
AUTHOR POV
Althea masih tidur di tempat tidur itu sementara Hans dan Rafael sedang ngobrol di sofa sambil merhatiin Althea yang masih tertidur.
“Tidur dari kapan tu Snow White?” ucap Hans dingin.
“ Udahlah biarin aja.. itu efek obat yang dikasih dokter jadi bawaannya pasti ngantuk!” ucap Rafael bijak.
“trus lo nanya kenapa bisa ditabrak?” lanjut Rafael.
“Nggak! Belum sempet tadi gue langsung ngerjain kerjaan gue, pas udah selesai dia udah tidur! Hans?” Ucap Danniel melihat kearah Hans.
“Menurut keterangan dari para pedagang dan orang-orang yang ada disana sih emang salah Althea bukan salah mobil dibelakangnya. Dia tiba-tiba ngerem mendadak, dan mobil belakang nggak sempet ngehindar. Tadi gue juga udah meriksa mobil dia, lumayan parah belakangnya, tapi kata orang Asuransi dia juga ngebayarin mobil si penabrak.”
“Kok bisa? Harusnya kan dia nggak harus bayarin mobil si penabrak orang dua-duanya salah!” ucap Danniel ngotot. Sementara Rafael hanya tersenyum.
“ya itulah Althea, saking nggak mau ribet dan bikin ribut dia lebih baik damai dan ganti rugi meskipun dia juga rugi.”
“Ya nggak bisa gitu dong.. semua itu ada aturannya...”
“ya trus lo mau gimana? Mu nuntut? Orang itu salah Althea kok!” Rafael membela Althea.
“lagian kok bisa sih dia ngerem mendadak gitu?” Danniel emosi setengah mati. Rafael dan Hans Cuma senyum saling pandang.
"eh lo tau nggak Niel, ternyata Althea kenap sama pak Adinata, mhhh mungkin karena itu juga PaknAdinata langsung mu kerjavsama sama kita... katanya sih anaknya Pak Adinata kakak kelasnya Althea, atau mungkin gebetannya waktu di SMA kali ya..." ucap Rafael sengaja ditujukan buat Danniel, sementara Danniel yang sedang memainkan Hapenya langsung terdiam.
Nggak lama Handphone Althea bunyi dari nomor yang nggak dikenal. Danniel yang langsung mengambil Handphonenya langsung menerima telpon itu.
“Halo, dengan saudari Althea Wiriawan? kenapa anda tidak datang? Saya sudah kirim bukti yaitu video pacar anda yang sedang asik selingkuh dengan adik tiri anda, apa anda masih tidak percaya bahkan dengan adanya bukti?” ucap salah seorang pria di seberang telpon sana.
“siapa lo? Apa maksud ucapan lo barusan hah?” ucap Danniel dengan berteriak tak lama telpon itu pun mati, Hans dan Rafael ikut terkejut melihat Danniel yang suaranya 4 oktap itu dan saat Danniel telpon balik nomor itu ternyata sudah tidak aktip. Rafael dan Hans melihat Danniel serius.
“kenapa?” tanya Rafael. Sementara Danniel masih mengotak-ngatik handphone Althea.
“Shiitt!!! Pake dikunci lagi Handphonenya. Hans coba kamu buka kunci handphonenya” sambil menyerahkan handphone Althea pada Hans, Hans pun langsung mengotak-ngatik Handphonennya. Ya, sangat mudah bagi Hans untuk membuka password handphone seseorang, dia jago IT, jago membobol data orang juga, sangat berbahaya sekali untuk di jadikan musuh.
“apa ada masalah?” Rafael mulai cemas.
“Sepertinya ada seseorang yang berniat buruk sama Althea.” Ucapnya sambil berfikir.
“Maksudnya?”
“nih...” belum Danniel menjawab Hans sudah berhasil membuka kunci pengaman handphone Althea. Daniel pun langsung mengambil Handpnone itu dan memeriksa pesan yang dikirim oleh nomor yang menghubunginya.
Dan booomm.. video tersebut menampakan Lauro dan Gracia sedang berhubungan intim di sebuah kamar hotel, suara desahan itu pun terdengar sangat jelas hingga Hans dan Rafael pun kaget lalu melihat video itu.
“Brengsek... Anjj****, bang****” sumpah serapah Danniel ucapkan dengan emosi.
“Hey, sebenernya siapa mereka?” Rafael masih dengan tenang tapi mulai serius.
“Dia pacar dan adik tirinya Althea.” Ucapnya sambil meremas tangannya menahan amarah.
“Niel, kita tau lo nggak suka penghianatan, tapi alangkah baiknya kita dengarkan dulu penjelasan dari Althea.” Ucap Rafael bijak.
“Hans, cari tau siapa yang ngirim video ini, apa ini ada hubungannya dengan adik tirinya? Dan urus juga Asuransi mobilnya, suruh pengacara untuk melakukan tindakan yang menurut hukum benar untuk kasus Althea.”
“Ok!” ucap Hans lalu pergi dari kamar perawatan Althea. Rafael yang tau maksud mereka pun langsung menghela napas.
“Kamu ini... Trus lo udah ngasih tau papahnya Althea?”
“blum, percuma juga ngasih tau keluarga dia, orang nggak ada yang perduli sama Althea...” Sambil liat Althea di tempat tidurnya. Rafael melihat Danniel penuh makna.
"ya... paling nggak kan papahnya tau kondisi putrinya, kalau ada hal yang serius gimana?"
Danniel pun menghela napas kesal. dan omongan Rafael ada benarnya juga. Danniel pun mengambil handphone Althea dan mencari nomor ayah Althea. sementara Rafael dari tadi memperhatikan tingkah Danniel yang tidak biasa.
“lo udah jatuh cinta sama Althea?”
“entahlah El, lo tau sendiri kan gue kapok sama yang namanya cinta, ya.. kayak gini di khianatin dengan gampangnya.”
“ya Althea beda kali Niel, lo tau sendiri dia gimana, dan dia juga sama dikhianatin pacarnya sama adik tirinya lagi.” Rafael terdiam sejenak. “gue harap kalo lo sama dia, lo jangan sampe maenin Althea Niel.”
“Lo suka sama dia? Gue perhatiin lo baik banget sama dia, lo juga beda cara memperlakukan dia sama staf lo yang lainnya.” selidik Danniel sambil memperhatikan Rafael. Sementara Rafael hanya tersenyum.
“lo kan tau sendiri gue gimana, Althea satu-satunya cewek di tim gue, ya pastilah gue merhatiin dia, lagian emang kenapa kalo gue suka ama dia, toh lo juga nggak suka dia kan?”
“Gue suka sama dia, kalo nggak suka nggak gue jadiin Sekretaris dia...”
“ya..ya..ya.. terserah lo deh, tapi inget ya, jangan sakitin dia... Sekuat-kuatnya dia dia juga cewek hatinya lebih rapuh!”
“iya gue tau! Sana balik ke habitat lo!”
“Lo nggak pulang?”
“kalo gue pulang trus siapa yang jagain dia? Kalo dia kabur dari sini siapa yang susah.. kalo sakitnya tambah parah gimana?”
Beberapa menit kemudian saat Danniel sedang bekerja dengan laptopnya, tiba-tiba dia melangkahkan kakinya ke dekat Althea dan melihat Althea sedang mengigau keningnya penuh keringat.
“ibu...” ucap Althea sambil terisak. Danniel memegang kening Althea yang panas.
Danniel pun segera mengecek suhu tubuh Althea dan saat Danniel melihat hampir 43°c.
Shiitttt!!
Danniel langsung bergegas keluar kamar memanggil suster dan menyuruhnya untuk memeriksa tubuh Althea.
“Ini memang efek dari kecelakaan Tuan, awalnya memang dia tidak merasakan apa-apa tapi setelah sehari pasti akibat dari benturannya pasti akan bereaksi Tuan, dan demam ini efek dari tubuh Nona ini. Jadi terus saja kompres dan lap keringatnya, saya sudah memberikan antibiotik nanti juga akan turun dengan sendirinya.” Jelas suster itu. Danniel hanya terdiam melihat kearah Althea cemas. “Saya akan membawa lap dan tempat untuk mengompresnya, apa saya saja yang mengompresnya Tuan?”
“nggak biar saya aja, tolong bawakan peralatannya.”
“Baik Tuan” ucap perawat itu sambil keluar dari ruangan Althea. Dan semalaman akhirnya Danniel menjaga Althea sampai tidak tidur, beberapa kali dia mengganti kompresan di kening Althea. Akhirnya Danniel pun tumbang dan tidur duduk menghadap Althea di samping tempat tidurnya.
**
ALTHEA POV
Saat gue buka mata gue, gue liat jam udah nunjukin pukul 8 pagi dan gue pegang kening gue yang masih ada lap dan gue kaget waktu liat disamping gue Big Boss tidur sambil duduk... Seorang Direktur Utama jagain gue? Seriusannya??? Omaygot... Mampus Althea bye bye.. bonus gue.. hiks hiks ...
Dan nggak lama dia bangun juga karena ngerasain pergerakan gue mungkin ya...
“Mmhh.. kamu udah bangun?” ucap Danniel sambil memegang kening gue, dan seketika itu gue pun langsung menunduk sedikit sungkan.
“panasmu udah turun, syukurlah...” sambil meregangkan tubuhnya. Lalu beranjak dari tempat duduknya.
“Apa saya kemaren malam menyusahkan bapak?” gue ragu sambil liat doi.
“Hmm. Badan kamu panas, kata perawat itu efek dari benturan pada saat kecelakaan. Untung aja saya nggak nurutin kamu pulang, kalo kemaren malem kamu pulang, kamu bisa koma Al...”
“Maaf pak...” gue nunduk ngerasa bersalah sama doi dan gue tau dia lagi ngeliatin gue.
“jadi kamu kecelakaan Cuma gara-gara cowok brengsek itu? Yang kamu bilang pacar kamu?” gue kaget dong langsung ngeliat kearah Doi.
Dari mana coba dia tau kalo gue kecelakaan gegara si brengsek Lauro?!
Nggak lama dia pun ngelempar handphone gue ke pangkuan gue.
“jangan tanya kenapa saya bisa membukanya, saya bisa melakukan apapun bahkan hal yang mustahil sekalipun. Kamu pasti tau kan..”
“Iya pak, saya tau!”
“saya ke kantor dulu, kamu istirahat dan nggak usah masuk, saya akan berikan ijin buatmu.” Ucapnya sambil bersiap-siap pergi.
“Makasih banyak ya pak!” gue senyum kearah Danniel dia cuma diem liatin gue dengan ekspresi yang susah ditebak.
“Makan makananmu dan minum obatnya. Jangan membantah ucapan saya lagi!”
“baik pak!”
Dan akhirnya Danniel pun pergi ninggalin ruantan gue. gue pun makan makanannya trus minum obatnya sesuai anjuran Big Boss.
"Al... sayang, kamu nggak apa-apa nak?" ucap Angga Wiriawan yang baru saja masuk ke kamar Althea bersama mamah Nesya tentunya.
"papah? kok..." Althea terdiam heran.
"temanmu menghubungi papah semalam, dan tadinya papah mau berangkat kesini saat itu juga tapi..."
"Al sehat kok Pah, cuma sedikit benturan aja... selebihnya Al nggak apa-apa!" potong Althea menenangkan papahnya yang sedang cemas.
"tuh kan, pah.. untung aja papah kesini nya sekarang kalo tadi malem maksa gimana, kondisi kamu gimana? kamu kan juga harus istirahat"
"loh papah sakit lagi?" gue lngsung liat bokap cemas.
"jantungnya kambuh lagi kemaren, apalagi pas dia tau kalau kamu kecelakaan.." ucap mamah Nesya sinis, dan gue udah biasa dengan sikap sinisnya dia.
"harusnya papah nggak usah maksain diri, papah kan tau Al kuat, jadi papah pulang dan istirahat aja ya sekarang, Al juga udah mendingan kok, paling tar siang juga udah dibolehin pulang... ya" gue merayu bokap supaya pulang dan istirahat di rumah aja.
"tapi sayang..."
"pah.. papah sayang Al kan? kalau sayang tolong jaga kesehatan papah buat Al...ya.. Al mohon pah..."
"tapi paling nggak, papah ingin disini dulu sebentar aja ya Al..." pintanya merasa bersalah karena memang selama ini dia tidak pernah mengurus gue dengan benar kayaknya ya...
gue liat mamah Nesya yang juga lagi liat gue dengan kesal lalu akhirnya mengangguk kearah gue mengijinkan bokap buat disini dulu nemenin gue. dan kita pun ngobrop ngaler ngidul ngomongin kehidupan gue selama ini juga kerjaan, dan seperti biasa bokap selalu ngasih wejangan buat gue buat ngadepin Big Boss.
Dan gue pikir sekarang hubungan gue sama Big Boss udah kayak ke Pak Rafael juga Hans, dan gue juga mulai nggak ragu buat marahin dia kalo sikap dia udah diluar jalur yang buat gue kesel apalagi ya...