
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
SEAN sedang duduk di sofa ruang keluarga. Sungguh, dia merasa sangat bosan dan tidak tahu harus berbuat apa. Secangkir susu hangat yang dibuatnya sekitar satu setengah jam yang lalu juga sudah ludes dihabiskannya. Keadaan televisi di ruangan itu sedang menyala namun Sean tidak begitu memperhatikannya. Pun kenapa Sean memutuskan untuk menyalakan televisi, itu supaya suasana di apartemennya tidak sepi-sepi amat.
"Lion!" panggil Sean di tengah-tengah kesuntukan yang dia rasakan. Sean mengerutkan kening lantaran kucing kesayangannya itu masih saja bersantai di sudut ruangan. Tidak seperti biasanya Lion langsung datang saat Sean menyerukan namanya. "Lion, come on!" panggil Sean untuk yang kedua kalinya. Kali ini dia menyertakan gestur sedang memanggil berharap yang bersangkutan datang. Kucing berbulu kelabu itu hanya menoleh sekilas, sehabis itu dia kembali pada aktivitasnya menggerak-gerakkan ekornya. Lion benar-benar seperti sedang sengaja mengabaikan panggilan dari tuannya.
"Kamu kenapa sih Lee, biasanya kalo ayah manggil, biasanya kamu langsung dateng,” bingung Sean, ‘Ck... Bisa-bisanya kamu mengabaikan panggilan dari ayah kamu ini,' dan pada akhirnya Sean ketularan juga menganggap Lion sebagai figur seorang anak. "Lion, jangan jadi anak durhaka kamu! Ayo, ke sini!"
"Kamu juga marah sama ayah, Hmmm? Kamu ini di pihak mana sih? Aku atau Ibu kamu?”
Lion terlihat ada pergerakan. Kucing menggemaskan itu terlihat sedang melangkah setelah meninggalkan posisi antengnya. Sayangnya dia melangkah pergi meninggalkan ruangan itu dan menyisakan Sean yang sedang menjatuhkan rahang bawahnya. “Dasar kucing durhaka! Awas aja ya nanti ayah kamu ini nggak bakal loh beliin kamu makan," ancam Sean.
Sean yang sedang memperhatikan ke arah Lion seketika mengalihkan pandangan ke sofa begitu telinganya menemukan dering pertanda ada telepon masuk. Sean mengambil ponselnya memperhatikan nama yang tertera di sana. Nama Nino tertulis dan membuatnya sangat terburu-buru menggeser ikon telepon berwarna hijau di layar, dilanjutkannya dengan mendekatkan benda pipihnya itu di depan telinga kanannya.
"Iya, Halo, No?"
"Halo, Sean," balas pria di seberang sana. “Bro... Gue baru aja dari rumah temen gue yang lagi ngurus tes DNA lo."
Setelah Nino menyampaikan itu jantung milik Sean langsung berpacu dengan sangat cepat.
"Gi- Gimana? Gimana sama hasilnya?" efek karena terlalu excited ingin tahu hasil tes itu Sean sampai terbata-bata dalam mengajukan pertanyaan.
"Hmmm, iya gue belum sempet ngecek hasil tesnya. Soalnya pas gue baru nyampe ke sana kebeneran kenalan gue itu lagi ada urusan. Ya... Jadi gue cuma ngambil amplop hasil tesnya itu. Ntarlah amplopnya biar lo sendiri yang ngecek hasilnya kayak gimana."
Sean menghela napas singkat. Setidaknya masih ada waktu yang tersisa sebelum ketegangan terjadi di detik-detik saat nantinya dia membuka amplop itu. “Terus sekarang lo lagi di mana No?"
"Gue sekarang udah di jalan sih mau ke apartemen lo. Tapi Sean, lo tunggu gue di luar gedung ya gue ada rencana buat langsung ngasiin ke lo aja berkasnya. Gue soalnya lagi ada urusan sama sepupu gue."
“Oke. Gue Bakalan nunggu lo di depan gedung."
Setelah sambungan telepon terhubung Sean langsung melimpir meninggalkan duduknya. Sean keluar dari apartemennya lalu menghampiri lift. Di tengah perasaan antusias ingin mengetahui hasil tes itu, terselip perasaan was-was dan juga takut semuanya berjalan tidak sesuai dengan yang dia harapkan.
Sean sudah sangat tidak sabar untuk membuka berkas itu. Dia sudah menunggu sampai mobil milik Nino datang. Namun sebelum dia menemukan mobil yang biasa dikemudikan oleh Nino, yang Sean dapatkan saat itu adalah mobil yang sangat dia kenal baru saja berhenti beberapa meter dari tempat kakinya memijak. “Itu kan mobilnya si Agam?! Kok bisa sih dia ada di sini? Ada urusan apa dia di apartemen ini?" Sean membagikan kebingungannya lewat sebuah gumaman.
Tak lama Agam pun turun dari mobil. Dia mengitari mobilnya dan membuka pintu. Sean langsung tercengang saat melihat istrinya turun dari mobil milik Agam. Tanpa membuang banyak waktu Sean langsung mendekat.
“Selamat malam, Gam," Sean berbasa-basi.
"Malam Sean," jawab
Agam dibarengi oleh senyum saat kalimatnya tandas.
"Gimana kabar lo?”
"Alhamdulillah, baik."
"By the way thanks ya sudah ngantar ISTRI GUE pulang," ucap Sean menekankan kata 'istri.'
"Sama-sama Sean. Ya udah kalo gitu gue pulang duluan ya," pamit Agam. Agam tersenyum kepada Sean dan Rubina.
"Makasih banyak yah, Gam, udah nganterin gue," ucap Rubina yang secara kontan mendapat lirikan tajam dari Sean. Rubina yang saat itu sedang mengarahkan fokus kepada Agam sama sekali tidak sadar bahwa seseorang baru saja cemburu karena dia diantar pulang dengan Agam.
Rencananya setelah mobil Agam melaju meninggalkan area apartemen, Rubina langsung ingin masuk ke dalam. Sayang, pergerakannya yang hendak balik badan terbaca oleh Sean. Sean langsung mengulurkan tangannya mengurung pergelangan tangan istrinya.
"Kenapa?"
"Saya mau ngomong," ujar Sean.
Rubina memperhatikan tangannya yang dikurung oleh telapak tangan Sean. "Ya udah, tinggal ngomong aja nggak usah megang tangan segala! Bisa kan?"
Sean melepaskan kurungan tangannya dari pergelangan milik istrinya. "Kenapa pulangnya sama Agam?"
"Emangnya kenapa?" Rubina bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Sean, malah balik bertanya.
"Kamu sadar dong, Bi. Kamu itu istri Saya, apa kata orang nantinya kalo ngeliat kamu pulang sama cowok laen? Lagian kalo misalkan kamu enggak ada tebengan pas pulang, kenapa nggak ngehubungin saya aja? Saya bakalan dateng kok."
"Aku nggak mau ngerepotin orang."
"Kamu itu ngomong apa sih? Dalam hubungan suami istri tuh nggak ada yang namanya ngerepotin. Tolong ya, Bi, lain kali kalo emang butuh tumpangan langsung hubungi saya aja! Pokoknya jangan sama Agam!"
"Kenapa sih kalo sama Agam?"
"Saya cemburu, Bi!" jujur Sean. Bahkan sejak awal dia melihat Rubina turun dari mobil Agam dia sudah merasakan adanya rasa sakit di bagian dada sebelah kirinya. "Saya harap kamu ngerti maksud saya."
Rubina membuang mukanya ke arah lain dan tertawa. Bersamaan dengan itu kedua tangannya diangkat dan berakhir terlipat di depan dada, "Hahaha, kok aku lucu ya dengar ucapan kamu yang minta aku buat ngertiin kamu?" Mengembalikan fokus kepada wajah suaminya, Rubina melanjutkan, "Kamu aja enggak pernah ngertiin aku. Dari dulu sampai detik ini aja kamu selalu bersikap seenaknya sama aku. Oh ya... sepertinya kamu takut banget kalo aku deket-deket sama Agam. Udahlah, Kamu tenang aja, kamu nggak perlu takut, aku enggak bakal diam-diam nikah siri sama Agam kok. Aku nggak seburuk itu!"
Kali ini Sean membiarkan istrinya untuk masuk ke gedung apartemen. Padahal Sean bisa saja menahan Rubina dengan mengurung pergelengannya seperti tadi, tapi Sean memilih untuk tidak melakukan itu. Saat ini Rubina sedang emosi dan Sean tidak ingin menuang bensin ke dalam kobaran api. Untuk saat ini Sean bahkan masih bisa mengucap syukur lantaran istrinya masih mau tinggal seatap dengannya. Ya, meskipun harus tidur beda kamar yang terpenting Sean masih bisa melihatnya.
NINO turun dari mobil sambil membawa berkas yang sudah dinanti-nantikan Sean sejak tadi. Sean bahkan menunggu selama setengah jam di depan gedung apartemen, dia menunggu sambil memainkan ponsel menggunakan tangan kanannya, sementara tangan kirinya sibuk menepuk-nepuk badannya yang digigit oleh nyamuk. "Nih, Sean, berkasnya."
Sea menyambut berkas pemberian Nino.
"Oh ya, Sean, lo nunggunya udah dari tadi ya?"
"Ho-oh," jawab Sean. “Gue nungguin lo di sini udah setengah jam. Bahkan gue sampe diserang nyamuk tau gak. Gue udah nyoba hubungin nomor lo tapi enggak aktif, takutnya kalo gue tinggal ke apartemen lo malah baru datang.”
"Sorry, bro, hape gue lowbat. Terus gue bisa sampe lama nyampe sini soalnya gue harus ngisi bensin dulu. Sialnya lagi pas di pom bensin antriannya parah banget."
"Oh ya, karena berkasnya udah ada, kenapa lo masih di sini?" tanya Sean.
"Ck... Sialan, jadi Ngusir nih?" sensi Nino. "Mentang-mentang berkas hasil tes DNA-nya udah ditangan, gue malah disuruh balik. Definisi habis manis sepah dibuang."
"Ya bukan gitu, No. Gue nggak ada maksud buat ngusir. Gue nanya kenapa lo masih ada di sini karena sebelumnya pas kita teleponan lo bilangnya lagi buru-buru makanya lo nyuruh gue buat keluar gedung."
"Urusan gue sama sepupu gue batal jadi sekarang gue udah nggak buru-buru."
"Aaahh gitu toh," sambung Sean. Selang beberapa menit setelah itu Sean mulai membuka amplop yang sudah ada di tangan. Dia mengeluarkan secarik kertas yang ada di dalam sana.
Nino bisa melihat adanya ketegangan pada diri sahabatnya saat matanya mulai menjamah kalimat yang terdapat pada secarik kertas itu. Sampai ketika Nino melihat bahwa bola mata milik sahabatnya itu tampak melebar.
"Gimana hasilnya?" tanya Nino kelewat penasaran.
"Lo emang bener, No."
"Maksudnya?" bingung Nino.
"Ternyata Shena emang bukan darah daging gue. DNA nya nggak ada kecocokan sama gue," aku Sean.