
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
“Dok!”panggil Rubina.
“Hmmm,” jawab Sean agak malas memberikan kalimat. Alhasil dia hanya memberikan sebuah gumaman singkat untuk Rubina sambil mendekat ke ranjang tempat Rubina duduk dengan satu kakinya yang di selonjorkan.
“Ada apa?” tanya Sean dingin.
“Aku tadi beli ini di jalan.” Rubina memberikan paper bag berisikan burger yang di belinya saat di perjalanan tadi. “Dokter masih suka burger kan? Aku khusus beliin ini buat dokter sebagai tanda terima kasih,” imbuh Rubina dengan tangannya yang semakin terulur menyodorkan benda ditangan.
“Nggak perlu!” balas Sean.
“Tapi aku udah telanjur beli,” Rubina menimpali kala mendengar Sean yang seakan mencoba menolak burger pemberiannya.
Sean tersenyum miring, “Tapi saya nggak pernah minta kamu buat beli itu?!” dengan gaya bertolak pinggang.
“Tapi kan sayang kalo dibuang, kata Ibu makanan itu jangan di buang-buang loh, pamali, dosa! Lagian aku tuh tulus loh beliin ini buat kamu...” ucap Rubina dengan mimik yang dibuat sedih. Dan otomatis membuat Sean malas berdebat lagi.
“Ok, saya terima burger ini.” Ucapnya sambil hendak berlalu dari hadapan Rubina karena telah selesai dengan tindakan ganti perbannya.
"Eh bentar!!" Sean mengeluarkan suara decakan.
"Saya udah terima burger pemberian kamu. Sekarang apalagi yang kamu mau dari saya?" suaranya terdengar sarat dengan rasa kesal.
"Semalem aku mimpi." Aku Rubina. Sean mengerutkan keningnya. Sumpah ya, kok ada orang menjengkelkan seperti Rubina.
"Terus apa hubungannya sama saya?"
“Sangat berhubungan. Soalnya di mimpi aku, kamu adalah orang yang nyium aku. Aku Cuma mau ngasih tau doang, ya... mungkin di masa depan kita benar-benar jadi pasangan suami istri sungguhan.” Ucap Rubina tanpa rasa bersalah dan malah menampilkan cengiran tidak tau malunya.
“Mungkin di dalam dunia mimpi kamu bisa melihat saya nyium bibir kamu. Tapi sorry, jangan harap saya akan ngelakuin itu di dunia nyata.” Sean menegaskan. “Aaaahh dan kayaknya kamu nggak sebodoh itu dalam mengartikan kalimat penolakan yang baru aja Saya sampaikan buat kamu.” Sean yang sudah dalam keadaan membalikkan badannya memunggungi Rubina, hendak mengambil langkah, tiba-tiba saja tangannya dicengkeram kuat oleh Rubina. “Lepasin tangan kamu. Ini adalah perintah!” volume suara Sean mungkin masih dalam kategori yang wajar namun jelas bahwa terkandung ketegasan di dalamnya.
"Oke baiklah, tapi sebelum kamu pergi aku mau nanya sesuatu."
"Apa?! Jangan buang waktu berharga saya!"
"Kamu beneran nggak kenal aku? Hm, atau Cuma pura-pura nggak ngenalin aja?" Rubina mengadu matanya dengan iris kecoklatan milik Sean yang baru saja memutar badan— kembali menghadap Rubina.
“Saya nggak kenal sama kamu. Yang saya tau kamu adalah cucu dari pemilik rumah sakit ini yang selalu nyusahin saya!” setelah mengatakannya pria itu segera angkat kaki meninggalkan Rubina sendirian.
‘Ck... gue nggak yakin dia bisa lupa. Gue aja selalu inget wajah dia selama tujuh tahun terakhir ini. Tapi kenapa responnya seakan dia sama sekali nggak kenal gue ya? Hm, apa mungkin Sean cuma pura-pura nggak kenal aja? Ok Fine! kalo emang kayak gitu. Gue nggak akan nyerah sebelum lo bener-bener jatuh kepelukan gue!' Rubina membatin sementara bibirnya tersenyum saat mengingat tatapan Sean sebelumnya.
Menuang sampo ketelapak tangannya. Dilanjutkan dengan membawa tangannya itu ke atas kepala. Sambil memejamkan matanya dia merasakan pijatan tangannya sendiri. Bayangan pada saat dia di rumah sakit tadi kembali mencuat. Lebih tepatnya bayangan ketika Rubina menanyakan sesuatu kepadanya. Kamu beneran nggak kenal aku? Hm, atau Cuma pura-pura nggak ngenalin aja? Setidaknya pertanyaan yang tersampaikan di bibir Rubina tadi mengalun lagi menempati ruang di kepala Sean.
"Haaah... gimana bisa saya lupa gadis gila yang secara terang-terangan mengakui perasaannya sama saya sewaktu dia masih SMA dan saya sebagai dokter tamu untuk satu bulan di SMA nya, mana pas kejadian kecelakaan dia juga ada lagi!" ujarnya di tengah aktivitasnya yang masih memijit bagian kepalanya yang sudah penuh oleh busa dari sampo.
Jika diperkenankan untuk berbicara jujur. Sebetulnya Sean sudah bisa mengenal baik Rubina di hari ketika gadis itu datang ke IGD rumah sakit. Kalau pun saat itu dia bertingkah tidak mengenalnya, itu karena Sean sedang berpura-pura saja. Sean tidak ingin memperlihatkan tingkah yang seolah mengenalnya. Paling tidak Sean menghindari gadis menyebalkan itu demi untuk ketentraman hidupnya.
Puas memijit kepalanya, Sean lantas menyalakan shower dan air seketika meluruhkan busa di kepalanya. Sambil memejamkan matanya, mendadak bayangan tujuh tahun yang lalu kembali berputar bak film didalam imajinya.
Flashback ON
"Duh. Kok si Bina belum dateng sih," Syifa membagikan kerisauannya kepada Rara.
"Hooh nih. Padahal kemaren doi bilangnya mau dateng tepat waktu," sambung Rara. "Apa jangan-jangan doi nggak akan dateng lagi, sekarang kan ada pemeriksaan kesehatan seluruh siswa. Lo tau sendiri kalo si Bina paling takut jarum suntik!” lanjut Rara.
“Eh tapi lo tau ga sih Ra, kalo ada dokter yang cakep, itu tuh...”
“Iya sih tapi lo tau ga sih pas gue liat doi di parkiran keknya doi tipe-tipe dingin gitu deh... liat aja mukanya judes gitu kaga ada senyum-senyumnya!”
Sean yang saat itu menjadi ketua kelompok Co Asistant yang disingkat dengan COAS sedang memberikan arahan kepada para siswa-siswi yang akan menjadi pasien yang akan diperiksa olenya dan teman-temannya selama sebulan.
“Perkenalkan nama saya Sean Altemose Ahmet. Saya adalah ketua Co-Assistant. Selama satu bulan ini kami akan bekerjasama dengan sekolah ini dan pekerjaan kami untuk satu bulan kedepan ini adalah memeriksa kesehatan para siswa-siswi di SMA bersama teman dokter lain yang ada di depan kalian saat ini, dan kami juga akan melihat pemeriksaan hasil tes kalian untuk beberapa minggu ke depan sampai akhir praktek kami disini.”
Saat sedang asyik-asyiknya memberi arahan kepada para murid. Tiba-tiba perhatiannya teralih pada seorang murid perempuan yang hendak menerobos masuk ke barisan.
”Heh, kamu yang baru aja datang!” telunjuk Sean mengarah ke orang yang dimaksudnya.
Rubina berhenti pada langkahnya. Saat itu juga semua orang menatap kearahnya.
Mampus, kayaknya gue bakalan kena hukuman nih, batinnya lalu menggigitip bibir bagian bawahnya takut.
“Kamu pikir saya enggak liat kamu yang nerobos barisan? Coba ke depan, sini!” perintah Sean dengan penuh ketegasan. Dia benar-benar tidak suka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan ketidakdisiplinan.
“Buat kalian semua yang ada di barisan. Jangan mencontoh teman kalian yang satu ini! Kalian harus me-manage waktu dengan sangat baik. Kalau kalian tidak disiplin waktu, maka jadinya akan seperti teman kalian yang satu ini."
Debaran jantung Rubina semakin terasa ketika jaraknya dengan Sean hanya menyisakan jarak beberapa meter. Awalnya Rubina membuat kepalanya menunduk karena rasa takut yang begitu mendominasi dirinya. Dalam hati Rubina merutuki dirinya sendiri karena keterlambatannya sehingga saat ini dia jadi pusat perhatian teman-temannya.
Duh, gue bingung mesti gimana? pengen banget deh rasanya ngungsi di mars kalo kayak gini, batin Rubina. Bahkan di detik ini dia masih dengan kepala yang tertunduk takut mengadu mata dengan Sean.
"Kenapa kamu terlambat?" Sean bertanya. Tentu saja sebelum bertanya, dia lebih dulu menjauhkan pengeras suara dari bibirnya.
"Telat bangun Kak, Eh Dok..." belum selesai dia mengucapkannya dan pria dihadapannya langsung memotong ucapannya.
"Biasakan buat menatap lawan bicara waktu berinteraksi verbal!" tegur Sean.
Di detik awal saat meluruskan pandangannya ke depan Rubina menemukan pemandangan yang teramat sayang untuk dilewatkan. Ini adalah kali pertama dia bertemu dengan iris mata kecoklatan yang membuatnya terpesona.
Rubina meneguk salivanya kuat-kuat. Selama ini mindsetnya tentang 'cinta pada pandangan pertama' sebagai omongan belaka, ternyata menjadi bukti nyata hari ini. Ini adalah pertama kalinya dia beradu mata dengan pria dengan papan nama berbordirkan 'dr. Sean Altemose Ahmet.'
Namun dia sudah menaruh perasaan cinta terhadap pria itu. 'Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?' Rubina membatin.
Sejauh ini dia masih saja meneguk salivanya secara kasar.
"Kenapa kamu telat datang ke sekolah? Apa kamu pikir kegiatan cek kesehatan ini tidak penting buat kamu?" tanya Sean. Lebih tepatnya sih bukan bertanya, tapi sedang memberikan tuduhan.
"Sebelumnya saya minta maaf, Dok. Tapi saya punya alasan kenapa datang terlambat. Dan saya sama sekali tidak pernah berpikir bahwa kegiatan ini tidak penting."
Terlihat pria berahang kukuh itu sedang mengudarakan tangannya. Melipatnya tepat di depan bagian dadanya. "Kalau gitu apa alasan kamu terlambat datang ke sekolah!" Sean berseru. Ekspresinya datar namun menyiratkan ketegasan di dalamnya.