
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
SETELAH makan malam singkat di rumah Sean, akhirnya Rubina memutuskan untuk pamit pulang. Meskipun jarak antara rumahnya Sean dengan rumahnya bisa dibilang cuma beberapa langkah, namun sekiranya Sean menjadi orang yang mengantarnya untuk pulang. Tentu saja Sean terpaksa mengantar Rubina pulang karena itu adalah perintah dari sang ayah.
"Makasih ya udah nganterin aku pulang," Rubina tahu bahwa pria di sebelahnya mengantar dalam keadaan terpaksa. Tapi hal itu bukan berarti mengharuskannya untuk tidak mengucapkan terima kasih.
"nggak usah berlebihan. Kamu tahu kan kalau saya ngelakuin ini karena terpaksa?"
"Tau," singkat Rubina memberikan jawaban. "Aku bisa liat pas kita masih di rumah kamu tadi. Ya... mungkin kalo bukan perintah dari Om, kamu pasti nggak akan mau buat nganter aku sampe ke gerbang rumah aku."
"Jadi kenapa kamu masih bilang makasih kalo emang kamu tau saya nggak tulus nganter kamu pulang."
"Entah itu kepaksa atau nggak, kenyataannya kamu udah nganterin aku sampe rumah. Itu aja udah cukup buat aku ngucapin makasih sama kamu. Ah iya satu lagi, malam ini kamu ganteng deh."
"Hah?!"
Rubina bisa melihat kebingungan di wajah Sean tepat setelah dia melantunkan pujian itu,
"Kamu nggak perlu sampai kaget gitu buat ngerespon aku. Aku serius loh. Malam ini kamu beneran ganteng banget" kembali Rubina melantunkan pujian yang sama.
"Mau kamu apa sih? Hah?" tuntut Sean. Pujian yang dia dapatkan dari Rubina tidak membuatnya senang. Malah dia semakin kesal saja. "Apa kamu ngerasa terhibur saat ngejar cinta dari seseorang yang udah terang-terangan ngasih kamu penolakan?"
"Maksud kamu?"
'Dasar bodoh!' umpat Sean.
Sayangnya dia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya secara langsung, umpatan itu hanya tertuang melalui batinnya saja.
“Jangan pura-pura bodoh deh, sekarang bilang apa mau kamu. Apa kamu nggak bisa berenti buat terus ngejar saya?”
“Aku udah ngelangkah sejauh ini loh Sean.” Rubina tersenyum lalu menautkan anak rambutnya ke atas daun telinga. Dia menatap mata kecoklatan lawan bicaranya dengan begitu dalam. “Seseorang pernah bilang kalo aku nggak boleh nyerah sebelum aku mencoba. Kata orang itu, kalo aku nyerah sebelum mencoba, itu artinya sama aja dengan menyerah sebelum peperangan terjadi."
"Trus, emang nggak masalah meski saya bakalan tetep ngasih penolakan kayak yang kamu terima tujuh tahun lalu? Kamu pasti inget kan penolakan yang saya lakukan saat kamu menyatakan perasaan kamu di hadapan banyak orang saat pertama kali saya mulai praktek di Sekolah kamu?"
"Hm gimana ya? Masalahnya tiap kali kamu ngasih sikap yang dingin kayak gini bukannya buat aku ingin menyerah, tapi justru sebaliknya. Rasa pengen ngedapetin kamu malah makin besar. Aku janji, aku bakalan buat kamu ngerasa apa yang aku rasain saat ini. Aku hanya perlu sedikit waktu."
"Kamu beneran gila!"
"Iya, aku gila." Rubina mengakuinya, namun sebelum Sean membalasnya, Rubina dengan sigap melanjutkan dengan berkata, "Aku tergila-gila sama kamu lebih tepatnya."
Sean balik badan. Besok dia harus ke Rumah Sakit. Percuma juga dia menghabiskan waktunya untuk berbicara dengan Rubina. Hanya menghabiskan waktunya saja. Lebih baik dia menggunakan waktu yang tersisa ini untuk beristirahat sebelum besok pagi dia kembali memulai aktivitasnya sebagai seorang dokter.
"Tunggu bentar!"
"Apa lagi?" kesal Sean.
"Aku cuma mau bilang, good night my future husband, have a nice dream."
Kedikan bahu menyambut berakhirnya kalimat bernada manis, eh ralat, maksudnya bernada sok manis yang diucapkan Rubina.
"Ucapan kamu barusan nggak ada kesan imutnya sama sekali, bukannya deg-degan, aku malah merinding dengernya," pria itu pergi dengan langkah cepat meninggalkan Rubina yang terus menatap punggungnya sambil tersenyum.
****
Rubina sedang di beranda rumahnya dengan perasaan kesal yang begitu mendominasi di wajahnya. Padahal dia sudah meminta Emerald untuk menunggunya sebentar lagi karena dia lupa mengambil kertasnya di kamar, tapi lihat saja sekarang, Emerald malah meninggalkannya. Apapun alasannya Rubina tidak akan memaafkan kakaknya itu. Rubina sudah bikin suasana hatinya jadi kacau pagi itu.
“Bina!”
Rubina membawa pandangannya ke sumber suara. Dilihatnya ibunya Sean yang sedang datang berkunjung ke rumahnya.
"Eh, Tante! Ayo masuk!" ajak Rubi a dengan penuh semangat.
"Ibu kamu ada di rumah?" tanya Marisa.
"Ibu sama Papah lagi ke departemen store, Tan. Mereka lagi belanja bulanan. Ada apa ya, Tan?" tanya Rubina penasaran karena ibu Sean datang pagi-pagi sekali mengunjungi rumahnya. Rubina bertanya karena takutnya ada hal yang sangat penting yang hendak disampaikan olehnya.
"Nggak ada apa-apa kok. Tante cuma mau ngobrol aja buat rencana makan malam," Marisa menyampaikan tujuannya datang. Meskipun penjelasannya itu tidak begitu mendetail. Marisa yang memang melihat Rubina terlihat begitu rapi pada akhirnya bertanya. "Kamu terlihat sangat rapi. Kamu mau ke mana Bi pagi-pagi begini? Ada urusan di luar kah?" Marisa mencecar dengan tatapan yang meredup.
"Iya, Tan. Hari ini Bina ada kuliah pagi, tapi malah ditinggal sama Kak Eme. Mungkin Kak Eme lagi ada urusan penting sampe ninggalin Bina." Walaupun perasaan kecewa sedang dia rasakan namun dia tetap menyetel muka biasa saja seolah tidak ada kekesalan yang menyerang dirinya.
"Gini aja deh. Gimana kalo kamu ikut sama Sean aja?" tawar Marisa. "Kebetulan Sean masih sarapan tuh di rumah, kayaknya bentar lagi mau berangkat ke Rumah Sakit. Oh ya, apa tempat kuliah kamu searah sama Rumah Sakit tempat Sean?"
"Searah sih, Tan. cuma..."
Marisa yang terlalu bersemangat langsung menimpali ucapan Rubina dengan berkata, "Ya udah, kalo gitu kamu berangkat barengan aja sama Sean!"
"Nggak usah Tan. Kayaknya aku pesan taksi online aja deh. Takutnya juga malah ngerepotin kalau aku milih nebeng sama Sean."
"A.. a.. a.... nggak ada istilah ngerepotin. Nanti biar Tante yang ngomong sama Sean."
"Tapi, Tan!"
"Udahlah. Yuk, biar Tante temenin keburu Sean berangkat ke tempat kerja."
Penolakan yang coba Rubina lakukan hanya berakhir sia-sia. Marisa dengan penuh semangat menarik tangannya. Sehingga tidak ada lagi akses bagi Kayla untuk menolak tawaran Marisa.
'Duh, gimana nih? kalo ntar Sean malah kesal lagi sama aku?' Rubina jadi overthinking. Yang semalam saja saat dia bergabung menikmati makan malam dengan anggota keluarganya sudah membuat Sean kesal. Lantas bagaimana respon Sean nanti saat Rubina nebeng bersamanya ke kampus? Sungguh, Rubina bingung harus melakukan apa. Dan Rubina pun hanya berharap semoga saja Sean tidak akan merasa kesal karena Rubina terus saja berada di dekatnya. Karena sejujurnya ini juga di luar kendalinya. Faktanya Marisa sendiri yang memaksa Rubina untuk berangkat ke kampus dengan cara nebeng sama Sean.
"Sean!" panggil Marisa kepada Sean yang sedang menunggangi V4R hitam memanaskan mesin motornya itu.
"Iya, Bu, kenapa?" Awalnya pria itu terlihat antusias sewaktu menolehkan muka menghadap ibunya. Namun sejurus kemudian keantusiasan yang ditampilkan mukanya segera raib tatkala dia melihat kehadiran Rubina. Saat itu Kayla hanya menunduk seolah tidak ada keberanian yang tersisa di dalam dirinya untuk mengadu mata dengan si pria pemilik iris cokelat yang biasanya sukses buat jantungnya berdebar.
"Begini Nak. Kamu bisa sekalian anterin Bina ke kampusnya, kan?" tanya Marisa terkesan memberikan perintah yang tidak menerima bantahan. " Gimana?" imbuh Marisa sudah tidak sabaran menunggu jawaban dari putranya.
"Kenapa harus sama Sean, Bu? Emangnya tiap hari dia berangkat ke kampus sama siapa?" respon Sean dingin. Memang sih dia tidak memberi penolakan secara langsung, namun dari responnya bisa dinilai bahwa pria itu tidak suka mendapatkan perintah seperti itu dari ibunya.
"Biasanya dia berangkat sama Emerald, kakak laki-lakinya. Tapi karena hari ini mungkin Emerald lagi buru-buru jadinya dia ninggalin Bina. Kasian juga kan kalau Bina naik taksi segala, mending dia ikut sama kamu saja. Lagian setau ibu, daerah kampusnya Bina juga searah sama Rumah Sakit Henney kan? tempat kamu bekerja."
"Mending kamu naik taksi aja! Emangnya kamu nggak takut kepanasan? Saya naik motor loh berangkat ke Rumah Sakit?" tanya Sean tersirat mencoba untuk menakut-nakuti Rubina. Dia berharap Rubina akan berubah pikiran untuk nebeng dengannya dan memilih ke kampus dengan taksi saja. Biasanya kan seperti itu, kebanyakan perempuan yang Sean temui takut terkena sinar matahari secara langsung.
"nggak apa-apa kok," jawab Rubina.