
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
TING!
Bunyi itu terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu lift. Sean keluar dari ruangan yang sempit itu untuk menjelajahi koridor yang merupakan apartemennya berada. Sembari menggunakan headset di telinganya mendengarkan musik, pria beriris cokelat itu menenteng kotak kecil berbahan dasar besi, di mana isinya adalah Lion kucing kesayangannya. Kucing berkelamin jantan yang merupakan ras chartreux itu sudah jadi peliharaannya sejak satu tahun yang lalu. Kesibukan Sean akhir-akhir ini membuatnya terpaksa membawa hewan peliharaannya itu ke jasa penitipan hewan.
Berhubung hari ini Sean sudah tidak terlalu sibuk, ditambah lagi dia sudah sangat merindukan Lion. Dia pun memutuskan untuk menjemputnya. Sean pikir kehadiran Lion nanti paling tidak akan mengurangi kadar ke-stress-an yang akhir-akhir ini membelenggu pikirannya. Suara ngeongan dan juga tingkah lucunya yang suka mendusel manja setidaknya dirindukan oleh Sean akhir-akhir ini.
Sean disambut oleh Nino ketika pintu apartemen telah dia buka. Kala itu Nino hanya menoleh sekilas mengadu matanya dengan Sean. Detik selanjutnya pria itu mengembalikan pandangannya ke tempat di mana sebelumnya pandangan itu tertanam.
Sambil meletakkan kotak berisi kucing itu di lantai Sean memperhatikan apa yang membuat sahabatnya terlihat begitu fokus seolah tidak terusik dengan hal apa pun. Sean melihat layar televisi yang bertaut di tembok tengah memperlihatkan adegan seorang laki-laki dan perempuan sedang adu bibir.
"Shiit, bener-bener lo nggak berubah apa yah? emangnya lo nggak punya aktivitas lain selain menonton film burung?"
"Ini bukan film burung yang mempertontonkan adegan panas kok," Nino menjelaskan di tengah keseriusannya menonton film.
"Oh, gue pikir lo lagi nonton film burung lagi." Sean kembali kepada kotak yang dibawanya. Dia membuka sehingga Lion seketika keluar dari kandang kecil itu. Lion mungkin sudah rindu dengan aroma dan suasana di apartemen ini sehingga kucing berwarna abu-abu itu terlihat begitu antusias mengendus-endus apa yang ditemuinya. Mulai dari sofa, ujung karpet, bahkan kaki Sean pun tidak luput dari jangkauan makhluk manis itu.
Seperti biasa, tiap kali Lion mulai bertingkah lucu di hadapannya. Sean tidak kuasa untuk tidak memberikan senyuman yang akhirnya mencetak kesan manis di wajahnya. Bukan hanya tersenyum, karena tingkah menggemaskan Lion, Sean membungkuk dan membawa Lion ke dalam gendongnya.
"Hey buddy, kangen yah sama suasana apartemen ini? maaf yah, kemarin kamu harus dititip dulu soalnya saya lagi banyak kerjaan."
"kayaknya lo harus ke psikolog deh, Sean. Mungkin ada masalah di otak lo. Siapa tahu kan salah satu saraf lo lagi ada masalah. Bisa-bisanya lo ngajak ngomong kucing kayak dia ngerti aja yang lo omongin." Ada decakan yang terdengar yang kemudian diikuti oleh gelengan kepala. Sayangnya posisi Sean sedang membelakangi Nino sehingga dia tidak melihat itu.
Sean membawa makhluk menggemaskan di gendongannya menghampiri sofa yang menghadap ke televisi. Sean duduk di sisi kiri sofa yang juga diduduki oleh Nino.
"Ini bukan sesuatu yang aneh kali! ngomong sama hewan peliharaan nggak ada salahnya. Yang salah itu kalo orang yang kecanduan menonton film burung ." Sean mati-matian agar senyum tidak hadir di bibirnya dengan cara menggingit bibir bawah bagian dalamnya. Setelah itu Sean berpura-pura sedang asyik dengan kucing dalam gendongannya meski sebetulnya dia menyadari adanya tatapan tajam yang diarahkan Nino kepadanya. Tentu saja kekesalan Nino dipicu oleh pembahasan Sean sebelumnya.
"lo lagi nyindir gue?"
"Nggak. Tapi kalo lo ngerasa kesindir ya... gue bisa apa?" Sean mengedikkan kedua bahunya. Sejauh ini dia masih menahan agar senyumnya tidak lepas. Pria itu masih setia dalam menyetel agar tampilan mukanya terlihat tidak sedang bercanda.
"Lagian gue heran deh, jadwal lo di rumah sakit kan full, tapi kok masih bisa punya waktu buat nonton film gituan. kalo emang udah nggak tahan mending lo ajak si Salsa nikah!"
"Ya elo kalo ngomong emang gampang. Yang susah itu merealisasikannya ke dunia nyata. kayaknya lo pikirin dulu pernikahan lo deh sebelum bahas pernikahan gue! Jangankan ngomong, lo bahkan tertutup banget soal hubungan asmara lo. gue bahkan nggak tau tipikal cewek yang lo sukai saking tertutupnya lo soal percintaan." Sean meneguk salivanya kasar. Tidak tahu kenapa tiap kali pembahasannya merujuk kepada hal-hal yang erat kaitannya dengan masalah percintaan, maka reaksi alami yang dirasakannya berupa perasaan aneh muncul. Tapi seperti biasa, Sean selalu berusaha untuk terlihat biasa saja di hadapan sahabatnya. Sean tidak ingin gelagatnya menimbulkan kecurigaan.
"Kenapa lo diem?"
"Ngomongin soal pernikahan. Sebenarnya ada yang mau gue omongin sama lo No."
Nino sudah bisa melihat adanya keseriusan di wajah Sean.
Sepertinya yang hendak Sean sampaikan cukup serius. "Apaan sih Sean? lo punya masalah kah? Ya udah cerita. Kalau gue bisa bantu lo, ya pasti gue juga bakal bantuin lo!"
Lion meronta-ronta dan akhirnya Sean pun terpaksa menurunkan makhluk menggemaskan itu dari pelukannya. Sean membiarkan Lion untuk bermain-main sesuka hatinya saja. Karena saat itu dia juga berencana ingin membahas soal perjodahannya dengan Rubina kepada Nino. Sean pikir lambat laun sahabatnya itu juga akan tahu soal itu.
Dan untuk saat ini Sean butuh teman berbagi. Mungkin dengan begitu beban di kepalanya akan sedikit berkurang, ya... meskipun tidak seratus persen akan hilang.
"Emang kenapa? kayak lo dapet masalah gede aja." mendadak Nino mengabaikan layar televisi. Sepertinya rasa penasarannya melebihi ketertarikannya pada alur film yang sedang dia nonton. Sampai Nino menoleh dan mengarahkan mata meredupnya itu di wajah Sean.
"Kemaren gue sempat cerita soal Bina ke lo kan?"
"hmmh... trus kenapa sama dia? Dia masih gangguin lo?" cecar Nino.
"Ini lebih dari sekadar masalah No."
"apa sih," sahut Nino penasaran.
"gue pikir pertemuan kita di rumah sakit yang gue ceritain waktu itu cuma kebetulan aja. Tapi... ternyata pertemuan hari itu jadi awal di mana petaka terjadi sama gue No. Rumah baru yang ditinggali sama bokap dan nyokap gue ternyata deketan sama rumahnya Bina. Yang otomatis kita tetanggan."
"What the... Hell, No way!"
"Iya, No. Bahkan balkon kamar gue sama kamar dia itu saling hadap-hadapan. Ya... dan lo tau? kenapa waktu itu Prof. Tyo mamggil gue ke ruangannya? karena dia mau nyerahin SMF Bedah ke gue asal gue bisa kawin sama tu anak! Hah... lo juga harus tau ternyata Prof. Tyo sama Kakek gue itu temen lama dan... dan... mereka emang udah berencana jodohin gue sama Bina." Sean menghela napas singkat lalu menunduk pasrah.
Di detik pertama terlihat Nino yang masih mencerna baik-baik yang barusan disampaikan oleh Sean. Nino pikir takdir memang memiliki alasan mempertemukan Sean dan Rubina sejak awal. Ternyata takdir ingin mengikat keduanya ke jenjang yang lebih serius.
"Kok bisa kisahnya jadi plot twist begini ya."
"Pas kemaren, keluarga gue sama keluarga Bina makan malam dan langsung ngebahas perjodohan kita."
"Trus pas mereka bahas perjodohan itu, gimana respon lo?" tanya Nino ingin menggali lebih dalam, "Apa lo nggak ngasih pendapat lo soal perjodohan itu?" Nino menambah jumlah pertanyaannya.
"of course gue sampein pendapat gue. Sampe gue juga udah nyoba ngasih penolakan halus dengan alibi kalo gue nggak kenal sama Bina sampe sulit buat gue untuk nerima kenyataan akan dijodohin sama dia."
"trus gimana sama respon mereka denger alesan lo?"
"Kakek gue seolah nggak nerima alasan gue. Soalnya kan bokap sama nyokap gue tuh dulunya juga nggak saling kenal. Mereka berdua cuma dijodohin. Bahkan Kakek sama bokap nyokap gue belum saling cinta pada saat ijab kabul. Mereka butuh waktu beberapa bulan sebelum akhirnya mereka memiliki rasa ketertarikan dan menghancurkan sekat dalam hubungan mereka."
"Terus orangtuanya Bina?Gimana reaksi mereka denger keraguan lo sama perjodohannya? Apa dia sependapat sama keluarga lo juga atau mereka punya alesan lain?"
Sean hanya menggeleng.
"Trus gimana sama Bina?"
"Kayaknya tanpa gue jelasin lo udah tau jawabannya. Kita kan kenalnya pas dia pake putih abu-abu. lo adalah salah satu dari sekian banyak saksi yang liat tingkah absurd dia dalam hal ngejar-ngejar gue."
Kali ini Nino mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia sudah tahu jawaban Sean meski telinganya belum mendengar jawaban itu secara spesifik.
"Ya, dia sangat tergila-gila sama lo, dan kayaknya Bina nggak akan mgelewatin momen emas ini. Tentu aja dia akan setuju dengan perjodohannya." Nino memelankan suaranya seakan-akan saat itu dia sedang bermonolog.
Setelah itu tidak ada lagi balasan dari Sean. Nino mengarahkan kembali fokusnya pada Sean. Dia melihat sahabatnya sedang dirundung frustrasi berat.
Sean memijit pelipis sambil sesekali mendesah pelan mengeluarkan bebannya.