
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Karena insiden itu Sean menghubungi perawat Poliklinik di Rumah Sakit tempat kerjanya. Sean terpaksa menyuruh perawat untuk menghandle lebih dulu pasien yang katanya sedang membludak. Terpaksa Sean datang terlambat dari janji sebelumnya karena dia harus bersih-bersih dulu dan mengganti pakaiannya dengan yang baru. Tidak mungkin kan dia datang dalam keadaan pakaian yang baru saja terkena kuah kari. Setibanya Sean di dalam kamar mandi yang terdapat di kamarnya segera dia menanggalkan celana kain yang melekat di tubuhnya saat itu. Mengambil tisu yang lebih dulu dibasahinya dengan air, ia lantas mengarahkan benda lembut itu untuk mengelap bagian asetnya yang ketumpahan kari panas. Sambil menunduk dia terus mengelap titik yang masih menyisakan rasa panas itu.
“Syukur aset gue baik-baik aja," gumamnya saat dia memeriksa asetnya dan mengetahui bahwa kondisinya baik-baik saja.
"Awas aja kalau ada masalah. Gue nggak akan pernah maafin gadis gila itu!"
Karena beberapa pakaiannya belum dipindahkan ke lemari. Jadi dia kembali menghampiri dan membuka kopernya untuk mencari pakaian yang tepat untuk dia kenakan. Sean bergegas mengganti bajunya dengan buru-buru. Selesai mengganti pakaiannya Sean segera meninggalkan kamarnya.
"Sean!" panggil ibunya. Sean tentu saja tidak melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah dan segera ke Rumah Sakit. Sean balik badan dan mengadu pandangannya dengan ibunya yang sedang memangkas jarak dengannya menggunakan langkah cepat.
"Kenapa lagi Bu?" Tanya Sean begitu jaraknya dengan sang ibu sudah semakin dekat.
"Sebelumnya apa sih yang terjadi ?" Marisa berpura-pura tidak tahu karena dia ingin mendengar sebuah penjelasan langsung dari bibir putranya. Sebelumnya dia sudah mendapatkan jawaban dari versi Rubina, sekarang Marisa ingin mendengar seperti apa penjelasan dari Sean soal insiden tadi.
"Tadi ada manusia menyebalkan yang datang ke rumah, Bu," sambung Sean yang sudah tahu ke mana arah pembahasan ibunya. Apalagi sebelumnya Sean tidak sadar mengeluarkan makian dengan volume suara yang lumayan kepada Rubina. Atas landasan itulah sampai Sean menduga ibunya sedang membahas tentang itu.
"Manusia menyebalkan?" heran Marisa.
"Namanya Rubina. Dia terobsesi banget sama aku Bu, bahkan sejak jaman aku praktek di SMA nya. Kayaknya dia ngikutin aku sampai dia tahu alamat rumah ini."
"Hmm... kayaknya kamu salah paham deh sama dia," ujar Marisa yakin. "Kamu tau nggak kalo tujuan dia datang ke sini itu karena dia juga disuruh sama Ibunya buat nganterin kari ayam buat Ibu."
“Ibu kok bisa seyakin itu sih?”
“Soalnya Kakeknya itu temen baik Kakek kamu, dan keluarga dia juga kenal sama keluarga kita. Dan kayaknya kamu juga udah salah paham kalo kamu pikir Rubina ngikutin kamu. Soalnya Rubina dan keluarganya itu kan tetangga kita. Tuh rumahnya di depan.”
“Apa?” Marisa hanya menganggukan kepala menjawab keraguan putranya.
Sebetulnya masih banyak pertanyaan yang hendak diajukan Sean kepada ibunya. Tapi waktunya sangatlah tidak memungkinkan. Untuk sekarang Sean harus buru-buru ke Rumah Sakit.
"Maaf yah, Bu. Sean harus berangkat sekarang juga." Sean mengambil tangan ibunya lalu membawanya untuk ditautkan di depan bibir. "Ayah ke mana Bu?"
"Dia lagi ke mini market beli pesanan ibu. Soalnya kan lusa adik sama kakak kamu pulang. Ibu pengen menyiapkan masakan yang spesial untuk merayakan anggota keluarga yang komplit lagi setelah dua bulan yang lalu kita kumpul bareng." Sean membuat kepalanya mengangguk. "Malam ini kamu enggak akan nginep di apartemen kamu kan?" Tanya Marisa.
"Aku nginep di sini kok, Bu. Soalnya besok kan tanggal merah."
"Oh, ya Baguslah. Malam ini ibu akan nyiapin masakan kesukaan kamu. Cepat pulan1g ya!"
"Iya, Bu. Kalau gitu aku berangkat dulu! Assalamualaikum..."
"Hati-hati di jalan! Waalaikum salam." Sean mengangguk.
Hihi
Helmnya yang tergeletak di sebelah rak sepatu segera diambilnya. Dia menghampiri garasi. Sean menunggangi Panigale V4R berwarna hitam legam tepat setelah membungkus kepalanya dengan helm. Detik selanjutnya Sean meninggalkan pelataran rumah baru itu membelah jalanan yang tampak lenggang tanpa kendaraan yang mengular.
************
Althea yang baru saja turun dari tangga sudah dengan stelan kerjanya seketika mengerutkan keningnya sewaktu menemukan putrinya pulang dengan tampang yang lesu-seolah tidak ada secuil pun semangat yang mendiami dirinya saat itu.
‘Perasaan waktu berangkat tadi moodnya sedang baik-baik saja, kenapa sekarang dia pulang dengan seperti itu. Apakah dia baru saja membuat masalah?' Gumam Althea.
"Ada apa sayang?" Althea langsung to the point.
"Aku baru aja buat masalah, Bu!" Rubina mengakui apa yang sedang menjebak hatinya saat ini.
"Kenapa sih? kamu bikin masalah apa emangnya?!"
"Karinya tumpah Bu," Rubina menunduk khawatir.
Walaupun insiden tadi bukan sepenuhnya kesalahan dia, namun tetap saja Rubina merasa bertanggung jawab. Dan Rubina baru saja melukai orang yang disukai dan sayanginya. Dia jadi takut dengan kemungkinan Sean yang akan semakin membencinya setelah insiden ini.
"Oh, ternyata itu masalahnya. Ya udahlah, masalah itu nggak perlu kamu pikirin sampai berlarut-larut. Di dalam masih banyak kok. Kan Ibu emang sengaja buat banyak. Kamu ambil aja sama Bibi di belakang gih...”
“Sayang, berangkat sekarang?!” ucap Danniel yang baru saja turun dari tangga dan mengrah pada Althea.
“Ah, iya bentar... Ibu sama Papah pergi dulu ya... kamu baik-baik di rumah... jangan buat kerusuhan!” goda Althea sambil beranjak menghampiri suaminya.
“Bina sayang... Papah berangkat ya... Assalamualaikum...”
“Iya, ati-ati Pah, Bu... Waalaikum Salam...” jawab Rubina masih cemberut.
Rubina pun baru tersadar akan ucapan Sang Ibu saat mengingatkannya kalau keluarga di depan rumahnya itu adalah calon yang akan dijodohkan oleh Kakeknya padanya.
“Oh ****... jangan sampe Papah bilang Grandpa kalo aku nolak perjodohannya!” gumam Rubina.
“BI... BIBI... TOLONG KIRIM KARI KE TETANGGA DEPAN RUMAH YA.. AKU MAU SIAP-SIAP PERGI!” teriak Rubina sambil berlari menaiki tangga.
“Iya Neng...” ucap Bibi yang masih berada di dapur dan segera melaksanakan apa yang disuruh Rubina.
****
“Om Erik, Grandpa ada di ruangan kan?!” ucap Rubina yang berjalan kearah meja Erik. Erik yang sedang mengetik pun menghentikan kegiatannya dan berdiri.
“Ada Nona, tapi—” belum sempat Erik menyelesaikan bicaranya, Rubina langsung melengos kearah pintu ruangan Tyo dan langsung mesuk tanpa mengetuk terlebih dahulu.
BRAAAKKK!!!
“GRANDPA!!! PAPAH UDAH BILANG BLUM SOAL BINA YANG NOLAK PERJODOHAN?” Rubina yang langsung membuka ruangan kerja Sang Kakek sambil berteriak dan menghampiri meja kakeknya.
Sang Kakek yang sedang duduk di kursi kebesarannya terkejut akan kedatangan Cucu kesayangannya itu hanya mengulum senyum canggung melihat Rubina sambil memberi kode kearah belakang Rubina.
“Apa sih?” ucap Rubina tidak mengerti lalu melihat kearah belakangnya dan betapa kagetnya Rubina ketika melihat ada banyak orang yang sedang duduk di meja rapat ruangan Sang Kakek. Rubina pun melihat sosok Sean yang ikut duduk disana. Yang memang sepertinya sedang rapat dengan para dokter karena mereka memakai snelli putih khas dokter.
“Opppss!! Sorry...” ucap Rubina sambil melihat kearah sang Kakek merasa bersalah. Tyo Henney pun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya...
“Maaf Tuan, saya tidak bisa, menahan Nona Bina—“ ucap Erik yang baru saja tiba menyusul Rubina. Tyo pun mengibaskan tangannya kearah Erik keluar. Erik pun menunduk lalu kembali keluar ruangan.
“Baiklah, rapat kali ini saya rasa cukup! Nanti kita bahas lagi untuk Staf Fungsional masalah SPO nya, saudara sekalian bisa kembali ke bagiannya masing-masing. Terima kasih atas waktunya!” ucap Tyo menutup rapatnya.