I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 47 Kisah Hans



"Mas Hans... peluk aku..."


"Mas Hans... Mas Hans... Mas Hans..."


"How do you feel baby..."


"Apa mau kamu?! siapa kamu?!"


"Siapa saya tidaklah penting, saya cuma alat untuk menghancurkanmu dan Membuat Hans menderita!"


Buuukkk!!!


"Akkhhh... Ukkhhuukk... ukkhhhukkk"


"No.. bayi...ku... bayi...ku... Kamu... mem..bunuh bayi...ku"


"Memang itu tujuan saya! Menghancurkan Hans juga dirimu..."


"Si...apa yang me..nyuruh..mu?"


"Siapa lagi kalau bukan aku..."


"A...Aquila?!"


"Yes, it's me Nadin..."


"Tapi... kenapa?"


"Kerena udah jelas-jelas kamu tau kalo aku suka sama Kak Hans, tapi kamu malah kegirangan bisa baikan lagi sama Kak Hans, apalagi tau kamu lagi hamil anaknya Kak Hans... aku benci sama kamu Nadin!"


"Ja..di... se...mua yang ka..mu la...kukan se..lama ini sa...ma aku cu...ma sa..ndiwara?"


"Absolutely yes!"


"Ya... tapi aku seneng banget deh liat kamu kayak gini, apalagi anak kamu nggak selamat!"


"Aakkhh..."


"Kamu harus ngerasain gimana ada di posisi Kak Azura dulu... Kak Azura dulu selalu dalam bahaya ketika berada di sisinya Kak Hans..."


Mas Haaaaaaaannssss...


Aakkkhh...


"Mas Hans?!" teriak Nadin terbangun dari tidurnya saat jam baru menunjukan pukul satu pagi...


"Nad, Hey... kamu mimpi buruk?!" ucap Hans sambip mengusap kening dan rambut Nadin yang basah karena keringatnya.


"Mas... aku-- aku inget semuanya, aku inget kejadian itu... Aquila--- dia..." ucap Nadin menangis keras sambil tersedu-sedu sambil memegang erat pakaian Hans. Hans pun langsung memeluk Nadin dengan erat.


Menyakitkan memang melihat Nadin seperti itu, saat dia mengingat semuanya, itu malah menjadi mimpi buruk baginya.


Satu jam kemudian barulah Nadin bisa tenang dan bisa tidur kembali, itu juga Hans yang ikut tidur disamoingnya sambil memeluknya.


God, is this the punishment you gave me? why don't you just punish me... but don't Nadin she is innocent, she only loves wrong people, people who are full of sin...


(Tuhan, apa ini hukuman yang Kau berikan untuk saya? Kenapa tidak Kau hukum saja saya... tapi jangan Nadin dia tidak bersalah, dia hanya menyayangi orang yang salah, orang yang penuh dengan dosa...)


Terselip doa di saat Hans masih memeluk Nadin sambil menangis melihat kondisi Nadin seperti ini. Memang serba salah sih, di saat Nadin mengingat semuanya, dia menjadi trauma psikis karena kejadian tempo hari yang membuatnya kehilangan bayinya.


***


Nadin kembali membuka matanya ketika jam sudah menunjukan pukul lima pagi...


Dan dia terkejut ketika tidak ada sosok Hans di sampingnya. Saat dia beranjak duduk matanya menangkap Hans sedang Sholat. Nadin melihat pemandangan yang baru sekali ini Nadin lihat.


Ya Allah... Inikah sosok suamiku yang sebenarnya? Jujur baru kali ini aku melihat Mas Hans berdoa sambil menitikan air mata...


Nadin pun hanya tersenyum melihat Hans yang mulai berubah padanya.


Ya... di setiap kejadian buruk pasti ada hikmahnya kan? Dan inilah buktinya, Hans menjadi lebih lembut pada Nadin dan lebih perhatian dibandingkan pertama kali mereka menikah...


"Mas..." Hans yang buru-buru menghapus bekas tangisannya sambil mengatur napas dan suaranya agar dia tidak terdengar habis menangis.


"Hmm... Iya, Nad?" jawab Hans sambil berdiri membereskan dan melipat sejadahnya ke laci dimana ada baju gantinya juga Nadin yang tersimpan juga disana.


"Kamu perlu sesuatu?" ucapnya menghampiri sisi ranjangnya Nadin sambil mengelus rambut Nadin.


"Aku mau mandi..."


"Tapi kamu masih belum boleh mandi, Nad." ucap Hans tanpa sadar sangat lembut. Nadin pun mulai cemberut.


"Tapi badan aku lengket, Mas... nggak enak!"


"Di lap aja mau?" Nadin pun dengan pasrah mengangguk. "Sebentar ya..." lanjut Hans lalu masuk ke dalam kamar mandi kamar rawat Nadin menyiapkan segala sesuatunya. Hans keluar dari kamar mandi dengan kemeja dan celana yang sudah dilinting keatas agar tidak terkena air. Dia membantu Nadin untuk berjalan dengan pelan kearah kamar mandi itu.


Dengan perlahan Hans membuka pakaian Nadin satu persatu agar tidak terkena lukanya sampai tubuh Nadin pun tidak mengenakan sehelai benang pun. Ndin menutupi perutnya yang masih di perban sambil menunduk malu. Hans yang melihat reaksi Nadin pun hanya terdiam.


"Hey... it's okay, nggak usah malu, Nad. in times of trouble or joy, in times of wealth or poverty, in times of health and sickness. kamu ingat kan?" Nadin hanya mengangguk. Lalu Hans memindahkan kedua lengan Nadin yang menutupi perutnya, lalu mulai melap wajah Nadin dengan pelan, lalu turun ke leher lalu le pundak, tangan, punggung, dada, kaki sampai ke area sensitivenya. Dengan telaten Hans mengurus Nadin dengan perlahan.


Saat Nadin sudah mengganti pakaian dengan pakaian pasien yang baru, dan sudah duduk lagi di ranjangnya.


"Sekarang kamu istirahat dulu ya, sambil nunggu Dokter visite dan makanan kamu datang, saya mau cek email dan jadwal Boss Danniel... nggak apa-apa kan?" Nadin pun mengangguk.


"Makasih ya, Mas..."


"It's okay, Nad. Itu sudah menjadi tugas saya sebagai suami..."


Hans pun berjalan ke sofa mengambil ipadnya memeriksa email masuk. Wajah Hans yang sedang serius dan terlihat mengerutkan keningnya itu adalah wajah yang sangat Nadin sukai.


Nadin hanya tersenyum sambil mengambil handphonenya yang ada di atas nakas, sesekali mengabadikan wajah itu di dalam kamera handphonenya.


Nadin tersenyum saat melihat hasil photonya yang terlihat bagus dan sangat jelas. Nadin lalu mengaturnya menjadi gambar wallpaper di handphonenya.


Tak lama Dokter dan suster yang visite ke ruang rawat Nadin pun masuk dan memulai pemeriksaan pada Nadin sementara suster mengambil sample darah Nadin untuk pemeriksaan laboratorium.


Hans yang tadinya sibuk dengan tabletnya pun seketika menghentikan kegiatannya, dia simpan tabletnya di meja dan dia pun langsung mendekat kearah Nadin.


"Bagaimana keadaannya, Dok?!"


"Ya... Sejauh ini lumayan bagus, lukanya juga sudah bagus, tinggal tunggu kering" ucap dokter saat melihat luka di perut Nadin saat perawat mengganti perbannya.


"Tapi Nadin sudah mengingat semuanya..." ucap Hans. Dan seketika Dokter pun menghentikan kegiatannya melihat kearah Hans.


"Dia mengingat kejadian itu?"


"Ya... Dan dia menjadi histeris dan itu menjadi seperti mimpi buruk." Jelasnya.


Dokter itu pun melihat ke arah Nadin dan menanyakan bagaimana perasaannya juga melihat kearah matanya dengan center kecil lalu bagaimana perasaannya setelah mengingat kejadian tragis itu. Sementara Hans hanya terdiam melihat ke arah dokter dan juga Nadin yang sedang berinteraksi dengan serius masalah kesehatannya.


Hayooooo mana lagi nih suaranya para readers tercintakuuu...


masih mantengin ga nih kisah Hans sama Nadinnya?????


makasih loh masih nungguin cerita Hans mudah-mudahan dilancarin terus ya otaknya gw biar lancar terus nulisnya, biar kalian terus lancar juga bacanya...


inget ya.. upnya tiap selasa,kamis sabtu dan minggu...


jangan lupa klik like lonceng dan absolutely komen2 kalian yang paling gw tunggu....