I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Akhir Yang bahagia Setelah hadirnya Rubina Henney Wiriawan



Pukul 19.00 malam...


Althea berdiri di depan pintu kamar Emerald sambil membawa nampan berisi makan malam karena memang Emerald melewatkan makan malamnya.


Tok tok...


Althea mengetuk pintu kamar...


"Sayang.. boleh Ibu masuk?"


"Masuk aja nggak dikunci..." Teriak Emerald dari dalam kamarnya. Althea pun membuka pintu kamar Althea lalu masuk ke dalam kamarnya dan melihat Emerald sedang duduk di meja belajarnya.


"Hey boy..." Ucap Althea meletakan nampan itu di meja dekat sofa yang tersedia lalu berjalan mendekati Emerald sambil duduk di tepi kasur.


"Are you okay? Kamu bisa bicara sama ibu sekarang kan nak?"


Emerald melihat kearah Althea terdiam sementara Althea tersenyum kearah Emerald.


"Come here boy... Let me hug you... Uuuuhhh You're a big boy" Emerald beranjak dan memeluk Althea erat sambil menangis begitu pun Althea yang menenangkan Emerald.


Setelah tenang Emerald pun menceritakan kejadian yang membuatnya memukul teman sebangkunya. Althea pun mendengarkan dengan seksama lalu menasehatinya.


"Nggak ada yang salah dengan reaksi mu sayang... Tapi alangkah bijak kalau kamu tidak memukulnya terlebih dulu... Kamu boleh memukul dan membalas saat kau dipukul duluan got it?! But not the first... Karena bagaimana pun juga itu artinya kamu yang salah nak... Dan Ibu nggak akan melarang kamu untuk menangis jika itu memang sangat berat dan sudah benar-benar tidak bisa kamu tahan. Karena bagaimana pun juga kita manusia nak.. Jika ibu atau pun Papah mu meninggal nggak mungkin juga kan kamu nggak nangis? Semua orang pasti menangis sayang... Mau itu orang tua, anak, remaja, bayi...




***


Sementara itu...



"Uwooooo...Uwoooo... Uugghh..." Danniel yang baru saja sampai di hotel tempat mereka menginap selama di Singapore langsung ke kamar mandi karena mual dan muntah.


"Niel... Lo nggak papa kan?"


"Sebaiknya saya beli obat untuk pereda mualnya El..." ucap Hans.


"hm.. Dan beli minuman bersoda buat ngilangin mualnya... Dan cemilan yang pedes-pedes ya..."


"Cihhh itu sih maunya elu!" Ucapnya sambil berlalu dari kamar tempat mereka menginap.


"Eeuugghhh, belum pernah gue ngerasain jetleg kayak gini... Gila.. Pusing banget gue.." Ucap Danniel yang baru keluar dari kamar mandi. Sementara Rafael masih asik video call sama anak dan istrinya.


"sial! punya temen emang brengsek nggak peka nggak punya ahlak kunyuk dasar!" Gerutu Danniel memaki-maki sahabatnya.



"Aaaakhh nggak liat apa putri gue lagi kangen sama gue..."


"Balik sana ke kamar lo?!" Sambil melempar bantal sofa dan merebahkan tubuhnya di sofa .


"Iiihh sensi amat sih lo... Lagi pms ya? Apa nggak dikasih Althea?"


"Hah... I dont know El... Gue ngerasa badan gue sangat lelah akhir-akhir ini... Emosi gue juga naik turun..."


"Hhhmm itu emang karakter lo nggak bisa diubah!"


Nggak lama Hans datang membawa obat pereda mual dan minuman soda. Danniel pun meminum obatnya dan langsung masuk ke kamar. Saat dia merebahkan tubuhnya di kasur panggilan video call dari althea berbunyi. Danniel pun langsung menjawabnya...


"Hey Honney..."


"Hey kok lesu?" Ucap althea melihat sang suami di layar.


"Tau nih, tiba-tiba jetleg dan mual muntah..."


"Udah minum obat?"


"Udah, tadi Hans langsung beli dan baru diminum..."


"I miss you honney..."


"I miss you to Wifey... Jadi gimana Eme? Dia udah cerita?"


"Hmmm.. Dia ngebela temanya yang di bully, emang salahnya sih pertama kali mukul, tapi saya udah ngasih tau sama Eme kalo itu nggak baik... Tadi saya udah telponan sama ibu korban dan minta maaf dan juga wali kelasnya Eme juga... Paling Eme di skors 2 hari nggak akan lebih... Nanti kalo kamu pulang jangan marahin dia ya.."


"Okay..." Ucap Danniel agak tidak bersemangat.


"Hm.. Ya udah kamu istirahat dulu aja, besok ada meeting pagi kan..."


"Hm.. Thank you honney... Luv u..."


"Love you more honney..."


3 hari Danniel, Hans dan Rafael berada di Singapore dan kondisi Danniel makin parah tiap pagi menjelang mual dan muntahnya makin menjadi.


Hans dan Rafael sampai harus membawa seorang dokter kenalan nya untuk memeriksa keadaan Danniel dan Dokter itu pun hanya memberi vitamin dan obat anti mual. karena dokter tidak menemukan penyakit yang berat, dan mungkin hanya masuk angin dan hanya kecapean dengan kesibukan Danniel akhir-akhir ini memang menyita waktunya.


***


Saat Danniel masuk ke dalam rumah dia melangkah ke ruang keluarga dan melihat Althea yang tertidur di sofa dengan Emerald yang duduk di bawah sofa menemani ibunya sambil menonton tv.


"Hey nak..." Sapa Danniel pelan karena takut membangunkan Althea.



"Im sorry pah..." Danniel hanya tersenyum lalu melepaskan pelukannya.


"Hey.. Papah juga minta maaf udah marah-marah nggak jelas sama kamu tanpa mendengar penjelasanmu terlebih dahulu nak..."



"Dan saya sudah mendengar ceritanya dari ibumu.. Papah setuju denganmu untuk membela temanmu.. Papah bangga padamu Nak..." Mereka pun mengobrol dan tanpa mereka sadari Althea yang terbangun karena suara mereka memperhatikan interaksi antara ayah dan anak itu sambil tersenyum...


Danniel pun melirik kearah Althea, Althea pun pura-pura tidur kembali.


"Ooo... Kayaknya ada yang ngintip kebersamaan kita nak.."


Emerald menatap Danniel tidak mengerti... Lalu Danniel pun memberi kode pada Emerald dan mereka pun beranjak mendekati Althea dan menaruh Emerald diatas tubuh Althea... Danniel lalu menggelitik Althea bergantian dengan Emerald. terlihat sekali mereka keluarga yang sangat bahagia.


"Aaaakkhhh aaakkhhh stop stop Niel... sakit perut saya sakit aaakkkhhh....!"


**


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Ucap Danniel cemas sambil merangkul Emerald yang berdiri disampingnya.


Dokter itu hanya tersenyum kearah Danniel setelah memeriksa keadaan Althea yang masih pingsan saat kesakitan tadi.


"Mungkin ini hanya kram rahim saja Pak Danniel... Dan selamat anda akan menjadi seorang ayah lagi pak..."


"Hah? Magsudnya? Althea hamil? Tapi..."


"Untuk lebih jelasnya coba pak Danniel bawa bu Althea ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut di klinik Obsgyn..."jelasnya melihat Danniel yang masih kebingungan.


"Tidak apa-apa pak... Bu Althea dalam keadaan sehat, tadi mungkin bu Althea mengangkat yang berat-berat makanya rahimnya kram, dan untuk kedepannya bu Althea jangan sampai belerja yang berat-berat dan istirahat yang cukup ya pak... kalau begitu saya pulang Pak..."


"Ah iya terima kasih dok..." Ucap Danniel sambil mengantar Dokter keluar dari kamarnya. Sementara Emerald Duduk di sisi Althea menjaga Althea.


ALTHEA POV


Gue buka kedua mata gue dan gue liat sekitar ternyata ini kamar gue... Dan yang gue heran ada Emerald yang lagi duduk di samping gue.


"Loh kok ibu ada disini? Bukanya tadi masih di ruang tengah ya..." Gue beranjak duduk dan megang kening gue pusing.


Sementara Emerald hanya mengangguk tanpa jawab pertanyaan gue. Lah... Ini anak kenapa sih? Kalo ngambek kayak bapaknya banget.. Asli ni anak jiplakan bapaknya banget sih?!


"Ibu nggak sakit serius kali sayang... Cuma kecapean aja kayaknya..." Jelas gue nenangin Emerald.


"Kata dokter, papah mau jadi ayah lagi, emang saya mau punya adik lagi ya bu?"


"Hah?!" Hanya reaksi itu bisa gue perlihatkan sama Emerald. asli gue blank apa gue lagi hamil lagi? Tapi kok nggak ada tanda-tanda gue hamil sih? Biasanya dulu waktu gue hamil Emerald gue muntah-muntah dan mabok parfume, kenapa sekarang nggak? Nggak lama gue liat Danniel masuk dan nyamperin gue duduk di sisi kasur dekat Emerald.


"Honey... Besok kamu cuti ya.. Kita pastin ke dokter Obsgyn..." Ucap Danniel senyum kearah gue.


"Tapi Niel..."


"Thank you honney, I love you..." Dia tau gue lagi bingung dan ragu.. Entahlah.. masalahnya kalaupun iya gue hamil ini tanpa gue perkirain.


"Bu.. kalau saya punya adik baru apa kasih sayang ibu sama papah akan sama?"


"Pastinya nak... Kalian semua adalah harta papah, kasih sayang papah nggak akan dibeda-bedain, makanya kamu juga harus sayang sama calon adik kamu..." Jelas Danniel sambil ngusap kepala Emerald tersenyum dan meyakinkan Emerald.


***


AUTHOR POV


Saat di klinik Obsgyn dokter spesialis Obgyn memeriksa kandungan Althea dan ternyata kandungannya sudah menginjak 3 bulan tanpa Althea sadari. Althea dan Danniel pun terkejut saat mendengarnya dan terganti menjadi senang dan bahagia ketika melihat di layar monitor calon anak mereka yang masih kecil.


9 bulan kemudian lahirlah seorang putri cantik yang bernama Rubina Henney Wiriawan putri kedua dari pasangan Althea Wiriawan dan Danniel Henney. Dan lengkaplah sudah kebahagiaan mereka berdua setelah mempunyai putra dan putri yang begitu tampan dan cantik seperti papah dan ibunya.


End.


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


mohon maaf apabila akhirnya kurang greget. asli bingung mau akhir kayak gimana maafkan author yang baru ini ya.. sepertinya gue mesti baca-baca lafi buat referensi akhir yang baik lagi...


dan terima kasih banyak bagi yang sudah setia baca sampai akhir...


mudah-mudahan author punya inspirasi lagi buat season 2 nya ya....


hatur nuhun


terima kasih


thank you


khamsahamndina


gomawo


gracias...


and bye di season selanjutnya...


sallam author...