
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Sepulangnya dari rumah Sarah. Sean tidak langsung kembali ke apartemen. Di jalan tadi dia berpikir untuk mampir ke rumah ayahnya tentu saja tujuan dia datang ke sana adalah untuk menjelaskan secara runtut mengenai hubungan dia dan Sarah seperti apa. Ya, sejak ayahnya datang ke apartemen dan menghadiahinya sebuah bogeman mentah, Sean belum bertemu lagi dengan ayahnya. Dan hari ini karena hubungannya dengan Sarah sudah bisa dikatakan beres, Sean akan datang untuk memberikan penjelasan dengan ayahnya.
"Yah," panggil Sean dengan tangannya yang dipergunakan untuk mengetuk pintu rumah. “Ayah, Bu, Sean dateng nih," ujarnya sekali lagi sambil dia terus mengetuk pintu. Tidak lama setelah itu Sean mencoba untuk mengubungi ayahnya untuk mencaritahu apa ayahnya ada di rumah atau tidak.
Tapi, belum juga Sean mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana yang dia kenakan saat terdengar suara pintu yang sedang dibuka. Sean mengangkat dagu dan memperhatikan si pembuka pintu. Senyum akhirnya terlihat di bibir pria itu ketika menemukan ibunya selaku orang yang membuka pintu untuknya.
"Mau apa lagi?" tajam Marisa kepada anak laki-lakinya. Tentu saja wanita itu masih kesal karena masalah Sean yang merujuk kepada Sarah. Dari tatapannya saja Marisa sudah sangat malas ketika melihat putranya itu berkunjung.
"Ada yang mau Saya jelasin sama Ayah dan Ibu."
Marisa pun membuka pintu lebar-lebar membiarkan putranya untuk masuk ke ruang tamu.
Sementara Marisa tidak langsung ikut terduduk bersamanya— melainkan lebih dulu dia memanggil suaminya yang sedang menghabiskan waktu berkebun di belakang rumah. Kurang lebih sekitar lima menit kemudian Marisa muncul bersama dengan suaminya.
Sama seperti yang dilakukan oleh Marisa. Aditya juga memperlihatkan tatapan malas menyaksikan kehadiran putranya. Dan alasan kenapa dia begitu kesal, itu karena Sean yang sudah membohongi semua orang. Saking kepikirannya dengan permasalahan ini Aditya bahkan jadi kurang nafsu makan, bahkan dia juga sempat demam selama dua hari dua malam.
Berhubung Sean katanya ingin menjelaskan sesuatu, sehingga Aditya pun ikut duduk pada sofa kosong di depan Sean- berdekatan dengan Marisa.
"Kata Ibu, ada sesuatu yang mau kamu bicarakan. Ada apa?" nada suara Aditya terdengar sangat datar. Sementara wajahnya memperlihatkan kesan sedang penasaran dengan penegasan berupa mata yang menyipit. "Dan kata ibu, sesuatu yang hendak kamu sampaikan ada hubungannya dengan Sarah. Ada apa dengannya?"
"Saya mau ngasih tau kalau saya sama Sarah sepakat buat mengakhiri hubungan kami. Saya sudah talak Sarah, Yah."
"Kenapa tidak kamu lanjutkan saja hubungan kalian itu? Ayah bahkan lebih setuju jika kamu berpisah sama Bina saja. Kasihan Bina yang sudah kamu bohongi. Dan juga nasib darah daging kamu kayak gimana kalau kamu sampai menceraikan istri sirimu itu. Apa kamu ingin menelantarkannya?"
"Setuju sama Ayah,” timpal Marisa. "Ibu menyayangkan kalau Bina yang nantinya tidak lagi menjadi menantu kita, tapi Ibu sekiranya lebih menyayangkan lagi kalau seandainya Bina harus bertahan dalam rasa sakit hati menjadi seorang istri yang dibohongi oleh suaminya sendiri."
"Sebaiknya kamu lanjutkan hubungan kamu saja dengan istri siri dan darah daging kamu itu. Dan Ayah juga yakin Bina tidak akan kembali lagi sama pria pembohong seperti kamu, Sean."
"Tapi Yah. Dia itu bukan darah daging Saya."
"Kebohongan apa lagi ini, Sean?" tanya ayahnya. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh putranya. “Plis, kamu jangan menutupi kebohongan kamu dengan kebohongan lain, Sean. Kasihan Bina!"
"Saya jujur Yah. Kenyataannya Sheran memang bukan darah daging Sean."
"Kalau begitu mana buktinya," tagih Aditya dengan tangan terulur ke depan memperlihatkan telapak tangannya. “Ayah mungkin akan percaya kalau kamu ngasih bukti. Tapi kalau cuma omongan doang ayah jujur saja udah ragu. Apalagi setelah kebohongan besar yang sudah kamu sembunyikan dari kami semua."
"Saya ngerti kok. Yah. Gara-gara kebohongan Saya pastinya membuat Ayah sulit untuk percaya lagi sama Sean. Tapi Ayah tenang saja, saya bawa bukti kok kalau Sheran itu bukan anak Sean." Sean yang masih menyimpan bukti hasil tes DNA itu merogoh sakunya. Segera amplop berisi hasil tes itu diberikan kepada sang ayah.
Aditya membuka amplop yang diserahkan oleh Sean, mengeluarkan kertas dari dalam sana. Marisa yang tadinya duduk agak berjauhan dengannya kini mendekat. Dia ikut membaca tulisan yang ada di kertas itu.
"Ternyata bener bocah itu bukan anak kamu," berhenti memandang kepada kertas tersebut, Aditya mengangkat dagu dan mengadu matanya dengan mata putranya.
"Iya, Yah, ternyata dia bukan anak saya. Selama ini Sarah udah nipu saya, Yah."
"Lagi pula bagaimana bisa kamu ditipu sih?”
"Jadi ada insiden Yah pas saya lagi ngejalanin intership di kampung. Waktu itu hari terakhir Saya ada di kampung saat itu juga Sarah ngejebak saya Yah. Dia nyampurin obat di minuman saya sampai saya nggam sadarkan diri. Dia buat suasananya seolah-olah saya udah melakukan hubungan terlarang dengannya," jelas Sean. "Beberapa bulan setelah insiden itu dia nelpon saya, Yah. Dia bilang kalau dia mengandung anak saya. Singkat cerita saya pun terpaksa menikahi dia secara siri."
"Bagaimana bisa kamu menyembunyikan itu sama kami semua, Sean? Kamu pikir kita ini orang lain apa?”
"Maaf Yah. Waktu itu kan Sean belum nyelesein pendidikan. Saya takut aja bakalan berakhir membuat Ayah kecewa karena kabar saya yang saat itu menghamili seorang perempuan."
"Dan apakah sekarang kamu berpikir kalau ayah sangat bahagia setelah dapat kabar ini? Enggak Sean. Ayah nggak bahagia sama sekali. Malah kekecewaan Ayah semakin berlipat-lipat setelah tahu kabar pernikahan kamu itu sekarang. Asal kamu tahu, tiap kali membayangkan Bina, Ayah akan selalu merasa bersalah. Karena ayah yang secara tidak langsung setuju tentang perjodohan kalian oleh Kakek kamu.”
Sean terdiam.
"Sekarang Ayah tanya sama kamu. Kenapa kamu bisa ditipu sama wanita bernama Sarah itu sih?" kening Aditya mengkerut sewaktu menanyakannya. “Apa kamu sebodoh itu, Sean? Ayah pikir kamu itu cerdas. Soal kehamilan itu memangnya tidak ada cara lain untuk tahu kalau dia anak kamu atau bukan sebelum kalian berdua menikah secara siri?!"
"Saya udah tes DNA dulu, tapi hasilnya direkayasa sama Sarah, da saya teledor soalnnya mempercayai Sarah untuk mengatur tes DNA nya. Dan dia juga janji kalau saya terus meragukan Sheran, dia nggak akan ketemuin saya sama Sheran lagi. Karena itu saya milih bungkam. Tapi untungnya Nino nyadarin saya, Yah dan bantuin saya untuk tes ulang DNA saya sama Sheran dan dia juga ada kenalan jadi saya bisa melakukan tes itu tanpa perlu izin dari Sarah. Dan syukurnya hasil tesnya memang mengatakan kalau saya bukanlah ayah biologisnya, dengan begitu saya bisa memperjuangkan hubungan saya sama Bina."
"Apapun keputusan akhir Rubina semoga itu menjadi yang terbaik," ujar Aditya yang sejujurnya tidak yakin apakah keputusan Rubina akan tetap sama atau justru berubah setelah mendengar soal kebenaran bahwa anak laki-laki bernama Sheran itu bukan darah dagingnya Sean. Juga dengan tambahan informasi kalau Sean terpaksa saja menikah dengan Sarah.
***
SUASANA di kafe tidak terlalu ramai disaat jam telah menunjukkan pukul dua siang. Kafe Smiley yang suasananya ceria justru malah berbanding terbalik dengan suasana hati seorang pria yang sedang duduk berhadap-hadapan dengan Sean saat itu. Ya, Sean memutuskan untuk mengajak kakak iparnya untuk bertemu dan membicarakan soal hubungannya dengan Sarah seperti apa.
Sean tentu saja mengajak Emerald untuk bertemu di kafe karena sangat tidak memungkinkan untuk menceritakan tentang Sarah di kediaman orangtuanya. Apalagi Sean tahu bahwa mertuanya belum tahu kebenaran tentang hubungan dia dengan Sarah. Menempuh cara yang aman, sehingga Sean pun memilih untuk mengajak Emerald untuk menemuinya di kafe saja.
"Sebaiknya lo katakan sekarang apa yang mau lo bilang karena setelah ini gue masih ada urusan," bohong Emerald. Dia sudah malas berbasa basi lagi terhadap adik iparnya itu, dan sebenarnya Emerald sudah tidak ada urusan lain, hanya saja dia sudah terlalu malas untuk melihat wajah adik iparnya itu lebih lama setelah kebohongannya itu terungkap. Rasanya Emerald ingin menghadiahinya bogem mentah saja. Namun sial, karena janjinya dengan Rubina sampai Emerald tidak bisa melakukan itu.
Sean pun mulai menceritakan segalanya tentang Sarah. Mulai dari kapan dia bertemu dengan Sarah, alasan kenapa dia bisa menikah dengan Sarah, sampai bukti terakhir yang dipegang oleh Sean yang mempertegas kalau dia bukanlah ayah biologisnya Sheran pun dia ceritakan kepada Emerald.
Di detik awal setelah mendengar pengakuan dari Sean, Emerald tampak bergeming dalam duduknya. Emerald bersumpah bahwa diantara kaget dan tidak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan oleh adik iparnya itu. Bisa saja kan yang dikatakan oleh Sean barusan cuma bualan semata untuk membersihkan namanya yang telanjur kotor?
"Udahlah... nggak usah bohong lagi sama gue Sean!" peringat Emerald kepada Sean. Dari kilatan bola matanya sudah terlihat jelas bahwa saat itu Emerald sedang tidak bermain-main. "Kalo sampe cerita lo barusan adalah kebohongan buat nutupin kebohongan lo yang lain, maka siap-siap aja. bogeman gue ini akan mendarat di wajah lo.”
"Saya bicara jujur Kak. Saya bahkan punya bukti konkret buat mempertegas kalau Sheran memang bukan anak saya.”
"Kalo gitu buktiin! Jangan cuma ngomong doang.”
Sean menganggukkan kepalanya mengambil surat berisi tes DNA itu. Sean segera menunjukkannya kepada Emerald.
"Sumpah demi Allah Kak, itu asli... Saya sampai minta tolong sama kenalan temen saya... kalau Kak Eme nggak percaya Kakak bisa hubungin dokter yang periksanya."
"Hm... Ternyata emang bener kalo dia bukan anak lo. Tapi...
"Tapi kenapa Kak?" Sean mengerutkan keningnya saat bertanya.
"Kalo pun kenyataannya semua ini cuma rekayasa oleh cewek yang bernama Sarah itu, kan keputusannya tetep ada di tangan Bina. Kalo gue jadi Bina sih jujur aja, gue udah pasti bakalan milih cerai aja, tapi nanti kita liat sendiri keputusan apa yang mau diambil sama Bina."
***
SORE hari terlihat Rubina yang keluar dari lift apartemen. Wajah gadis itu terlihat sedang menggambarkan perasaan lelah usai menghabiskan waktu di kampus. Dan ini bahkan baru permulaan karena ke depannya dia akan disibukkan oleh yang namanya skripsi. Rubina menuju ke unit apartemen dengan langkah lunglai. Tidak ada sedikit pun kesan semangat yang terlukis di wajahnya.
Memasukkan sandi dan setelah itu terdengar suara. Rubina mendorong pintu sehingga terlihatlah figur suaminya sedang tersenyum. Tidak sendirian, kala itu Sean sedang dalam keadaan menggendong Lion.
"Hei... Lion coba siapa yang baru dateng. Tuh liat Ibu kamu udah pulang," ucap Sean tanpa mengalihkan perhatiannya kepada Rubina.
RUBINA masih memijakkan kakinya di tempat yang sama, dia pun masih menatap bingung suaminya yang masih berdiri menghadapnya. "Ibu? Siapa yang kamu panggil dengan sebutan Ibu?" Rubina menyampaikan kebingungannya lewat sebuah pertanyaan.
"Ya kamu lah, Bi" ujar Sean lembut. "Emangnya kamu lupa apa kalo kamu nganggap Lion kayak anak kita?" sebelah alis Sean terangkat meninggalkan tempat semestinya.
"Ya tentu aja aku inget soal itu, tapi kan biasanya kamu nggak suka tiap kali aku bertingkah seolah menganggap Lion sebagai anak kita. Kamu malah suka ngatain aku aneh, tapi kok ini... kenapa sekarang kamu yang malah bertingkah kayak gitu," bahkan setelah mengatakan itu Rubina masih dalam keadaan menyipitkan matanya. Dia masih menaruh curiga tentang perubahan suaminya yang aneh.
"Kenapa liat saya kayak gitu?" bingung Sean dengan tatapan misterius yang sedang dilayangkan oleh istrinya. "Ada yang salah yah dengan saya?!" Sean menambahkan jumlah pertanyaannya.
Rubina maju beberapa langkah hingga jaraknya dengan Sean sudah semakin dekat. Rubina masih dengan ekspresi dan tatapan yang sama menggunakan tangannya yang terulur untuk digunakan menyentuh dahi milik suaminya. “Nggak anget kok, itu artinya kamu lagi nggak sakit kan?"
"Emang yang bilang saya sakit, siapa?" tanya Sean.
"Terus kenapa kamu sampe bertingkah aneh kayak gini kalo emang nggak sakit. Atau jangan-jangan kamu lagi. kesambet ya?" tuduh Rubina mulai ngaco.
Sean menurunkan Lion dari gendongannya. Seketika Lion berlari seolah dia tidak ingin ikut campur atas permasalahan yang terjadi pada Sean dan Rubina.
“Kayaknya emang bener deh kalo saya kesambet, kesambet cinta kamu tapi."
Rubina mengedikkan bahunya. Jijik mendengar gombalan sederhana yang dilantunkan oleh suaminya. "Apa sih By, ngomongnya aneh banget. Bikin mual tahu, gak. Udah, minggir aku mau masuk!"
Begitu Sean menggeser tubuhnya Rubina langsung masuk ke dalam. Sungguh, dia sudah sangat haus. Energinya benar-benar serasa terkuras padahal seharian ini dia cuma mengikuti kelas saja.
Setelah masuk di apartemen tempat pertama yang dituju oleh Rubina adalah dapur. Dia mengambil coke dari dalam freezer. Rubina meneguknya sampai minuman kaleng itu tandas.
"Saya mau cerita," kalimat yang disampaikan oleh Sean membuat Rubina balik badan.
"Cerita soal apa?"
"Soal hubungan saya sama Sarah."
Rubina mendecakkan bibirnya, "Aku nggak mau denger." Rubina terpaksa harus menghentikan langkah kakinya. Bukan karena dia berubah pikiran, tapi karena tangannya sedang berada di dalam kurungan super kuat suaminya. “Aku mau ke kamar. Bisa lepasin tangan aku!" Rubina meminta dengan suara lembut meski sekarang dia mulai kesal.
"Nggak! sebelum kamu dengerin semua penjelasan saya dulu. Suka atau nggak sebaiknya kamu dengerin penjelasan saya soal Sarah." Sean mengatakannya tegas.
Rubina menarik tangannya sehingga terlepas. "Ya udah, ayo katakan sekarang!"
Sean pun menceritakan semuanya secara runtut seperti yang diceritakannya kepada Emerald tadi siang. Tidak ada satu pun hal yang disembunyikan oleh pria itu. Dan untuk membuktikan omongannya benar, dia juga tidak lupa untuk memperlihatkan bukti tes DNA.
Dan respon dari Rubina nyaris biasa-biasa saja. Di detik selanjutnya Rubina dengan santainya berkata, "Terus apa hubungannya sama aku? Mau kamu cerein si Sarah Sarah itu, atau bahkan dengan kenyataan Sheran bukan anak kamu nggak akan ada bedanya buat aku. Hal itu nggak bakalan ngubah kenyataan kalo kamu udah bohong sama aku."
"Emang bener. Dan tujuan saya ngomong ini adalah buat meluruskan saja. Semua keputusannya kembali ada padamu, Bi."
"Ya baguslah kalau kamu paham.”
"Tapi tolong jangan menghalangi saya buat buktiin betapa sayangnya saya sama kamu, Bi."
"Itu terserah kamu. Aku nggak bakalan ngehalangin kok.”
"Oh ya, mau aku buatkan makanan?"
"Nggak usah. Mendingan kamu siap-siap aja sekarang.”
"Siap-siap?” bingung Sean. “Emangnya kita mau ke mana, Bi?"
"Ke rumah Papah. Tadi pas aku masih di kampus aku dapat telepon dari Ibu. Ibu nyuruh kita buat makan malam di rumah. Tapi kalo emang kamu nggak bisa, Ya udah nggak papa, aku bisa berangkat sendiri."
"Saya kan belum ngomong apa-apa Bi, tapi kamu udah nyimpulin. Aku bakalan dateng kok," bersamaan dengan tandasnya kalimat dari bibirnya, pria itu memberikan senyum. "Tapi kamu mau nggak dateng bareng sama saya?" Sean balik bertanya.
"Ya mau gimana lagi?" Rubina mengedikkan bahunya pasrah. “Berhubung Papah sama Ibu aku belum tau kebusukan kamu, dan mereka taunya hubungan kita masih harmonis, maka salah satu cara yang tepat buat kita lakuin ya dateng bareng dan terlihat sebagai pasangan yang seakan nggak punya masalah. Oh ya, sambil aku bersiap di kamar sebelah, mendingan kamu segera ke kamar juga buat siap-siap. Supaya kita nyampenya cepet dan pulangnya juga bisa lebih cepet."
Rubina balik badan disusul oleh langkah cepat meninggalkan dapur. Sekarang di dapur hanya menyisakan Sean yang sedang larut dalam pikirannya. Jujur ada perasaan sedih yang Sean rasakan dan dapatkan ketika menemukan respon Rubina yang seakan tidak peduli dengan kenyataan kalau Sheran yang bukan anaknya serta dengan kenyataan Sean yang sudah mengakhiri hubungannya bersama dengan Sarah.
Tapi meski begitu, Sean jadi semangat. Malah kadar semangat dari dalam dirinya semakin bertambah ketika dia membayangkan bagaimana selama ini Rubina mengejar-ngejar cintanya. Bahkan Rubina hampir tidak peduli dengan sikap dingin Sean kepadanya.
'Ya, gue nggak boleh nyerah gitu aja buat mertahanin hubungan gue sama Bina. Semakin Bina menyikapi gue dengan dingin, gue cuma perlu buat membuktikan kalo gue sangat sayang sama dia. Bina aja mampu ngejar-ngejar cinta gue sampai bertahun-tahun lamanya pula. Mungkin ini karma buat gue, tapi mungkin Allah sengaja menghadirkan masalah ini agar gue juga ngerasain apa yang dirasain sama Bina dulu pas ngejar-ngejar cinta gue.'
Setelah bersiap, mereka berdua langsung meninggalkan apartemen. Rubina bahkan sudah duduk rapi di belakang suaminya namun sampai sekarang Sean tidak kunjung melajukan motor V4R nya. Karena itu Rubina jadi bingung sampai-sampai dia memutuskan untuk menanyakan apa yang sedang terjadi sampai Sean belum juga melajukan motornya.