I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 1



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Seorang gadis cantik sedang meringis menahan rasa sakit yang berporos pada bagian kaki kirinya. Dia tidak segan untuk menganggap ini sebagai sebuah karma. Yaa... Salah dia juga sih yang memilih bolos kuliah Cuma buat nongkrong sama sahabat-sahabatnya di kafe.


Dan karena terlalu terburu-buru dia berakhir jatuh tersungkur setelah tertabrak mobil. Beruntungnya laju mobil itu tidak terlalu cepat.



“Awww, Iisshhhh ah, Ck... pake berdarah segala sih?” gadis bernama Rubina Henney Wiriawan itu memperhatikan bagian betisnya. Darah segar telah mengalir disana.


Ah persetan! Selalu aja ada masalah disaat gue lagi buru-buru.


Seorang pria paruh baya yang merupakan pelaku pada penabrakan muncul dengan gestur dan air muka panik. "Mbak nggak kenapa-kenapa kan?" belum terjawab pertanyaannya, dan pria paruh bayah tersebut telah membekap mulutnya kaget setelah menemukan darah segar yang mengalir pada bagian betis seorang gadis yang menjadi korbannya. "Sini Mbak biar saya bantu ke rumah sakit dekat sini."


"Oh... nggak usah Pak. Saya baik-baik aja kok," Rubina memaksakan senyum dibibirnya sambil menahan perih di kakinya yang semakin menjadi-jadi seiring berjalannya waktu.


“Tapi luka Anda cukup parah Mbak. Dan kayaknya lukanya itu harus segera ditangani loh Mbak, kalau nggak nanti takutnya malah infeksi,” si pelaku penabrak terpaksa menggendong tubuh mungil Rubina. Pria itu tentu saja tidak akan tenang jika dia tidak bertindak cepat untuk menangani gadis yang baru saja menjadi korban penabrakan yang dia lakukan.


Rubina mencoba meronta and ofcourse tenaganya nggak sebanding dengan tenaga pria yang menggendongnya. Bahkan tenaganya hanya dianggap sebagai kapas oleh pria itu.


"Maaf, saya terpaksa melakukan ini sama Mbak. Jujur aja saya nggak bisa tenang kalau saya nggak bawa Mbak ke rumah sakit," lanjutnya sebelum menutup pintu dan melanjutkan mengelilingi mobil.


Dia mengubah posisinya jadi terdudukdi depan kemudi. Pria itu membawa Rubina kerumah sakit yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kejadian di mana dia tidak sengaja menabrak gadis itu sampai jatuh tersungkur.


Rumah Sakit Henney adalah tempat yang mereka kunjungi. Rubina yang tadinya terdiam seketika menegang.


"Eu... Pak, serius deh... saya beneran nggak apa-apa!"


"Tunggu sebentar ya Mbak. Saya akan meminta perawat buat bantu Mbak masuk kedalam," potong si pria di depan kemudi sebelum akhirnya Rubina menyelesaikan kalimatnya.


Ck... Kenapa gue malah sial begini sih? Apa jangan-jangan gue kualat karena lari dari mata kuliahnya pakJoseph?


Rubina sadar dengan luka di betisnya yang semakin perihtapi dia juga tidak bisa masuk ke Instalasi IGD Rumah Sakit itu. Kalau dia kesana bisa-bisa Sang Kakek pemilik Rumah Sakit itu turun tangan dan otomatis semua bakalan heboh. Secara Rubina Henney Wiriawan adalah cucu kesayangan Tyo karena cucu perempuan satu-satunya di keluarga besarnya.


Rubina sesekali menelengkan mata kearah kakinyasambil takut-takut lantaran melihat darah itu. Takutnya dia malah pingsan duluan jika matanya memperhatikan kebagian lukanya sendiri.


Tak lama berselang beberapa perawat muda di IGD pun datang. Mereka membantu Rubina turun dari mobil. Mereka membawa Rubina ke salah satu ruangan menggunakan sebuah kursi roda karena menyadari gadis itu tidak bisa berjalan normal akibat dari lukanya.


Ya... meskipun kemungkinannya cukup kecil karena Rubina sempat melihat sekilas pada lukanya yang memperlihatkan darah segar mengalir, pertanda bahwa lukanya tidak biasa dikategorikan sebagai luka biasa.


"Sepertinya luka Anda cukup parah dan membutuhkan jahitan...” ucap salah satu perawat.


“Nggak. Pokoknya jangan sentuh-sentuh luka saya!” Rubina member peringatan melalui nada tinggi. Tidak cukup menggunakan suaranya, dia turut serta menggunakan telunjuknya sebagai pertanda bahwa dia tidak main-main dengan ucapannya.


Perawat yang hendak mengerjakan luka di kakinya memberi pandangan takut. Terlihat dua perawat yang ada di ruangan itu sedang mengadu pandangan satu sama lain seraya meneguk salivanya takut-takut. Kemurkaan seorang Rubina membuat nyali mereka jadi auto menciut. Mereka melihat Rubina seperti seekor macan betina yang bias mengamuk kapan saja.


“Loh, Nona Bina? Kenapa anda disini?” ucap salah seorang perawat senior yang mengetahui sosok gadis tersebut. Perawat itu pun melihat luka yang ada di kakinya. “Ya Allah, Non... kalian segera ambil tindakan, siapkan Minor Set, alkohol dan Kasa...” Rubina yang mendengar perkataan Suster senior itu pun memejamkan mata meringis.


“Tapi Sus....” ucap suster junior yang tadi dibentak oleh Rubina.


“kalian ini kenapa? Dia ini Cucu dari pemilik Rumah sakit ini... Apa kalian akan tetap diam sementara ada pasien yang sedang membutuhkan pertolongan?!” ucap suster senior sedikit berteriak.


Mendengar teriakan perawat senior itu dengan segera para perawat junior pun langsung membawa troli yang ada minor set juga perlengkapan lainnya untuk segera menindak luka Rubina.


Sementara di lorong tampak seorang pria sedang berjalan ke arah meja triase IGD. Satu tarikan napas mengikutinya ketika sedang menarik tisu digunakannya untuk menyeka keringat yang bercucuran di bagian mukanya. Kadang-kadang disaat merasa letih dengan aktivitasnya, dia akan mencoba melakukan kilas balik tentang perjuangannya dalam mendapatkan gelarnya sebagai seorang dokter spesialis bedah. Bisa dibilang dia sampai jatuh bangun sebelum akhirnya dia ada di posisi ini. Sean Altemose Ahmet adalah nama lengkap dari pria yang kerap disapa dengan dokter Sean itu. Tahun ini usianya dua puluh delapan. Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Orang-orang sekitarnya tahu betul bagaimana dinginnya pria itu. Bahkan kulkas dua pintu pun akan kalah dengan kedinginan yang ada pada dirinya.



Sean yang sedang melihat rekam medis para pasien pun terganggu dengan suara gaduh yang asalnya dari ruang tindakan.


Di ruang tindakan Rubina masih menatap ganas para perawat yang hendak menyembuhkan lukanya termasuk perawat senior yang sudah mengenalnya itu. Selain tatapan, gadis itu menggunakan telunjuknya sebagai peringatan bahwa siapa saja tidak boleh menyembuhkan lukanya. Sungguh, Rubina akan melakukan apa saja agar tidak mendapatkan suntikan. Dia sangat takut dengan jarum suntik.


"Tapi luka Anda harus segera ditangani. Kalau tidak nanti terjadi pendarahan secara terus menerus," kata si perawat senior.


"Memangnya tidak bisa dengan hanya membalutnya saja? Apakah perlu tindakan jahit segala?" cecar Rubina.


“Ada apa ini?” seorang pria tampan baru saja muncul dengan suara rendahnya yang seksi.


Rubina merasa dunia baru saja berhenti berputar didetik awal saat membawa fokusnya kepada pria yang baru saja bergabung di ruangan. Semuanya masih sama, tidak ada yang berubah dengan pria itu. Ralat, ada sedikit perubahan sejak terakhir kali Rubina bertemu dengannya.


Potongan rambut pria itu terlihat berbeda. Selain itu semuanya masih sama. Matanya yang teduh dengan iris berwarna cokelat, hidung yang mancung, bibir merah muda yang tipis namun menggoda, serta rahang yang kukuh. Ah, satu lagi, brewok tipis-tipisnya yang membuat Rubina kesulitan untuk melupakan pria itu. Setelah tujuh tahun lamanya Rubina mencari tahu tentang keberadaan pria itu, akhirnya hari ini menjadi hari paling bersejarah di dalam hidupnya. Semesta kembali mempertemukannya dengan pria yang selama ini mencuri hatinya.


'Akhirnya kita ketemu lagi,'