
"Nad... kok bengong? ada masalah sama Hans??"
"Bukan kok Kak, cuma ada temen yang baru pulang dari luar negeri, dia lagi proses mau buka butik... tapi dia nggak ada orang yang buat desain bajunya..." Althea terdiam melihat kearah Nadin curiga.
"Apa kamu mau ngelanjutin cita-cita kamu jadi desainer?!" Ucap Althea agak ragu. Nadin hanya terdiam menunduk.
"Apa, Hans tau?!" Nadin pun menggeleng.
"Kamu masih perang dingin sama Hans?!" Nadin makin menunduk tidak menjawab pertanyaan Althea.
"Nad, kamu tau kan kalau ada masalah tuh cepet-cepet diberesin jangan sampai berlarut-larut, dalam hubungan suami istri itu---"
"Kak... saya tau, Kakak selalu ngasih tau baik dan buruknya suatu hubungan itu dengan sangat jelas sekali dan saya nggak akan lupa sama semua itu Kak.. Saya juga sangat berterima kasih sekali sama Kak Althea, tapi bisakah kali ini saya yang ambil keputusan?!" Althea terdiam melihat Nadin heran, tidak biasanya Nadin memotong ucapannya.
"Hah.. ok, asal kamu harus berfikir jernih dan tidak mengambil keputusan saat sedang emosi Nad, saya takut kamu akan menyesal..." Nadin hanya tersenyum ramah pada Althea.
"saya mengerti kak.. makasih ya..." Althea terdiam sejenak.
"Nad... saya bener-bener minta maaf ya, kalau sudah mencampuri urusan kehidupanmu dan juga rumah tangga kamu, tapi saya begini karena saya sayang sama kamu Nad... dan untuk Hans yang masih belum bisa melupakan pacar pertamanya... nanti juga pasti bisa melupakannya, kamu harus sabar ya..." Althea pun memeluk Nadin. Sementara Nadin hanya tersenyum.
I'm sorry Kak...
***
Seminggu kemudian...
Perang dingin yang Nadin masih terus dilakukan tanpa ada yang mau mengalah, ditambah Hans sekarang sibuk-sibuknya di kantor juga menjaga keluarga Danniel Henney karena ada ancaman untuk kedua putra putrinya, jadi mau tidak mau harus standby di rumah Keluarga Danniel Henney.
"Jadi... ini keputusanmu, Nad?" ucap Althea yag sedang duduk di kursi kebesarannya sambul memegang kertas pengunduran diri Nadin.
"Apa Hans tau?"
"Kakak tau sendiri Hans bagaimana kan? dia sudah pasti menyerahkan semua keputusan sama saya, dia tidak akan perduli apa yang saya inginkan dan saya lakukan..." ucap Nadin tersenyum perih.
"Apa hubunganmu semakin parah Nad?! Biar saya bicara sama Hans!"
"No.. Kak, please! tidak untuk kali ini, saya ingin Hans yang berinisiatip sendiri, apakah dia ada niat untuk memperbaiki hubungan kita atau tidak... saya capek Kak harus mengalah terus-terusan, harus mengerti dia... saya lelah, kak..."

"Tapi kakak tenang saja, selama seminggu kemarin saya sudah siapkan orang yang cakap dan kompeten lebih baik dari saya untuk menggantikan saya membantu Kak Al disini. Jadi kakak tidak perlu repot-repot cari pengganti saya...."
Jujur Althea sedikit kecewa dengan keputusan Nadin yang terlalu tiba-tiba. Selama ini memang Nadin yang selalu membantunya dan selalu ada di sisinya. Sedih pastinya, tapi mu bagaimana lagi
"Baiklah kalau itu memang keputusanmu, Nad. Tapi kita akan tetap saling ketemu kan?!"
"Pastinya, Kak... kalau saya libur saya pasti akan mampir buat main sama Bina dan Eme..."
***
Terdengar suara kunci otomatis di buka dan pintu pun terbuka, Nadin yang sedang makan di meja makan pun terdiam melihat kearah Hans.
"Mas udah pulang? Mau balik lagi ke rumah Pak Danniel?!" ucap Nadin masih memakn makanannya. Hans yang melihat Nadin pun terdiam lalu berjalan ke meja makan dan duduk di depan Nadin. Nadin melihat gelagat Hans pun jadi curiga.
"Mas, mau makan juga? emangnya Mas belum makan? kirain udah makan tadi di rumah kak Althea."
"Kamu resign dari Wiriawan's Company?!" ucap Hans to the point. Nadin yang tengah makan pun terhenti lalu minum sebelum menjawabnya.
"Iya, Mas. Saya resign dari Wiriawan's Company."
"Kenapa?!"
"Apa perlu alasan aku mengajukan resign?!"
"paling tidak, kamu bilang sama saya dulu, jadi saa tidak tau kabr ini dari Althea. Bahkan Boss Danniel aja heran kenapa tiba-tiba kamu berhenti, padahal kamu dapat kerja di Wiriawan's Company kan karena Boss Danniel.
"Kamu nggak tau cita-cita saya kan, Mas?! Saya ingin jadi seorang desainer, dan sekarang punya jalan untuk saya bisa masuk ke sana. dulu Ayah dan Ibu aku ngelarang aku buat sekolah desainer, tapi dengan hasil kerja keras aku aku bisa ikut kursus dan sekolah kilat jurusan desainer. dan sekarang ada orang yang membutuhkan seorang desainer kenapa mesti ditolak, itu yang aku inginkan dari dulu. Apa Mas akan melarang aku?!" Hans terdiam melihat mimik muka Nadin yang terlihat bahagia saat menceritakan dirinya ingin sekali menjadi seorang desainer.
"terserah! Tapi lain kali kalau membuat keputusan yang besar seperti ini lagi bicara dulu sama saya!"
"Kenapa?!"
"Karena saya suami kamu, Nad. memangnya ada alasan apa lagi?"
Hans pun hanya mengangguk lalu beranjak mengambil minum.
"Aku dikenalkan pada orang itu oleh Bastian, Mas." Hans yang sedang minum pun terdiam.
"Dia... Lulusan Oxford sama dengan Tian."
"Hm..." ucapnya lalu Hans pun meninggalkan Nadin di dapur berjalan ke arah Kamarnya.
Nadin pun hanya menghela napas.
***
"Hallo Mr. Henney, saya pikir anda dan keluarga tidak akan datang..."
"No... Tentu saya akan datang, iya kan sayang?!" ucapnya pada Althea yang sedang berdiri di sampingnya.
"Hallo Mr. Ganiar, sungguh suat ehirmatan saya bisa datang ke acara anda."
Mereka pun berbincang ringan mengenai pekerjaan sebelum acara dimulai. Sementara Hans masih berada di belakang Danniel dan Althea berjaga-jaga.
"Hans, kau bisa istirahat!" ucap Danniel.
"Baik Boss!" ucapnya sambil sediit membungkuk.
Tak lama Hans pun berjalan menyusuri makanan. Sesaat Hans memperhatikan pergerakan para tamu yang hadir disana.
Drrtttt...
Handphone Hans bergetar menandakan telepon masuk, dan saat melihat layar tertera Dany yang menghubunginya.
"Ya..."
"Boss, perihal perempuan yang mirip dengan almarhum Azura--"
"Hang On!" ucap Hans menyela ucapan Dany karena dia melihat wanita yang mirip Azura disini, saat ini, dihadapannya. Hans terdiam berjalan pelan masih memperhatikan sosok wanita yang mirip dengan Azura diantara orang-orang yang berllu lalang di depannya.
"Boss... kau masih mendengar saya?!"
"Hm... lanjutkan!"
"Dia berada di sini... saat Boss pulang dari Australia bersama Big Boss dia juga datang ke Indonesia." jelas Dany di seberang sana.
Grep.
Saat wanita itu hendak pergi Hans dengan cepat memegang tangannya sampai wanita itu berbalik menghadap kearahnya.
"I got it!" ucap Hans lalu mematikan telponnya, memperhatikan dengan seksama wanita itu.
"A....Azura?!" ucap Hans tidak percaya, apa yang dilihat dengan mata krpalanya sendiri. Azura ada dihadapannya saat ini.
Bukankah Hans melihat sendiri bagaimana Azura meninggal di depan mata kepalanya sendiri dulu...
Ya... Azura ditembak oleh musuhnya Hans di depan matanya. Dan sampai sekarang Hans belum bisa melupakan sosok Azura sang kekasih hatinya yang telah pergi.
"Kak Hans?!" ucap sang wanita juga terkejut melihat kearah Hans.
mereka berdua saling terdiam dan saling pandang.
***
met mlam minggu ya..
Happy reading juga...
Mana nih Tim Hans - Nadin??
or Nadin - Bastian?
or Hans - Azura?