I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 108



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Mengingat saat hari pertama pernikahan mereka, rasanya Sean tidak percaya melihat apa yang terjadi hari ini. Rubina yang selama ini selalu mencari perhatiannya bisa memperlihatkan tingkah sedingin ini padanya seperti sikap Sean dulu. Ralat, sepertinya jauh lebih dingin dari yang Sean lakukan padanya.


"By? Kenapa masih di sini? Ayo keluar!"


"Hah.. Oke, saya bakalan keluar," Sean memaksakan senyum dan pergi meninggalkan kamar. Tidak lupa Sean menutup pintu rapat-rapat.


"PULANG JAM BERAPA?" pertanyaan itu dilontarkan oleh Sean saat Rubina hendak membuka pintu apartemen.


Rubina menghela napasnya pelan. Berbalik kemudian dia mengadu matanya dengan manik mata suaminya.


“Aku juga nggak tau pulang jam berapa. kenapa kamu nanya itu?"


"Saya cuma pengen tau aja biar bisa siap-siap."


"Siap-siap?" Rubina mengerutkan keningnya mengulang kata itu. “Maksudnya gimana ya?"


"Takutnya kamu butuh tumpangan. Saya siap buat..."


"Oh but No, thanks! Aku bisa ngurus diri aku sendiri. Mendingan mulai sekarang kamu fokus aja sama masa depan kamu, soalnya bentar lagi kita juga nggak ada hubungan apa-apa lagi. Tinggal ngitung hari sebelum status aku bukan istri kamu lagi."


Kalimat yang Sean takutkan kembali didengarnya langsung dari bibir Rubina. Mendengar itu sekujur tubuh Sean bergetar hebat. Seperti mendapatkan sambaran kilat di siang bolong. Darah yang mengalir di sekujur tubuh Sean serasa menggumpal di kepala, menyisakan rasa sakit yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Rubina sudah pergi meninggalkan apartemen sementara rasa takut Sean tidak kunjung pergi, malah semakin bertambah saat sinyal 'perpisahan' disampaikan oleh Rubina. Demi apapun, seandainya waktu bisa diputar kembali maka sudah pasti Sean tidak menyia-nyiakan Rubina sejak awal.


Apa mungkin ini karma?


Rubina meninggalkan apartemen dengan tampang kesal. Bahkan setelah dia masuk ke taksi duduk berderet dengan Rara dan Syifa tampang itu masih terlihat jelas di mukanya.


"Lo kenapa, Bi? Dibikin kesel lagi sama si Snowman?” tanya Rara.


"Apalagi coba yang ngerusak mood gue selain dia. Sumpah setelah kebohongannya terungkap gue jadi males buat ngeliat mukanya. Nggak kayak dulu gue ngejadiin wajah dia sebagai booster. Eh, sekarang wajah dia malah jadi sumber kekesalan gue.”


"Emangnya kenapa sih, lo masih tinggal seatap sama dia, Bi?" Syifa yang belum tahu alasan kenapa Rubina masih belum meninggalkan apartemen Sean langsung mengajukan satu buah pertanyaan yang berkaitan tentang itu. "Kalo emang buat lo kesel, kenapa masih betah di sana? Bukannya ngelakuin itu sama aja dengan nyakitin diri lo makin jauh?"


"Kayaknya gue lupa nyerita soal itu ke lo, Fa" sambung Rara. “Jadi, alesan kenapa Bina masih stay di apartemennya Sean, itu karena Bina emang belum nyerita tentang masa lalunya Sean ke Om Danniel dan lo kan tau sendiri kalo Om Danniel baru aja keluar dari rumah sakit. Juga penyakitnya bukan penyakit biasa. Paling nggak Bina butuh sedikit waktu sebelum ngungkapin semuanya sama Om Danniel ."


"Bener juga sih," Syifa mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tempo lambat, Apalagi kan Om Danniel mengidap jantung koroner, setau gue emang nggak boleh ngasih tau berita yang mengejutkan sih."


"Yupz, dan karena alasan itu jadi gue ngambil keputusan sampai kondisi Papah bener-bener udah pulih banget, gue akan tetep nginep di apartemennya Sean," Rubina memperjelas penjelasan tentang langkah dia kedepannya. "Jujur ya gue udah capek. Kayaknya udah nggak ada jalan lain selain perceraian."


Syifa dan Rara sedikit kaget namun disaat yang bersamaan mereka bisa mengerti kenapa sahabatnya itu sampai memikirkan kata 'perceraian' atas permasalahan yang dihadapinya saat ini. Posisinya di sini memang serba salah. Apalagi dengan kenyataan Sean yang bukan hanya menikah siri tapi juga dia sudah punya anak.


Syifa yang peka dengan kesedihan yang tergambar di wajah sahabatnya buru-buru angkat suara, "Udahlah Bi. Soal Sean nggak usah lo pikirin lagi. Ntar yang ada kepala lo cuma bakalan tambah pusing." Syifa mengatakannya sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya memberikan dorongan semangat.


"Bener banget tuh. Dan mulai sekarang julukan gue ke dia bukan lagi 'Snowman' tapi 'buaya darat' sumpah gue kesel banget sama si Sean. Ganteng doang tapi akhlaknya minus. Udah ah, nggak usah bahas dia lagi."


Di sepanjang acara reuni tadi Rubina berusaha untuk menikmati rangkaian acaranya. Rubina berusaha untuk menikmati percakapan yang sedang dilakoni oleh teman-temannya meski yang ada di kepala Rubina saat itu tidak lebih dari sekadar permasalahan hidupnya. Meski dia ingin sejenak melupakan soal itu, namun ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bayangan tentang kebohongan Sean dan juga keinginannya untuk bercerai setelah berbicara jujur dengan sang Ayah telah melebur jadi satu.



Bahkan setelah acara reunian telah berakhir pun Rubina masih saja banyak termenung. Bagaimana pun juga Rubina tidak boleh memperlihatkan kepada teman-temannya yang lain perasaan kalut yang dia rasakan.


"Guys, gue pulangnya bareng sama Agam aja ya? Kalian berdua nggak apa-apa kan kalau gue pulang sama dia?” ucapan Rubina yang terucap saat sedang di pelataran restauran kompak membuat kedua rekannya mengarahkan fokus kepadanya. Baik Rara maupun Syifa memperhatikannya dengan pandangan bingung.


"Loh, kenapa tiba-tiba lo malah mau balik sama Agam? Bukannya selama ini lo justru selalu ngindarin dia ya?"


Sambil menyampirkan rambut hitam pekatnya ke atas daun telinga Rubina menjawab keraguan salah satu sahabatnya, "Waktu itu Agam pernah jengukin Bokap di rumah sakit sama adiknya, Caca, terus kebetulan banget waktu itu gue lagi debat sama Sean. Kita berdua bahas tentang pernikahan kita yang tanpa didasari oleh perasaan saling suka ditambah dengan pembahasan soal Sarah. Gue cuma pengen mastiin aja, apa Agam denger obrolan itu atau nggak."


Belum sempat Rubina memberikan jawaban saat kebetulan Agam lewat di sebelah mereka. "Gam," panggil Rubina sebelum Agam melewatinya.


"Kenapa, Bi?"


"Lo lagi buru-buru gak?" tanya Rubina. Kalau memang Agam sedang buru-buru maka Rubina akan mengurungkan niatannya untuk nebeng sama Agam sekaligus menunda pembahasan untuk menanyakan apakah Agam mendengar percakapannya dengan Sean saat itu atau tidak.


“Kebetulan banget gue lagi nggak buru-buru kok. Emangnya kenapa, Bi?"


"Hmmm gini Gam. Boleh nggak gue nebeng sama lo.”


"Oalah, mau nebeng? Gue kira ada apa sampai lo nanya gye buru-buru atau nggak. Boleh kok."


“Sebelumnya makasih ya, Gam, lo udah mau nganterin gye ke apartemen.”


"No problem, ya udah yuk, kita pulang sekarang!" ajak Agam mendapatkan sebuah anggukan dari Rubina. "Kalian berdua juga ikut kan?" tanya Agam kepada Rara dan juga Syifa.


Tanpa adanya janjian Rara dan Syifa memberikan gelengan kepala secara kompak, "Biar Bina aja yang nebeng sama lo, gue sama Syifa biar naik taksi aja. Toh, rumah gue dan Syifa kan nggak searah sama kalian.”


“Nggak apa-apa, biar gue anterin kalian berdua dulu sebelum nantinya gue nganterin Bina ke apartemennya." Agam membagikan opsi tanpa peduli bahwa dia akan bolak-balik.


"Enggak usah Gam. Gue sama Syifa udah pesen taksi online kok."


"Hmmm oke. Kalo gitu gue sama Bina pamit pulang duluan ya!" Agam bersama dengan Rubina berjalan menuju ke pelataran tempat Agam memarkirkan mobilnya. Bersamaan dengan itu Syifa langsung menghela napasnya.


"Kenapa lo?” tanya Rara.


"Gugup gye," jawab Syifa.


"Gugup kenapa, lo?"


"Gue gugup karena ada Agam


"Kamu suka sama Agam?" tuduh Rara.


"Shittt! Enak saja," elak Syifa.


"Terus kenapa pakek acara gugup segala sama si Agam."


"Soalnya tadi pas di kantor ada sedikit problem. Jadi kan lo tahu sendiri kalo Agam tuh orangnya super pede. Ya walaupun emang ganteng tapi kan dia suka tuh muji-muji dirinya secara berlebihan. Mungkin karena kesal dengerin celotehan dia yang nggak ada habisnya jadinya gue bilang, 'Iya sih lo ganteng tapi sayang lo selalu dapet penolakan dari Bina' sumpah Ra, Gue beneran ngerasa nggak enak banget setelah keceplosan ngomong kayak gitu sama dia."


"Terus respon Agam gimana pas lo ngomong gitu?"


"Ya gitu, tiba-tiba raut wajahnya berubah. Dari yang tadinya ceria langsung jadi datar. Ah, ngebayangin itu aja cuma buat perasaan gue jadi semakin ngerasa bersalah."


"Eh tapi ngomongin soal Agam kayaknya dia cocok banget ya sama Bina?” Rara mengubah topik pembicaraan.


"Maksud lo?"


"Dari dulu kan Agam udah ngejer-ngejer cintanya Si Bina tuh. Sayangnya aja takdir malah membawa Bina buat ketemu sama si 'Snowman' eh ralat maksud gue sama si 'Buaya darat.""


“Iya sih, kalau dibandingin sama Sean mah Agam juga nggak kalah."


"Ya, gye setuju sama yang lo bilang barusan. Soal ganteng, Agam juga nggak kalah ganteng kok sama si Buaya darat. Dan yang paling penting Agam cintai sama Bina dengan tulus," sahut Rara.


"Kata Bina tadi kan Agam udah tau cerita sebenarnya soal hubungannya sama Sean. Yakin sih setelah ini si Agam bakalan balik lagi berusaha buat perjuangin cintanya ke Bina. Tau sendiri kan kalo dia sangat-sangat ambisius."


"Gue juga mikir hal yang sama, Fa. Tapi kalo emang pada akhirnya hubungan Sean sama BIna harus berakhir, semoga saja Bina bakalan ngedapetin pengganti yang sayang sama dia. Hmmm, kayak Agam contohnya."


"Iya, Ra, kasihan Bina."