I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 98



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Terlihat gadis di sebelah Nino menautkan rambutnya ke atas daun telinga. Dia ikut tersenyum ramah karena dia sudah bisa mengenal Rubina di detik awal setelah mata mereka bertemu.


"Eh, Bina," ucap Salsa pacar Nino. "Kamu datang bareng sama dokter Sean?"


"Iya, tadinya sih dateng berdua. Tapi katanya dia lagi ada urusan sama Nino. Makanya dia pergi buru-buru," berhenti memandangi Salsa, saat itu Rubina membawa fokusnya kepada Nino. Merubah tatapannya jadi meredup mencurigai dia mengajukan pertanyaan kepada Nino untuk menghilangkan rasa penasarannya.


"Urusan pentingnya udah selesai ya, No? Kalo gitu Sean ke mana sekarang?"


"Hah? Urusan penting?" bingung Nino. Tentu saja dia bingung karena dia tidak membuat janji bertemu dengan Sean. "Gue nggak mengerti yang lagi lo bicarain Bi."


"Loh, bukannya beberapa jam yang lalu lo telpon Sean?”


"Telpon?" ulang Nino diangguki segera oleh Rubina. “Seharian ini gue nggak ada telpon ke hapenya Sean kok. Jangankan telpon, bahkan nge chat aja enggak. Soalnya ya gue pikir di jam segini dia masih operasi."


Perasaan Rubina mulai was-was. Dia jadi overthinking setelah mendengar jawaban dari Nino.


"Oh... Gitu ya... mungkin gue yang salah denger kali tadi. Sean mungkin nyebut nama lain tapi gue yang salah nangkep,” Rubina tetap tenang meski hatinya sudah memanas. "Kalo gitu gue balik duluan ya. Gue masih ada urusan,” pamit Rubina tanpa lupa dia memberikan senyum ramah kepada keduanya.


Saat berbalik perubahan pun terjadi di wajah RUBINA. Perasaannya campur aduk karena apa yang Sean katakan padanya saat hendak meninggalkan restoran justru berbanding terbalik dengan kenyataannya.


Katanya pergi untuk menemui Nino, tapi kenyataannya nol. Bahkan Nino mengaku tidak mendapatkan telpon apa-apa dari Sean.


'Nggak bisa gitu dia ngomong jujur?' pikir Rubina. Tanpa sadar dia membuat tangannya mengepal meluapkan emosi yang sudah bercampur dengan perasaan kecewa.


Di menit selanjutnya Rubina sedang duduk di kursi yang terdapat di depan gedung restoran. Rubina sedang memainkan ponselnya hendak memesan taksi online. Namun belum sempat dia membuka aplikasi saat salah satu sahabatnya menelpon ke nomornya.


"Iya, Ra, kenapa?" Rubina langsung pada intinya saat menekan tombol hijau lalu meletakkan ponselnya itu di depan telinga.


"Lo di mana Bi?" Kening Rubina mengkerut,


"Gue ada di restoran. Kenapa Ra? Kedengarannya suara lo kayak panik gitu."


"Nggak gue cuma mau mastiin sesuatu aja, Bi."


"Mastiin apa sih Ra?"


"Jadi gini, sekarang gue lagi di mall. Tadinya gue nemenin atasan gue yang lagi rapat sama rekan bisnis. Tapi pas gue lagi mau jalan pulang gue nggak sengaja ngeliat suami lo lagi sama cewek."


"Sama cewek?" potong Rubina.


"Iya, Bi. Cewek itu punya rambut sebahu. Trus dia keliatan mesra banget sama suami lo. Dia sampe ngamit lengan laki lo loh Bi," jelas Rara di seberang sana, dia menjelaskan sedetail mungkin kejadian yang dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.


"Lo yakin Ra, kalo yang lo liat itu Sean?"


"Gue yakin banget Bi. Awalnya emang gue sempat ngira kalo cewek yang lagi ngamit lengan laki lo itu adalah adiknya sendiri. Tapi kan kata lo adiknya lagi kuliah di Bali."


"Iya, adiknya Sean emang lagi di Bali. Tapi, Ra, lo serius kan?"


"Astaga Bi. Gue serius. Mana mungkin gue becanda soal ginian ke lo. Ya, walopun gue emang orangnya suka becanda, tapi gue tau dan bisa nempatin mana waktunya becanda dan mana waktunya buat serius. Oh ya, gue kirimin ke lo lokasinya yah. Mendingan lo cepet dateng ke sini buat ngeliat secara langsung."


"Ok, gue ke sana sekarang pake taksi. Cepet lo kirimin lokasinya ke gue sambil gue juga mau pesen taksi online."


***


RUBINA sudah di taksi menuju ke tempat yang dikirimkan oleh sahabatnya melalui pesan singkat. Rubina berusaha untuk membuat pikirannya tetap positif meskipun perasaan tidak enak telah menghujani hatinya.


'Gue nggak boleh berpikir yang bukan-bukan. Nggak sebelum gue menyaksikan dengan mata kepala gue sendiri kejadian yang sebenarnya, gue nggak boleh langsung men-judge Sean. Bisa aja apa yang Rara liat cuma kesalah pahaman doang.'


Hentakan jantungnya sudah tidak seirama sejak tadi. Sungguh Rubina berharap ketakutannya tidak terjadi. Dia bahkan akan rela menunggu sampai Sean benar-benar mencintainya dengan tulus, hanya saja kalau ketakutan Rubina benar, maka mungkin tidak ada lagi ampunan bagi suaminya itu.


"Pak, boleh cepetan dikit gak?" tanya Rubina kepada sopir yang sedang membawanya ke tempat tujuan. Sungguh, tetap berada di tempat ini hanya membuat Rubina semakin overthinking saja. Rubina ingin sekali buru-buru sampai di tempat. Kesabarannya sudah sangat menipis ingin membuktikan apakah yang Rara lihat memang suaminya atau bukan.


"Saya akan berusaha cepat Mbak, tapi kayaknya di depan ada sedikit kemacetan."


Rubina melihat ke jalanan depan. Ah, sial. Rubina berdecak sebal begitu dia menemukan kepadatan kendaraan. "Gapapa deh Pak. Yang penting saya bisa sampai ke tempat tujuan," pasrah Rubina.


***


Sementara di tempat lain namun di waktu yang bersamaan terlihat Sean yang sedang berdiri di sebelah kanan perempuan berambut pendek sebahu persis dengan ciri-ciri yang Rara sebutkan lewat sambungan telepon dengan Rubina tadi.


Sean sangat-sangat bingung karena sebelumnya dia tiba-tiba dapat telepon dari Sarah yang memintanya untuk datang menemuinya. Karena itu Sean jadi kehilangan kesempatan untuk berbicara jujur dengan Rubina soal masa lalunya yang rencananya akan dilanjutkan oleh pengakuan rasanya kepada Rubina.


"Kenapa Mas? Kayaknya kamu nggak suka banget sama kehadiran aku?" Sarah berhenti menautkan tangan di bagian lengan kekar milik Sean. Memang, dia tahu soal Sean yang selama ini selalu menghindarinya. Tapi kali ini berbeda. Sean seperti sangat-sangat tertekan berada di sebelah Sarah.


"Dari awal kamu sudah tau kan sifat saya bagaimana."


"Seperti perjanjian kita dari awal, kamu kan tau aturannya. Kenapa sekarang kamu melanggarnya?”


"Kamu sedang mempermasalahkan soal kedatangan aku? Ayo lah Mas, seharusnya kamu senang karena aku datang, bukannya malah menatap aku dengan marah seperti ini."


"Haruskah saya tertawa karena kamu datang menemui saya? Tidak Sar, malah saya ingin meledak-ledak saat tadi kamu menelpon dan mengabari saya soal kehadiran kamu yang mendadak ini. Bahkan jika seandainya kamu lebih dulu memberitahu saya soal rencana kedatangan kamu, maka dipastikan kalau saya akan melarang kamu untuk datang."


"Kenapa Mas? Maksud aku kenapa aku dilarang untuk menemui kamu sih. Apa karena aku tidak diperkenankan untuk berkenalan dengan istri kamu?" Sarah membawa bibirnya ke samping, ia tersenyum miring.


“Bagaimana kalau Bina tau kamu ada di sini? Bagaimana kalau Bina tau masa lalu saya?” cecar Sean. Ya, SEAN benar-benar sangat pusing saat ini. Disaat dirinya sudah nyaman dengan Rubina, di sisi lain dia dihalangi oleh sebuah kesalahan di masa lalu.


"Katanya kamu menikah karena terpaksa dengannya?" ucap Sarah. "Kalau memang kamu nikahnya karena terpaksa, otomatis kamu tidak akan khawatir kan kalau aku datang ke sini. Tapi kok melihat dari raut wajah kamu sepertinya kamu sudah punya perasaan lebih kepada istrimu itu.”


"HUBBY!"


Suara bernada tinggi barusan secara kontan membuat mata Sean membulat dengan sempurna. Bahkan dari suaranya saja sudah bisa ditebak kalau pemiliknya tidak lain adalah istrinya sendiri.


Sekujur tubuh Sean serasa melemah di detik itu juga. Meski begitu dia tetap memutar tumit hingga sepasang bola matanya menemukan kehadiran Rubina. Tidak sendirian, saat itu Sean juga menemukan kehadiran Rara. Sean tidak tahu apa lagi yang harus dia lakukan selain hanya menyengir kaku menyambut kehadiran Rubina yang semakin memangkas jarak menghampirinya.


"Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Sean.


"Bukannya harusnya aku ya yang tanya itu sama kamu?" Rubina menatap intens. Meski menemukan ada figur seorang perempuan berdiri di sebelah Sean persis dengan yang Rara sampaikan tadi namun Rubina masih berusaha untuk berpikir positif sampai nanti Sean sendiri yang akan menjelaskan siapa perempuan itu. “Bukannya kamu katanya mau nemuin Nino?" Rubina mengarahkan fokusnya ke segala penjuru, berlagak seperti dia sedang mencari keberadaan Nino. "Tapi kok aku nggak ngeliat Nino ada di sini ya?"


"Iya, dia tadi ada di sini, tapi sekarang udah pulang. Kebetulan masalahnya udah beres," Sean berdusta.


"Jangan bohong By."


"Saya nggak bohong, Bi. Tadi Nino beneran ada di sini, dia.


"AKU BILANG JANGAN BOHONG BY!" potong Rubina dengan nada tinggi. Sean tidak lagi melanjutkan kalimatnya yang terjeda, dia memutuskan untuk merapatkan sisi bibirnya.


"Gimana bisa kamu bilang kalau Nino sempat ada di sini sementara aku ketemu dia di restoran sama Salsa, kekasihnya."


"Kamu metemu sama NINO?"


"Bukan cuma sekadar ketemu By. Dia bahkan bilang ke aku kalau hari ini dia nggak dapet telepon apa-apa dari kamu. Jangankan telepon, bahkan chat aja nggak," saat memberikan penjelasan itu Rubina melihat dengan jelas suaminya dihantui kepanikan sampai dia meneguk salivanya kasar. Mungkin Sean tidak mengantisipasi Rubina akan tahu soal kebohongannya.


Sean diam.


"Kenapa By? Kok diem? Setau aku kamu cuma punya satu temen yang namanya Nino. Atau jangan-jangan cewek yang ada di sebelah kamu ini namanya Nino?” kali ini Rubina mengarahkan fokusnya kepada gadis berambut sebahu di sebelah suaminya. Cukup terkejut saat gadis itu langsung menggamit lengan milik Sean.


"Jauhkan tangan kamu, Sar!" perintah Sean.


"Kenapa Mas? Aku juga berhak buat nyentuh lengan kamu," ucap Sarah.


"Mbak, siapa pun nama Anda aku enggak peduli, tapi asal tau aja orang yang sedang Anda sentuh-sentuh seperti itu adalah suami aku. Anda tidak berhak untuk melakukan itu," ucap Rubina. Nadanya santai namun tatapannya memperlihatkan sorot yang begitu tajam.


"Kenapa? Kamu mau marah?" Sarah tersenyum. Senyumnya cukup untuk membuat Rubina naik pitam. Rubina hanya tidak habis pikir hari itu dia bertemu dengan seorang perempuan yang tidak tahu malu. Bisa-bisanya dia menggamit pria yang jelas-jelas sudah punya istri.


"Pertanyaan macam apa itu? Marah? Tentu saja aku marah karena kamu malah menggamit lengan suami aku."


"Suami? Bukannya kalian menikahnya karena terpaksa aja ya? Karena perjodohan kan?" Sarah benar-benar sangat menyebalkan. Senyum miringnya benar-benar menguji kesabaran Rubina.


"Terlepas dari bagaimana kami menjalani hubungan itu bukan urusan kamu!” balas Rubina. "Yang jelas Sean adalah suami aku. Dan aku merasa tidak senang karena kamu bertingkah genit dengan suami aku.”


"Mas, harus aku yang jelasin atau..." ucap Sarah namun tertahan.


"Cukup Sarah! Jangan memperkeruh suasana!" Sean mengatakannya dengan tegas.


Sarah kembali bertingkah seenaknya menggamit lengan milik Sean. Tapi sebelum akhirnya Sean yang menyingkirkan tangan itu dari lengannya, rupanya Rubina yang lebih dulu maju dan melakukannya.


“Maaf ya, jangan sampai aku meneriaki kamu dengan sebutan pelakor kalau kamu terus bertingkah seperti ini!" peringat Rubina. Dia masih berbaik hati memberikan kesempatan kepada perempuan bernama Sarah itu untuk mejauh dari suaminya.


Sarah menyunggingkan senyum miring. Sambil menunjuk dirinya sendiri dia berkata, "Pelakor? Kamu menyebutku pelakor?" Sarah tertawa sebentar sebelum ia melanjutkan, "Tidak salah kamu menyebutku pelakor? Sadar hey, di sini justru kamulah yang pelakor. Kamu adalah perempuan yang merebut suamiku!"


PLAK!!!!


Suara nyaring itu terdengar. Rubina baru saja memberikan satu buah tamparan super keras kepada perempuan bernama Sarah itu. Tentu saja Rubina terpaksa melakukannya karena perempuan itu sudah berbuat di luar batasnya.


Sarah masih memperlihatkan senyuman meski bekas tamparan Rubina masih menyisakan rasa sakit. "Kamu pikir dengan menamparku akan mengubah kenyataan kalau kamu adalah seorang pelakor? Asal kamu tahu, aku bahkan lebih dulu menikah dengan Mas Sean. Walaupun cuma sebatas nikah siri tapi di mata agama kita sah sebagai pasangan," beber Sarah.


"Permisi, Mbak, ini anaknya kayaknya ngantuk,” seorang pegawai di toko itu memberikan balita di gendongannya kepada Sarah. Sarah segera menyambut balita tersebut.


"uukh... Anak Ibu ngantuk ya?" Sarah lalu menatap kepada anak laki-laki di dalam gendongannya lalu menatap Rubina dengan raut misterius. “Oh iya, Rubina, perkenalkan, anak yang sedang aku gendong namanya Sheran, dia adalah putraku dengan Mas Sean."


jedaaaaaarrr....


hello guys .. gw kasih double up nih... khusus buat yg ngikutin dan greget sama sikapnya Sean... hihi apa nih yg bakalan dilakuin sama Sean???