
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Terus gimana nih By, boleh kan aku beli camilan banyak-banyak?"
"Seperti kata saya barusan, kamu boleh beli camilan seberapa banyak pun yang kamu mau.”
Rubina tersenyum puas. Segera dia melangkah kakinya pergi untuk mengambil keranjang untuk diisinya dengan berbagai camilan. Sementara Sean masih di tempat yang sama memilih alat cukur. Sean menghabiskan waktu sekitar lima menit sebelum mengambil keputusan memilih salah satu. Karena alat cukur menjadi satu-satunya alat yang hendak dia beli sehingga setelah itu dia lantas menghampiri Rubina.
"Udah milih camilannya?" tanya Sean. Sekilas dia memperhatikan isi keranjang milik Rubina yang hampir penuh dengan berbagai jenis camilan.
"Dikit lagi By."
Sean merogoh sakunya. Dompet kulitnya yang baru saja diambil dari dalam saku segera diberikan ke Rubina. "Karena kamu masih lama milih camilannya mendingan kamu aja yang bayar, nih dompet saya," sementara tangan kanannya masih mengudara menunggu Rubina menyambut barang pemberiannya, tangan kirinya juga ikut terulur memasukkan alat cukur yang hendak dia beli pada keranjang yang Rubina bawa.
"Trus kamu mau ke mana, By? Jangan pulang duluan ya!!!" Rubina enggan menyambut dompet pemberian Sean karena dia setakut itu ditinggal oleh suaminya pulang duluan.
"Saya akan tunggu di luar sambil main hape."
"Oh Okay," Rubina menyambut dompet Sean, "Tapi awas aja yah kalo kamu sampe ninggalin aku, aku bakalan cepuin kamu ke Ibu. Biarin aja kamu telinganya kena jewer."
"Nggak usah lebay deh. saya bakalan nunggu kamu di luar!" janji.
Setelah selesai berbelanja di minimarket. Mereka pun kembali ke apartemen. Terlihat Sean meminta kresek yang dibawa oleh Rubina setelah dia mendudukkan tubuhnya pada sofa di ruang tamu apartemen. "Belinya banyak banget. Emangnya kamu sanggup ngabisinnya sekaligus?" tanya Sean ketika dia mengambil alih kresek yang lumayan berat itu dari tangan Rubina.
"Ya nggak sekaligus juga dong, By."
"Saya pikir kamu bakalan ngabisinnya sekaligus."
"Kalo aku ngabisin camilan ini nanti yang ada berat badan aku malah nambah."
"Emang apa masalahnya kalo berat badan kamu nambah?"
"Jujur, kalo aku sih nggak ada masalah kalo berat badan aku nambah. Justru aku takutnya kamu yang bakal risih sama kenyataan itu."
“Lah kenapa malah saya yang risih? Kan berat badan kamu yang bertambah."
"Justru karena berat badan aku yang bertambah aku takutnya kamu bakalan malu jalan sama aku. Sama satu lagi, aku takut karena berat badanku yang bertambah akan menghambat waktu kamu buat naro perasaan lebih sama aku."
Sean tidak menjawab yang Rubina katakan karena topik pembicaraannya sudah merujuk kepada masalah perasaan. Sean hanya fokus kepada kresek setidaknya untuk saat ini. Sean menumpahkan isi kresek itu ke meja karena terlalu malas untuk mencari alat cukurnya dari tumpukan camilan.
"Tunggu bentar!" tangan kanan Sean urung menyambut alat cukurnya. Sean malah mengambil salah satu kotak kecil yang ada di antara camilan.
"Kenapa, By?" bingung Rubina melihat Sean yang memperhatikan kotak di tangannya dengan pandangan lekat.
"Kamu yang beli ini?" kali ini Sean bertanya yang kemudian disusul oleh gerakan kepala mendongak mengadu matanya dengan Rubina yang masih enggan untuk duduk.
Rubina manggut-manggut mengiyakan pertanyaan yang diajukan padanya.
"Kenapa beli benda ini?" tanya Sean lagi.
"Ya buat dimakan, By."
"Dimakan?" Sean menampilkan lipatan-lipatan kecil di bagian dahinya. ‘Apa dia sudah gila?' pikir Sean atas jawaban yang diberikan oleh Rubina. "Kamu beneran emnggak tau atau kamu sebenaranya cuma pura-pura nggak tau?"
"Maksud kamu apa sih? Aku nggak ngerti deh."
"Kau tau ini apa?" sambil memperlihatkan kotak di tangannya. Namun respon Rubina masih sama, gadis itu masih bingung.
"Ini kan permen, By," jawab Rubina.
"Permen dari mananya? Ini tuh alat kontrasepsi," Sean langsung menjelaskan.
"Alat kontrasepsi?" ulang Rubina dengan muka yang didominasi oleh perpaduan antara rasa kaget dan cemas. "Maksudnya ini alat yang dipakek pasangan buat bercocok tanam?" ucap Rubina.
"Kamu pura-pura nggak tau kan?" tuduh Sean.
"Sumpah By. Aku pikir itu permen."
"Yakin kamu beneran nggak tau kalo ini permen?" satu alis Sean terangkat. Dari caranya menatap dengan pandangan meredup bisa disimpulkan kalau seandainya pria itu sedang menaruh curiga kepada Rubina. Dipikirnya Rubina sedang membohonginya.
Sebelumnya saat di minimarket Rubina hanya memperhatikan sekilas dan langsung memasukkannya ke keranjang. Dia benar-benar tidak memeriksa secara detail kalau kotak itu berisi alat kontrasepsi bukannya permen.
“Eh iya astaga ini beneran pengaman buat anu.”
"Emangnya kamu enggak baca apa?"
"Aku baca yang rasanya aja, makanya aku pikir ini permen. Lagian kenapa sih By alat kontrasepsi pake rasa-rasa buah segala? Kan yang beli jadi auto bingung."
"Ya mana saya tahu. Kan bukan saha yang bikin.”
"Kita coba yuk By," canda Rubina.
"Bina!" tegur Sean.
"Bercanda By, hehehe," jawab Rubina cepat sambil dia menyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya.
***
"MASIH PAGI UDAH DISAMBUT PEMANDANGAN YANG INDAH SAJA!" Rubina meloloskan kalimat seperti itu dari bibirnya setibanya dia di dapur. Tadinya dia hendak mengambil air minum untuk melegakan dahaganya namun siapa sangka dia malah melihat pemandangan yang sangat indah dan sayang untuk dilewatkan.
Rubina memilih duduk pada kursi di meja makan. Jangan ditanya lagi, matanya sedang fokus kepada suaminya yang sedang berdiri menyiapkan sarapan. "Bahkan dari belakang saja kamu keliatan ganteng banget. By the way ini bukan gombal loh, ya, By. Aku serius bilang ini.”
"Dari pada kamu berceloteh dan mengganggu konsentrasi saya yang lagi nyiapin sarapan. Ada baiknya kamu bantu saya biar kesannya kamu punya kontribusi dalam rumah tangga ini."
"Kamu perlu bantuan aku? Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau urusan masak akan menjadi urusan kamu By, sementara aku akan fokus mengerjakan urusan kebersihan apartemen aja?"
Sean masih fokus pada aktivitasnya saat berkata, "Urusan kebersihan gimana? Ngepel aja kudu diajarin dulu. Ya kan sama aja kalo saya juga yang ngambil alih tugas ngebersiin apartemen." Sean menyertakan gelengan kepala.
Rubina bangkit. Menghampiri Sean. "Aku harus bantu apa By?" tanya Rubina menawarkan dirinya untuk berpartisipasi dalam menyiapkan makanan untuk sarapan.
"Itu ada wortel sama kentang di baskom. Semuanya udah saya cuci. Kamu tinggal ambil talenan dan potong-potong dadu. Bisa kan?"
"Bisa."
"Yakin bisa? Kalo nggak bisa nanti biar saya aja yang ngerjain."
"Bisa kok. Cuma dipotong-potong doang kan ya?"
"Tapi sebelum dipotong bentuk dadu, kulitnya jangan lupa dikupas dulu yah!" peringat Sean.
Takutnya Rubina langsung memotong dadu tanpa mengupas kulitnya lebih dulu. Apalagi kan Rubina tidak tahu masak. Makanya Sean memberikan sedikit arahan.
"Sekarang ambil talenan dan pisau. Supaya setelah saya ngerjain masak udang tepung ini saya bisa langsung masak supnya!"
Rubina menganggukkan kepalanya pelan-pelan. Lalu dia melangkahkan kakinya mengambil talenan serta pisau. Sejak kapan kamu jago dalam urusan masak?" sambil dia mempersiapkan peralatan untuk memotong bahan makanan yang akan dijadikan sup, Rubina turut serta mengajukan sebuah pertanyaan untuk mengisi keheningan di ruangan itu.
"Udah lama banget." Sean menjawab.
"By pertama kali masak langsung jago?" penasaran Rubina.
“Ya nggaklah, namanya belajar sesuatu mah pasti butuh yang namanya sebuah proses. Mustahil kalo semuanya dimulai tanpa adanya keribetan di awal. Dulu juga saya pernah ada di posisi di mana saya menganggap masak itu sebagai sesuatu yang ribet. Tapi karena udah kebiasaan akhirnya sekarang bisa, ya meskipun nggak jago-jago banget tapi buat makanan sederhana bisalah untuk saya hidangin."
"Tapi kok kamu bisa sih kepikiran buat belajar masak By?" tanya Rubina penasaran.
"Saya juga awalnya nggak kepikiran buat masak. Tapi kan yang namanya mahasiswa mau nggak mau kudu mandiri. Ya.. mungkin kamu nggak ngerasain itu soalnya kamu kan kuliah tapi tinggalnya masih sama orangtua kamu. Kalo saya beda, sebelum Ayah sama Ibu pindah kan mereka dulunya tinggal di luar kota. Makanya pas kuliah saya ngekos. Karena ngekos, saya jadi nggak ada alasan buat nggak belajar masak.”
"Berarti ada kemungkinan suatu hari nanti aku bisa masak dong, By? Soalnya kata kamu semuanya butuh proses.”
"Selama kamu berusaha buat belajar sih pasti bakalan bisa. Prinsip saya tuh nggak ada yang mustahil. Kalo kita berusaha pasti kita bakalan dapat apa yang kita mau."
"Berarti ada kemungkinan juga suatu hari nanti kamu juga bakalan punya perasaan sama aku?" tanya Rubina mengalihkan topik yang sebelumnya fokus kepada hal masak, "Kan kata kamu siapa yang berusaha pasti bakalan dapat apa yang kita mau." Sean diam.
"Awww."
Suara ringisan menguasai keheningan yang terjadi di ruangan setelah sebelumnya Dean memilih membungkam. “Hah, Kenapa Bi?" tanya Sean.
"Aku nggak sengaja ngiris tangan aku." Rubina melihat jari telunjuk tangan kirinya yang telah dialiri oleh darah segar setelah tidak sengaja mengirisnya. Rasa perih langsung bersarang di sana. Tanpa pikir panjang Rubina langsung mengulum jarinya itu seperti yang memang sering dilakukannya tiap kali jari tangannya terluka.