
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Itu, Kak eh Dok... anu, tadi," tidak tahu kenapa Rubina tiba-tiba jadi kehilangan kesanggupan dalam mengontrol dirinya. Karena itu dia jadi tergagap. "Jadi begini Dok. Hape saya lagi lowbat makanya saya bangunnya kesiangan. Semalam kakak saya yang ambil charger..."
"Ck... emang bener yah. Menyalahkan orang lain itu sangat gampang,” Sean menggeleng-gelengkan kepala. "Apa salahnya sih buat mengakui kesalahan kamu tanpa melibatkan orang lain," lanjut Sean semakin merasa tidak habis pikir saja dengan pola pikir gadis di hadapannya.
"Maaf Kak, Eh Dok..."
"Maaf bukanlah hal yang saya inginkan. Karena kamu sudah telat datang, jadi kamu akan dapat hukuman," senyum yang diperlihatkan oleh Sean saat itu merupakan senyum yang dapat diartikan sebagai senyum angkuh.
Berbalik ke belakang dia memberikan gestur memanggil kepada salah satu rekannya "Nino," satu kata itu menyusul gerakan tangannya.
"Kenapa Sean?" tanya Nino.
Alisnya berkedut ketika dia sudah berdiri di sisi kiri Sean. Nino menunggu sampai pertanyaannya dijawab.
"Kita kasih hukuman apa ke dia?" tanya Sean. Meski dalam artian yang sedang berbisik namun kenyataannya Rubina bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
Nino pun terdiam berfikir dan membisikan pada telinga Sean. Sekarang Rubina hanya bisa menebak-nebak kira-kira apa yang hendak disampaikan kakak COAS bernama Nino itu kepada si ketua COAS?
Sean menganggukkan kepalanya mengerti. Sepertinya dia setuju dengan kalimat yang disampaikan oleh Nino barusan.
"Ide lo bagus juga. Semoga aja hal itu bisa bikin dia belajar buat mengerti apa itu kata disiplin kedepannya" Sean menyunggingkan senyum yang dapat diartikan sebagai senyum yang sedang meremehkan gadis di hadapannya.
Rubina menyaksikan Kakak COAS bernama Nino memangkas jarak dengan Sean. Dia memetik setangkai bunga mawar yang ada di sekitar. Awalnya dia sempat kewalahan karena dia harus berkutat dengan duri. Kemudian setelah itu Nino kembali mendekat ke Sean. Nino menyerahkan setangkai mawar dari tangannya ke tangan milik Sean. Sean pun dengan sigap menyambut pemberian rekannya itu.
"Karena kamu sudah terlambat di hari pertama Cek Kesehatan dilaksanakan. Alhasil kamu harus menerima hukuman atas kesalahan yang kau buat itu. Ambil bunga ini!" Sean memangkas jarak dengan gerakan maju. Tidak tahu kenapa pompa jantungnya semakin menjadi-jadi saja.
‘Ya Tuhan. Jantung kok dag dig dug gini sih,’ batin Rubina.
Meski perasaan tidak keruan, Rubina tetap maju dan menyambut pemberian Sean.
“Bunga ini buat apa, Dok?”
“Ya,” menyusul satu kata itu Sean menyilangkan tangan di depan dada bidangnya yang dibalut seragam. “Hukuman atas keterlambatan kamu adalah harus menembak salah satu pria yang ada disini!” ada kepuasaan yang dipersembahkan oleh Sean saat hendak mengerjai salah satu murid perempuan di hadapannya. Paling tidak Sean akan kehilangan sedikit kekesalannya akibat dari keterlambatan Rubina. "Kenapa Cuma diam! Ayo cepet!"
Bina mengulurkan tangannya yang menggenggam setangkai mawar itu. Aksinya sontak mendapatkan kernyitan bingung dari Sean.
"Kenapa kamu kembaliin lagi sama saya?"
"Simpelnya, Dokter kan nyuruh saya buat nembak seseorang. Dengan ngasih setangkai bunga ini sama Dokter bukanya udah jelas tujuan saya apa?"
"Maksudnya kamu nembak saya?" Sean menujuk badannya sendiri.
Bukan hanya dari para murid, teman-teman sejawatnya malah lebih heboh lagi. Mereka begitu bersemangat melihat si ketua COAS yang terkenal dengan sikap dinginnya itu ditembak oleh salah satu murid paling bengal di sekolah itu.
“BISA KAMU JELASKAN KENAPA KAMU NGASIH BUNGANYA SAMA SAYA?” Sean menggunakan tatapan setajam mungkin. Berharap gadis di hadapannya untuk berubah pikiran untuk memberikannya bunga. Salahnya juga sih karena sebelumnya dia tidak memberi perintah untuk menembak murid pria seangkatannya saja.
“Apa penjelasan saya sebelumnya masih kurang jelas DOK?” tanya Rubina sembari merapikan poninya yang sedikit berantakan. Tidak seperti di awal, kali ini Rubina seperti kehilangan ketakutannya untuk mengadu dengan mata indah milik si ketua COAS itu. "Ya... Awalnya saya menganggap jatuh cinta pada pandangan pertama itu sangatlah mustahil dan hanya ada di sinetron atau di novel-novel aja. Tapi ternyata jatuh cinta pada pandangan pertama itu beneran nyata. Buktinya saya baru aja merasakannya saat pertama kali kita ketemu."
"What the..." ucap Sean.
Dia ingin mengeluarkan umpatan namun tertahan karena dia menyadari ada murid-murid yang sedang mengarahkan fokus kepadanya. Masalahnya dia adalah ketua COAS dan sebagai seorang dokter seharusnya dia memperlihatkan sikap yang baik dan patut dicontoh. Serbuan kata 'Ciye' semakin tak terbantahkan saja. Malah semakin menjadi-jadi untuk sekarang ini.
"Ayo, Sean. Diterima aja!" seruan dari teman sejawat lainnya semakin membuat kekesalan pada diri Sean semakin terasa saja.
"Saya nggak mau nerima," Sean memberikan jawaban penolakan menggunakan nada suara yang ketus. "Sebaiknya kamu kasih aja bunga itu buat pria lain karena saya nggak akan menerimanya." Sean melanjutkan kalimatnya.
"Ya udah kalau gitu setangkai mawar ini saya simpen saja. Barang kali besok, lusa, atau beberapa tahun ke depan Dokter berubah pikiran. Hidupkan enggak ada yang tahu, Dok. Mana tahu besok Dokter berubah pikiran dan akhirnya ngejar-ngejar saya."
"Kalau mimpi jangan kejauhan. saya nggak akan mungkin bertindak sampai sebegitunya."
“Hidup mana ada yang tahu, Dok. Kita manusia hanya bisa berencana loh sementara Allah yang memutuskan. Di masa depan mungkin kita tidak Cuma pacaran, tapi lebih dari itu kita akan terikat sebagai pasangan suami istri.” Rubina mengatakannya dengan penuh percaya diri. Tak peduli bahwa saat itu dia sedang menjadi focus perhatian orang-orang yang ada disana.
“Najis!”
Kemudian setelah acara pidato itu. Rubina bergegas ke kelas dengan tampang yang nyaris biasa-biasa saja. Dia tidak menyimpan beban meski telah membuat kehebohan sewaktu di lapangan tadi. Beberapa orang yang ditemuinya disepanjang jalan ada yang membicarakan momen tadi. Tapi respon Rubina seolah tidak acuh.
"Bi!" Rubina masih menjejakkan kakinya di sepanjang lorong yang terhubung dengan kelas sewaktu mendengar seruan yang teramat familier. Sewaktu balik badan mengeceknya dia melihat kehadiran kedua sahabatnya, Rara dan Syifa sedang berlari-lari kecil menghampirinya.
“Sumpah ya, nyali lo gede banget sih, Bi,” Rara merupakan orang yang baru saja melantunkan sebuah pujian kepada sahabatnya. Bukan hanya sekadar pujian lewat verbal sih, dia bahkan mengudarakan kedua jempolnya. “Sumpah, gue tuh kayak ngeliat orang berbeda Bi.”
“Bener banget tuh yang diomongin sama Rara,” sambung Syifa dengan heboh.
Dia sama kagetnya dengan Rara melihat keberanian Rubina dalam hal menembak Dokter COAS yang sedang prakter di sekolah mereka bernama Sean.
“Lo kok bisa seberani itu sih?” tanya Syifa. Terlihat Rara menganggukkan kepalanya dengan tempo agak cepat menunggu jawaban tersampaikan dari bibir Rubina.
"Alasan kenapa gue berani ngelakuin itu, ya karena gue punya perasaan lebih sama dia. Dan baru kali ini loh gue ngerasain ‘Love at first sight’. Bayangin aja gue liat banget gimana mata cokelatnya yang bikin gue jatuh cinta."
"Iya sih, dia emang ganteng, Syifa aja pas pertama kali ketemu langsung heboh... tapi sikapnya itu loh iihh males banget bikin ilfeel.” Rara menjelaskan, sementara Syifa hanya mengangguk membenarkan.
“Kayaknya dia blasteran gitu deh, kayak punya darah turki gitu." Jelas Syifa antusias.
“Ck... sok tau lo! Awas ya Fa, cowok itu punya gue! Gue yang bakal ngejar dia! Jangan sampe kita saingan gegara cowok, ya!” tegas Rubina mengingatkan sahabatnya itu sembari menatap sahabatnya satu persatu. Tatapannya kala itu sangatlah intens.
“Iya-iya, lagian gue juga ga suka kok sama kelakuannya, dingin abis! Gue sukanya yang lembut dan penyayang!” ucapnya menenangkan Rubina disertai dengan anggukan tegas yang dilakukan oleh Rara.