
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
LANGIT-LANGIT kamar adalah sesuatu yang Rubina jumpai saat pertama kali dia membuka matanya. Ternyata saat itu dia sedang di kamar. Mungkin karena efek kelamaan tidur atau karena efek dari insiden tenggelam tadi yang bikin Rubina merasakan kepalanya yang sedikit pening. Seperti sebuah batu baru saja menghantam area pelipisnya.
Rubina duduk sambil menyender pada sandaran kasur. Dia kembali mengingat-ngingat momen tadi saat dia tenggelam.
'Kayaknya gue nggak sadarkan diri deh, setelah insiden tadi. Hm, pasti Sean yang gendong gue sampe kamar. Oh iya, dia ke mana ya?' Rubina hendak beranjak saat terpikirkan satu hal. Rubina menyadari satu hal dan memaksanya untuk diam di tempat. Lalu gadis itu membawa kepalanya menunduk, memperhatikan baju yang melekat di tubuhnya.
"Terus siapa yang gantiin baju gue?" Rubina bergumam memikirkannya. Kalau dipikir-pikir di vila ini hanya ada dia dan Sean. Sepertinya sangat masuk akal kalau Rubina sampai berpikir Sean yang mengganti pakaiannya.
"Hubby?" panggil Rubina.
Rubina menuruni anak tangga sambil tetap menyerukan nama sang suami.
"Mbak udah sadar."
Rubina yang sudah di ujung tangga menoleh ke sumber suara yang baru saja dia temukan. Menemukan seorang wanita paruh bayah sedang tersenyum padanya, sehingga Rubina juga tersenyum.
"Maaf, Anda siapa ya?" Rubina mengatakannya lembut sambil memangkas jarak dengan wanita tersebut. "Sebelumnya saya tidak melihat Anda di sini?"
"Nama saya Inem, Mbak. Mbak Bina bisa manggil saya Bi Inem. Saya adalah orang yang biasanya bersihin area vila ini. Saya tadi diminta sama pemilik vilanya buat datang ke sini, karena katanya ada insiden. Tapi syukurlah karena Mbak sudah sadar."
"Ngomong-ngomong apakah bi Inem liat suami saya? Saya udah manggil-manggil dia tapi kok nggak ada ya."
"Pak Sean nya lagi keluar, Mbak." Inem menyampaikan.
"Ke mana?" kedua alis Rubina terangkat meninggalkan tempatnya sewaktu memberikan pertanyaan itu.
"Hm, kalau urusan itu saya juga kurang tahu, Mbak. Soalnya pak Sean bilangnya cuma mau keluar sebentar. Beliau tidak menjelaskan secara lanjut tentang ke mana dia akan pergi. Oh iya, baju basah yang tadi, sudah saya keringkan di balkon."
"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih."
"Tidak perlu ucapan terima kasih, sudah jadi tugas saya membantu orang yang menyewa vila ini. Ah iya, bagaimana dengan kondisi Mbak Bina? Sudah baikan kah?"
"Sudah baikan kok, Bi. Cuma kepala saya aja yang agak pening. Mungkin karena kebanyakan minum air kolam hehehe," Rubina nyengir.
"Gimana kalau Bibi ambilkan sup. Kebetulan Bibi baru aja buat sup. Enak banget kalau dimakan pas lagi anget."
"Boleh, Bi. Kebetulan aku juga lagi laper. Apalagi pas Bibi nyinggung soal sup, yang ada cacing-cacing yang ada di perut aku auto jadi demo minta jatah makan"
Bi Inem tersenyum sambil geleng-geleng mendengar yang Rubina katakan. Padahal ini adalah kali pertama bagi dia bertemu dengan Rubina namun karena sikap ramah yang dimilikinya, bi Inem seolah merasa kalau dia dan Rubina sudah saling mengenal dalam rentan waktu yang cukup lama.
***
"Kamu yakin nggak mau makan?" tanya Sean.
"Nggak," jawab Rubina. "Aku masih kenyang."
"Sedikit aja. Dari pada nanti kamu kenapa-kenapa. Ayo buruan, di meja makan masih ada makanan."
"Sebelumnya makasih karena kamu sudah khawatirin aku, tapi serius, saat ini aku masih kenyang. Tadi sore aku makan sup buatan bi Inem."
"Bukan karena peduli sama kamu sih. Saya nyuruh kamu makan soalnya kalo terjadi sesuatu sama kamu, otomatis kan saya juga yang repot buat ngurus kamu. Apalagi sekarang kita lagi di luar kota." Sean langsung mematahkan asumsi Rubina yang mengira perintah Sean tadi adalah bagian dari bentuk kepedulian.
"Ngomong-ngomong makasih karena kamu sudah bantu aku."
"Soal insiden itu kenapa kamu bisa tenggelem? Bukannya kamu sangat handal dalam urusan berenang? Seingat saya waktu kita prewedding di pantai kamu keliatan lihai saat berenang," penasaran Sean. Dia menunggu jawaban dari Rubina sembari memasang mata meredup.
"Aku emang jago renang. cum tadi kaki aku tiba-tiba kram."
"Makanya sebelum berenang tuh pemanasan dulu. Selain itu kamu jangan suka ngeprank orang. Giliran kamu serius, saya kan ngiranya kamu lagi bercanda. Nasib baik tadi saya bisa nolong kamu. Coba kalau telat dikit aja, mungkin sekarang kamu udah tinggal nama doang," rutuk Sean.
"Untung ada kamu yah," Rubina mengedikkan bahunya saat membayangkan yang Sean katakan barusan. "Oh iya, aku penasaran sama satu hal. Aku kurang yakin sih, soalnya setelah insiden itu aku antara sadar dan nggak sadar. Tapi aku ngerasa kalau kamu ngasih aku napas buatan. Apa iya..."
"Sepertinya kamu cuma mimpi. saya sama sekali nggak ngasih kamu napas buatan," terpaksa Sean menempuh jalan berdusta daripada mengakui tentang napas buatan yang dia lakukan, "Setelah saya ngeluarin kamu dari kolam renang, keadaan kamu saat itu ngga sadar. Kamu cuma mimpi pasti soal napas buatan itu."
***
TIDAK tahu kenapa Rubina merasa kalau kepalanya semakin nyut-nyutan saja. Tapi karena tidak ingin merepotkan siapapun sehingga gadis itu memilih menahannya saja. Padahal dia bisa saja mengatakannya langsung kepada Sean, barangkali Sean bisa merekomendasikannya obat untuk menghilangkan, atau paling tidak untuk mengurangi rasa nyut-nyutan yang saat ini tengah bersarang di kepalanya.
Sedari tadi Sean juga menyadari ada sesuatu yang salah dengan diri Rubina. Dia melihat wajah gadis itu sedikit pucat. Dia juga mengenakan hoodie menutupi piyama putih yang melekat di tubuhnya. Sempat Sean ingin bertanya, tapi gengsi yang membuat dia berpikir ulang untuk meloloskan pertanyaan dari bibirnya.
Sean membungkuk, hendak mengambil sebuah bantal dari ranjang king size. Namun belum sempat mengambilnya dan Rubina mengeluarkan sebuah kalimat untuknya.
"Hubby mau ke mana?"
"Kamu nggak bisa liat saya lagi ngambil bantal? Bukannya udah jelas apa tujuan saya pas mengambil benda ini?"
"Aku tahu kok By, tujuan kamu ngambil bantal soalnya kamu mau istirahat."
"Ya kalo kamu udah tau tujuan saya, kenapa sekarang kamu malah nanya."
"Heran aja soalnya kamu ngambil bantal, padahal kamu bisa tidur di sebelah aku malam ini." Rubina memperhatikan penjuru ruangan kamar. "Di sini nggak ada sofa kayak di kamar kamu. Jadi kamu nggak punya tempat buat tidur. Ayo, tidur di sebelah aku aja." Sean tampak berpikir.
"Ranjangnya luas, jadi kita bisa bagi tempat tidur," Rubina masih mencoba untuk menambah keyakinan pada diri Sean untuk tidur di dekatnya saja. "Atau kamu takut bakalan khilaf ya kalo kamu tidur di samping aku?" meski dengan kenyataan kepalanya sedikit pening tidak membuat gadis itu berhenti untuk menggoda suaminya. Sekarang dia sedang tersenyum tipis-tipis.