
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Tenaga Rubina banyak terkuras karena lari. Karena ingin mengistirahatkan tubuhnya, dia pun berkata,
“Tunggu bentar!” katanya dengan deru napas memburu. Sean melepaskan cekalan tangannya sambil berhenti berlari.
“Kenapa lagi?! Ayo lah sekarang bukan waktu yang tepat buat berenti di sini.”
Guk... Guk... Guk...
Suara anjing membuyarkan lamunan Rubina. Gadis itu terhenyak dan terkesiap dalam diamnya. Bayangan keindahan yang sedari tadi terlukis di dalam imajinasi seketika jadi runtuh. Tergantikan oleh kepanikan. Menoleh ke belakang dia melihat anjing yang mengejarnya semakin memangkas jarak.
"Sean Anjing!"
"Heh! Kamu lagi ngumpatin saya lagi?"
"Bukan. Maksud aku anjingnya makin deket!"
"Ya emang dari tadi juga emang begitu. Emangnya kamu pikir dari tadi kita lagi dikejar sama genderuwo?"
Rubina yang terlalu takut membayangkan seekor anjing akan menggigitnya pun lantas mengenyampingkan kenyataan bahwa dia tidak terlalu handal dalam urusan berlalu. Mungkin alam bawah sadar yang membuatnya berlari dengan kencang-sampai bikin Sean cengo selama beberapa detik,
"Ck...Katanya gak handal dalam urusan lari, tapi pas denger suara gonggongan anjing aja udah lari duluan. Malah gak pamit dulu lagi sama gue," gumam Sean sebelum dia ikut berlari menyusul Rubina yang perlahan makin menjauh.
Beberapa saat kemudian Sean menoleh ke belakang. Dia benar-benar bersyukur saat itu lantaran anjing yang mengejarnya sudah tidak terlihat. Dengan napas tersengal-sengal pria itu menyenderkan punggung lelahnya di pohon.
“Anjing sialan!” ucapnya kesal setelah pakaiannya dibuat basah oleh peluh setelah berlari jauh.
Guk!
“Anjing lo!” latah Sean yang malah ditimpali tawa puas oleh Rubina. Kejahilan Rubina menirukan suara anjing sukses membuat Sean terpelonjak kaget.
“Ck, Apaan sih, kamu pikir lucu ngagetin orang kayak gitu?" lanjut Sean merutuki. Sampai detik ini saja dia masih merasakan debaran yang berporos di bagian dada sebelah kirinya setelah Rubina mengagetkannya dengan menirukan suara anjing.
"Maaf."
"Aaahhh, kamu! katanya kamu nggak handal dalam hal lari. Tapi aku liat kamu lari cepet banget. Apa kamu cuma pura-pura buat dapetin perhatian dari aku?" Tanya Sean namun tersirat sedang memberikan tuduhan.
"Aku nggak bohong kok. Aku emang nggak pandai dalam urusan lari. Waktu sekolah aja aku sering bolos pas jam olahraga saking nggak suka lari. Yang tadi itu cuma bentuk spontan aja. Aku beneran takut digigit anjing, ya maybe karena alasan itu yang bikin aku lari kencang melewati ambang batas kewajaran. Tapi jujur aku seneng sih soalnya tadi kamu megang tangan aku," Rubina menjeda kalimatnya, saat itu dia sedang mengulum bibir berusaha menghalangi bibirnya untuk melukis senyum.
"Hah?!" hampir saja ada adegan Sean tersedak. Untung dia dengan sigap meneguk salivanya sebelum itu terjadi. "Kapan saya megang tangan kamu?" Sean benar-benar lupa makanya dia bertanya.
"Pas tadi Kamu narik tangan aku buat ikut lari sama kamu," jelas Rubina.
Sekarang Sean sudah paham. Tapi sumpah, Sean melakukan itu sebagai bentuk refleks saja saat seekor anjing tadi semakin mendekat. Namun Rubina sepertinya salah menafsirkan kebaikannya itu. Rubina malah menganggap bahwa adegan skin ship tadi merupakan bagian dari adanya sebuah perasaan.
"Gimana bisa kamu nganggep adegan pegangan tadi itu sebagai bagian dari perasaan suka saya sama kamu? Yang benar saja?" Sean terkekeh singkat. Sangat tidak masuk akal mengetahui Rubina berpikir bahwa Sean memiliki perasaan lebih terhadapnya hanya karena hal sesederhana menyentuh tangan.
"Terus kenapa kamu gandeng tangan aku. Padahal kamu bisa saja langsung pergi ninggalin aku sendirian di sana. Tapi yang kamu lakuin malah nunggu aku sambil genggam tangan aku. Mungkin kamu nggak sadar kalo hal-hal sesederhana itu sebenarnya awal mula di mana kamu mulai narub perasaan sama aku."
"Teori dari mana tuh? Terus kalau misalkan besok-besok kamu naik ojek terus pas bayar tangan kamu nyentuh tangan tukang ojeknya apa hal itu artinya kamu suka sama dia?" Tanya Sean. Setelah kebungkaman terjadi mendadak saja Sean membuka kembali sisi bibirnya yang terkatup saat melihat Rubina sedang tersenyum. "Kenapa kau Senyum-senyum kayak gitu?"
"Nggak apa-apa kok. Aku cuma seneng aja karena hari ini aku punya momen bisa berduaan sama kamu. Ya, meskipun momennya cukup memacu adrenalin tapi aku suka. Selama itu sama kamu, maka aku pasti akan merasakan kebahagiaan. Oh ya, tunggu di sini bentar ya," tanpa mengatakan ke mana tujuannya akan pergi, gadis berambut dikucir itu balik badan dan pergi.
Sean memutuskan untuk mengambil earpods-nya dari saku. Dengan benda itu dia menyumpal kedua telinganya. Alunan musik lembut diterima dan membuatnya memejam selama beberapa saat. Sekitar lima lagu dia habiskan sebelum perasaan kesal lagi-lagi diterimanya.
Akhirnya kedua earpods-nya dilepaskan dan dikembalikan ke dalam saku. ‘Ck...Dia ke mana sih? Apa gue tinggalin aja kali ya?’ pikir Sean, namun pada akhirnya pria itu urung mengambil ancang-ancang meninggalkan tempat itu. Baru saja dia menemukan Rubina sedang mendekat ke arahnya dengan berlari-lari kecil.
"Sorry, lama ya. Soalnya banyak yang antri di kasir," aku Rubina setelah jaraknya kurang dari dua meter lagi dengan Sean. Efek berlari dari minimarket membuatnya mengatur hela napasnya.
"nih buat kamu," kata Rubina sambil mengulurkan tangannya yang menggenggam air mineral. "nih, diambil aja! nggak aku kasih racun kok," sambung Rubina berseloroh lantaran Sean yang sepertinya ragu-ragu menyambut air minum pemberiannya.
Sean menyambut botol pemberian Rubina. Tanpa ucapan terima kasih pria itu balik badan.
"Tunggu bentar!" cegat Rubina.
"Apa lagi?"
"Thank you for the date today!" senyum hangat terlukis sebagai pemanis di wajah Rubina.
"maksudnya kencan apa sih?" respon Sean cepat, bingung.
"Aku pikir hari ini kita lagi kencan."
"Ck.. Ya terserah kamu aja," dingin Sean disusul oleh langkah cepat meninggalkan tempat itu menyisakan Rubina yang semakin mengembangkan senyumannya memperhatikan pria itu sedang menjauhinya.
***
nih satu lagi bonusnya...