
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Kamu tidur di sebelah sana ya! Sementara saya bakalan tidur di sebelah sini."
"BY?"
"Hmmm, kenapa?"
"Soal di mall tadi, aku lupa bilang makasih. Makasih ya sudah bantu aku buat ngeliatin kesan romantis. Aku harap semoga Agam benar-benar bakalan lupain aku."
"Kamu nggak perlu bilang makasih. Anggap aja sekarang kita impas. Waktu itu kamu juga pernah nolong saya."
***
SETELAH bangun dari tidur sekitar lima belas menit yang lalu Sean hanya mencuci muka dengan face wash, setelah itu dia langsung ke kamar tamu untuk mengambil pakaian Rubina. Dia. membawa pakaian itu ke kamar pribadinya. Seperti janjinya semalam, Sean akan memasukkan pakaian itu ke lemarinya.
Semalam Sean tidur sangat pulas karena Rubina menemaninya. Coba saja kalau nggak, mungkin Sean tidak akan sampai ke tahap kehilangan kesadaran karena parno dengan hantu.
Sean adalah orang yang teguh pada janjinya. Pun saat ini dia memasukkan pakaian Rubina ke lemari dengan penuh kehati-hatian. Sean menyusun pakaian Rubina dengan begitu rapi.
"SEAN!!!"
Suara itu membuat Sean mengerutkan keningnya. Dia pikir saat ini dia hanya berhalusinasi. Sean diam berusaha untuk fokus.
"HUBBY, TOLONGIN AKU!!!"
Sean beranjak di detik itu juga. Dia berlari mencari sumber pekikan itu berasal.
"ASTAGA...." setibanya di tempat tujuan Sean terlihat begitu panik merespon apa yang disaksikan oleh sepasang bola matanya.
SEAN kalang kabut bergerak untuk mengambil fire extinguisher dari sudut ruangan. Sean langsung menembakkannya ke arah sumber api sampai api itu padam dengan seketika. Setelah itu benda yang bobotnya lumayan berat itu diletakkan kembali ke tempat semula.
Dada bidang milik Sean terlihat masih kembang kempis ketika dia masih menetralkan embusan napasnya. Peluh yang hadir di area dahi segera dia hapus menggunakan bantuan punggung tangannya.
"Kau udah bosan hidup atau gimana sih, Bi? Kok bisa Sampai-sampai kamu punya niatan buat bakar apartemen ini?" Sean yang awalnya kaget seiring berjalannya waktu menampilkan muka kesal melihat kondisi dapurnya sangat berantakan tidak ubah kapal pecah. Beberapa benda terlihat tidak berada di tempat semestinya. "Ck, ck, ck," kekesalan membuat Sean berdecak. "Karena ulah kamu ruangan ini udah nggak kayak dapur, malah saya liat ruangan ini lebih cocok buat dapet julukan sebagai kandang ayam."
Setelah uneg-unegnya tersampaikan, Sean lantas membawa fokusnya kepada Rubina. Dia mengadu mata dan menemukan gadis itu menyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi, Sean tidak melihat ekspresi gadis itu menyimpan perasaan bersalah setelah membuat kekacauan.
"Aku nggak ada niatan buat bakar apartemen ini By. Aku nggak sekurang kerjaan itu kok. Lagian kita mau tinggal di mana kalo sampe aku bakar tempat ini."
"Trus kenapa keadaan dapur saya keliatan kayak kapal pecah gini?!"
"Maaf BY. Tadinya aku cuma ingin nyiapin sarapan buat kamu. Tapi sangat disayangkan karena malah berakhir kayak ini."
"Emangnya sebelum ini kamu belum pernah masak sama sekali? Kok bisa-bisanya kamu buat kekacauan kayak gini?" Sean menyipitkan mata memperhatikan dengan lekat wajah istrinya.
Rubina menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak puas hanya dengan sebuah gerakan kepala, gadis itu membuka sisi bibir, dia memberikan jawaban,
"Belum By. Ini adalah pertama kalinya aku masak. Aku pikir masak bakalan mudah, ternyata dugaan aku salah besar. Masak jauh lebih sulit dari yang aku bayangin."
Sean memelas mendengar jawaban dari mulut Rubina. "Kalau kamu nggak tau masak kenapa sok-sokan pakai masak segala sih. Kan bisa pesen makanan via online tanpa kamu repot-repot buat membuatnya sendiri."
"Kan junk food nggak baik kalau dikonsumsi sehari-hari By. Maka dari itu aku berinisiatif buat bikinin kamu makanan, mumpung ada banyak bahan makanan di freezer. Ada ayam, sayur, telur, dan sebagainya. Aku juga udah nyari resep di internet tapi kejadiannya malah berakhir kayak gini."
Sean menghela napas panjang. "Lain kali enggak usah berinisiatif segala buat bikinin saya makanan. Saya bisa ngurus diri saya sendiri. Nasib baik saat kejadian ini saya ada dan bisa matiin apinya dengan segera. Coba kalau saya nggak ada di sini. Bisa-bisa gedung ini terbakar gara-gara kecerobohan kamu."
"Maaf By."
"Berhenti melantunkan permintaan maaf. Semuanya udah kejadian. Mendingan kamu diem nunggu. Biar saya yang nyiapin sarapan!"
"Tapi By aku juga mau bantuin kamu," jawab Rubina keras kepala.
"Kalo aku bilang nggak usah, ya enggak usah," sambung Sean. Nadanya naik seoktaf, “Kamu ngerti bahasa Indonesia nggak sih? Nggak usah. saya bisa ngelakuinnya sendiri. Kamu diem saja di meja makan. Buat urusan makanannya serahin aja. sama saya!"
"Emangnya kamu jago masak?"
"Aku cuma nanya By, aku nggak ada niatan ngeremehin kamu. Lagian apa untungnya sih aku ngelakuin itu."
"Kamu bisa nilai saya bisa masak atau enggak nanti. Tapi sekarang biarin saya masak terlebih dahulu. Kamu bisa duduk aja."
"Okay, Okay aku bakalan duduk dan nunggu suami tampan aku nyiapin masakan spesial buat aku."
"Stop senyum-senyum kayak gitu! Senyuman kamu itu keliatan nyebelin banget. Setiap kali saya ngeliatin kamu darah yang ngalir di sekujur tubuh saya kerasa mendidih tau nggak. Sebelum saya makin kesal mendingan kamu segera pergi dari hadapan saya!" suruhnya. Rubina segera angkat kaki dari hadapan Sean. Rubina mengambil posisi terbaik dengan duduk pada kursi di meja makan. Tentu saja fokus matanya terus mengarah kepada Sean yang sedang berkutat dengan peralatan masak.
Di menit selanjutnya Rubina terlihat memiringkan kepala, menautkan bagian pipinya di meja. Rubina sangatlah serius memperhatikan Sean yang sedang menyematkan sebuah apron putih ke tubuhnya.
"Kamu kayak chef profesional By pake apron kayak gitu. Kamu keliatan makin keren dan aku makin jatuh cinta sama kamu."
Seperti biasa, saat Rubina mengungkapkan perasaannya, Sean selalunya memilih untuk bungkam karena menurutnya kebungkaman terbilang mujarab untuk menghindarkannya dengan perasaan kesal yang akan dia dapatkan jika berinteraksi verbal dengan Rubina.
Sean menghabiskan waktu selama hampir setengah jam untuk menyiapkan makanan sederhana untuk mengganjal perut pagi itu. Dalam waktu yang lumayan lama itu Sean berhasil membuat tiga buah hidangan ayam kecap, telur balado, dan tumis kangkung.
Tidak hanya memasak makanan super lezat, Sean juga sampai menghidangkan makanan buatannya itu di meja makan.
"Dari aromanya aja udah ketahuan kalo makanan buatan kamu ini sangat lezat. Aku jadi enggak sabar buat nyobainnya." Rubina bermonolog di detik yang sama ketika aroma lezat itu didapati oleh indra penciumannya.
"Sean benar-benar suami idaman. Aku beruntung banget bisa jadi istri kamu."
"Kamu yang beruntung, tapi saya kayak orang paling sial yang pernah hidup di muka bumi ini," ucap Sean dengan suara paling rendahnya.
"Kenapa By?" Rubina yang kurang begitu jelas mendengar ucapan suaminya mengajukan pertanyaan.
"Nggak ada."
"Ih kok gitu sih By. Aku kan jadi penasaran dengan apa yang kamu bilang sebelumnya.”
"Saya cuma bilang kalo masakan saya sangat lezat."
Rubina memperhatikan Sean sekilas.
"Mas boleh munduran dikit gak?" tanya Rubina.
"Emangnya kenapa sampe kamu nyuruh saya pake mundur segala?" bingung Sean. Karena terlalu penasaran dengan alasan Rubina menyuruhnya mundur, sampai-sampai pria itu mengerutkan kening dalam.
"Itu By, soalnya ganteng kamu kelewatan, makanya aku suruh mundur hehehe."
"Cringe tahu enggak.”
"Bukan cringe By, kamunya aja yang nggak ngerti gombalan makanya reaksi kamu bisa sesantai itu. Coba aja kalo aku bilang kayak gitu sama cowok lain, pasti cowok itu bakalan melting."
"Cowok lain? Maksud kamu si Agam?"
"Kenapa kamu tiba-tiba ngebahas soal Agam? Kamu cemburu ya By sama dia?"
"Ngapain juga saya cemburuin dia? Enggak penting banget.”
"Kali aja kan diem-diem kamu cemburu karena kamu sebenarnya takut kehilangan aku."
"Masih kalah jauh dia sama saya!"
"Bener juga sih yang kamu omongin barusan. Lagian kamu nggak perlu khawatir karena aku cuma sayang sama kamu, bukan sama Agam atau cowok lain yang ada di luaran sana."
"Siapa juga yang khawatirin kamu?"
"Yakin kamu nggak bakalan nangis kalau suatu hari nanti aku lari ke pelukan Agam?"
“Maksudnya ka.u ada rencana mau kawin lari sama dia?" tanya Sean. Namun rasanya pertanyaannya barusan terdengar seperti sebuah tuduhan yang mau tidak mau harus diiyakan oleh Rubina. "Jangan macam-macam ya kamu Bi! Istigfar woi. Emangnya kamu mau saya laporin sama Grandpa dan keluarga kamu?"
"Kamu kok ngomongnya ngelantur sih, By." Rubina geleng-geleng kepala merasa tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya. "Siapa juga yang mau kawin lari sama Agam. Kalo aku mau ngelakuin itu sih pasti udah terealisasikan sejak lama. Tapi karena aku cintanya sama kamu, makanya aku terus merjuangin kamu meski itu sangat melelahkan."