hal lain di kantor?" tanya Danniel melihat Althea.
"Nggak ada pak.. paling ngecek berkas keuangan sama laporan per Divisi yang udah saya taro di meja."
"Ya udah bisa besok. Kita langsung pulang aja!"
Althea pun menurut saja tidak menolak ataupun menyanggah karena pikirnya percuma... Seorang Danniel kalo udah buat keputusan pasti nggak mau dibantah ataupun dilawan.
Di dalam mobil... Althea cuma diem nggak buka suara.
"Kamu lagi sariawan? Irit amat ngomongnya?" Ucap Danniel sambil menyetir dan sesekali melirik kearah Althea.
"Nggak pak.. perasaan bapak aja kali.." Jawab Althea cuek Danniel hanya ngerut halisnya aneh.
"Kita mampir dulu ke Mall, saya mau beli hadiah buat ulang tahun Mom..." dan Althea hanya mengangguk tanpa menjawabnya.
***
Saat di dalam Mall... Althea mengekor Danniel di belakangnya sambil bawa tas laptop.
"Kenapa nggak ditinggal aja sih di mobil..." Ucap Danniel saat dia melihat kearah Althea lalu membantu membawa tas laptonya. Mereka pun jalan lagi tanpa bicara dan masuk ke sebuah toko perhiasan.
"Ada yang bisa saya bantu pak?"
"Saya nyari satu set perhiasan yang paling terbaru" Ucap Danniel.
"Hah... katanya mau berusaha ngeyakinin gue, tapi apaan sikapnya biasa aja tuh sama kayak kemarin-kemarin nggak ada yang spesial.. Sial Althea lo mikir apa sih?? Cowok kayak dia mana bisa..." Gerutu Althea dalam hati sambil melihat Danniel yang sedang fokus memilih perhiasan.
"Al, menurut kamu mana yang lebih baik yang ini apa itu?" ucap Danniel tanpa melihat Althea.
"Yang itu aja lebih simple dan keliatan elegan..."
"Ok itu aja bungkus 1 set aja..." Ucapnya sambil mengeluarkan kartu sakti di dalam dompetnya.
Tak lama Handphone Danniel berdering dan saat Danniel lihat itu panggilan mamanya.
Setelah pamit pada Althea Danniel pun keluar dari toko itu menerima telpon. Sementara Althea masih melihat-lihat perhiasan di etalase tersebut.
ALTHEA POV
"Ehhh lo Althea kan?"
Deg...
saat gue liat kearah sumber suara gue liat orang yang paling nggak pengen gue liat...
Ya dia adalah sahabat kecil gue lebih tepatnya Mantan sahabat yang sekarang udah jadi musuh gara-gara dia kehasut ama omongan Gracia.
Nadia... dia sahabat dan orang yang kejam buat gue... dia sama Gracia selalu bikin gue kayak di neraka saat gue SMP, mereka selalu ngebully gue dengan tingkah mereka dan ulah mereka yang menurut gue itu bikin mental gue down saat SMP.
Selama SMP gue hampir putus sekolah karena nggak mau ketemu mereka.
Kenapa nggak bilang sama bokap? ya... paling juga bokap bilang sabar aja, ngalah aja... Dan jujur saat itu gue pengen banget kabur dan lelepin idup gue aja di laut. Pengen banget ngikutin nyokap gue...
Tapi gue mikir lagi 'bunuh diri itu dosa' boro boro ngikutin nyokap yang ada gue masuk neraka...
"Bener kan lo Althea, adiknya Gracia..." dan mantan sobat lo inget itu. gue cuma senyum mesem.
"Lo ngapain disini?" sambil celingak celinguk. "Lo nggak niat beli perhiasan disini kan? soalnya lo nggak mungkin bisa beli perhiasan disini..." Gue cuma ngela napas karen enek denger omongannya dia yang ngerendahin gue banget. Dan saat gue mau bales omongannya tiba-tiba...
"Nona.. Ini satu set perhiasannya, dan ini kartunya... Transaksinya sudah beres tinggal tanda tangan..." Ucap pelayan itu sambil ngasih paperbag yang isinya kotak satu set perhiasan dan kartu saktinya Danniel. Sementara Nadia yang melihat itu terkejut.
"Hah... Unbelievable, peliharaannya siapa lo?" Gue masih sabarbsama kata-katanya dia.
"Emang kalo beli perhiasan ini harus jadi peliharaan dulu ya?"
"Ya soalnya nggak mungkin kan lo bisa beli perhiasan itu dengan duit lo sendiri.. secara lo kan cuma staff kantor." Dia ngomong agak tinggi dan sinis. Gue cuma senyum doang denger alasan dia... Heol... daebbakk!! bisa-bisanya dia ngomong gitu...
"Sayang udah milih kan?" Ucap salah seorang cowok yang berjalan dan merangkul pinggang Nadia. Gue cuman diem doang pengen ketawa takut dosa, tapi ini bikin gue asli pengen ngakak...
Dengan tampang pas-pasan dan badan yang krempeng.. Ya.. baju dan jam tangan emang brandid semua sih... Tapi Ya Gustiiiii...
Gue cuman nunduk biar ekspresi gue nggak keliatan ama Nadia.
"Oia sayang kenalin, dia temanku waktu SMP... dan Al... kenalin ini calon suami gue..."
"ah. haii. Gue Althea..."
"Bima" Ok, fix tar nama anak gue nggak mau gue namain Bima...
"Al...udah?" Danniel yang baru dari luar masuk dan nyamperin gue. Gue pun senyum kearah Nadia.
"Nad... kenalin... ini juga calon suami gue.
namanya Danniel Henney... Lo pasti tau dia kan?" dengan bangganya gue kenalin Danniel ke Nadia sambil ngerangkul pinggang Danniel dan narik badan dia ke sisi gue.
Emang salah sih... Tapi ya.. Orang kayak gitu emang harus dikasih pelajaran.
Sementara Danniel cuma diem heran kali ya liat gue. Trus nyalamin mereka berdua. Gue liat muka Nadia berubah kesel bete, dia nyadar kali ya laki gue lebih ganteng lebih atletis dibanding lakinya yang cuma punya duit doang hahahaha....
"Oh iya, tinggal tanda tangan udah gitu balik.. yuk..." Ajak gue sambil pegang tangan Danniel tanpa ba bi bu... saat Danniel udah beres kita pun langsung keluar tanpa pamit ke Nadia atau pun cowoknya.
"Mau makan apa langsung pulang?" tanya Danniel yang masih genggam tangan gue.
"Pulang aja deh, cape juga..."
"Tadi siapa?"
"Itu mantan temen..." Gue liat Danniel ngerut galis. Alhasil gue ceritainlah kisah upik abu gue yang dulu pernah gue bikin down.
Dia diem. Dan dijalan pun dia diem nggak komen Dan nyela cerita gue, Entah mikir apaan.
***
Pas udah depan Apartement gue dia keluar dari mobil dan bukain pintu gue. Pas gue keluar dia meluk gue erat.
"Jangan pernah liat kebelakang, sekarang lo bukan lagi upik abu ataupun Cinderella, lo adalah Althea yang kuat dan bisa ngadepin gue bos lo... Lo kuat Al.. Gue yakin... Dan lupain semua kejadian itu. Sekarang lo punya gue selain bokap lo tentunya yang bisa dengerin keluh kesah lo dan belain lo dari orang-orang yang jahat sama lo..."
Sumpah ya... denger kata-kata dia gue jadi pengen nangis. Gue bales pelukannya dengan erat. Dan gue nyadar dia bener-bener buat gue spesial dengan tindakan dan kata-katanya yang nggak gue duga.. Dan jangan harap dia bisa bersikap romantis sama lo, karena mungkin dia emang nggak bisa romantis ke cewek.