I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 42 Kisah Hans



...Ost. Remenissions Acoustic Guitar Cover Avenged Sevenfold...


Ya... sebelum Hans bergabung dengan Danniel Henney kehidupan Hans gelapnya dan kebrengsekannya itu, dibaliknya pria itulah yang mengendalikannya. Tapi semenjak Hans bergabung dengan Danniel kehidupan Hans mulai lebih berwarna, lebih berarti, karena didekat Danniel Hans tau apa artinya kasih sayang dan cinta. dengan Danniel pula Hans tau artinya persahabatan dan saling menghargai sesama manusia.


"Kenapa?"


"Ya... aku yang sudah membunuh anak kalian, tadinya aku cuma pengen kamu saja yang jadi targetku... tapi ada seorang gadis yang meminta pertolonganku... katanya dia adalah adik dari Azura... Hah... Dunia memang sempit ya Hans!" berdiri dan berjalan ke arah Hans sambil tersenyum.


"Dulu kakaknya aku tembak, lalu sekarang adiknya akan kamu bunuh, iya kan, Hans... Hahahaha... dunia memang lucu ya Hans!"


"Dibawah Danniel kamu telah menjadi orang yang menyedihkan seperti ini?! kamu menjadi lemah karena hanya seorang wanita, Hans."


"Kak, kadang ada kalanya orang tidak selalu berada di atas, tidak selalu orang kuat tanpa kehadiran seseorang. Kakak tau... selama ini dan sejak dulu meskipun saya kuat, meskipun kita selalu ditakuti oleh semua orang dan selalu berada di atas, tapi saya merasa ada yang kurang ada yang kosong dan saya sadar itu bukan jalan hidup yang saya cari."


"Lalu apa sekarang kehidupanmu sempurna? dengan melemahnya kekuatanmu, ketidakberdayaanmu saat dihadapkan dengan seseorang yang kamu sayang berada diujung kehidupannya? Ini kedua kalinya kamu seperti ini Hans! saya yang membunuh Azura agar kamu bisa kembali dan bergabung lagi bersama kami, tapi saat aku menuggu kedatanganmu aku malah mendengar kamu menikahi gadis yang kamu sendiri tidak mencintainya seperti cintamu terhadap Azura, dan itu semakin membuat saya ingin membunuhmu, Hans."


Sreeekkk...


"Mmhhhmm" Gumam Hans saat pisau yang baru saja dikeluarkan oleh pria itu menusuk perut Hans. Darah pun keluar dari perut dan juga mulutnya. "Uukkhhuukkkk" Hans terbatuk lalu mengatur napasnya karena tindakan pria itu. Saat pria itu mencabut pisaunya dari perut Hans, Hans pun langsung menekan perutnya supaya darah tidak terlalu keluar banyak dari bekas tusukan itu. Dan tentu saja lagi-lagi Hans tidak akan membalas perlakuan orang yang sudah dianggap sebagai kakaknya itu, karena Hans sangat menghormatinya. Dia adalah orang pertama yang mau berada di samping Hans.


"Kenapa kamu diam Hans? kamu tidak akan melawanku, Hah?! Semua anak buahku sadah kamu taklukan, sekarang hanya tinggal aku..."


"Kak... mari kita sudahi permusuhan kita..."


"Hah... menyudahi? kau gila Hans! kamu tau kan, menyudahi artinya kamu yang membunuhku atau aku yang membunuhmu! Aaahhh dan satu lagi, yang menyayat perut istrimu bukan saya tapi Aquila... dia tidak ingin istrimu mengandung anakmu lagi selamanya... dan kamu bisa temukan dia di apartmentnya atau, mungkin tidak karena kamu akan mati disini!" Hans melihat kearah kening pria itu ada sebuah laser merah, yang artinya anak buahnya sudah menargetkannya dan bersiap untuk menembaknya. Hans pun menghalangi bidikan anak buahnya itu.


"Kak... saya sangat menghormatimu dan membiarkanmu selama ini, sekalipun saya tau kamu yang membunuh Azura... jadi mari kita lupakan masa lalu, dan menjalani kehidupan kita masing-masing tanpa berselisih lagi!"


"Hahaha... jawabanku tetap tidak Hans! aku yang mati atau kamu yang mati sekarang!" ucap pria itu sambil menodongkan pistol ke arah kepala Hans.


Hans pun memejamkan matanya sambil menggeserkan tubuhnya agar laser bidikan anak buahnya mengarah ke kepala Pria itu lagi. Hans dengan pasrah membiarkan anak buahnya untuk menembak.


Ya... tidak ada lagi yang bisa saya bicarakan dengan Kak Al, dia sudah bertekad bulat untuk mati hari ini ditangan saya... baiklah kalau ini yang kakak inginkan.


"Goodbye Hans... selamat tinggal di neraka!" ucap Pria itu sambil tersenyum dan mengarahkan pelatuknya kesamping kepala Hans. Hans yang sadar akan arah senjata Pria itu yang tidak mengarah ke arahnya terkejut. Artinya pria itu memang tidak berniat untuk menembak ke arah Hans.


"No... Kak!"


Dorrr...


Dan dengan sekali tembakan mengarah tepat ke keningnya pria itu langsung tumbang. Hans lagi-lagi menangis melihat orang yang di sayanginya mati di depan matanya. Badan Hans langsung berlutut lemas. dia mengenang kembali masa-masa dimana mereka bersama dalam kehidupan kelam mereka. saat mereka tertawa bersama, bertarung melawan musuh mereka bersama-sama bahkan sampai saat Pria itu menembaki Azura tepat didepan mata Hans sendiri.


Beberapa menit kemudian para anak buahnya yang dari tadi terdiam di luar karena Hans menyuruhnya untuk tetap berada di luar masuk melihat Hans yang saat ini sedang rapuh.


"Boss--" ucap salah satu anak buahnya terhenti ketika melihat tangan Hans yang diangkat seakan berkata 'beri saya waktu'


lalu anak buah itu pun berbalik dan menyuruh yang lainnya untuk kembali dan standby di mobil mereka masing-masing.


***



Aquila duduk di tempat favoritnya di ruang kerjanya. Niat awalnya dia akan langsung pergi dari negara ini kembali lagi ke negara kedua orang tuanya, tapi saat dia tau kalau orang yang diajak kerja samanya telah mati ditangan Hans dan sudah dipastikan sebentar lagi Hans akan datang ke apartment nya.


Aquila pun tersenyum saat tau Hans membela Nadin sampai habis-habisan, sampai Hans membunuh semua orang yang bekerjasama dengannya termasuk ketuanya. Itu yang dikatakan orang kepercayaan Aquila tadi sesaat Aquila akan pergi. Dan disinilah dia sekarang menunggu Hans untuk berbicara dengannya.


**


Terdengar suara kunci pintu otomatis di buka. Aquila tersenyum mendengar kunci Apartmentnya di buka. karena password kunci Apartment Aquila adalah tanggal lahir Azura yang artinya Hans masih ingat tanggal ulang tahun kakaknya.


Brakk!


"Hai, Kak..." ucaonya tersenyum sambil menghadirkan senyumnya ke arah Hans.


"Please don't call me Kakak, Quil!"


"Why?!"


"Kamu masih bertanya alasannya?! Orang yang ada di luar menjaga pintu Apartment kamu itu... dia yang mengirim surat cerai saya ke Nadin, dan kamu memanfaatkan saya saat saya mabuk untuk menandatangani surat cerai itu kan?! dan kamu juga yang setiap hari memberikan Nadin obat penggugur kandungan kan? Dan yang paling saya tidak termaafkan adalah kamu membunuh bayi kami..." ucap Hans dengan mata merahnya.


"Kak... apa Kakak nggak inget saat Kakak mabuk? Kakak itu nidurin aku!" Hans tersenyum tidak habis pikir dengan alasan konyol Aquila.


"Kamu pikir saya tidak sadar? Saya berani bersumpah atas nama Azura kalau saya tidak meniduri kamu Quil. Saya masih menghormati kakak kamu Quil, kalau saja kamu bukan Adik Azura sudah saya bunuh kamu dari kemarin..." ucap Hans dengan menahan amarahnya.


"Trus ini apa? ini bukti kalau aku hamil anak kamu Kak..." ucap Aquila memberikan hasil USG atas namanya.


"Mau tes DNA? kalau benar ini anak saya, saya akan mengurusnya, tapi kalau bukan anak saya kamu akan tau akibatnya Quil..." Aquila lun hanya menghela napas.


"Ya sudah kalau tidak mau ngakuin, toh aku juga nggak maksa Kak Hans buat tanggung jawab kok!"


"Quil saya mohon, jangan sampai saya lepas kendali dan tidak sadar melukaimu.."


"Oh.. Kakak mau bunuh aku?! Silahkan..." ucap Aquila sambil meletakkan sebuah pistol dan juga pisau di atas meja depan Hans.


"Aquila?!" teriak Hans sudah habis kesabarannya!


"Apa itu hadiah dari Pria itu sebelum dia mati?!" cibir Aquila saat melihat luka bekas tusukan di perut Hans yang masih menganga.


"Kenapa kamu melakukan semua ini?! kamu tau, dia yang membunuh Kakakmu Azura..." Aquila terdiam kaget.


"Apa?!"


"Ya... dia, orang yang kamu ajak kerjasama untuk menculik dan membunuh bayi saya dan Nadin! dia yang telah membunuh Azura..."


"Nggak mungkin... Kakak pasti bohong kan?"


"Apa kamu pernah lihat saya berbohong? apalagi masalah kematian kakak kamu?!"


"Hahaha... Aaaaakkkkkkkhhhh!!!! nggak mungkin.. nggak mungkin... kamu kan bunuh Kak Azura?!" teriak Aquila mulai histeris. Sepertinya otaknya mulai bermasalah. Hans pun langsung memeluk Aquila.


"Quil, saya mohon kamu akui semuanya di kantor polisi ya... saya nggak mau kamu jadi seperti pria itu..."


"Nggak... nggak mau! demi apapun aku nggak rela Kakak bersama Nadin... kalau Kakak nggak bisa aku milikin lebih baik Kakak bunuh aku aja, Kak..." ucaonya sambil mengambil pisau yang betada di atas meja tadi lalu hendak menusukannya ke perutnya tapi ditahan oleh Hans.


"Quil kamu gila!"


"Iya aku gila, aku gila karena aku udah jatuh cinta sama Kakak, aku nggak bisa biarin Kakak bersama dengan Nadin, Kak..."


Sreeeekkk!


"Aaaakkkkhh!!" teriak Aquila yang masih berada di pelukan Hans.


darah pun mulai menetes ke lantai.


Hayooooo... siapa yang kena tusuk???


Aquilakah? apa..... Hans???


duuhhh jangan sampe deh ya...