
pukul 11.00 Siang.
Di perusahaan Kharisma Group...
Danniel, Althea dan Hans sedang rapat dengan untuk project kerjasama.
Rapat itu menyita waktu 2 setengah jam. Dan setelah beres Danniel berbincang dengan beberapa orang penting di perusahaan dan Hans berada disampingnya tentunya.
Sementara Athea sedang membereskan Laptopnya.
"Nona Althea? Saya Andika, Sekretarisnya Pak Ridwan... Dan mulai sekarang saya yang akan berhubungan dengan Nona Althea..."
"Aah iya, panggil saya Althea saja..."
"Kalau begitu panggil saya Dika..."
"Ok, baik Dika... Ini kartu nama saya kamu bisa hubungi saya di nomor ini..." Ucap Althea memberikan kartu namanya.
"Al... Udah beres? Yuk!" Ucap Danniel yang sudah berada di belakang Althea dan Dika.
"Oh, iya udah pak... ok baiklah, saya duluan ya Dika..." Ucap Althea sambil meninggalkan Andika yang masih berada di ruang rapat.
"Hans mana?" Tanya Althea melihat sekeliling sambil mengikuti Danniel di belakangnya.
"Ngambil mobil. Haaaah... Baru juga ditinggal bentar udah ada aja yang deketin..." Sementara Althea melihat Danniel tersenyum sambil geleng-geleng.
"Aaaiisshhh kita bahas masalah kerjaan Niel bukan hal pribadi... Jangan terlalu cemburu..." Sindir Althea terkekeh.
**
Di Lobby kantor Perusahaan Danniel...
Danniel sedang berjalan bersama Althea dan Hans sambil membicarakan masalah meeting tadi.
"Danniel..." Suara cewek manggil Danniel dengan merdu dari arah ruang tunggu. Dan seketika mereka bertiga berhenti dan melihat siapa yang memanggilnya.
"Nancy??!" seru Danniel sambil mengernyitkan kedua halisnya bingung lalu melihat kearah Althea yang masih terdiam, sementara Nancy berjalan kearah Danniel.
"Hey.. sibuk ya?!" Tanyanya sambil melihat kearah Althea dan Hans.
"Kalau begitu kami pamit dulu pak..." ucap Althea langsung pergi dari hadapannya begitu juga Hans.
Di dalam lift Althea dan Hans saling terdiam.
"Are you okay Al?!" Hans melihat kearah Althea yang tiba-tiba jadi diam.
"Hm? Nggak apa-apa emangnya kenapa?"
"Itu cewek yang mau dijodohin sama Danniel oleh ibunya kan?"
"Iya..."
"Tenang, Danniel udah pasti milih lo kok... Tapi lo harus sabar... Gue tau Danniel udah mulai cinta dan sayang banget sama lo... Tapi Danniel bukan tipe orang yang ngelawan orang tuanya.. Dia sebisa mungkin bakalan cari cara buat Ibunya nerima lo jadi pendamping hidupnya..."
Althea hanya terdiam tersenyum kecut. "Gue juga nggak yakin... Nggak yakin hubungan gue sama dia bakalan berhasil, dari awal juga gue udah bilang sama dia kalo kita tuh nggak akan berhasil, apalagi kriteria nyokapnya Danniel kayak Nancy... Lo liat sendiri kan perbandinganya.. Jauh banget!" Hans terdiam memperhatikan Althea yang Hopeless.
"Cantikan lo kok, lo tanpa makeup berlebih juga udah cantik!" Ujar Hans kaku. Sementara Althea melihat Hans bingung.
"Lo muji apa nyindir?"
"Mujilah, kalo jelek ya jelek aja kalo bagus ya bagus ngapain mesti di sindir segala..."
"Hah.. ya..ya..ya.. Hans tetaplah Hans ya..."
***
ALTHEA POV
Gue tau dan gue sadar kalo gue udah terperangkap sama Danniel dan gue udah mulai jatuh cinta sama Danniel, mungkin dari dulu tapi karena waktu itu hubungan gue sama dia hanya sebatas atasan dan bawahan dan gue cuma bisa nekan perasaan gue pake Shield biar gue tetep bisa fokus tanpa ada embel-embel 'perasaan'. Tapi sekarang karena gue ama dia udah pacaran gue jadi ngerasa memiliki dia dan saat ini gue nggak puguh perasaan..
Ok fix jam 5 sore dia nggak balik lagi berarti dia nggak akan pulang lagi ke kantor.
"Niel, saya pulang duluan ya... Berkas ga ada yang penting kok, tanda tangan bisa besok aja, saya udah nyimpen berkasnya di meja." Akhirnya gue ngasih kabar lagi ama dia meskipun yang tadi juga nggak dibales yang penting gue udah ngasih kabar.
Dibilang kesel ya kesel juga sih, dia jalan ama tu cewek langsung nggak konfirm dulu ke gue yang sekarang sebagai pacar katanya, ya paling nggak sebagai sekretarisnya lah ya... Ini boro-boro ngabari ke Hans aja nggak.. Dia malah udah pulang dari tadi.
Jujur gue mulai nggak enak hati, entahalah mungkin dia jalan ama cewek yang mau dijodohin ibunya makanya gue takut, takut sakit hati untuk yang ke dua kalinya.
***
AUTHOR POV
setelah beres mandi dan skincare Althea langsung rebahan di kasur favoritnya.
Hari ini sungguh hari yang berat menurut Althea, udah kerja diluar bolak balik, meeting sana sini, belum ngurus laporan hasil bolak balik dan meeting dll...
Tak menunggu lama Althea pun langsung ketiduran dan mulai mimpi indah di kasur itu.
Tak lama... pukul 24.00 malam...
Danniel yang baru saja masuk ke Apartement Althea langsung bergegas mengambil minum di kulkas lalu meneguknya kasar. Terlihat raut muka Danniel sangat kesal. Entahlah tapi sepertinya pertemuannya dengan Nancy yang memakan waktu lama itu membuat dirinya menjadi badmood dan uring-uringan. Danniel pun melirik kamar Althea yang tertutup rapat.
Danniel berjalan kepintu kamar Althea dan membukanya. Saat melihat Althea sedang tertidur dengan nyenyak Danniel menyunggingkan bibirnya keatas.
Setelah Danniel membersihkan diri di kamar mandi di kamar Althea... dia membuka paperbag yang dia bawa tadi yang diletakan di ruang tengah dan isinya adalah baju tidur dan celana santai untuk tidurnya, dia pun memakainya. Dia berjalan ke kamar Althea dan merangkak ke kasur dan tiduran di samping Althea sambil memeluk Althea.
Ost. Slander - Love is Gone
Althea yang terganggu dari tidurnya pun membuka mata dan melihat Danniel disampingnya kaget.
"Danniel..." hendak beranjak tapi ditahan oleh Danniel yang mengeratkan pelukannya.
"Don't go anywhere and stay like this ..." Althea yang tadinya ingin marah pun tidak jadi dan membalikan posisinya jadi menghadap Danniel.
"Niel..."
"Maaf... Saya pikir ini akan mudah... Tapi..." Althea hanya tersenyum dan memeluk Danniel sambil menenangkannya.
"Jadi gimana? Apa kamu bakalan nyerah?" Danniel hanya menggeleng dan menarik Althea ke dekatnya.
"Emang ini akan sedikit sulit, Tapi... Kamu mau kan berjuang sama saya? Saya nggak akan menyerah buat dapat restu dari ibu untuk bisa menikahi kamu Al..." Althea memperhatikan wajah Danniel dari dekat dan mengelus pipinya.
"Ahjushi..." ucapnya sambil nyengir.
"Borago?" jawab Danniel tidak terima.
Lalu Danniel pun menggelitik Althea sampai posisinya benar-benar membuat Danniel yang berada diatas menjadi tidak waras ketika melihat Althea yang berada dibawah kungkungannya. Tak lama Danniel pun tergiur dengan bibir Althea yang merah merona tidak butuh lama Danniel sudah memimpin ciuman nya bersama Althea. Saat dirasa nafas mereka sudah menggebu Danniel melepaskan ciumannya sambil mengatur napasnya begitu pun Althea.
"Saya keluarin DevilCard sekarang ya..." Ucapnya tersenyum penuh makna.
"Enak aja.. Keluar sana!!"
"Kenapa? biar cepet dapet momongan dan Ibu cepet setuju hubungan kita... Gimana?"
"Berenti deh becandanya nggak lucu tau!!"
"Kalau gitu biarin saya tidur disini ya malem ini... Saya janji nggak bakal ngapa-ngapain... Promise!"
Althea tau kejadian tadi membuat Danniel stress. Dan dia pun memperbolehkan Danniel untuk tidur disampingnya.
saat Danniel sudah tertidur dengan lelapnya di pelukan Althea, Althea pun tersenyum ketika memoerhatikan wajah Danniel yang sedang tertidur.
"Jujur ini kayak mimpi, bisa liat dengan jelas wajah Boss gue saat tidur, bisa ngelus, meluk cium... dan nggak tau sampai kapan bisa kayak gini lagi sebelum Ibunya menikahkan Danniel sama Nancy..." gumam Althea sambil meraba tekstur wajah Danniel.