
Satu bulan kemudian...
Danniel dan Althea sudah pindah ke rumahnya Danniel, dan Althea pun sudah beraktifitas seperti biasa, melayani suaminya meskipun ada bibi dan mulai kembali ke perusahaan.
Di ruang meeting...
pukul 12.00 siang...
Althea dan Lauro masih membahas masalah project yang akan mereka tangani dengan sedikit perdebatan karena perbedaan pendapat.
"Pokonya saya nggak mau ya! Dan kalau memang kamu mau seperti itu ya udah kamu aja yang ngurusin, saya nggak mau!"
"Tapi Al, bagaimana pun klien maunya kamu juga ikut andil dalam projectnya."
"Ya kalau gitu kamu ngalah ikutilah apa yang saya mau!" Lauro hanya menghela napas saat dihadapkan dengan sifat Althea yang keras kepala.
***
Pukul 18.00 sore...
Althea sudah berkutat di dapur memasak untuk makan malamnya sama Danniel dibantu sama bibi.
Saat Althea menata makanannya di meja makan, Danniel yang sudah dengan pakaian santai dengan cingcin kawin bertengger di jari manis kanannya menandakan bahwa dia sudah menikah, dia pun memeluk Althea dari belakang sambil mencium tengkuknya. Althea yang berbalik kearah Danniel pun langsung dihujani ciuman oleh Danniel. Tak lama Althea mendorong tubuh Danniel sambil mengerutkan keningnya.
"Niel... Mandi dulu gih?"
"Hah... Yang saya udah mandi loh baru aja..."
"Masa sih? Tapi kok masih bau sih?" Menutup hidungnya.
"Masa sih..." Danniel menciumi dirinya sendiri. "Nggak ah... Kamu kali tuh..." Lanjutnya masih memeluk Althea.
Althea pun mendorong Danniel lalu pergi ke wastafel muntah-muntah.
"Yang... Are you okay? Perlu saya panggilin dokter?" Ucap Danniel hendak menghampiri Althea cemas.
"Stop Niel.... Jangan kesini! saya nggak apa-apa cuma mual aja sama bau badan kamu... Kamu pake parfume apa sih? Kok bau banget?!" Danniel terdiam heran.
"Saya pake parfume yang biasanya kok, Kan biasanya juga kamu nggak apa-apa!"
***
Satu minggu kemudian...
DANNIEL POV
"Wooyyy... Kenapa sih lo seminggu ini uring-uringan terus? Mana proposal gue jadi korbannya lagi, udah 5 kali gue ganti tu proposal, awas aja kalo lo minta ganti lagi gue tolak aja kerjasama sama kliennya.!" Tiba-tiba Rafael datang ke ruangan gue dan ngelempari proposalnya dengan kesal lalu Hans yang baru datang juga buru-buru nyamperin gue dengan bawa pesenan yang gue minta.
"Ini boss mie ayam yang diminta!" Ucap Hans agak kesal karena ulah gue sambil nyiapin mie ayam itu ke mangkuk yang dia bawa juga agar gue langsung makan, dan gue cuma senyum kearahnya.
"Thanks bro!" Gue pun makan dengan lahap tanpa jawab keluhan Rafael. Rafael melihat kearah gue heran lalu melihat Hans.
"Jangan-jangan lo juga korban bullyan dia lagi?!" Hans cuma senyum miring sambil ngangkat bahunya.
seminggu kemaren saat Althea bilang gue bau, dia nggak mau lagi dipeluk dan ga mau deket-deket gue lagi.
Udah gitu dia nyuruh gue buat tidur di kamar lain asal nggak sekamar sama dia, alhasil gue bete, dan dia pun ngasih parfume buat gue dan nyuruh gue pake parfume itu. Dan sialnya lagi, lo tau siapa yang pake parfume itu????
Ya itu adalah Lauro... Itu parfume yang Lauro suka pake gimana gue nggak gedek coba!
Alhasil gue pun uring-uringan selama di kantor dan korbannya adalah pegawai-pegawai gue termasuk dua kunyuk yang ada di gue ini... Dan anehnya lagi gue jadi suka jajanan pinggir jalan yaitu mie ayam Mang Jaja, dari seminggu kemaren makan siang gue pasti mie ayam mang jaja.
Jadi waktu gue nggak sengaja lewat depan mie ayam itu gue ngerasa aromamya kuat dan kayaknya enak banget.
"Sebenernya lo kenapa sih? seminggu ini aneh banget mana sering uring-uringan lagi... Lo nggak dikasih jatah ya sama Althea?" Gerutu Rafael komplen.
Gue pun cerita tingkah Althea yang aneh bin ajaib. Dan sialnya setelah gue selesai cerita mereka berdua malah ketawa ngakak.
"Lo kamu gue pecat El?"
"Sorry-sorry, bukanya gitu, seorang Danniel Henney bisa terusir dari kamar nya oleh Althea.. Asli gue salut sama Althea..." Dia ketawa lagi puas kayaknya ngetawain gue. Emang minta dihajar dia! Sialan banget punya temen kayak dia!
"Eh tapi Niel, apa lo nggak curiga sama kelakuan Althea yang nyuruh lo pake parfume yang dipake mantan pacarnya?!"
"Gue juga bingung kenapa dia ngasih parfume itu..."
"Lo nggak nemuin kecurigaan gitu selama lo kesana sikap Althea sama Lauro kayak gimana...."
"Nggak biasa aja, malah kalo gue liat kebanyakan cek cok nya." Rafael berfikir.
"Kalo analisa lo buat gue cemburu itu nggak akan pernah terjadi!"
"Loh kenapa? Althea cewek Lauro cowok... Dan mereka sama-sama pernah menjalin hubungan... Ya.. Siapa tau kan...."
"Althea tuh benci banget sama Lauro El... Gue tau Althea nggak akan macem-macem gue percaya sama dia! Lagian Lauro juga udah cinta nerima Gracia sebagai istrinya dan sebentar lagi dia juga mau punya anak. Jadi nggak mungkin!"
"Trus kenapa tuh sikap Althea kayak gitu... Kan diluar ga tau, siapa tau mereka udah satu perusahaan, sering ketemu sering ngobrol masalah kerjaan..."
"El..." Hans memperingati Rafael untuk diam.
"Hans, hari ini nggak ada jadwal penting lagi kan?"
"Nggak ada boss semuanya hanya tandatangan berkas aja..."
"Pilihin tandatangan yang sito, yang nggak sito besok aja!"
"Woyyy proposal gue jangan lupa!" Tanpa pikir panjang gue ngambil map yang tadi disodorin Rafael tanpa baca proposalnya lagi. Karena gue udah yakin bener, sebenernya dari awal juga udah bener sih cuma pengen ngerjain dia aja! Mau apapun proposalnya gue niatnya emang bakalan setuju.
**
Gue dan Hans jalan ke deket meja Nadin. Yup... Mau percaya sama Althea juga kalo ucapannya kayak yang di terangin Rafael gue juga cemas. Dan akhirnya langkah gue ke perusahaan Althea.
"Nad, ibu ada?" Dia ngeliat gue kaget.
"Loh pak.. Tumben kesini tanpa pemberitahuan?!" Dia liat kearah Hans bingung.
"Eu.. Ibu... Ibu ada pak, tapi lagi meeting sama pak Lauro."
"Berdua?!"
"I.,. Iya pak!"
"Dan kenapa kamu masih disini? Saya nempatin kamu disini buat jagain sama ngawasin Althea..."
"Maaf Pak, tadi saya sudah ada di dalam buat bantuin dan ngawasin ibu, tapi ibu bilang nggak apa-apa mereka berdua ditinggal dan saya disuruh kembali ke tempat saya..."
"Trus kamu nurut gitu aja?!"
"Iya pak!"
"Dasar, nggak guna!!" Gue langsung jalan ke pintu ruangan Althea dan ngebuka pintu itu tanpa ngetuk dan permisi. Dan gue liat Althea lagi duduk selonjoran di sofa dengan Lauro yang ada disampingnya lagi mijitin kaki Althea.
"Ngapain kalian?!"
"Loh Niel, kok nggak bilang kalo mau kesini?!" Emang pada dasarnya sifat Althea bebal ya.. Jadi gue marah pun dia nggak akan sadar! Sementara Lauro yang tau gue lagi marah pun beranjak dari tempat duduknya berdiri panik.
"Kalau saya bilang sama kamu saya nggak akan liat adegan romantis ini..."
"Danniel dengar ini nggak seperti yang kamu pikirkan..."
"Oohh jadi apa yang harus saya pikirkan Lauro?!"
"Niel, jangan bilang kamu cemburu sama Lauro?"
"Istri saya duduk selonjoran di sofa bersama mantan nya yang sedang mijitin kakinya, apa saya tidak seharusnya cemburu?"
"Niel, Lauro cuma bantu saya tadi soalnya kaki saya pegel dan kepala saya pusing!"
"Dan kenapa kamu nggak minta tolong sama Nadia yang jelas-jelas dia sekretaris kamu dan tentunya dia cewek!"
"Hah... Lauro.. Lo bisa balik ke ruangan lo..."
"Oh... Nggak usah biar saya aja yang pergi, keliatannya saya juga ganggu kalian kan... Permisi!" Gue langsung berlalu dari hadapan Althea dan Lauro.
Setelah dekat ke meja Nadin...
"Kita pulang Hans!" Ucap gue tegas tanpa berenti. Dan Hans pun dengan cepat ngikutin gue.
***
"Haahh... Salah nggak sih kalau saya cemburu?" Di dalam mobil yang tadinya hening akhirnya gue keluarin unek-unek gue ke Hans. Hans cuma liat gue dari kaca spion depan.
"Jangan termakan ucapan Rafael Boss, boss kan tau Rafael gimana, dan boss juga tau sendiri Althea kayak gimana ..."
"Masalahnya perasaan saya kenapa jadi labil gini Hans... Dulu saya nggak pernah kayak gini... Tau sih saya juga Althea memang nggak akan khianatin saya tapi hati saya kok sakit ya..." Gue narik napas menuju perjalanan pulang ke rumah. Dan Hans hanya diam tidak bisa menjawab pertanyaan gue...