I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 40 Kisah Hans



Braaakkk!!!


Suara pintu seperti dibuka dengan kasar.


Nadin yang terkejut dengan suara pintu keras dibanting pun seketika membuka matanya disana sambil melihat ke sekitar dengan mengerutkan kedua halisnya merasa pusing. Disana Nadin tidak bisa melihat dengan jelas terlihat sedikit rabun apalagi lampu hanya dinyalakan diatas kepalanya saja, sehingga saat ada orang yang datang berjalan ke arahnya hanya terlihat sebuah siluet hitam.


Saat ini Nadin sedang duduk di sebuah kursi kayu dengan tangan diikat menyatu dengan badan dan sandaran kursi kayu itu dan mulutnya di lakban dengan lakban hitam.



ya... kira-kira kayak gini ya guys hihi... just contoh aja...


"How do you feel baby..." ucap suara berat dan sudah dipastikan dia seorang lelaki. dan tangan laki-laki itu mengelus wajah Nadin.


Nadin pun memalingkan wajahnya berusaha menghindari tangan si pria tersebut sambil menangis dan badanny bergetar hebat karena takut apalagi perutnya makin terasa sakit.


Sreeekkk!


"Aaakkhh..." teriak Nadin saat lakban yang menutupi bibirnya dibuka paksa.


"Apa mau kamu?! siapa kamu?!"


"Siapa saya tidaklah penting, saya cuma alat untuk menghancurkanmu dan Membuat Hans menderita!"


Buuukkk!!!


"Akkhhh... Ukkhhuukk... ukkhhhukkk" sekali lagi teriakan Nadin dan batuk karena pukulannya pria itu membuat matanya berkunang juga perut yang dipukul oleh pria itu kini terasa kebas, dia seperti tidak merasakan sakit lagi, darah keluar dan mengalir ke kedua kakinya. nafas Nadin pun tidak teratur.


"No.. bayi...ku... bayi...ku... Kamu... mem..bunuh bayi...ku" ucap Nadin sudah tau kalau bayinya sudah tidak selamat karena pukulan tadi dan darah yang mengalir di kedua kakinya masih menangis dengan pilu.


"Memang itu tujuan saya! Menghancurkan Hans juga dirimu..."


"Si...apa yang me..nyuruh..mu?"


"Siapa lagi kalau bukan aku..." ucap seorang perempuan dengan lirih, Nadin pun berusaha mengangkat kepalanya melihat ke arah suara itu masih dengan siluet hitam, napas Nadin semakin lemah dan berat karena darah di bawah kakinya juga masih mengalir.


Dan tampaklah sesosok seorang wanita yang sangat Nadin kenali. dengan samar Nadin mengetahui sosok yang ada di depannya itu apalagi suaranya.


"A...Aquila?!"



"Yes, it's me Nadin..."


"Tapi... kenapa?"


"Kerena udah jelas-jelas kamu tau kalo aku suka sama Kak Hans, tapi kamu malah kegirangan bisa baikan lagi sama Kak Hans, apalagi tau kamu lagi hamil anaknya Kak Hans... aku benci sama kamu Nadin!"


"Ja..di... se...mua yang ka..mu la...kukan se..lama ini sa...ma aku cu...ma sa..ndiwara?" mengatur napasnya agar tidak tetap sadar.


"Absolutely yes!" ucap Aquila tersenyum kearah Nadin. "Ya... tapi aku seneng banget deh liat kamu kayak gini, apalagi anak kamu nggak selamat!" ucapnya sambil meremas perut Nadin.


"Aakkhh..." Gumam Nadin masih meringis.


"Kamu harus ngerasain gimana ada di posisi Kak Azura dulu... Kak Azura dulu selalu dalam bahaya ketika berada di sisinya Kak Hans..." Aquila mengangkat tanganya meminta sesuatu dari pria yang berada di belakangnya. Lalu pria itu pun meletakkan sebuah pisau lipat di tangan Aquila.


Saat Aquila menyayat pipi Nadin, Nadin yang merasa perih hanya bisa menahan sakitnya kesadarannya pun sedikit demi sedikit mulai menghilang.


"Boss udah pingsan kayaknya..."


"Boss... yakin?!" tanpa menjawab pria itu Aquila langsung mengiris bawah perut Nadin berbentuk vertikal. Keadaan Nadin diabsudah tidaknsadarkan diri makanya tidak ada perlawanan ataupun reaksi apapun darinya.


Tak lama si pria menerima informasi dari anak buahnya.


"Boss! kita harus pergi dari sini! Hans dan anak buahnya dalam perjalanan menuju ke sini!" ucap Pria itu melihat kedua tangan Aquila yang penuh dengan darah, dan dilihatnya kondisi Nadin sangat mengenaskan, perut terbuka disayat oleh Aquila dengan pipi Nadin yang juga ikut disayat olehnya.


Shitt!! amarah cewek emang lebih-lebih dari cowok!


Aquila pun berdiri dan menjauh dari tubuh Nadin berjalan melewati pria itu.


"Banyakin anak buah, suruh mereka jaga di sini, kalau Hans dan pasukannya habisi mereka! kecuali Hans, bawa dia ke hadapanku hidup-hidup!"


"Baik, Boss!"


***


Sementara itu...


"Iya Boss, saya lagi dalam perjalanan menuju titik lokasi..." ucap Hans menjawab teleponnya di dalam mobil.


"Hans... lo harus yakin, Nadin pasti akan baik-baik aja! dia kuat..." ucap Danniel di seberang telepon.


"Iya Boss!" ucap Hans terdiam semua berkecambuk di dalam pikiran dan hatinya.


"Boss... sebentar lagi kita sampai!"


Hans pun mengangguk lalu mengeluarkan pistol dari tempat penyimpanannya mengecek pelururu dan menyiapkan beberapa granat apabila diperlukan.


Dany yang memperhatikan Hans dari lca spion depan hanya menggelengkn kepala melihat Hans di bangku belakangnya.


Huuhhh... Baru liat lagi Boss Hans seserius dan sepanik ini... terakhir dia seperti ini waktu kejadian yang menimpa Nona Azura. Ya.... itu berarti Boss Hans sudah mulai mencintai Nyonya Nadin... kenapa boss Hans nggak bilang aja sih sama Nyonya? Nanti kalo terlambat baru aja nyesel.. hmm.. Boss... Boss...


Lima mobil berhenti di depan gedung tidak terpakai.



Beberapa anak buah Hans keluar dan berlindung di mobil sambil memeriksa situasi yang ada disana.


Saat Hans dan Dany keluar dari mobilnya sebuah tembakan mengarah kearah Hans dan juga Dany tapi meeaet malah kena ke mobil mereka.


Hans dan Dany pun segera berlindung sementara anak buah Hans oun ikut menembak ke arah tembakan tadi, dan baku tembak pun tidak bisa di hindari.


Dany memberi kode pada anak buahnya untuk mengikuti strateginya yaitu tiga orang anak buahnya juga mereka berdua masuk ke dalam gudang itu sementara siaanya berada di luar melindungi Hans dan yang lainnya yang imut masuk ke dalam gudang.


Tak lama Hans dan juga yang lainnya berlari dengan membukukkan badannya menghindari tembakan yang mengarah ke arahnya.


Sesekali Hans membalas menembaki musuh yang terlihat olehnya. Mereka pun berdiri di samping luar gedung sambil menghindari tembakan yang sengaja mengarah ke arah mereka terutama Hans.


"Kalian disini saja, lindungi saya, saya yang akan masuk!"


"Tapi Boss, takutnya di dalam..."


"Saya bisa ngatasinnya, Dan. Saya harus cepat ke dalam melihat Nadin."


"Saya ikut Boss! kalian disini lindungi kami!" ucap Dany pada anak buahnya.


"Baik Boss!" anak buahnya mengangguk langsung besiap untuk melindungi dan mengarahkan pistol mereka ke arah musuh yang hendak menembak Hans.