
Saat melihat layar dihadapanya dokter itu pun menjelaskan bagaimana keadaan janin yang ada di dalam perut Nadin, bail Nadin juga Althea bahagia dan senang mendengar bahwa janin itu dalam keadaan sehat dan tumbuh dengan baik.
Setelah memeriksa, Dokter Silvi pun menulis resep untuk di konsumsi Ibu hamil di trisemester pertama, sambil menjelaskan apa yang boleh dikonsumsi dan yang tidak boleh oleh Nadin.
"Sekali lagi selamat ya Miss Nadin, semoga lancar sampai lahiran..."
"Iya, terima kasih dok..." ucap Nadin snang tapi bingung, pasalnya saat ini Nadin sudah mulai menggugat Hans untuk berpisah darinya, entah bagaimana reaksi Hans jika tahu kalau Nadin sedang mengandung anaknya.
***
"Kak... aku mohon jangan bilang Mas Hans tentang ini... kamu juga Dan!" ucap Nadin sambil melirik Dany yang sedang menyetir mobilnya di kursi depan. Sementara Althea dan Nadin duduk di kursi belakang.
"But why, Nad?! Bukanya ini kesempatan memperbaiki hubungan sama Hans?!" Nadin menggeleng.
"Nggak, Kak.. justru Mas Hans nggak mau punya anak dari aku... dia pasti nggak setuju kalo aku hamil, aku nggak mau Mas Hans tau dan nyuruh aku buat gugurin janin ini.."
"Nad.. Hans nggak mungkin melakukan itu! dia pasti akan terima anak itu.."
"Nggak Kak, dia hanya ingin anak dari Azura bukan aku... makanya dia selalu membatasi diri saat berhubungan. Dan ini.. mungkin ini saat Mas Hans lupa memakainya... aku mohon Kak, aku nggak mau kehilangan janin ini, aku akan besarin dia sendirian..." Althea terdiam. Sebenarnya dia tidak setuju dengan pemikiran Nadin. Tapi, ini hidup Nadin dan dia berhak memutuskan untuk hidupnya...
***
"Hey... Mana assistant lo?!" ucap Rafael yang baru saja masuk ke ruangan Danniel. "dari tadi gue liat dia ga keliatan batang hidungnya?! Lo tugasin kemana lagi dia?!" berjalan ke arah Danniel dan duduk di depan mejanya.
"gue suruh dia istirahat!" ucap Danniel sambil memberarkan kacamatanya.
"Tumben?!" Ucap Rafael tidak percaya karena Hans orangnya tidak mau libur bekerja meskipun sedang sakit sekalipun. Danniel pun memghela napas dan melihat Rafael serius.
"Nadin sudah mengirimkan surat cerai sama Hans..."
"What??? Ini masalah serius loh Niel... lo ga nyoba nasehatin Nadin gitu? Dia kan anak buah lo yang lo simpen di perysahaannya Bini lo... ya seenggaknya lo nasehatinlah, gimana pun juga perceraian itu---" Rafael menghentikan ucapannya melihat Danniel sambil memperlihatkan gigi putihnya.
"Arata! cukup gue aja yang ngalamin perceraian jangan sampai ini menimpa kalian!"
"Lah itu lo tau..."
"Emang lo pikir, selama ini gue ga nyoba buat ngasih tau dua orang itu apa? udah bisen gue ngingetin mereka, Nadin lebih sering di nasehatin Bini gue malah..."
"Ya yrus kenapa Nadin bisa sampe ngelayangin surat cerai buat si bodoh itu?!" Mereka terdiam sejenak berfikir. "ck... trus gimana tanggapan Hans?!"
"Ya...dia sekarang lagi nyari-nyari Bininya buat ngejelasin semuanya!"
"Ya si bego itu juga bener-benet deh, kalo cuma ngemeng doang ya Nadin ga bakalan terenyuhlah... ngaco! dia juga sih kenapa sihbga mau ngebuka hatinya?"
"Ditambah sekarang ada adiknya Azura..."
"Lo yakin, Hans tertarik sama siapaa namanya?"
"Aquila..."
"Coba, cari dimana dia sekarang, Niel?!" titah Rafael yang mulai khawatir sama Hans.
Danniel mencibir melihat kearah Rafael sinis, Tapi tak lama dia pun menelepon Dany untuk mengetahui dimana keberadaan Hans.
***
"Iihhh.. lagian Kakak kenapa pake mabuk segala sih?" ucap Aquila saat memapah tubuh Hans yang tengah mabuk ke Apartment nya Hans dengan susah payah.
Aquila memapah Hans sampai ke kamar Hans dan menidurkannya di tempat tidur.
"Hah.. gini nih kalo lagi galau, dulu sama Kak Azura sekarang sama Nadin! kalo Nadin minta cerai kenapa Kak Hans jadi galau gini?! padahal kan Kakak udah nyia-nyiain kesempatan yang udah dikasih Nadin selama ini!" gerutu Aquila sambil membuka sepatu Hans lalu membuka kancing kemeja Hans.
Hans yang membuka matanya melihat sosok Azura di depan matanya samvil tersenyum ke arahnya.
"Azura?!" ucap Hans sambil menarik tangan Aquila untuk mendekat kearahnya lalu tanpa menunggu lama Hans pun langsung ******* bibir Aquila. Awalnya Aquila menolak dan meronta saat Hans **********, tapi saat Hans memperdalam lumatannya Aquila pun menyerah dan menerima ciuman dari Hans.
***
Kedua mata Hans mengerjap saat alarm jam di atas nakasnya berbunyi. dan betapa terkejutnya Hans melihat Aquila yang tengah memeluknya masih tertidur pulas.
Shiiittt!!! apa-apaan nih?!
Hans langsung memeriksa dibawah selimut, beruntung mereka masih memakai pakaian mereka. Hans menghela napas lega, karena dia yakin kalau dia tidak melakukan ha diluar batas pada Aquila. Hanya saja saat melihat pakaian atas Aquila yang acak-acakan serta ada beberapa tanda kemerahan di leher juga dadanya mendekati aset kembar milik Aquila Hans pun menguaap wajahnya frustasi.
Dengan cepat Hans pun beranjak dari tempat tidur berjalan kearah kamar mandi, mendinginkan kepalanya yang kacau, dia sama sekali tidak percaya bahwa dia hampir melewati batas pada Aquila .. adik dari Azura. Saat Shower menyala dengan cepat kepala Hans pun dibenamkan ke dalam pancuran itu.
Setelah Hans sudah selesai menjernihkan kepalanya, Hans pun keluar dari kamar mandi melihat Aquila yang sudah terbangun dan duduk di tepi ranjang.
"Kau sudah bangun Quil?!"
"Iya... Kak!" jawabnya ragu sambil menunduk. Hans lalu bergegas memakai pakaiannya. Hari ini Hans sudah mulai bekerja lagi setelah diberi ijin cuti oleh Danniel.
Sementara Aquila masih duduk menunduk di tepi ranjang Hans. Saat Hans keluar dari wardrobes dia langsung berjalan menghampiri Aquila.
"Kak..."
"Quil, saya benar-benar minta maaf! seharusnya saya tidak mabuk dan tidak melakukan hal gila denganmu..." melihat Aquila yang makin menunduk. "tapi untunglah kita tidak melakukan lebih dari ciuman, dan saya harap kamu melupkannya karena ini tidak benar Quil..."
"Apa kakak udah menyukai Nadin? apa Kakak udah melupakan Kak Azura?!"
"Saya sudah menikah dengan Nadin, dan saya tidak bisa begitu saja berpisah dan menyakiti Nadin dengan cara seperti ini!"
"Tapi, bukankah selama ini Kakak udah menyakiti Nadin? Sampai Nadin memberikan surat cerai buat Kakak?!" Hans seketika terdiam melihat ke arah Aquila.
"Aku tau karena waktu aku ngambil desain ke rumahnya Nadin, dia cerita kalau dia udah nggak sanggup hidup sama Kakak lagi dan mau melayangkan surat cerainya sama Kakak, dan dia malah ngeliatin surat cerainya sama aku, Kak..." ucap Aquila sedikit ragu.
"Kenapa kamu nggak cerita sama saya Quil?!"
"Karena itu bukan urusan aku, Kak... harusnya Kakak udah wanti-wanti dengan situasi ini karena ini semua juga gara-gara kelakuan Kakak.." ucap Aquila sedikit menaikan oktapnya sati tingkat karena kesal dengan sikap Hans.
"Hah... mendingan Kakak intropeksi dulu sebelum Kakak ketemu sama Nadin. Dan satu lagi, selesein masalah Kakak sama Nadin sampai beres baru kakak bisa ketwmu sama aku.. aku nggak mau ikut campur urusan Kakak sam Nadin."